Circle [Chapter 1]

Circle [Chapter 1]

circle-cover
Main cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang
Sub Cast : Kwon Yuri, Lee Sunny, Jessica Jung, Im Yoona, Choi Sooyoung, Choi Siwon (as Siwon Hwang), Kim Hyoyeon
Genre : Yuri, Drama, Sad, Chaptered
Rated : 16+
Author : TNEYisREAL08
WARNING!!
The gendre is Yuri if you don’t like it go away and don’t copy paste or Bashing. Typo’s everywhere, please comment. Reading enjoy ^^

***
Senin, 13 january 2014 Seoul, south Korea
Author Pov

Dalam suatu ruangan kampus yang tidak begitu ramai karena masa perkuliahan baru saja kembali masuk setelah libur panjang, terlihat 3 orang yeoja sedang berkumpul berbagi cerita dipagi hari. Tak lama kemudian terlihat 2 orang yeoja memasuki ruangan kampus tersebut.

“Selamat pagi Taeng, Yul” seorang yeoja bermata rusa menyapa Taeyeon dan Yuri.

“eoh, selamat pagi Yoong, Sunny, Soo” Yuri menjawab sapaan sahabatnya.
Sementara Taeyeon hanya sedikit menyunggingkan senyumnya dan duduk di kursi yang biasa dia duduki tanpa mempedulikan teman-temannya. Membuat teman-temannya merasa kebingungan.

“Ada apa dengannya?” Sooyoung bertanya dengan suara pelan pada Yuri takut orang yang bersangkutan mendengar.

“Apa dia memikirkan adiknya lagi?” kini Yoona ikut bertanya pada Yuri dengan sura pelan pula. Yuri yang diberi pertanyaan hanya menjawab dengan mengangkat bahu.

“Kalian ini bodoh atau apa? Kalian pasti tahu jawabannya kenapa bertanya? Sikap Taeng akan berubah jika bersangkutan dengan adiknya. Kalian sudah bersama sejak SMP, bagaimana bisa kalian masih belum tahu sifat taeyeon” geram Sunny pada 2 shiksin itu.

“Ya! Bagaimana bisa kau menyebut kami bodoh! Kami hanya memastikan saja Soonkyu” sangkal Sooyoung tidak terima disebut dirinya bodoh.

“Ya .. Soo benar, kau tega sekali menyebut kami bodoh. Kami tidak sebodoh itu Soonkyu!” gadis yang dipanggil yoong ikut membela.

“Ya! Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu! Kau ingin mati ya?!” marah Sunny karena Yoona dan Sooyoung memanggilnya dengan nama koreanya.

“Sudah hentikan. Kalian memperdebatkan hal yang bodoh” Yuri berusaha melerai pertengkaran bodoh teman-temannya membuat yang sedang berdebat akhirnya diam.

“10.. 9.. 8.. 7.. 6..” lanjut Yuri berkata.

“apa yang kau lakukan Yul?” Tanya Sunny.

“Menghitung. 5.. 4.. 3.. 2..1” Yuri menjawab dan kembali menghitung.

“Guys, aku akan ke kantin membeli makanan. Ingin kubelikan sesuatu?” Tanya Taeyeon pada teman-temannya sambil tersenyum lebar.

“Aku ikut taeng!” ucap Sooyoung semangat.

“Aku juga!” Yoona tak kalah semangat membuat taeyeon tersenyum semakin lebar.

“Bagaimana dengan kalian, tidak ingin membeli sasuatu? Kita belum sarapan Yul kau harus membeli sesuatu untuk dimakan jika tidak ingin sakit” Taeyeon bertanya pada Sunny dan Yuri.

“uhh~ uri leader begitu perhatian” ucap Yoona terharu sekaligus menggoda Taeyeon.

“Baiklah, belikan aku roti saja. Aku tidak begitu lapar” jawab Yuri sambil tersenyum.

“Nado Taeng” Sunny ikut menjawab pertanyaan Taeyeon. Mereka bertigapun pergi ke kantin menyisakan Yuri dan Sunny.

“Kau menghitung perubahan sikap Taeyeon?” Tanya sunny.

“Eoh, aku sudah cuku lama tinggal satu atap dengannya membuatku sangat tahu sifat Taeyeon” Yuri menjelaskan.

“Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia tidak pernah tidur dengan nyenyak, makan dengan baik tapi bekerja begitu keras.” Ucap Yuri kembali.

