My Beautiful Angel (Twoshoot 1/2)

my-beautiful-angel

Main cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon
Genre : Yuri, fantasy, Romance, twoshoot
Rated : 17+
Author : TNEYisREAL08

WARNING!!
The gendre is Yuri if you don’t like it go away and don’t copy paste or Bashing. Typo’s everywhere, please comment. Reading enjoy ^^

***

Author POV

Disuatu pagi yang cerah terlihat seorang yeoja berkacamata sedang berlari. Ia berlari dengan sekuat tenaga yang ia miliki.

“Tunggu sebentar Ajusshi!!!!!” teriak yeoja itu saat melihat bus yang akan ia tumpangi akan segera melaju.

Bus itu tidak jadi melaju karena teriakan yeoja itu. yeoja itu tersenyum dan semakin mempercepat larinya.

Hahh hahh~ kamsahamnida” ujar wanita itu membungkukkan badannya setelah berhasil masuk bus tersebut.

Ia segera melangkahkan kakinya untuk duduk. Ia memilih duduk didekat jendela. Ia hanya menatap jalanan sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya bus telah berhenti dipemberhentian yang yeoja itu tuju. Ia segera turun dan berjalan memasuki gerbang yang bertuliskan ‘LS Senior High School”.

LS senior High School adalah sekolah favorite. Banyak anak berprestasi disana. Dan tentu saja disana pula banyak siswa-siswi yang memiliki paras cantik dan tampan. Kalian tahu julukan sekolah ini?

‘The King of Brain Face’

Ia kini telah sampai dikelasnya, ia segera duduk dibangku miliknya. Untuk beberapa saat yeoja itu terdiam sebelum akhirnya yeoja itu menatap sekelilingnya, kelasnya sangat ramai. Mereka terlihat berbincang dengan teman yang lain, ada juga yang sedang berlari- lari. Mereka semua terlihat senang.

Tapi kenapa hanya dirinya yang merasa sendiri?

Wae?

“Tiffany!” ia mendengar seseorang memanggilnya membuatnya menyunggingkan senyumnya.

“Ne, bomi ada apa?” tanya gadis yang dipanggil tiffany itu.

“Bisakah kau pindah ke bangku kosong yang ada dibelakang?” pinta bomi.

“N-ne?” tiffany ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah bahwa bomi teman sebangkunya sedang mengusirnya saat ini.

“Apa kau tuli? Kubilang untuk pindah ke bangku belakang! Aku akan duduk dengan suzy mulai saat ini. Cepat pindah sana!” usir bomi membuat hati tiffany sakit.

Tiffany mengangkat bokongnya dari kursi itu, memilih untuk duduk dibangku belakang. Sesuai keinginan bomi.

.

.

“Dalam dalam persoalan ini, kalian harus menggunakan rumus ini. Jadi bla bla bla”

Tiffany mengalihkan pandangannya yang memperhatikan seosaengnim keluar jendela. Menatap orang-orang yang ada di lapangan olahraga. Mereka terlihat asik satu sama lain. Hatinya sedih. Ia juga ingin merasakan hal yang sama. Berbincang dengan teman-teman, bercerita, bercanda, tertawa, saling berbagi makanan dan lainnya yang biasa dilakukan bersama teman.

Ia menatap kursi disebelahnya.

Kosong.

Hahh~

Ia mengela nafas. Ia membutuhkan seorang teman namun sayangnya ia rasa sampai kapanpun keinginannya takkan pernah terkabul.

“Aku harap aku bukanlah aku. Aku benci diriku” ujar tiffany dengan suara seperti berbisik.

***

Tiffany POV

“Heii jelekk!! Kenapa kau masih ada disekolah ini? Kau tidak tahu malu ya? Apa kau tidak tahu sekolah ini?”

Ini adalah kesekian kalinya mereka melabrakku. Meski ucapan mereka sangat menyakitkan aku hanya bisa diam, aku tidak berhak melawan mereka. Karena aku tahu posisiku.

“Tapi aku kemari hanya untuk belajar” ucapku sedikit membela diri.

“Ckckck, kau tahu hanya orang yang cerdas dan berwajah cantik juga tampan yang boleh bersekolah disini. Apa kau tidak punya cermin? Lihat dirimu! Kau jelek. Kau bisa menghancurkan reputasi sekolah ini!” ujarnya.

Hatiku benar-benar sakit. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang mereka katakan benar.

“Ayo beri pelajaran teman-teman” ucapnya.

Dia meraih tasku dan tentu saja aku mencoba menghentikannya.

“Ailee apa yang aku lakukan kembalikan tasku!” aku berusaha mengambil kembali tas yang dia pegang. Namun teman-temannya menahanku.

Ailee berjalan menuju jendela dan membuka jendela. Selanjutnya yang ia lakukan adalah menumpahkan segala isi ditasku dan melempar tasku keluar jendela.

Entah kekuatan darimana aku berhasil melepaskan diri dari mereka yang menahanku dan berlari menuju jendela. Menatap barang-barangku yang kini tenggelam dalam air dari lantai 3 kelasku ini.

Mataku terasa memanas. Mereka keterlaluan. Mengapa aku diperlakukan seperti ini? Mengapa tuhan tidak menolongku? Wae?

.

.

Aku segera berlari ke bawah berniat mengambil barang-barangku. Ku mepaskan sepatu dan kaos kaki yang kukenakan lalu segera masuk sungai kecil itu. Mengambil tasku dan berlanjut mengambil barang-barang yang lainnya.

“Heiii apa yang kau lakukan disana bodoh!!! Sedang mencuci muka agar wajahmu berubah?? Hahahaha”

Aku mengangkat kepalaku menatap mereka. Banyak orang yang memperhatikan disana. Mereka tertawa puas melihatku seperti ini.

“Sana pergi kedokter dan lakukan operasi plastik saja!! Hahahahahaha”

Aku menundukkan kepalaku. Apa aku sejelek itu? Apa aku seburuk itu dimata mereka? Mataku semakin memanas.

Tidak tiffany kau tidak boleh menangis!!!!

Aku berusaha tidak mempedulikan mereka dan kembali memungut barang-barangku. Mataku mulai mengabur.

Apa itu?

Aku memperjelas penglihatanku. Disana terlihat sebuah kalung yang tersangkut bebatuan. Aku mengambil benda itu.

“Mengapa ibumu melahirkan anak sejelek dirimu?!”

Kata-kata itu berhasil menghentikan aktivitasku. Bagaimana bisa mereka berkata sekejam itu?? Kini air mataku berhasil lolos. Mommy …

Author POV

Tiffany berdiri tegak mengepalkan tangannya yang menggenggam kalung yang ia temukan tadi membuat tangannya luka dan mengeluarkan darah. Namun tiffany tidak mempedulikan itu.

“Sana pergi ke eommamu dan minta perbaikan wajahh!!!! hahahaha”

Mendengar itu ia menutup matanya sejenak. Ia sudah tidak kuat lagi. Ia tidak bisa bertahan lagi. Ini sudah melewati batas.

Tiffany berlari sekencang mungkin. Ia ingin keluar dari tempat itu. Ingin rasanya ia mati saja dan mengakhiri penderitaan ini.

***

“Honey, buka pintunya daddy mohon. Ini sudah hari ketiga kau mengurung diri seperti ini. Daddy akan melaporkan mereka. Jadi jangan seperti ini daddy mohon”

Tiffany hanya diam berbaring diranjang pink miliknya. Ia benar-benar sedang rapuh. Ia tidak ingin kembali kesana. Ia hanya ingin menyendiri. Sendiri tanpa siapapun.

“Honey jangan seperti ini, Mommy-mu akan sedih melihatmu seperti ini. Kau tidak ingin melihat Mommy-mu sedih bukan?”

“…………….”

Hahh~ baiklah daddy akan memberimu waktu sampai besok. Jika kau masih tidak mau membuka pintu, maka daddy akan membukanya dengan kunci cadangan” ujar sang daddy.

Suara itu tidak terdengar lagi.

Tiffany meneteskan air matanya dalam diam. Mengapa sang mommy tidak ikut membawanya pergi saja? Itulah yang ia pikirkan.

Tiffany mengubah posisi berbaringnya dan saat itu tangannya menyentuh sesuatu, Sesuatu yang keras dan kecil.

Ia membawa benda itu agar ia bisa melihat apa itu.

Ahhh~ itu adalah kalung yang ia temukan beberapa hari yang lalu. Kalung ini sangat cantik.

fashion-lovers-stainless-steel-music-note-pendant-couples-necklace-jewelry-best-friends-necklace-girlfriend-gift-nl-1

‘Design yang unik’ pikir tiffany. Ia tersenyum menatap kalung itu. Hingga tak lama sesuatu berhasil merebut perhatian gadis itu dari kalung tersebut.

‘First Snow’

Gadis itu berlari menuju jendela dan melebarkan senyumnya memperlihatkan Eyesmile yang ia miliki.

Ia menjulurkan tangannya mencoba meraih sang salju. Dingin. Ia sangat menyukai salju.

Ia menyatukan tangannya dan menyepal sambil menggenggam kalung cantik tadi. Ia berniat memanjatkan do’a. Ia memejamkan matanya.

‘Aku harap aku bisa mempunyai seseorang yang peduli, menyayangiku dan selalu ada disisiku membelaku kapanpun, dan juga…. menerimaku apa adanya. Aku juga mengharapkan teman dan hidup seperti yang lainnya’

***

Cuitttt cuitttt

Terdengar suara merdu dipagi hari yang cerah namun dingin. Burung-burung bersenandung menyambut sang matahari yang setidaknya bisa menghangati dari dinginnya salju. Orang-orang kini mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing.

Namun berbeda dengan yeoja yang satu ini. Ia masih tertidur dengan pulas tidak berniat membuka mata ataupun menjalankan aktivitasnya. Ia hanya ingin seperti ini. Bermalas malasan.

“Heii bangunlah ..”

Terdengar suara yang mencoba membangunkan si yeoja yang masih tertidur.

Tiffany POV

“Heii bangunlah ..”

Emm, suara siapa itu benar-benar mengganggu.

“Heii sampai kapan kau akan tidur? Ini sudah siang”

Oh tuhan dia benar-benar mengganggu tidur nyenyakku.

Hening.

Aku tersenyum dalam tidurku karena suara itu kini telah menghilang. Namun tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengelus rambutku membuatku merinding namun aku menikmati ini.

Elusannya sangat lembut. Membuatku nyaman. Hahh mimpi yang indah~

Aku menyentuh tangan yang sedang mengelusku itu. Tangannya dingin, sedingin salju namun lembut. Ku genggam erat tangannya berharap ia tidak pergi dan tetap mengelusku.

“Pany-ah ireona..”

Aku bisa mendengar bisikan itu dengan jelas. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang mengenai telingaku. Membuatku geli.

Tunggu!

Aku sedikit melonggarkan genggamanku pada tangan itu. Lalu mencubit kecil tangan itu.

“Aww”

Ini bukan mimpi. Lalu aku meraba tangan orang itu. Sangat mulus dan dingin. Sampai akhirnya aku menyentuh sesuatu seperti sebuah pipi-

Tunggu !! Pipi?!!

Ini bukan mimpi. Ini nyata! Aku bisa merasakannya!