“Kau benar. Dan dia selalu berusaha memakai topengnya agar kita tidak mengkhawatirkan dirinya” Sunny menambahkan.

***
San Fransisco, California, Amerika.

Disebuah kamar bercat pink, disertai dengan barang-barang serba pink terlihat seorang yeoja berambut hitam panjang bergelombang tampak sedang mengemas pakaiannya kedalam koper. Setelah itu ia mulai mengemas barang-barang lain miliknya kedalam kardus yang telah tersedia. Ia tampak bahagia karena akan kembali ke Korea setelah sekian lama ia tinggal di California untuk mengemban ilmu.

Ia senang akhirnya ia telah lulus Senior High School dan akan segera berkumpul kembali dengan keluarga tercintanya dan melanjutkan kuliahnya di Korea bersama sang Sahabat. Saat ia selesai mengemas barangnya, ia lupa jika ia belum memasukan barang yang sangat penting baginya itu. Iapun menghampiri meja belajar tempat ia biasa menyimpan barang tersebut. Namun saat ia melihat meja tersebut, mejanya sudah kosong tidak ada barang apapun disana.

“Dimana dia?” tanyanya pada diri sendiri.

“Jessie, kau lihat Diary-ku?!” teriak yeoja yang sedang mencari diary-nya itu bertanya kepada yeoja yang dipanggilnya Jessie itu. Yang ditanya menjawab dengan nada teriak pula.

“Aku tidak lihat! Dan berhenti berteriak seperti itu! Kau benar-benar berisik Tiffany Hwang!” jawab Jessie atau lebih lengkapnya Jessica Jung. Sedang Tiffany masih mencari diary-nya itu.

“Sorry, but I can’t find my diary. Bagaimana jika hilang?” Tiffany kini berkata dengan nada lebih rendah. Jessica pun menghampiri kamar sang sahabat.

“Tidak ada? Aku yakin kau hanya lupa menyimpannya” Tanya Jessica.

“Aku sudah mencarinya kemana-mana, but I can’t find” Tiffany menjawab.

“Ayolah tiff, ini sudah kesekian kalinya kau kehilangan diary-mu. Jika benar-benar tidak ada kau bisa membelinya lagi jika kau mau, lagipula itu hanya diary” ucap Jessica kesal pada Tiffany yang selalu lupa menyimpan diary-nya.

“Aku tahu aku salah, tapi bagaimana bisa kau berkata begitu. Kau tahu diary itu sangat berharga untukku” jawab Tiffany dengan nada kecewa.

“Hahh~ mianhae, aku akan mencarinya diruang tengah” ucap Jessica
Mereka kini mencari diary itu disemua tempat tapi tetap tidak ada. Terlihat jelas raut wajah sedih Tiffany.

“Kapan terakhir kau memegang diary-mu?” Tanya Jessica.

“Saat aku pergi ke café kemarin sore. Aku membawanya dan menyimpannya-“ belum selesai Tiffany menjawab, ia langsung berlari mencari tas yang ia bawa ke café tersebut.

“Eoh, ketemu! Hua~ Jessie thankyou so much” riang Tiffany langsung memeluk Jessica. Yang dipeluk bukannya senang justru sebaliknya. Rasanya ia ingin sekali memukul temannya yang pelupa ini tapi ia tahan dan hanya ikut tersenyum.

***
Seoul, south Korea.
Taeyeon POV

“Teman-teman aku harus pergi sekarang, mian” ucapku pada teman-teman.

“Bekerja? Tanya Yuri.

”Ne, aku tidak boleh terlambat. Maianhae” aku benar-benar merasa bersalah harus meninggalkan mereka seperti ini setiap waktu.

Tapi bagaimamapun aku harus bekerja. Aku membutuhkan uang untuk membiayai kehidupanku, membayar hutang yang appa tinggalkan, dan juga membayar tempat pemakaman appa dan eomma. Aku juga harus mengumpulkan uang untuk membelikan sesuatu yang aku janjikan pada adikku.

“Arasseo, hati-hati dijalan. Jangan lewatkan makan siang dan malammu eoh” Sunny berkata sambil tersenyum mencoba mengerti situasiku.

“Ne, Sunny gomawo sudah mengingatkanku, aku pergi dulu” akupun bersiap pergi, namun Sunny menahan tanganku.