Kubuka mataku dan-

Mataku masih mengabur. Kulihat seorang yeoja berambut hitam panjang sedang tersenyum hangat padaku sambil melambaikan tangannya didepan wajahku.

snsd-taeyeon-selca

Ku balas senyuman itu-

Tunggu-

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!”

Author POV

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!”

Tiffany menjerit dengan sangat SANGAT keras. Tak lupa ia juga memukul wajah orang itu membuatnya terjatuh kelantai.

Wajar jika tiffany melakukan itu. Siapa yang tidak terkejut saat ia membuka mata dari tidurnya ternyata ada seseorang yang tidak ia kenal tepat didepannya.

Tiffany mengeratkan selimutnya. Ia benar-benar terkejut bukan main. Nafasnya terengah-engah dan jantungnya pun berdetak sangat kencang.

“N-nugu-saeyo? Tanya tiffany.

Yeoja itu meringis kesakitan karena pukulan keras dari tiffany. Namun ia kembali tersenyum setelah mendengar suara dari tiffany. Ia segera bangkit.

“Kim taeyeon” ucap yeoja itu.

“Ne?” tiffany tidak mengerti maksud yeoja itu.

Tok tok tok !

“Honey ada apa sayang?”

Tiffany dan taeyeon menolehkan kepalanya kearah pintu. Dimana sang daddy berada di balik pintu tersebut.

“Nothing dad, aku hanya bermimpi buruk saja” ucap tiffany dengan suara sedikit keras agar sang daddy dapat mendengarnya.

“Bernahkah kau baik-baik saja honey?” sang daddy ingin diyakinkan kembali.

“Yes dad, i’m okay”

“Baiklah kalau begitu. Kau harus segera turun daddy sudah menyiapkan sarapan untukmu”

“Yes dad!”

Terdengar suara langkah daddy hwang yang menjauh dari balik pintu.

Hening..

“Kau bilang tadi apa? Kim-?” tiffany kembali bersuara menghentikan keheningan.

“Kim taeyeon, namanku kim taeyeon”

“B-bagaimana kau-bisa ada disini?” tanya tiffany.

“Kau yang memanggilku” jawab taeyeon masih menunjukkan senyumnya.

“Ne? Naega? Aku tidak memanggilmu, aku tidak memanggil siapapun. Aku bahkan tidak mengenalmu” ujar tiffany pada taeyeon.

“Tidak-tidak, kau memanggilku. Kau memanggilku saat salju pertama turun”

“Ne?” tiffany benar-benar tidak mengerti apa yang taeyeon katakan. Ia perlu penjelasan yang lebih jelas.

“Bagaimana kau bisa ada dikamarku? Aku mengunci rapat jendela dan juga pintunya” tanya tiffany kembali. Gadis dihadapannya ini benar-benar misterius. Ia harus berhati-hati.

Hahh~ kalungmu” taeyeon menunjuk sebuah kalung yang menggantung di leher jenjang tiffany membuat tiffany mengikuti arah yang taeyeon tunjuk.

“Kau memintaku datang lewat kalung itu” ucap taeyeon kembali.

“Mwo?”

ahh, tiffany ingat sekarang. Ia berdo’a menginginkan seseorang yang peduli, menyayanginya dan selalu ada disisinya membelanya kapanpun, dan juga…. menerima tiffany apa adanya. Ia juga memgharapkan seorang teman dan hidup seperti orang pada umumnya.

“Tapi aku masih tidak mengerti” ujar tiffany.

“Kalau begitu kau tidak perlu mengerti. Aku datang karenamu, untuk membantumu dan menemanimu” taeyeon tersenyum manis pada tiffany yang masih dilanda kebingungan.

“Tiffany cepat turun sebelum sarapanmu menjadi dingin!” daddy hwang memanggil tiffany dari lantai bawah.

“Yes dad, i’m coming” jawab tiffany.

Tiffany menatap taeyeon, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Tidak mungkin ia meninggalkan orang asing dikamarnya begitu saja. Mungkin saja orang itu adalah orang jahat bukan?

Seolah tahu apa yang tiffany pikirkan, taeyeon tersenyum kembali dan berkata sesuatu agar tiffany mau mempercayai dirinya.

“Aku akan menunggu disini. Aku tidak akan pergi” ujar taeyeon.

“Kau benar-benar tidak boleh kemanapun, urusan kita belum selesai” ujar tiffany lalu menghilang dibalik pintu.

.

.

Kini mereka tiffany dan taeyeon ada disebuah taman bermain anak-anak yang tak jauh dari rumah tiffany. Mereka duduk disebuah bangku tak jauh dari anak-anak yang sedang bermain dengan riang ditaman itu.

“Jadi maksudmu kau datang karena aku memohon pada kalung ini?” tanya tiffany.

“Ne, kau lihat ini?” taeyeon mengeluarkan kalung yang tersembunyi dibalik bajunya. Terlihatlah sebuah kalung berwarna hitam berbentuk note musik.

fashion-lovers-stainless-steel-music-note-pendant-couples-necklace-jewelry-best-friends-necklace-girlfriend-gift-nl-2

“Kalungku dan kalungmu memiliki keterkaitan satu sama lain. Maksudku mereka saling berhubungan. Saat kau membutuhkanku aku akan datang dan tahu posisimu, begitupun sebaliknya” jelas taeyeon.

“Wahhh ini benar-benar gila! Mana mungkin ada yang seperti itu?! Apa kau sedang mencoba menipuku?!” tiffany masih tidak percaya dengan ucapan taeyeon. Hal-hal seperti itu hanya ada dalam film atau buku cerita pikirnya.

“Manusia tidak bisa seperti itu. Kecuali jika kau-” tiffany menghentikkan ucapannya ketika melihat taeyeon bangkit dari duduknya dan berdiri dihadapannya.

“O MY GOD !!!!” teriak tiffany. Ia benar-benar terkejut dengan gadis dihadapannya itu.

Taeyeon mengeluarkan sayap dari balik punggunggnya. Sayapnya benar-benar nyata. Sayap itu bercahaya dan indah. Membuat tiffany takjub.

“Hei cepat hilangkan itu. Bagaimana jika ada yang melihat!!” ujar tiffany. Taeyeon terkekeh melihat tingkah tiffany, menurutnya itu lucu.

“Hanya kau yang bisa melihatnya pany-ah” seketika sayap itu menghilang dan taeyeon duduk kembali ditempatnya. Sementara tiffany ia masih terdiam mencoba mencerna semua yang menurutnya terlalu tiba-tiba dan sulit dipercaya.

“Aku kemari karenamu. Meski sulit dipercaya. Tapi kau harus menerimanya tippany. Karena kau membutuhkanku” ujar taeyeon. Ia tahu bagaimana tiffany mengalami banyak kesulitan disekolah karena teman-temannya karena itu ia datang untuk membantu gadis itu.

Kata-kata terakhir taeyeon berhasil membuat tiffany menatap taeyeon diam. Mereka saling bertatapan. Taeyeon memang benar ia membutuhkan seseorang disampingnya. Taeyeon tersenyum manis pada tiffany, membuat dirinya merasakan getaran dihatinya. Tiffany membalas senyum manis itu.

.

.

“Dad” panggil tiffany pada sang daddy yang sedang duduk diruang tengah menikmati kopi panasnya sambil membaca koran.

“Yes honey-wow siapa dia?”

“Annyeonghasaeyo, kim taeyeon imnida” sapa taeyeon sopan, tak lupa ia juga sedikit membungkuk pada daddy hwang.

“Dad bolehkah taeyeon menginap disini? Maksudku orangtuanya ada diluar negeri. Dan dia sendiri dikorea jadi-”

“Ne tuan hwang appa dan eomma meninggalkanku disini karena aku harus melanjutkan sekolahku. Dan aku sedikit takut tinggal sendiri dirumahku, bolehkah aku tinggal disini sampai orang tuaku kembali?” ucap taeyeon yang memotong ucapan tiffany. Ia hanya merasa ini akan mencurigakan jika tiffany melanjutkan perkatannya yang terlihat sangat gugup.

“Tentu saja taeyeon, dengan begitu tiffany tidak akan kesepin bukan”
Mendengar jawaban itu taeyeon dan tiffany tersenyum senang.

***

“Heii tippany ireona. Kau harus sekolah bukan?” taeyeon mencoba membangunkan tiffany yang masih tergulung selimut hangatnya.

“Emmmm, berhenti menggangguku taeyeon” ujar tiffany masih dengan mata terpejam.

“Tapi kau kan terlambat jika tidak bangun sekarang”

“Arasseo aku bangun” tiffany bangun dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan linglung.

.

.

“Cepat sarapan dul-Kenapa kau belum bersiap-siap honey, ini sudah siang” ucap sang daddy melihat tiffany masih mengenakan piama pinknya. Tiffany mendekat kearah daddy hwang yang sedang sarapan diikuti taeyeon.

“Bisakah aku tidak masuk dad, aku ingin beristirahat satu hari lagi” pinta tiffany.

“Tidak honey, kau sudah tidak masuk selama 4 hari” daddy hwang menolak permintaan putrinya itu.

“Please, just one day dad. Aku hanya belum siap untuk kembali kesana, emm??” tiffany menampilkan puppy eyesnya pada sang daddy berharap ia akan menyetujui permintaannya.

Hahh~ okee just one day oke. Bagaimana denganmu taeyeon, dimana kau sekolah?” tanya daddy hwang.

“Ne?” taeyeon bingung menjawab apa pasalnya ia tidak tahu apa-apa mengenai ini. Ia hanya makhluk asing yang baru saja menginjakkan kakinya dibumi ini.

“Aku-”

“Dia satu sekolah denganku dad, dia bilang ia sedikit pening jadi tidak akan masuk hari ini” kini tiffany yang memotong ucapan taeyeon membuat taeyeon bernafas lega.

“Kau baik-baik saja taeyeon? Mau kerumah sakit?”

“Tidak-tidak!” taeyeon sedikit teriak membuat tiffany dan daddy hwang terdiam.

“A-ah maksudku aku baik-baik saja, hanya perlu istirahat tuan hwang. Maafkan aku” taeyeon malu dengan teriakkan yang refleks ia lontarkan itu. Entah mengapa mendengar kata rumah sakit ia sangat tidak menyukai itu.

“Baiklah, kau harus banyak istirahat taeyeon. Oh ya tiff daddy akan pergi ke newyork siang ini”

“Mwo? Kenapa mendadak?”

“Iya daddy mendapat tugas mendadak pagi ini. Mungkin appa akan disana kurang lebih selama 1 bulan sampai proyeknya selesai”

“Kenapa lama sekali” tiffany mengembungkan pipinya. Taeyeon yang melihat itu hanya sedikit menahan tawa, tiffany benar-benar lucu menurutnya.

“Maafkan daddy sayang, kau tidak apa-apa jika daddy tinggal?” daddy hwang begitu menyesal harus meninggalkan putrinya, namun apa daya ia harus menyelesaikan pekerjaannya di newyork.

“Tuan hwang tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga putri anda dengan baik” ujar taeyeon.

Mendengar itu tiffany menatap taeyeon tidak percaya. Hatinya bergetar mendengar ucapan taeyeon, ia belum pernah mendengar seseorang berkata seperti itu untuknya. Yang ia dapatkan selama ini hanya pengusiran dan cacian dari teman-temannya.

“Terimakasih taeyeon, dan berhenti memanggil tuan panggil aku daddy”

“Ne dad-dy?” ucap taeyeon ragu.