“Ingat, kita punya janji malam ini” Sunny mengingatkanku kembali membuatku tersenyum.

“Geureom, aku tidak akan melupakannya. Janji malam ini adalah yang terpenting untukku” jawabku.

“Ayo berangkat bersama taeng, aku lupa kalau aku ada pekerjaan paruh waktu juga” ajak Yuri.

Yuri memiliki kehudupan sepertiku yang serba kekurangan. Ia juga bekerja paruh waktu disebuah restoran. kamipun bergegas pergi ketempat kami bekerja masing-masing. Restoran tempat yuri bekerja dan Pom Bensin tempatku bekerja memiliki rute jalan yang sama.

***
Author POV

“Kau sudah datang? Kenapa lama sekali. Cepat ganti pakaianmu dan ambil alih posisiku!” ucap namja yang bekerja disana dengan kesal.

“Arasseoyo oppa, mianhaeyo. Aku kan mengganti pakaianku dengan cepat” ucap taeyeon berlari kedalam dan segera mengganti pakaiannya.

Taeyeon pun mengambil alih pekerjaan namja tersebut melayani para pelanggan yang ingin mengisi bahan bakar untuk kendaraan mereka.

“Hahh~ apa-apaan dia. Aku bahkan tidak terlambat sedikitpun. Masih ada waktu 10 menit lagi” ucap Taeyeon pada diri sendiri.
Beberapa saat kemudian datanglah sebuah mobil mewah.

“Ada yang bisa saya bantu, anda ingin mengisi berapa liter Ms.?” Tanya taeyeon ramah pada Ms. tersebut.

“Belikan aku minuman kafein” perintah Ms. tersebut pada taeyeon sambil menyodorkan uang.

“Ne? eoh saya mengerti Ms.” Taeyeon pun berlari ke Supermarket dekat Pom tersebut dan memberikannya pada Ms. tersebut.

“Ambil saja kembaliannya. Isi full” Ia kembali memberi perintah pada Taeyeon.

“Ne, kamsahamnida Ms.” Taeyeon pun mengisi bahan bakar mobil mewah milik Ms. tersebut.

“Buang ini” Ms. Itu memberikan sampah-sampah yang ada di mobilnya pada Taeyeon. Membuat taeyeon kesal merasa direndahkan. Taeyeon kembali memasukan sampah-sampah itu ke pangkuan Ms. yang sedang duduk di kusi pengemudi itu.

“Chogiyo, apa anda tidak punya sopan santun atau tatakrama? Apa orang tua anda tidak mengajarkan sopan santun dan juga tatakrama?” Tanya taeyeon dengan nada sopan dan menatap Ms. tersebut.

“Mwo? Kau bilang apa? Berani sekali kau menatapku!” ujar Ms. Tersebut mulai tersulut emosi.

“Jika anda ingin menyuruh seseorang katakan tolong, jika seseorang melakukan sesuatu untuk anda katakan terimakasih, dan juga disini tersedia tempat sampah disebelah sana” ucap Taeyeon pada Ms.

Pemilik mobil tersebut sambil menunjuk kearah tempat sampah yang berada di pojok dekat Supermarket. Sang pemilik mobil tidak terima akan ucapan taeyeon dan keluar dari mobil mewahnya.

“Ya! Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku! Apa kau tahu siapa aku, hah! Lancang sekali kau!” ucap Ms. Pemilik mobil dengan emosi.

“Aku tidak tahu siapa anda. Hajiman, aku tahu bahwa anda manusia sepertiku. Kita sama-sama membutuhkan makan, minum, pakaian. Bahkan kita sama-sama mengeluarkan kotoran. Jadi kumohon gunakan sopan santun dan tatakrama anda dimanapun, pada siapapun” ucap Taeyeon agar Ms. Pemilik mobil mewah itu berhenti merendahkannya.

“berani sekali kau menyamakanku dengan orang rendah sepertimu!” Ms. itu tampak begitu emosi dan memukul taeyeon dengan tas yang di pegangnya dengan keras membuat taeyeon kaget dan kesakitan. Ms itu terus memukuli taeyeon hingga akhirnya seorang pria 35 tahunan datang meleraikan mereka.

“Ada apa ini! Taeyeon Gwaenchanayo?”

“Ms. Apa yang anda- OMO! Ms. Kwon, tolong maafkan karyawanku ini”

“Sajangnim..?” ucap Taeyeon tidak menyangka bos-nya membela pemilik mobil mewah itu.