“Daddy titip putri cengeng daddy padamu. Dan daddy sarankan untuk tidak terpengaruh puppy eyes nya itu” daddy hwang tertawa.

“Daddy! Jangan bicara seperti itu padanya” ucap tiffany. Ia malu ayahnya berbicara seperti itu mengenai dirinya pada orang yang masih asing baginya itu.

“Baiklah daddy harus berkemas sekarang. Habiskan sarapan kalian”

.

.

“Hati-hati dad” tiffany memeluk sang daddy tercintanya dengat erat, ia pasti akan sangat merindukannya.

“Hmm. Kalian juga harus hati-hati dirumah. Hubungi daddy jika terjadi sesuatu okay?” ucap daddy hwang.

“Ne tuan-maksudku dad-dy” taeyeon belum terbiasa dengan sebutan ini. Daddy hwang tersenyum. Ia mendekat kearah taeyeon lalu merangkulnya untuk ia peluk. Sambil memeluk ia membisikan sesuatu.

“Senang ada kau taeyeon. Aku harap dengan adanya dirimu putriku tidak kesepian lagi. Kau orang pertama yang putriku kenalkan padaku. Kau juga orang pertama yang menginjakkan kaki dirumahku. Kau teman pertamanya, karena itu tolong jaga dia dan terimakasih taeyeon sekali lagi”

Taeyeon terdiam mendengar apa yang dikatakan daddy hwang. Itu membuatnya penasaran seberapa besar kesulitan yang tiffany hadapi sampai dia tidak memiliki satupun teman.

.

.

Hening..

Mereka sedang menonton tv dalam diam. Tidak ada yang memulai percakapan baik tiffany maupun taeyeon.

Hahh~ ini membosankan. Kau hanya memindah-mindahkan chanel tanpa henti. Apa kau tidak berniat menonton?” ujar taeyeon.

“Aku sedang mencari acara yang menarik. Tapi tidak ada satupun yang menarik” jawab tiffany.

“Heii apa kau tidak lapar? Aku lapar, perutku berbunyi sejak tadi. Apa kau bisa masakan sesuatu?” taeyeon menelus perutnya sambil memanyunkan bibirnya membuat tiffany gemas.

“Kau lapar? Kalau begitu makan snack saja disana. Aku tidak bisa memasak”

“Aku tidak mau! Aku mau makanan berat” taeyeon kini memasang wajah cemberut.

“Tapi aku tidak bisa memasak. Makan snack saja!” ujar tiffany lalu pandangannya kembali kelayar tv mengabaikan taeyeon yang sedang memohon padanya.

Taeyeon yang melihat tiffany mengabaikannya, iapun menggeser duduknya mendekat kearah tiffany membuat tiffany menolehkan wajahnya kearah taeyeon dengan terkejut.

“Pany-ah aku ingin makanan berat~” taeyeon memasang puppy eyes miliknya.
Sementara tiffany wajahnya memerah. Wajah taeyeon sangat dekat dengannya ditambah taeyeon memasang puppy eyesnya.

Deg deg
Deg deg

Tiffany POV

Deg deg
Deg deg

Jantungku berdetak kencang. Wajahnya sangat dekat denganku. Ini pertama kalinya aku melihatnya sedekat ini. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Alisnya ..

Matanya ..

Hidungnya ..

Kulit putihnya ..

Dan terakhir

Bibirnya ..

Bibir tipis miliknya berwarna Pink membuatku hanya bisa menelan air liurku sendiri. Benar-benar menggodaa~

Tidak tidak ! Apa yang kau pikirkan tiffany. You crazy??!!

Aku merasakan mukaku yang terasa panas.

“Pany-ah kau baik-baik saja? Kau sakit? Wajahmu memerah”

Suara taeyeon berhasil menyadarkanku dari pikiran kotorku.

Tunggu- pikiran kotor??

Aku memukul kepala taeyeon dengan keras. Kulihat ia meringis sambil memasang wajah cemberut.

“Kau! Jangan pernah memasang ekspresi seperti tadi. Atau akan kuhajar kau!” ujarku.

Kulihat ia mengangguk dan duduk dengan posisi normal menghadap tv sambil memasang wajah cemberut.
Haahhh~ kenapa aku merasa bersalah?

“Kau bilang ingin makanan berat bukan? Kalau begitu kita masak bersama saja” ucapku.

Dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapinya saat aku mengatakan itu.

.

.

Author POV

“Baiklah kita lihat apa yang akan kita buat” tiffany mencari berbagai macam resep dengan menggunakan internet di handphonenya.

“Wow itu itu! Aku ingin itu!” taeyeon antusias saat melihat gambar makanan dari salah satu resep yang mereka lihat.

Haejangguk.

sundubu-jjigae

“Tidak, itu terlalu sulit” ucap tiffany.

“Tapi aku-”

“Aku bilang tidak taeyeon” tiffany memotong ucapan taeyeon dengan sengaja membuat taeyeon kembali memasang wajah cemberut.

“Taeyeon kita berdua tidak bisa memasak. Kita harus memasak masakan yang mudah dimasak. Bagaimana dengan ini?” ujar tiffany lalu memperlihatkan satu resep.

Kimchi Bokkeumbap.

27fotor0100522372

“Ini terlihat mudah dan bahan-bahannya juga sudah kita miliki. Bagaimana hmm?” tanya tiffany. Taeyeon terlihat mengelus-elus dagunya sambil berfikir.

“Baiklah”

Merekapun mulai memasak terlihat taeyeon yang sedang mencuci beras dan tiffany yang sedangkan memotong wortel kecil-kecil.

“Aww!”

Taeyeon yang sedang mencuci beras terpaksa menghentikan kegiatannya. Ia berlari menghampiri tiffany yang terlihat kesakitan.

“Tanganmu terluka. Biar aku obati” taeyeon meraih tangan tiffany namun tiffany menolak.

“Tidak perlu ini tidak parah taeyeon. Hanya perlu dicuci dan-” tiffany menghentikan ucapannya. Ia sedang terkejut sekarang.

Taeyeon sedang mengulum telunjuk tiffany yang terluka akibat terkena pisau kedalam mulutnya.
Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa. BLANK. Mukanya memerah melihat taeyeon bertindak seperti itu.
Taeyeon berhenti mengulumnya dan itu membuat tiffany semakin terkejut.

“OMO!! Lukanya hilang!!” teriak tiffany.

Taeyeon sedikit tertawa melihat reaksi tiffany.

“Bagaimana bisa kau-??” tiffany benar-benar tidak bisa melanjutkan ucapnnya, ia masih mencoba mencerna apa yang terjadi padanya tadi.

“Kau tahu, aku bukan manusia” taeyeon tersenyum bangga.

“Duduklah, biar aku yang melanjutkan semuanya” ujar taeyeon lalu membawa tiffany untuk duduk di kursi yang ada didapur.

“Tapi aku baik-baik saja sekarang” tiffany merasa tidak enak membiarkan taeyeon memasak sendiri, lagipula ia baik-baik saja.

“Tidak tippany, bagaimana jika aku terluka lagi? Aku tidak bisa membiarkan itu” taeyeon menyimpan tangannya dipinggang seperti orang yang sedang marah.

“Kau bisa menyembuhkanku lagi jika aku terluka” ucap tiffany.

“Meski begitu tetap tidak bisa. Aku sudah berjanji pada tuan hwang untuk menjagamu. Tetap disini dan jangan menyentuh apapun, hanya duduk” ujar taeyeon lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

Selama taeyeon sedang memasak tiffany hanya memperhatikannya. Ia merasa terharu akan apa yang taeyeon lakukan padanya. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun. Dan ia sangat bersyukur untuk itu.

.

.

“Tadaaaa~~” taeyeon menyodorkan masakan hasil buatannya pada tiffany.

“Ayo coba!” taeyeon memberikan sendok pada tiffany.

“Kenapa aku? Kau saja, kau bilang kau lapar. Aku tidak mau keracunan karenamu dan berakhir mati” ucap tiffany menolak menjadi pencoba pertama.

Taeyeon tertawa mendengar ucapan tiffany.

“Itu tidak akan terjadi tippany. Sebelum kau mati aku akan lebih dulu menyelamatkanmu”

Tiffany tersenyum pada taeyeon, hatinya kembali bergetar mendengar itu. Dan taeyeon pun membalas senyuman manis tiffany.

***

“Sampai kapan kau tidak akan pergi kesekolah? Kau berjanji pada tuan hwang hanya satu hari, tapi lihat sekarang ini bukan satu hari tapi 3 hari tippany” ujar taeyeon.

Sedangkan tiffany dengan malas mendengar ocehan taeyeon. Tiffany mengambil earphone miliknya dan memakainya.

“Tippany jika kau terus seperti ini aku akan mengatakan ini pada tuan hwang”

Tiffany menambah volume musiknya agar ia tidak mendengar apa yang taeyeon katakan.

Taeyeon mendekat lalu melepaskan earphone yang tiffany pakai.

“Aku belum selesai bicara tippany” ujar taeyeon.

Tiffany merebut kembali earphone itu dan kembali memakainya. Namun lagi-lagi taeyeon kembali merebutnya membuat tiffany emosi. Tiffany bangkit dari duduknya.

“Berhenti menyuruhku untuk pergi ketempat itu taeyeon. Kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu apa yang aku alami di tempat itu!! Aku tidak akan pernah kembali kesana!” emosi tiffany.

“Tapi kau tidak seharusnya menyerah. Bukankah ada aku disini. Aku akan membantu tippany”

“Kau tidak bisa membantuku. Tidak ada yang bisa membantuku! Aku tidak ingin kembali, jadi berhenti menyuruhku pergi ketempat itu!!!”

Taeyeon bisa melihat perasaan sakit dari mata itu. Kini sebuah bulir-bulir air mata telah jatuh dari mata gadis bereyesmile itu, membuat taeyeon ikut merasakan sakit dihatinya.

“Tippany-”

“Kau tidak tahu bagaimana mereka memojokkanku, menghinaku, mereka selalu menatapku jiji, mereka memperlakukanku seperti sampah! Apa aku seburuk itu? Mengapa mereka hanya memandang wajah? Mereka bahkan membawa-bawa mendiang mommy! Tempat itu bagaikan neraka bagiku!!!! AAAAAAHHHHH!!!”

tiffany menjerit sambil mencengkeram kepalanya keras merasa prustasi. Rasanya ia ingin mati saja ketika ia mengingat kejadian dimana ia diperlakukan seenaknya seperti sampah.

“Tippany hentikan tenanglah!” Taeyeon mendekati tiffany melepaskan cengkeraman itu. Ia genggam tangan milik tiffany.

“Aaaaaaaaaa lepaskan!!!” teriak tiffany lagi mencoba melepaskan genggaman taeyeon dari tangannya.

“Pany-ah!!” taeyeon kini memeluk tiffany dengan erat berusaha menghentikan perlawanan tiffany.

“Lepaskan aku taeyeon!!!!” tiffany berusaha melepaskan diri dari pelukan taeyeon. Namun taeyeon justru semakin memeluknya erat.

Hingga tak lama akhirnya tiffany menyerah. Ia menangis dipelukan taeyeon. Taeyeon mengelus punggung dan belakang kepala tiffany mencoba menenangkannya. Setelah dirasa suasana sudah sedikit tenang, taeyeon membuka suara.

“Meski begitu kau tidak boleh mundur, tunjukkan pada mereka jika kau tidak seperti yang mereka pikirkan. Kau bahkan lebih baik dari mereka. Jangan memghindar dan menjadikan dirimu seperti pecundang. Aku akan membantumu pany-ah, karena itulah aku ada disini bersamamu. Jadi ayo berjuang bersama” ujar taeyeon memberi tiffany kekuatan.

Ia berharap tiffany tidak berfikir untuk untuk menyerah lagi. Tiffany mengangguk memberikan jawaban sambil berusaha menghentikan tangisnya.

“Tidak apa-apa, menangislah. Tidak perlu menahannya. Menangislah untuk terakhir kalinya”

Tiffany semakin tidak bisa menahan tangisnya, ia melingkarkan tangannya di pinggang taeyeon dan kembali menangis ditekuk leher taeyeon. Tanpa taeyeon sadari hatinya benar-benar terasa sakit melihat tiffany seperti ini.

.

.

“Minumlah” taeyeon memberikan segelas air untuk tiffany.

“Gomawo” tiffany bersuara lemah sambil menerima segelas air yang diberikan taeyeon.

“Merasa lebih baik?” tanya taeyeon. Tiffany hanya mengangguk.

“Hei kau ingin ikut bersamaku kesuatu tempat?”

“Kemana?”

“Kajja!” taeyeon menarik tangan tiffany dan berjalan menuju pintu.

Saat mereka telah melewati pintu rumah. Tiffany tercengang dengan apa yang terjadi dipepannya. Ini benar-benar indah. Sanking indahnya membuat tiffany tidak bisa berkata apa-apa.

maxresdefault

“Wow.. Dimana kita?” tanya tiffany.

Hahh hahh~ Garden By The Bay. Singapure” taeyeon terlihat sedikit terengah-engah.

“Singapure?!! OMG!!” tiffany menutup mulitnya dengan sebelah tangannya yang bebas. Ini sulit dipercaya baginya, dalam sekejap mata ia ada di singapure. Dia berteleportasi!

“Taeyeon kau baik-baik saja?” tanya tiffany khawatir. Taeyeon terlihat terengah-engah sejak tadi. Taeyeon menjawab dengan senyuman.

“Ini indah bukan? Kau menyukainya?” tanya taeyeon melihat tiffany yang terpana dengan pemandangan didepannya.

“Ini benar-benar indah tae. Aku menyukainya!” tiffany terlihat antusias.

“Kalau begitu ayo kita jalan-jalan” ajak taeyeon dan diangguki oleh tiffany.

Mereka berkeliling sambil berbincang, sesekali tiffany tertawa dengan sikap dorknya taeyeon.

Tanpa mereka sadari, mereka berjalan sambil berpengan tangan sejak tadi saat taeyeon menarik tiffany melewati pintu. Mereka seperti enggan untuk melepaskan genggaman mereka.

“Ayo naik jembatan itu tae!” ajak tiffany menunjuk jembatan tinggi.

gardens-by-the-bay-supertree-grove

“Ne, kajja”

.

.

Taeyeon sedang berdiri di depan jendela memandang langit malam yang bersalju. Kemudian ia menolehkan kepalanya menghadap tiffany yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum melihat tiffany, dia tetap cantik meski sedang tidur.

Taeyeon mendekati ranjang dan duduk dipinggiran ranjang samping tiffany. Taeyeon mengulurkan tangannya menelus sayang rambut tiffany. Taeyeon menatap lekat wajah gadis yang sedang tertidur itu dan tersenyum.

“Kau sangat cantik pany-ah. Hanya saja mereka buta untuk melihat kecantikkanmu itu” ucap taeyeon dengan suara seperti berbisik.

Terutama mata gadis ini, ia sangat menyukainya saat gadis ini tersenyum membuat matanya membentuk bulan sabit.

“Akan kubuat mereka menyadari kecantikkanmu dan menyesali perbuatan mereka” ucap taeyeon kembali.

Taeyeon mendekatkan wajahnya kearah tiffany. Taeyeon menghentikan kegiatannya mendekati wajah tiffany. Wajah mereka kini sangat dekat, hanya berjarak 5cm. Ia menatap gadis yang tertidur itu, ia benar-benar tidak terusik.

Taeyeon kembali mendekatkan wajahnya dan-

Chuu~

Tiffany POV

“Kau sangat cantik pany-ah. Hanya saja mereka buta untuk melihat kecantikkanmu itu”

Aku mendengar sebuah suara, suara yang aku kenal.

Taeyeon.

Suaranya sangat lembut. Membuatku tenang. Mimpi ini aku tidak ingin bangun. Dialah orang pertama yang berkata jika aku cantik meski dalam mimpi tapi itu tidak mengubah bahwa dialah yang pertama mengatakan jika aku cantik. Ada perasaan senang bahwa dia mengatakan itu.

“Akan kubuat mereka menyadari kecantikkanmu dan menyesali perbuatan mereka”

Suara itu kembali terdengar. Tak lama aku merasakan sebuah nafas menerpa wajahku beberapa saat hingga akhirnya aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.

Sesuatu itu kini terasa bergerak mengulum bibir bawah dan atasku. Aku sedikit membuka mataku, dengan penglihatan buramku aku seperti melihat seseorang berambut panjang hitam dan berkulit seputih susu. Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya yang menciumku itu. Tapi jika dilihat dari ciri-ciri fisik itu aku tahu itu adalah taeyeon.

Taeyeon dia menciumku tepat dibibir. Aku sedikit tersenyum mengetahui itu. Ada perasaan senang dalam hatiku, bahkan jantungku pun berdetak sangat kencang saat ini. Mimpi ini takkan aku lupakan sampai kapanpun! Aku tidak mau bangun!! Tuhan jangan biarkan aku bangun jika ini memang mimpi..

Author POV

Tiffany membalas ciuman taeyeon membuat taeyeon membuka matanya sedikit terkejut. Namun akhirnya ia terbawa suasana dan kembali menutup matanya.

Mereka saling membalas ciuman itu, mengulum bibir atas dan bawah secara bergantian. Tiffany melingkarkan tangannya dileher taeyeon menginginkan taeyeon lebih mendekat dengannya. Mereka sangat menikmati ciuman itu. Sangat sangat menikmatinya.

Dan malam itu, ciuman merekalah yang menghiasi suasana malam yang sepi ini.

***

Cuitt cuitt~

Pagi ini suara burung telah terdengar, sang surya matahari pun kini mulai menampakkan dirinya bahkan mulai naik ke singgasananya.

Sinarnya menyinari korea dengan hangat mengalahkan sang salju. Sinar itu bahkan menerobos sebuah kamar pink sehingga mengganggu seseorang yang sedang tertidur dengan pulas bersama selimut hangatnya.

Emmm~” gadis itu mengerang. Sinar itu benar-benar mengganggu menurutnya.

Gadis itu membuka matanya. Ia bangkit dari tidurnya dan memposisikan dirinya untuk duduk. Ia tesenyum ketika mengingat mimpi itu. Ciuman dirinya dengan taeyeon.

Ciuman itu terasa nyata, benar-benar nyata. Ia bahkan merasa bibirnya seperti bengkak.

‘Tunggu-‘

‘Apa itu sebenarnya bukanlah mimpi?’

Tiffany memegang bibirnya. Jantungnya jadi berdegub kencang.

Wajah tiffany kini memerah. Bagaimana jika itu bukan mimpi? Itulah yang dipikirkan tiffany.

‘Ah tidak-tidak! Itu pasti hanya mimpi!’

Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya menyadarkan dirinya dari pikirannya.

Tiffany segera meraih kacamatanya dan kembali melepasnya, lalu memakainya lagi dan melepasnya lagi. Ia rasa matanya semakin bermasalah. Ia bisa melihat dengan jelas tanpa kaca mata dan buram dengan kaca mata.

Tiffany berlari kearah cermin dan

“OMO!!”

Tiffany tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bayangan dirinya yang ada dicermin bukanlah dirinya. Wanita dihadapannya ini sangat cantikk, tidak ada jerawat, komedo atau apapun yang menganggu wajah cantik itu. Ia bahkan dapat melihat dengan jelas tanpa kacamata. Tiffany menutup mulutnya.

Itu dirinya!!!!!!

Tiffany tersenyum lebar. Dan pikirannya kini tertuju pada taeyeon. Apa ini karena taeyeon?

Tiffany segera keluar dari kamar pinknya untuk mencari taeyeon.

Ruang tengahh

Tidak ada.

Kamar mandi

Tidak ada.

Ruang tamu

Tidak ada.

Dan terakhir Dapur

Dan dia ada disana.

Taeyeon sedang memasak dengan serius. Terlihat semakin cantik dengan keseriusannya itu. Tiffany berlari mendekati taeyeon.

Taeyeon merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya membuatnya sedikit terkejut. Namun ia akhirnya tersenyum saat mengetahui siapa yang memeluknya itu.

“Pany-ah kau membuatku terkejut” ucap taeyeon lalu melanjutkan kegiatan menggoreng telurnya.

“Gomawo tae, neomu~” ucap tiffany masih memeluk taeyeon bahkan lebih erat lagi.

Taeyeon mematikan kompornya lalu melepaskan tangan tiffany yang memeluknya dan berbalik.

Dilihatnya tiffany sedang tersenyum menampilkan eyesmile andalannya itu.

Taeyeon POV

de67014f1f04e5b9e70ac8f6f68df8c3

Benarkah dia tippany?

Ataukah malaikat yang menjemputku untuk pulang??

Dia sangat sangatt cantik, membuatku tidak ingin mengalihkan pandanganku.

Deg deg deg

Taeyeon memegang dadanya. Ia merasakan seperti sebuah jantung berdetak didadanya. Tapi kenapa? Dia tidak punya jantung.

“Tae kau baik-baik saja?”

Suara itu menyadarkanku. Kulihat tiffany melambaikan tangannya didepan wajahku.

“E-eoh tentu ak-aku baik-baik saja” aku menjawab dengan gugup.

“Apa yang terjadi padaku tae, aku cantik. Maksudku wajahku. Jerawat, komedo dan yang lainnya menghilang!” tiffany berkata dengan senang antusias.

“Tentu tiffany kau cantik. Sangat” ucapku memujinya. Itu bukan hanya pujian tapi memang fakta.

“Apa kau yang melakukan ini?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak, itu karena do’amu dan usahamu untuk tidak menyerah” ucapku.

Tubuhku sedikit terdorong kebelakang. Tiffany memelukku.

“Gomawo taeyeon” ucap tiffany.

“Tidak perlu berterimakasih padaku. Sudah seharusnya aku membantumu” ucapku lalu membalas pelukannya.

Hangat.

Aku merasakan hangat. Bukankah itu aneh?

***

Author POV

“Gomawo sudah mengantarku. Kau tau ini benar-benar sulit dipercaya kalau kau bisa mengendarai mobil, bahkan sangat lancar”

“Aku hanya mengikuti instingku. Ini mengalir begitu saja. Mungkin ini adalah salah satu kekuatanku sebagai seorang malaikat” ujar taeyeon terkekeh.

“Mungkin kau benar. Aku ingin menjadi malaikat, sepertinya mudah melakukan apapun” tiffany berkata sambil mengelus dagunya.