“Ya! Bagaimana kau mengajarkan pekerjamu ini! Pecat dia!” ucap Ms.Kwon itu.

“Maafkan saya Ms. Kwon saya akan memberinya pelajaran setelah ini. Cepat minta maaf Taeyeon” ucap pimpinan Pom Bensin tersebut pada Ms. Kwon dan menyuruh Taeyeon meminta maaf.

“Sajangnim, aku tidak bersalah. Ms. ini yang seharusnya meminta maaf padaku. Dia bersikap tidak sopan dan memukulku. Kenapa aku yang harus meminta maaf” sanggah Taeyeon tidak bisa menerima sesuatu yang bukan salahnya.

“Hah, lihat anak ini benar-benar tidak tahu diri” ucap Ms. Kwon masih emosi.

“Chogiyo-” perkataan Taeyeon terpotong dengan ucapan bosnya.
“Cepat minta maaf jika kau tidak ingin kupecat!” perintah sang bos membuat Taeyeon hanya bisa diam menahan amarah merasa dirinya kembali direndahkan.

“………………”

“Cepat!” ujar sang bos.

“Maafkan saya” Ucap Taeyeon memundukkan kepalanya menahan air mata yang hampir saja lolos.

“Dasar tidak berguna” Ms. Kwon berkata sambil tersenyum meremehkan lalu mendekati Taeyeon dan membisikan sesuatu.

“Inilah perbedaan diantara kita, si ‘miskin’ akan selalu kalah juga lemah dan si ‘kaya’ akan selalu kuat dan menang” setelah mengatakan itu ia segera pergi dari tempat itu bersama mobil mewahnya. Taeyeon hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya dengan erat menahan emosinya.

***
Malam di sebuah café terlihat Sunny sedang menunggu seseorang sendirian. Sambil menunggu ia meminum minuman yang sudah ia pesan sedikit demi sedikit, hingga tak lama kemudian seseorang yang ditunggunya datang.

“Kau sudah datang, OMO! Ada apa dengan wajahmu taeng?! Kaget Sunny melihat memar pada pelipis dan sudut jidat Taeyeon.

“Kecilkan suaramu, hanya masalah kecil ditempatku bekerja” ucap taeyeon santai sambil duduk di kursi.

“Masalah kecil?! Ini masalah besar kim Taeyeon, lihat wajahmu!” emosi Sunny melihat Taeyeon kembali memasang topengnya.

“Gwaenchana Sunny-ah” Taeyeon mencoba menenangkan Sunny yang sedang emosi.

“Inilah yang aku benci darimu, kau selalu mengatakan ‘gwaenchana’ walaupun kau tidak baik-baik saja!” ujar Sunny kesal karena Taeyeon selalu memasang topengnya.

“Eihh~ jinja gwaenchana Sunny-ah” Taeyeon tersenyum kembali meyakinkannya.

“Aku benar-benar membencimu” kesal Sunny kembali meminum minumannya.

“Dan aku benar-benar menyukaimu” Taeyeon berkata sambil terkekeh.
Lalu seorang yeoja datang menghampiri meja yang ditempati Sunny dan Taeyeon.

“Menunggu lama?” Tanya yeoja itu.
“Aniyo Hyo, duduklah. Aku sudah memesan minuman untukmu dan Taeyeon” Sunny menjawab. Pelayan pun datang membawa pesanan Sunny

“Bagaimana? Apa ada informasi mengenai adikku?” Tanya Taeyeon to the point.

“Mianhae Taeyeon, aku masih belum menemukan informasi apapun mengenai adikmu. Aku sudah mencoba bertanya pada orang-orang yang ada disekitar tempat tinggalmu dulu, tapi mereka semua mengatakan tidak pernah melihatnya semenjak tragedy yang menimpa keluargamu. Kamera sisi TV dijalan pun sudah lama rusak. Kau yakin adikmu masih hidup?” jawab Hyoyeon.

Taeyeon menghela napas dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
“Mianhae Taeyeon” sesal Hyoyeon.

“Gwaenchanayo Hyo, kau sudah berusaha mancarinya selama ini. Jeongmal Gomawoyo” Taeyeon bisa merasakan penyesalan yang Hyoyeon rasakan.

“Taeyeon sebenarnya ….” Ucap Hyoyeon ingin mengatakan sesuatu namun dilanda ragu saat melihat raut wajah lemas taeyeon.