“Kau sudah seperti malaikat pany-ah, bahkan melebihi itu”

Ucapan taeyeon berhasil merebut perhatian tiffany. Mereka saling memandang satu sama lain. Taeyeon tersenyum manis pada tiffany membuat wajah tiffany memerah. Merasa wajahnya mulai panas tiffany segera mengalihkan wajahnya.

“Aku harus segera pergi sebelum bel masuk. Sekali lagi terimakasih taeyeon dan hati-hati dijalan”

Tiffany hendak keluar dari mobil namun taeyeon menahan tiffany dengan tangan dinginya.

“Kau akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Saat kau membutuhkanku aku akan datang padamu”

Jantung tiffany berdegub kencang. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Apa ia menyukai yeoja malaikat didepannya ini? Mungkinkah??

Tiffany hanya tersenyum menampilkan eyesmile miliknya sebagai jawaban. Iapun segera keluar dari mobil namun lagi-lagi taeyeon menahannya.

“Pany-ah, jangan lepaskan kalung itu apapun yang terjadi” ujar taeyeon.

Tiffany mengangguk dan tersenyum. Iapun pergi melangkahkan kakinya kedalam gedung sekolah. Meninggalkan taeyeon sendiri.

“Mengapa aku merasakan sebuah detakan didadaku?” tanya taeyeon pada diri sendiri sambil menatap tiffany yang berjalan menjauhinya.

Ia meletakkan tangannya didada merasakan detakan itu. Ini benar-benar aneh. Jika detakan itu adalah jantung, bagaimana bisa?

Dia tidak memiliki jantung, suhu tubuh, perasaan dan nafsu yang seperti manusia umum miliki. Tapi saat berada didekat gadis itu justru ia merasakan semua itu. Ia seperti merasakan deguban jantung didadanya, ia merasa hangat saat berada didekat gadis itu apalagi jika bersentuhan, ia bahkan menginginkan untuk mencium gadis itu lagi setelah kejadian malam tadi. Tapi yang ia lakukan malam tadi hanya untuk menyembuhkan wajah tiffany.

“Wae?” taeyeon berkata pelan.

.

.

LS high school kini telah ramai karena sebentar lagi waktu menunjukkan jam masuk. Sambil menunggu bel mereka ada yang menghabiskan waktu dilorong bersama teman-temannya, ada yang diam dikelas dan sebagainya.

Namun aktivitas yang sedang mereka lakukan kini terhenti. Pandangan mereka semua tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan dengan gugup.

Tentu saja siapa yang tidak gugup jika semua orang memandanginya. Orang-orang juga mulai berbisik membicarakannya.

Yeoja itu mempercepat langkahnya menuju kelas. Hingga akhirnya ia sampai, yeoja itu segera duduk dibangkunya. Ia melihat seisi kelas.

Mereka semua memandangnya. Namun bukan dengan pandangan jiji tapi lebih ke takjub, itulah yang dapat ia tangkap.

“Ti-tiffany?” panggil seseorang membuat tiffany mnolehkan kepalanya.

“Benarkah kau tiffany?” tanyanya lagi sambil mendekat ke meja yeoja itu.

“Ne. Waegeuraeyo sunny-ssi?” tanya tiffany.

“Wahh!! Daebakk kau sangat berbeda! Kau sangat cantik tiffany!” ujar seseorang yang dipanggil sunny itu. Semua teman satu kelasnya mendekati bangku milik tiffany.

“Apa kau melakukan perawatan selama tidak masuk sekolah? Daebakk kau sangat berbeda tiff” yuri berkata sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena tidak percaya.

Tiffany hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tiffany merasakan dirinya yang mulai gugup karena semua teman sekelasnya berkumpul di bangkunya. Saat disekolah ia selalu sendiri karena itu tiffany tidak pandai bersosialisasi.

“Apa yang kau pakai tiffany sampai wajahmu bersih dan mulus seperti ini?” tanya ailee sambil mencolek pipi tiffany membuat tiffany risih.

“Aku tidak memakai apapun” jawab tiffany seadanya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ini semua karena malaikatnya.

Tringgg..

“Apa yang kalian lakukan? Cepat duduk dikursi kalian!” ujar seosaengnim yang baru saja datang. Merekapun segera duduk dikursi masing-masing.

Tiffany menghela nafas saat teman-teman sekelasnya sudah kembali ketempat duduk mereka masing-masing. Ia benar-benar gugup, sikap teman-temannya 100% berubah padanya membuat tiffany tidak tahu harus berbuat apa saat berhadapan dengan teman-temannya.

Masih ada perasaan sakit pada mereka semua yang selalu menganggapnya seperti sampah atau bahkan menganggapnya tidak ada. Bagaimana dirinya tersakiti karena sikap dan perkataan mereka. Tapi lihatlah sekarang, mereka berubah menjadi baik padanya bahkan mengajaknya berbicara tanpa rasa bersalah atas apa yang mereka lakukan padanya.

“Tiffany-ssi boleh aku duduk disini?” tanya siwon. Tiffany menoleh kesumber suara.

Heol??? See??

Bahkan sekarang ada yang mau duduk disampingnya. Hidupnya terasa berubah 100%.

Tiffany kembali mengangguk sebagai jawaban. Siwon tersenyum senang dan duduk disamping tiffany. Kelaspun kini telah dimulai.

***

Taeyeon POV

kini aku telah sampai dirumah tiffany. Akupun duduk dikursi ruang tengah.

Sepi.

Hahh~ aku benci suasana sepi seperti ini.

Aku menyalakan TV dan mulai memindahkan chanel mencari hal-hal yang menurutku menarik.

Tidak ada yang menarik.

Aku bosan.

Aku kembali mematikan TV yang tadi menyala lalu berjalan masuk kedalam kamar tiffany. Aku berjalan menuju meja belajarnya melihat barang-barang yang ia miliki. Semuanya berwarna pink, sampul buku, earphone, alat tulis, semuanya pink. Dia pasti sangat menyukai warna itu.

Hingga akhirnya mataku mengangkap sebuah selembaran yang terselip dengan buku-buku yang berdiri rapi ditempatnya. Aku ambil selembaran itu.

Sebuah photo.

28des-mp1

Pria di photo ini adalah daddy hwang. Dia terlihat tampan bahkan sekarangpun tetap tampan, tidak berubah. Dan wanita disebelahnya ini apa mungkin dia tiffany eomma? Dia memiliki senyum yang cantik seperti yang dimiliki anaknya. Pantas saja anaknya sangat cantik dan mempesona, orang tuanya saja sudah tampan dan cantik.

Mereka tampak bahagia didalam photo itu, mereka benar-benar serasi. Aku menarik bibirku tersenyum. Apa seorang malaikat memiliki orang tua?

***

Author POV

Taeyeon mendengar suara pintu yang terbuka. Ia segera berlari menghampiri asal suara sambil tersenyum.

“Sudah pulang?” tanya taeyeon mengambil tas yang tiffany gendong.

“Emm” jawab tiffany sambil berjalan menuju sofa dengan lemas.

“Kau terlihat tidak senang, apa terjadi sesuatu?” taeyeon ikut duduk disamping tiffany.

“Any, hanya saja-“ tiffany menghentikan perkataannya sejenak.

“Aku merasa tidak biasa dengan sikap mereka yang sangat berubah padaku, aku masih belum bisa menerima pelakuan mereka” tiffany menjelaskan. Taeyeon tersenyum mendengar itu.

“Kau hanya belum terbiasa dengan perlakuan mereka. Cobalah untuk memaafkan apa yang telah terjadi dimasa lalu. Kau sudah berubah pany-ah, kau hanya perlu menatap kedepan dan jangan melihat kebelakang”

Tiffany menatap taeyeon dalam diam. Taeyeon terdengar sangat dewasa tidak seperti dirinya. Taeyeon mengacak puncak kepala tiffany membuat tiffany cemberut karena tatanan rambutnya kini menjadi sedikit berantakkan.

“Natal sebentar lagi tiba, tidak ingin merayakan?” tanya taeyeon.

“Eoh-kau benar, aku hampir saja lupa. Bagaimana bisa aku melupakan hari special seperti ini” tiffany benar-benar tidak ingat, ia terlalu meratapi kehidupan menyedihkannya beberapa hari ini sampai melupakan hari natal. Taeyeon merespon ucapan tiffany dengan mengangkat kedua bahunya.

“Kita bahkan tidak punya alat-alat untuk merayakan Christmas, bagaimana ini?” tiffany terlihat gelisah. Sekali lagi taeyeon tersenyum melihat tiffany bahkan sekarang lebih lebar lagi. Menurutnya sikap tiffany sangat menggemaskan.

“Kita bisa membelinya sekarang jika kau mau pany-ah, tidak perlu cemas seperti itu. Masih ada 2 hari lagi untuk christmas”

“ah-Kau benar kalau begitu ayo kita berangkat sekarang” ujar tiffany menarik tangan taeyeon.

“Tunggu, kau tidak akan mengganti pakaianmu?”

“Ya ampun aku lupa, tunggu disini aku tidak akan lama okay?” tiffany berlari menuju kamarnya. Taeyeon terkekeh melihat sikap tiffany.

Tak lama tiffany pun telah mengganti pakaiannya. Mereka pun segera pergi menuju tempat dimana mereka bisa mendapatkan perlengkapan untuk merayakan Christmas.

.

.

“Bagaimana menurutmu? Ini terlihat indah bukan?” tanya tiffany meminta pendapat taeyeon mengenai lampu untuk pohon Christmas.

“Kau menyukainya?” bukannya menjawab taeyeon justru balik bertanya.

“Kenapa kau bertanya balik?” Tiffany mengerutkan keningnya.

“Karena jika kau menyukainya akupun menyukainya” jawab taeyeon membuat tiffant terdiam.

“Baiklah kita beli yang ini” Tiffany memasukannya kedalam trolli yang taeyeon pegang, ia tak ingin ambil  pusing perkataan taeyeon  yang menggetarkan hatinya.

Mereka kembali berjalan untuk mencari keperluannya yang lain.

“Kau tahu, saat aku kecil mommy selalu memasukanku kedalam troli ini, itu benar-benar mengasikkan saat daddy mendorong troli ini sedikit cepat” ujar tiffany.

Hahh~ aku sangat merindukan masa-masa itu. Kuharap semua itu bisa terulang” tiffany kembali berkata. Taeyeon hanya diam memerhatikan tiffany.

Dengan gerakan cepat taeyeon menggendong tubuh tiffany dan memasukannya kedalam troli.

“Taeyeon apa yang kau lakukan?!” teriak tiffany.

Taeyeon hanya diam tak menjawab dan segera mendorong troli tersebut.

“Kuharap rindumu akan hilang walau pelakunya berbeda” taeyeon semakin mempercepat langkahnya bahkan sedikit berlari.

“Taeyeon hentikan, OMO hhahaaha”

“Wow ini mengasikkan! Hhahaha” tiffany kini mulai menikmatinya.

Mereka tertawa bersama tanpa henti. Tanpa mereka sadari banyak yang menatap mereka aneh bahkan ada yang menertawai mereka. Tapi tampaknya tiffany dan taeyeon tidak memperdulikan itu seolah-olah hanya ada mereka berdua saja disana.

.

.

Mereka kini telah selesai membeli perlengkapan untuk merayakan natal. Saat mereka berjalan melewati sebuah toko pakaian tiffany menarik taeyeon untuk masuk kedalam.

“Ada yang bisa saya bantu?” ucap pekerja disana menghampiri tiffany dan taeyeon.

“Aku ingin pakaian untuknya, bisa kau carikan yang cocok?” ucap tiffany.

“Ne” pekerja itu melangkahkan kakinya berniat untuk mencarikan pakaian yang tiffany inginkan.

“Kau akan membelikanku pakaian?” tanya taeyeon mengikuti tiffany yang berjalan-jalan melihat berbagai macam pakaian.

“Ne” tiffany menjawab tanpa melihat taeyeon, pandangannya sedang focus melihat-lihat pakaian.

“Kau tidak perlu melakukan itu, aku tidak butuh pakaian”

Tiffany menghentikan aktivitasnya dan menatap taeyeon, ada perasaan kecewa saat taeyeon menolaknya. Ia hanya ingin berterimakasih padanya, walau rasa terimakasihnya takkan pernah bisa terbayar hanya dengan membelikan pakaian. ia berhutang besar pada malaikat itu.

“Kau membutuhkannya tae, kau memakai pakaianku selama ini”

“Tapi itu bukan masalah bagiku”

“Tapi aku ingin membelikan pakaian untukmu, apa tetap tidak mau?” raut wajah tiffany kini berubah menjadi sedih

“Baiklah, Jika kau bersikeras ingin membelikanku tentu aku tidak akan menolak, tapi aku akan menerimanya jika itu pilihanmu, bukan pilihan orang lain. Dan jangan pasang wajah seperti itu aku tidak suka” jawab taeyeon.

Tiffany tersenyum lebar kembali memperlihatkan eyesmile andalannya mendengar jawaban taeyeon.

“Tentu aku yang akan memilihkannya untukmu”

.

.

“Coba ini” ujar tiffany. Taeyeon mengambilnya dan mulai untuk mencobanya.

“Taeyeon apa yang kau lakukan?” tanya tiffany yang bingung melihat taeyeon yang sedang membuka kancing bajunya. Tiffany bisa melihat betapa putihnya kulit taeyeon membuat tiffany merasa wajahnya memanas.

“Kau menyuruhku mencobanya” jawab taeyeon polos.

“Ya tuhan, tidak disini tae. Kau harus masuk ketempat khusus untuk mengganti pakaian. Kau ingin orang-orang melihat tubuhmu?”

“Tapi disini hanya ada kau. Lagipula kau tidak memberitahuku” jawab taeyeon seadanya.

Tiffany menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa bahwa taeyeon hanyalah malaikat yang baru saja lahir tanpa tahu apapun tentang dunia manusia. Ia masih ingat ketika taeyeon berteriak antusias saat pertama kali melihat tv menyala, berteriak kencang saat ia salah menekan tombol dan shower kamar mandi menyala berakhir dengan taeyeon yang basah kuyup, ia juga masih ingat bagaimana taeyeon begitu terpesonanya melihat kulkas yang dingin sampai dia merengek ingin masuk kedalam dan rengekkannya berhenti saat tiffany dengan terpaksa memberikan es krim favoritenya pada taeyeon. Dan untungnya semua itu terjadi disaat daddy hwang sudah pergi ke newyork untuk pekerjaannya.

“Maafkan aku taeyeon, kau lihat tempat itu? Ganti pakaianmu disana aku akan menunggumu diluar okay?” ucap tiffany. Taeyeon hanya mengangguk dan pergi ketempat yang tiffany tunjuk.

.

.

Taeyeon mengembulkan kepalanya disana terlihat tiffany sedang menunggunya.

“Pany-ah aku rasa ini terlalu berlebihan” ucap taeyeon.

“Benarkah? Kalau begitu kemarilah biar aku melihatnya” jawab tiffany. Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak! aku mau disini saja”

Tiffany mendekat dan menarik tangan taeyeon.

“Ayo cepat keluar, biarkan aku melihatmu!”

“Tidak mau! Ini memalukan!” taeyeon bersikukuh tidak mau keluar dari tempat itu.

Saat itulah terjadi aksi tarik menarik. Taeyeon yang tidak mau keluar dan tiffany yang menginginkan taeyeon keluar membiarkannya melihat taeyeon.

Namun bagaimanapun juga taeyeon adalah malaikat yang mempunyai kekuatan lebih dari manusia. Taeyeon menarik tangannya dengan keras membuat tiffany ikut terbawa kedalam ruang ganti tersebut.

Brakk!

Punggung taeyeon membentur dinding ruang itu dengan keras sedangkan tiffany mendarat dipelukan taeyeon.

Deg Deg Deg

Deg Deg Deg

Mereka sama-sama terdiam sejenak merasakan degupan kencang masing-masing.

“Pany-ah gwaenchana?” tanya taeyeon yang berhasil membuat tiffany mengangkat kepalanya yang sedang menunduk dan menatap taeyeon.

Tiffany POV

“Pany-ah gwaenchana?”

Suara taeyeon membuatku mengangkat wajahku yang sedang menunduk dan menatapnya.

Dekat.

Wajah kami sangat dekat. Jantungku semakin menjadi-jadi saat aku merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku.

Aku terdiam menatapnya. Tatapannya begitu mengunciku. aku bisa melihat kesempurnaannya dari dekat. Mata itu, hidung mungil itu, dan bibir tipis yang sempurna membuat siapa saja ingin mencoba merasakannya. Gelar malaikat sangat cocok untuknya.

Kurasakan sebuah tangan semakin melingkar dipinggangku meminta untuk semakin mendekat. Hembusan dingin semakin kurasakan saat aku berada dalam dekapannya. Ia mendekatkan wajahnya padaku dengan perlahan. Kini wajah kami semakin dekat dan dekat. Kulihat ia mulai menutup matanya. Aku hanya bisa diam dan pasrah dengan apa yang akan dia lakukan. Entah mengapa tidak ada perasaan untuk menolak perlakukannya ini. Mataku semakin sayu seiring semakin dekatnya wajah kami hingga akhirnya aku merasakan sedikit sentuhan diujung bibirku.

Dan …

Tok Tok Tok!

“Agashii gwaencahanyo?!”

Suara itu berhasil menyadarkanku dengan refleks aku menjauh darinya dan..

Plakk!!

Ya, aku memukul kepala malaikat itu dengan keras. Dan itu semua kulakukan tanpa aku sadari. Oh tuhan apa yang sudah aku lakukan?!

“Aww!!” ringisnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan bodoh?! Kau membuatku terkejut setengah mati! Kau! Jangan pernah lakukan itu lagi!” teriakku padanya.

Ya tuhann kenapa aku berkata seperti itu padanya?! Bukan itu yang mau aku katakan!. Kulihat malaikat itu memasang wajah sakit, terkejut dan mungkin sedih?

“Agashii gwaencahanayo?”

Suara itu kembali menyadarkanku untuk yang kedua kalinya. Dengan cepat aku membuka pintu ruang tersebut.

Author POV

Tiffany berjalan begitu saja dan keluar dari tempat itu tanpa menjawab pertanyaan pekerja yang tadi mencemaskan mereka.

Sedangkan taeyeon hanya diam dengan tatapan kosong. Ada perasaan sedih saat tiffany berkata seperti itu padanya.

“Wae?” ucap taeyeon lirih sambil meremas lemas baju didadanya.

.

.

Taeyeon terus memikirkan apa yang selama ini ia rasakan saat bersama tiffany. Senang, sedih, hangat, nafsu, berdegub kencang. Semua itu ia rasakan saat bersama wanita itu. Ia tidak mengerti mengapa perasaan seperti itu menghampiri dirinya.

Seorang malaikat tidak bisa merasakan hal seperti itu. Sebenarnya perasaan apa itu?

Taeyeon bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan menuju meja dimana ada sebuah komputer disana.

Taeyeon mulai menyalakan komputer tersebut. Ia pernah melihat tiffany mengoperasikannya karena itu ia mulai sedikit paham bagaimana cara menggunakan komputer.

Taeyeon meng-klik shortcut mozila yang ada di dekstop komputer tersebut. Munculah sebuah jendela baru yang menampilkan sebuah pencarian yang bernama google.

Taeyeon mulai mengetikkan sesuatu dalam pencarian tersebut dan menekan enter. Ia membuka sebuah blog dan membacanya.

Ciri-ciri seseorang jatuh cinta.

Jatuh cinta adalah suatu perasaan dimana seorang pria atau wanita memiliki ketertarikan dengan lawan jenisnya. Perasaan ini adalah perasaan yang wajar untuk dirasakan manusia.

Berikut adalah ciri-ciri seseorang sedang jatuh cinta:

1. Senang saat melihatnya.
2. Merasa sepi, bosan bahkan merindukan orang tersebut.
3. Selalu memikirkannya.
4. Jantung yang berdegub kencang dan merasa hangat saat berasa didekatnya terutama saat bersentuhan.
5. Muncul perasaan ingin menciumnya.
6. Selalu ingin menatapnya seolah hanya dirinya satu-satunya yang terindah dan enggan memalingkan tatapannya dari orang tersebut.
7. Muncul perasaan sedih saat orang tersebut dekat dengan orang lain.

Taeyeon mengentikan aktifitas membacanya. Ia tidak bisa melanjutkannya lagi. Ini terlalu sama dengan apa yang ia rasakan pada gadis itu.

‘Apa aku jatuh cinta padanya?’

‘Tapi kenapa? Aku bukan seorang manusia, aku malaikat yang tidak mempunyai perasaan seperti itu’

‘Mengapa aku merasakan perasaan seperti itu?’

‘Ini tidak boleh terjadi, kau bukan manusia taeyeon!’

“Ya, aku harus menghilangkan perasaan seperti ini. Bagaimanapun ini tidak boleh terjadi” taeyeon berkata dengan lirih.

***

“Tae tolong masukan margarinnya, palli!” ujar tiffany yang sedang mengaduk bahan-bahan dengan mixer.

“Ne” taeyeon segera memasukan margarin yang sudah dilelehkannya sedikit demi sedikit.

Saat ini mereka sedang membuat kue Cake Natal Bersalju untuk menyambut christmas malam ini.

“Selesai. Tolong loyangnya tae” tiffany kembali menuruh taeyeon. Dengan sigap taeyeon mengambil loyang tersebut dan memberikannya pada tiffany.

Senyum tak luput dari wajah cantik itu. Taeyeon tanpa sadar terus memperhatikan tiffany yang sedang serius dengan kegiatannya.

“Baiklah saatnya memasukannya kedalam oven!” girang tiffany dan segera memasukannya kedalam oven yang telah dipanaskan sejak tadi.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya tiffany pada taeyeon. Taeyeon hanya mengangkat bahunya.

“Hmm, oh kita belum selesai menghias pohon natal kita! Kajja!” tiffany menarik tangan taeyeon untuk mengikutinya.

Taeyeon hanya diam mengikuti tiffany dengan mata terdiam melihat genggaman tiffany pada tangannya.

Hangat.. Ia sangat menyukai perasaan seperti ini.

Jantung yang berdegub kencang dan merasa hangat saat berasa didekatnya terutama saat bersentuhan.

Taeyeon teringat akan blog yang ia baca kemarin malam. Dengan segera taeyeon melepaskan genggaman tiffany membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap tiffany.

Melihat wajah bingung tiffany taeyeon segera memberikan penjelasannya.

“A-aku bisaa berjalan sendiri” jelas taeyeon sambil mengelus belakang lehernya.