“Apa mereka memutuskan menutup kasus pembunuhan appa dan eomma?” tebak Taeyeon.

“Bagaimana bisa kau-“

“Tidak ada saksi, tidak ada bukti, tidak ada jejak. Ini sudah 15 tahun tapi penyelidikan tidak menunjukan kemajuan yang signifikan. Begitupun dengan adikku, apa mereka akan menutup pencariannya juga?” ucap Taeyeon.

“………………….”

Hening.

Tidak ada yang menjawab dan tidak ada yang mau memulai pembicaan kembali, bahkan Sunny enggan untuk memulai.

“Mungkinkah benar dia sudah mati? Lalu bagaimana denganku?” ucap Taeyeon pelan namun masih terdengar oleh Sunny dan Hyoyeon.

***
Kamis, 16 January 2014

Bandara di Seoul hari ini begitu ramai membuat 2 orang yeoja terlihat begitu kesulitan menemukan seseorang yang akan menjemput mereka. Akhirnya salah satu yeoja yang memakai pakaian Dress pink tersenyum dan menampakkan eyesmile yang ia miliki ketika menemukan seseorang yang berjanji akan menjemputnya itu.

“Oppa! I miss you so much!” teriak Tiffany sambil berlari mendekat pada sang oppa dan langsung memeluknya.

“Aigoo! Lihat ini kau masih berisik, tidak berubah sama sekali” ucap sang oppa membalas pelukan Tiffany.

Tiffany melepaskan pelukannya tidak terima oppanya mengatakan dirinya berisik disaat mereka tidak bertemu sekian lama.

“Oppa!” Tiffany mengembungkan pipinya.

“Aigoo kyeopta, Mianhae Princess.. I miss you too, kau semakin cantik saja” ucap sang oppa membuat Tiffany tersenyum kembali.

“Dimana Daddy?” Tanya Tiffany tidak menemukan sang ayah.

“Banyak pekerjaan yang harus Daddy kerjakan, daddy bilang akan bertemu denganmu dirumah nanti princess” ujar sang oppa berharap adiknya dapat mengerti. Tiffany hanya mengganggukkan kepalanya.

“Lama tak bertemu Jess, bagaimana kabarmu?” sang oppa menyapa Jessica membuat hati Jessica berbunga.

“Ne, lama tak bertemu Siwon oppa dan aku baik-baik saja” Jessica menjawab sapaan Siwon.

“Come on go to home” ajak Siwon.

***
Tiffany POV

Senangnya aku bisa kembali ke tanah kelahiranku, Seoul semakin indah dan sejuk. Mengingatkanku pada masa kecilku bersama siwon oppa dan Jessie. Saat di Cali aku tinggal dirumah Jessie bersama ayahnya. Kini kami sudah Lulus dan memutuskan melanjutkan pendidikan kami di Korea.

Kini Jessie yang akan tinggal dirumahku. Daddy Jung memperbolehkan Jessie melanjutkan pendidikan di Korea dengan syarat tinggal bersamaku, daddy Jung sangat mengkhawatirkan anaknya menjadi nakal, setidaknya di Korea daddy bisa memperhatikannya seperti yang deddy Jung lakukan padaku saat di Cali.

Jessie lebih tua dariku, dia lahir 4 bulan lebih awal. Karena itu aku memutuskan duduk dikursi belakang dan membiarkannya duduk dikursi depan bersama oppa. Ini juga akan menjadi kesempatan untuknya agar lebih dekat dengan oppa. Jessie memiliki perasaan pada oppa sejak kecil, itu terlihat sangat jelas dari sikapnya yang dingin menjadi hangat dan cara bicaranya yang malu-malu setiap ada Siwon oppa.

Kulihat mereka berdua saling bercerita sambil tertawa, mengabaikanku yang ada di kursi belakang. Aku memutuskan untuk melihat pemandangan disepanjang jalan, kami melewati sebuah toko mainan membuatku teringat akan masa yang aku rindukan, sampai suara oppa kembali menyadarkanku.

“Kita pergi ke pom bensin dulu, oke? Oppa ingin ke toilet dan mengisi bahan bakar ” ujar Siwon oppa.

“Ne” jawabku dan Jessie bersamaan. Siwon oppa memarkirkan mobil dan pergi kekamar mandi.