“Arasseo, mian karena menarikmu begitu saja” ucap tiffany lalu membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan. Tanpa taeyeon sadari raut sedih kini terukir dari wajah cantik gadis yang sedang berjalan didepannya itu.

.

.

“Wahh lihat ini benar-benar indah, bukan begitu pany-ah” taeyeon tersenyum lebar melihat pohon natal buatannya dan tiffany kini selesai.

“Itu semua karena seorang malaikat ikut merias pohon natal ini” tiffany berkata di alam bawah sadarnya.

“Ne?” Tanya taeyeon sekali lagi.

Sebenarnya dia mendengar dengan jelas hanya saja ia hanya ingin memastikan jika pendengarannya tidak salah tangkap. Ada perasaan aneh yang menggerumbuni hati taeyeon saat mendengar ucapan tiffany.

“A-ah maksudku-tentu saja pasti indah bukan. Ini adalah karya seorang malaikat. Tidak mungkin jika tidak indah” ucap tifany yang gelagapan dengan ucapan sendiri.

Taeyeon hanya tersenyum masam mendengar tiffany yang mengoreksi ucapannya sendiri. Sedih? Entahlah.

Malaikat?

Benar dirinya adalah malaikat, bukan manusia. Pantaskah ia bersanding dengan manusia sempurna seperti tiffany?

“Baiklah kita foto dan kirimkan ini pada daddy nanti” tiffany mengeluarkan iphone miliknya dan mulai memfoto.

Klikk

“Tae lihat ini, bagus bukan?” tiffany lebih mendekat kearah taeyeon yang ada disampingnya memperlihatkan hasil kameranya.

enchanting-christmas-tree-decorating-ideas-with-beautiful-christmas-lamp-decor-and-many-gift-box-under-tree-750x1000

“Eoh, daddy hwang pasti akan senang melihatnya” taeyeon berkata dengan senyum tak lepas dari bibirnya.

“Pany-ah kurasa kue yang kita buat sudah matang, ini sudah 20 menit berlalu” taeyeon mengingatkan tiffany yang sedang asyik melihat foto tadi.

“Kau benar, kajja! Pekerjaan kita belum selesai”

.

.

“Selesai! Saatnya mengoleskan selai pada cakenya” ujar taeyeon yang baru saja selesai membuat buttercream untuk cake yang mereka buat.

Taeyeon mulai membelah cake menjadi dua bagian dan mengoleskan selai strawberry kesukaan tiffany pada salah satu cake ia belah tadi.

Tiffany memperhatikan setiap gerakan taeyeon yang serius dan telaten mengoles cake dengan selai strawberry. Taeyeon sangat mempesona saat sedang serius. Senyum tak lepas dari wajah malaikat itu membuat tiffany ikut tersenyum dan bahagia.

Tiffany terus mengamati taeyeon hingga akhirnya tiffany menangkap ada noda butter dipipi taeyeon. Tiffany menahan tawa melihat taeyeon yang kesulitan mengangkat cake yang satunya lagi untuk menutup cake yang baru saja diolesi selai strawberry.

Taeyeon mengembungkan pipinya membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan.

Tanpa sadar tiffany meraih wajah taeyeon dan mengelusnya lembut membuat noda butter tersebut hilang.

“Ppany-ah” lirih taeyeon yang terkejut dengan perlakuan tiffany. Ia kembali merasakan sebuah jantung kini berdetak cepat.

Taeyeon tidak bisa berbohong jika ia menyukai setiap sentuhan tiffany yang membuatnya hangat dan nyaman.

Tiffany mulai tersadar kembali dengan apa yang dia lakukan. Terkejut? Tentu tiffany sangat terkejut ketika menyadari dirinya sedang memegang dan mengelus dengan lembut pipi dingin itu.

Tiffany segera menarik tangannya.

“Ma-maafkan aku. Aku-aku hanya mencoba menghilangkan noda butter dipipimu” tiffany berkata dengan gelagapan sambil memandang kearah lain.

Ia tak berani menatap taeyeon. Ini terlalu memalukan untuknya yang sudah beberapa kali tak sadar dengan sikapnya sendiri saat didekat taeyeon.

Taeyeon mencoba tersenyum mendengar penjelasan tiffany. Bagaimana mungkin ia mengharapkan hal yang lebih?

Taeyeon seharusnya tahu posisinya. Ia hanya seorang malaikat yang datang untuk membantu tiffany. Membantunya untuk hidup seperti kebanyakan orang, memiliki teman yamg banyak, mampu bersosialisasi, dan mendapat kekasih.

Kekasih?

Ada perasaan nyeri saat membayangkan tiffany bergandengan dengan orang lain kelak. Ada perasaan tak rela itu terjadi. Tapi bagaimanapun ia harus kembali mengingat posisinya. Ia harus merelakannya dengan ikhlas apapun yang terjadi kelak.

“Terimakasih tiffany” taeyeon memberikan senyum tulusnya pada tiffany meski dalam hatinya ia merasa teriris.

Taeyeon mencolek buttercream yang mereka buat dan menempelkannya dihidung mancung tiffany.

“Merry christmas pany-ah” taeyeon tersenyum lebar melihat buttercream bertengger dihidung mancung tiffany.

“Ya! Kim Taeyeon!” teriak tiffany atas apa yang dilakukan taeyeon padanya.

Taeyeon yang mendengar teriakan itu segera melesat berlari berniat kabur. Namun tiffany tak mau kalah ia bahkan mengambil buttercream sekaligus dengan wadahnya dan mengejar taeyeon.

“Ya! Kemari kau Kim!” teriak tiffany sambil mengejar taeyeon.

“Tidak mau wew!” taeyeon menjulurkan lidahnya mengejek tiffany.

“Ya!”

Dan malam itu terjadi aksi kejar-mengejar. Tawa dan teriakan tak luput dari aksi mereka sampai akhirnya..

Bluggg!!

“Akh appo” tiffany baru saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.

Taeyeon yang melihat itu segera memghentikan aksi larinya dan berlari menuju tiffany yang yang sedang terduduk.

“Pany-ah gwaenchan-”

Plukk!

“Hahahahahaahahahahha!!” Tiffany tertawa dengan sangat keras karena aksinya menipu taeyeon kini berhasil.

Taeyeon hanya diam sambil memejamkan matanya menikmati seluruh wajah bahkan puncak rambutnya terkena buttercream, bahkan wadahnyapun masih menggantung di kepala taeyeon.

Dengan gerakan perlahan taeyeon mengambil wadah yang menggantung dikepalanya dan mengusap bagian mata, dan hidungnya. Wajahnya penuh dengan cream membuat tiffany tawa semakin menjadi-jadi bahkan sampai mengeluarkan air mata.

Bukannya marah dan membalas taeyeon justru hanya diam dan tersenyum memperhatikan gadis cantik dihadapannya yang sedang tertawa terbahak-bahak. Ia merasa bahagia bisa membuat gadis itu tertawa seperti itu. Dan itu karenanya.

“Hahahahahahah!! Lihat dirimu tae, ini benar-benar lucu!” ucap tiffany masih dengan tawanya sambil memegang perutnya.

“Senang rasanya bisa melihatmu tertawa seperti itu pany-ah”

Tiffany menghentikan aksi tawanya dan menatap taeyeon.

“Syukurlah kau tidak apa-apa” taeyeon bangkit dan mengulurkan tangannya mencoba membantu tiffany untuk bangkit.

Dengan senang hati tiffany meraih tangan dingin itu dan bangkit dari duduknya.

“Kurasa kau yang harus membereskan kuenya. Aku tidak mungkin melanjutkannya dengan keadaan seperti ini” taeyeon berkata sambil terkekeh.

“Mandilah, biar aku yang melanjutkannya” tiffany tersenyum menahan tawa.

Taeyeon mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang menjadi miliknya.

“Tae..”

Taeyeon menghentikkan langkahnya dan berbalik.

“Merry christmas” ujar tiffany masih dengan senyum beserta eyesmilenya.

Taeyeon kembali mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya.

Ia sangat senang sekarang, bahwa dirinya menjadi orang pertama yang mendapat ucapan selamat natal dari tiffany.

.

.

1292310873detail_bonus_saji_11307_cake_natal_bersalju_apw_1

“Woww apa ini benar-benar buatanmu?” tanya taeyeon yang baru saja tiba diruang tengah.

“Tentu saja, kau meragukanku?” ucap tiffany dengan nada angkuh.

“Kurasa kita harus memfotonya dan mengirimkannya pada daddy hwang” taeyeon kembali memberi saran pada tiffany.

“Kau benar” tiffany kembali memfoto cake tersebut.

“Saatnya mengirimkan gambar pohon natal dan Cake Natal Bersalju pada daddy..”

Tak lama sebuah nada dering terdengar dari ponsel tiffany.

“Daddy merry christmas!!” girang tiffany saat menjawab video call daddy hwang.

“Wow, tenang honey kau membuat telinga daddy berdengung”

“Sorry, but i miss you so much dad” tiffany berkata sambil memasang aegyeo-nya.

“Hentikan itu honey kau membuat dady semakin merindukanmu dan ingin memelukmu” ujar daddy hwang.

Taeyeon hanya diam memperhatikan percakapan daddy hwang dan tiffany yang saling merindukkan satu sama lain. Mereka terlihat sangat bahagia satu sama lain meski tanpa kehadiran sang eomma. Ada perasaan iri melihat kedekatan mereka.

Mengapa ia harus menjadi seorang malaikat? Mengapa ia harus terjebak dalam perasaan seperti ini? Cinta dan kasih sayang. Ia berharap jika dirinya bukanlah seorang malaikat yang memiliki orang tua yang menyanyanginya dan memiliki kekasih sesempurna tiffany.

Mungkin ia akan sangat bahagia melebihi semua makhluk yang ada dibumi ini.

“Tae? Taeyeon?”

Suara itu berhasil membangunkan taeyeon dari lamunannya.

“A-ah ne?” jawab taeyeon.

“Daddy menanyakanmu”

“O-oh, annyeonghasaeyo daddy hwang” taeyeon menampilkan wajahnya dilayar.

“Bagaimana kabarmu? Tiffany sulit diatur bukan?” tanya daddy hwang.

“Daddy! Jangan berbicara seperti itu!” teriak tiffany.

“A-ah ne, tippany sedikit tidak bisa diatur. Dia keras kepala” taeyeon berkata sambil terkekeh.

“Ya! Kim Taeyeon!” kini taeyeon yang kena semprot teriakan tiffany. Daddy hwang hanya tertawa melihat kelakuan putrinya itu.

“Hahahah, putri daddy memang seperti itu. Sulit merubah sifatnya itu” ujar daddy hwang.

“Daddy tidak percaya dengan gambar yang kalian kirim, benarkah putriku yang membuat itu semua?”

“Tentunya bersamaku dady hwang, waeyo?”

“Ini sulit dipercaya. Tiffany bukan oramg yang mau memegang alat dapur. Bahkan dia pernah marah pada daddy selama beberapa hari karena memintanya membantu daddy didapur”

“Oh dad, please jangan berbicara mengenai kejelekanku saja. Aku tidak ingin taeyeon berfikiran aneh tentangku” pinta tiffany sambil memasang puppy eyes andalannya.

Taeyeon kembali terkekeh melihat kedekatan tiffany dan daddy hwang.