Kualihkan kembali pandanganku keluar jendela memperhatikan bermacam-macam kendaraan yang mengantri untuk mengisi bahan bakar agar mereka tetap melaju dijalan. Tak sengaja kulihat seorang yeoja berparas cute dengan kulit seputih susu dan memiliki rambut pendek blonde dan memakai topi yang membuatnya tampak lebih cool sedang melayani bermacam-macam kendaraan tersebut dengan ramah.

Ia seperti berkata sesuatu pada si pengemudi lalu mengisi kendaraan itu dengan bahan bakar, mengambil uang yang diberikan si pengemudi dan memberikan kembaliannya. Ia terus tersenyum hingga semua antrian kendaraan itu sudah kembali kejalan raya melanjutkan tujuan awal mereka. Senyum itu sangat cantik membuat orang yang melihatnya ikut bahagia dan akan merasa sedih jika tidak melihat senyuman itu seperti yang aku rasakan sekarang saat senyum itu hilang dari wajah cute-nya.

Kulihat ia menghela napas dan mengeluarkan dua buah kalung yang ia sembunyikan dibalik bajunya dan disaku celananya, aku tidak bisa melihat dengan jelas kalung apa itu.

Mungkinkah kalung Couple?. Lalu ia menggumamkan sesuatu, wajahnya berubah menjadi sedih dan lelah. Tanpa sadar aku terus memperhatikan yeoja itu hingga tanpa kusadari ia menengokkan kepalanya dan pandangan kamipun bertemu beberapa detik, lalu kualihkan pandanganku darinya. WHAT THE HELL! Jantungku berdetak sangat kencang saat ini. Ya Tuhan Tiffany kau seperti pencuri yang tertangkap polisi.

“Omo! Bagaimana ini? Bagaimana jika ia menghampiriku? Andwae! Please help me god” rutukku dengan suara pelan seperti berbisik karena kebodohan yang kulakukan hingga tertangkap basah.

“Mwo? Kau bicara apa tadi?” Tanya Jessie, membuatku kaget, SANGAT SANGAT KAGET.

“Anya, aku tidak berbicara apapun” sangkalku padanya.

“Really? But I like hear you last” ujar Jessie.

Aku menarik napasku untuk menenangkan jantungku. Saat jantungku mulai kembali berdetak normal, tiba-tiba……

***
Taeyeon POV

Hari ini tampak begitu ramai, kendaraan mengantri untuk mendapatkan jatah makan mereka. Melihat banyaknya kendaraan membuatku teringat akan keluargaku.

Flashback
Author POV

“Eomma.. Appa! lihat banyak sekali mobilnya! Aku suka mobil yang itu!” riang seorang gadis kecil sambil menunjuk sebuah mobil berwarna biru muda.

“Taetae suka mobil seperti itu?” Tanya sang eomma terkekeh sambil menuntunnya, sedangkan sang appa sedang menggendong sang adik.

“Ne, appa berjanji akan membelikanku mobil. Aku ingin yang itu!” pinta gadis kecil itu.

“Tapi itu mobil taxi taetae” ujar sang appa ikut terkekeh.

“Tapi itu biru, aku ingin itu!” kekeh gadis kecil yang dipanggil taetae itu memasang wajah kesal.

“Tae Unnie itu mobil jelek. Kenapa ingin yang seperti itu. Lihat! Mobil itu lebih bagus!” ujar sang adik sambil menunjuk sebuah mobil carry berwarna pink.

“Jinja.. mobil itu sangat, sangat, sangat jelek dan hueeek. Melihatnya saja ingin muntah!” ucap taeyeon tak mau kalah atas ejekkan sang adik.

“Appa! Tae unnie jahat! Dia menghina pink, berarti Tae Unnie juga menghinaku!” sang adik menangis karena sang unnie mengejek warna favoritenya.

“Taetae kau tidak boleh berbicara seperti itu. Ayo minta maaf pada adikmu” nasihat sang eomma.

“Hua~ appa, eomma jahat!” tangis taeyeon keluar dan langsung melepaskan genggaman sang eomma lalu memeluk kaki sang ayah.

“Sudah.. sudah.. jangan menangis. Appa akan membelikan kalian mobil berwarna biru dan pink yang lebih bagus dari itu” ucap sang appa membuat kedua putrinya berhenti menangis dan tersenyum.

Flashback End

Aku kembali menyadarkan diri setelah terbawa kenangan masa lalu bersama keluargaku. Kulayani mereka sebaik mungkin dan kupasang senyum di wajahku menutupi kesedihan hatiku saat ini. Saat semua antrian kendaraan sudah pergi, aku duduk untuk mengistirahatkan kakiku.

Aku mengeluarkan kalung yang kusembunyikan dibalik bajuku, kalung yang sangat berharga pemberian appa yang bertuliskan nama adikku. Lalu ku keluarkan juga kalung milik adikku yang ku simpan dalam saku celanaku. Kalung itu bertuliskan nama ‘TaeTae’ nama panggilan yang appa dan eomma buat untukku. Appa dan eomma lebih suka memanggilku dengan nama TaeTae dibandingkan dengan nama Taeyeon. Kalung milik adikku ini ditemukan saat pencarian adikku 15 tahun silam. Ini adalah barang terakhir yang ditemukan polisi, hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dia masih hidup.

“Hhah~kumohon..” aku berbicara dengan kalung miliknya.

“Kumohon tetaplah hidup, biarkan aku mempunyai alasan untuk bertahan hidup. Bogoshipeo” lanjutku.

Entah mengapa aku merasa sedang diperhatikan sejak tadi, karena itu aku mengedarkan pandanganku dan aku menemukannya. Mata kami saling bertatapan beberapa detik sebelum ia mengalihkan pandangannya. Melihat wajahnya yang sangat tegang membuatku tertawa pelan. Benar-benar lucu. Mungkin dia merasa malu atau mungkin dia berfikir jika aku akan menghampiri dan memakinya.

Kusembunyikan kembali kalung yang menggantung dileherku dibalik bajuku dan memasukan kembali kalung satunya kedalam saku celanaku.

***
Tiffany POV

‘TOK TOK TOK’

“ANDWAE!” teriakku kaget saat mendengar seseorang mengetuk kaca jendela disampingku.

“TIFF KAU MEMBUATKU TULI!” teriak Jessie sambil menutup telinganya.

Kulihat seseorang yang mengetuk tadi, dan terlihat oppa sedang tertawa jahil. AHH BENAR-BENAR MENYEBALKAN! Kutatap Oppa dengan tajam dan membuatnya terdiam. Oppa segera masuk dan meminta maaf. Lalu mobilpun dinyalakan dan bersiap untuk mengisi bahan bakar.

Saat mobil semakin mendekat pada yeoja itu kutundukkan kepalaku dan kurasakan jantungku kembali berdegup kencang.

“Ada yang bisa saya bantu, anda ingin mengisi berapa liter tuan?”
Apa itu suaranya? Suaranya sangat lembut dan membuatku nyaman.
Ku alihkan pandanganku untuk melihatnya. Ia tersenyum dengan sangat manis dan cantik. Lalu kutatap matanya…

“Tolong isi dengan penuh nona” ujar oppa.

Tatapan apa itu? Bagaimana bisa ia memasang ekspresi seperti itu? Tersenyum dengan sangat manis dan cantik namun jika melihat kedalam matanya lebih dalam terlihat berbagai campur aduk perasaan kesedihan, ketakutan, dan kesakitan. Senyuman cantik nan manis itu…. Ekspresi bahagianya itu….

Semua palsu.

“Terimakasih, semoga selamat sampai tempat tujuan” ucap yeoja itu.

Saat kendaraan kami mulai melaju
tatapan kami kembali bertemu. Kesedihan, ketakutan dan kesakitan bisa aku rasakan dengan jelas. Lalu ia menggumamkan sebuah kata … kuikuti gerakan bibirnya.

“Bo-”

“Go-”

“Shi-”

“Peo?“

“bogoshipeo?” tanyaku pada diri sendiri

To Be Continue

Author udah update nih.. Makasih buat reafer yang udah sabar nunggu 😁..
Jangan lupa tulis komentar kalian baik itu krikik ataupun saran, kamsahamnida 😁

Advertisements

109 thoughts on “Circle [Chapter 1]

  1. pani adiknya taeng???
    kalau emang iya kok pani gk pulang / cari taeng? atau mungkin di lupa ingatan terus di adopsi sama keluarga siwon?
    waahhh rumit kayanya nih cerita apalagi kalau yg ms kwon ms kwon itu emaknya pani makin rumit *halah pikiran gua jauh banget baru juga baca chptr 2 lol*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s