Untuk pertama kalinya ia menyesali dirinya menjadi seorang malaikat

***

Kini libur natal telah selesai seluruh siswa/siswi kembali kesekolah dan melakukan aktivitas belajar-mengajar kembali.

“Baiklah kita akan mulai pembelajarannya, keluarkan buku bahasa inggris kalian” ujar seosaengnim pada para murid.

“Tiffany boleh aku duduk disini lagi?”

Tiffany melihat siapa yang berbicara padanya.

Siwon.

“Tentu saja” tiffany tersenyum simpul.

“Dalam bahasa inggris kita perlu bla bla bla” seosaengnim berkata panjang lebar memberikan materi pada para siswa.

Tiffany menghela nafas panjang, Ia sudah sangat pintar dalam bahasa inggris karena saat kecil hingga umur 11 tahun ia tinggal di California.

Hari ini sangat membosankan baginya ditambah tidak adanya taeyeon membuat moodnya buruk.

Ia merindukan malaikat itu.

“Tiff emm, mau makan siang bersama?” ajak siwon.

Tiffany hanya diam. Ia sedang berfikir apakah ia harus menerimanya atau tidak.

“Kau hanya belum terbiasa dengan perlakuan mereka. Cobalah untuk memaafkan apa yang telah terjadi dimasa lalu. Kau sudah berubah pany-ah, kau hanya perlu menatap kedepan dan jangan melihat kebelakang”

Tiffany teringat akan perkataan taeyeon. Sudah saatnya ia melupakan masa lalu dan membuka hatinya untuk orang-orang. Ia harus mulai terbiasa dengan sikap teman-temannya.

“Baiklah” jawab tiffany dan mendapat senyuman senang dari siwon.

.

.

Taeyeon POV

Hari ini aku kembali sendiri. Dirumah yang cukup besar ini. Ada perasaan tak suka saat tippany harus pergi kesekolah dan meninggalkaku sendirian disini dan hanya menunggunya untuk pulang.

Kurasa makan eskrim adalah waktu yang tepat untuk memecahkan kebosananku.

Aku berjalan menuju kulkas dan membukanya.

Kosong.

Tidak ada eskrim.

Ahh aku lupa kemarin malam aku dan tippany memakan eskrimnya hingga habis. Aku rasa ini saatnya untuk berbelanja, lagipula aku juga harus menyiapkan makan untuk tippany saat ia pulang nanti. Akupun segera keluar dan pergi menuju supermarket.

.

.

“Apa ya yang harus aku beli?” tanya taeyeon saat melihat bermacam-macam sayuran.

“Mungkin wortel?”

Aku mengambil satu bungkus wortel dan memasukannya kedalam trolli.

“Aa, aku butuh daging segar”

Author POV

Taeyeon mendorong trolli menuju tempat penyimpanan daging. Namun saat ia hampir sampai ia menghentikan langkahnya.

Pandanganya buram dan berputar, ia juga merasa lemas.

Taeyeon mencengkeram kepalanya. Mungkin ini terjadi karena ia terlalu banyak mengeluarkan kemampuannya.

Membawa tiffany ke singapure lalu kembali ke korea, ia juga menyembuhkan wajah tiffany. Semua itu ia lakukan dalam 1 malam. Tapi itu semua sudah cukup lama berlalu, lalu mengapa baru sekarang?

Tubuhnya meluruh kelantai. Ia tidak punya kekuatan untuk menompang tubuhnya. Ia merasakan sayapnya keluar dari persembunyiannya.

“Aaa tidak” taeyeon berusaha menyembunyikan sayapnya, namun gagal ia terlalu lemah.

“Lee jangan kesana, kita harus membeli daging dulu sayang”

“Ne eomma”

Taeyeon mendengar suara seorang yeoja dan anak kecil. Ia harus kembali tapi bagaimana?

Taeyeon bisa mendengar suara langkah kaki yang kini mulai mendekat. Mereka tidak boleh melihat ini. Dengan sisa tenaga yang ia miliki taeyeon mencoba mengeluarkan kemampuannya untuk berteleportasi, namun gagal. Taeyeon bahkan tidak bisa mengangkat jarinya.

“Lee jangan berlari nanti jatuh!”

Taeyeon merasakan langkah itu semakin dekat, dekat, dekat dan..

“Eomma lihat ada seseorang terbaring disana!” anak itu menunjuk kearah taeyeon dimana ia terbaring.

“Eomma dia memiliki sayap!” ucapnya lagi membuat taeyeon terbelalak.

‘Dia melihatnya? Tapi bagaimana bisa? Hanya pemilik kalung ini yang bisa melihatnya. Aku harus segera kembali’ taeyeon berkata dalam hati.

Taeyeon mencoba untuk berteleportasi dan kembali gagal.

“Eomma cepat kemari! Orang itu memiliki sayap!”

“Arasseo eomma kesana sayang” yeoja itu melangkahkan kaki menghampiri sang anak.

‘Oh tidak langkah itu semakin mendekat’

“Jebal” ucap taeyeon lirih.

“Tipphh-aan-nyhh dowh-ajwohh” taeyeon berkata semakin lirih.

Ia kembali mencoba dengan sepenuh kekuatan yang ia miliki dan hasilnya…

“Jadi apa yang kau lihat sayang? Bukankah sudah eomma bilang untuk tidak berbohong” tanya yeoja itu yang tidak melihat apapun. Hanya ada sebuah trolli.

“Dia menghilang eomma!” ucap anak itu.

Ya, taeyeon berhasil berteleport dengan sisa kekuatannya.

***

Tiffany POV

“Wahh tiffany kalungmu sangat cantikk. Boleh aku lihat!” ujar seolhyun.

“Tentu” Aku melepaskan kalungku dan memberikanya pada teman-teman.

“Wahh tiff ini benar-benar bagus. Pasti mahal. Dimana kau membelinya?” tanya sunny.

Semua teman satu kelasku sedang berkumpul dimejaku. Bukankah ini terasa aneh? Mereka biasa membully ku dan menjauh dariku tapi lihat sekarang mereka terus mendekat padaku dan memujiku cantik. Ini benar-benar luar biasa bukan?

Jam pelajaran baru saja dihentikan karena diadakannya rapat dadakan karena itu semua kelas tidak ada jam pelajaran.

“Aku tidak membelinya” jawabku seadanya.

“Lalu dari mana kau mendapatkan ini? Apa dari kekasihmu? Kau punya kekasih?” tanya siwon yang duduk disampingku.

‘Kekasih?’

“Tidak. Aku tidak punya kekasih” sanggahku.

“Yess!!!” teriak para namja. Apa mereka sesuka itu padaku, bukankah mereka selalu mengejekku waktu itu tapi lihat sekarang, heol!

“Tiff jangan lupa untuk makan siangnya denganku” ujar siwon.

“Huuuuu~ playboy jangan cari kesempatan. Pergi sana” teriak para namja pada siwon.

“Tentu” jawabku membuat siwon senang. Sedangkan para namja menatap kecewa.

Well, aku hanya ingin merasakan bagaimana makan dengan seorang pria.

‘Jebal’

Aku mengedarkan pandanganku. Aku seperti mendengar suara seseorang yang sangat aku kenal tadi.

Tidak ada siapun.

“Kau mencari siapa tiff?” tanya woohyun.

“A-any, aku hanya seperti mendengar suara seseorang yang aku kenal. Apa kalian mendengarnya?” ujar tiffany.

“Benarkah? Kami tidak mendengar apapun selain sunny yang bawel memuji kalungmu” jawab yuri.

“Benarkah?” semuanya mengangguk menyetujui ucapan yuri.

Hahhh~ mungkin aku terlalu memikirkan malaikat itu sampai aku salah dengar. Tapi perasaanku terasa tak enak sekarang, apa taeyeon baik-baik saja? Apa yang sedang dia lakukan?

‘Tipphh-aan-nyhh dowh-ajwohh’

“Taeyeon?” ucapku sambil bangkit dari posisi dudukku.

Kuedarkan pandanganku kembali. Tidak ada. Dia tidak disini. Pikiranku semakin gelisah karenanya.

Dengan cepat aku mengambil kalungku yang sunny pegang dan berlari dengan kencang meninggalkan mereka yang kebingungan melihatku.

Perasaanku tak tenang.

Taeyeon kau baik-baik saja bukan?

.

.

Author POV

“Taeyeon!” teriak tiffany.

Hening.

Tidak ada yang menjawab.

“Taeyeon?” panggil tiffany kembali.

Namun tetap tidak ada yang menjawab.

Tiffany melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan ia begitu terkejut melihat seseorang yang ada dipikirannya sedang terbaring dilantai.

“Taeyeon!!!”

Tiffany berlari menghampiri taeyeon. Ia membalikkan tubuh taeyeon yang tengkurap dan menyandarkannya pada tubuh tiffany.

“Taeyeon sadarlah!” tiffany menepuk pipi taeyeon pelan berharap gadis itu bisa tersadar.

“Tae kumohon sadarlah!! Jebal!!” tiffany berkata sambil meneteskan air matanya.

Taeyeon akhirnya membuka pelan matanya. Ia sangat pucat, bahkan rambutnya kini menjadi berwarna putih.
Taeyeon mengerang kesakitan.

“Tae-hiks” panggil tiffany sambil mengelus pipi dingin taeyeon.

“Pany-ah” panggil taeyeon lirih bahkan hampir tidak terdengar.

“Apa yang terjadi?” tanya tiffany.

Taeyeon tidak menjawab dia ia terlalu lemas untuk berbicara. Dengan sekuat tenaga taeyeon menggerakkan tangannya untuk menyentuh dada tiffany.

Taeyeon memejamkan matanya.

Dia tidak menemukannya.

Rasa sakit pada seluruh tubuhnya semakin terasa. Ia juga merasa tubuhnya panas seperti terbakar. Tangan taeyeon yang ada didada tiffany meremas baju milik tiffany. Ia sangat kesakitan. Taeyeon mengerang sambil menenggelamkan wajahnya pada perut tiffany. Dia akan mati jika terus seperti ini.

“Taeyeon apa yang terjadi katakan padaku!” tangis tiffany semakin menjadi-jadi melihat taeyeon yang sangat kesakitan.

“Ka-hh-luhhngg” lirih taeyeon.

“Ne? Ka–lung?” tiffany tidak mengerti maksud taeyeon.

“Diman-ahh ka-hh-luhhnggnyahh?” taeyeon berkata dengan susah payah.

Tiba-tiba tiffany ingat akan apa yang taeyeon pernah katakan

“Pany-ah, jangan lepaskan kalung itu apapun yang terjadi”

Dengan segera tiffany mengambil kalung yang ada di saku bajunya dan segera memakainya.

Rasa sakit yang taeyeon rasakan kini mulai sedikit berkurang. Taeyeon tersenyum lemah sebelum akhirnya ia menutup matanya.

“Taeyeon!!!”

‘Apa aku terlambat?’

.
.
.
.

The END

.

.

.

Eh salah maksudnya TeBeCehh wkwkwk 😆

Okee reader dan LS sekalian maaf ya membuat kalian menunggu dan saat author comeback yang dibawa bukan ff circle. Jangan kecewa wookeh?? Ini cast nya kan masih TaeNy.. Hhe ✌

Maaf kalau banyak typo ya baik itu tulisan atau kalimat.. Masih pemula nih hhe 😁

Okehh jangan lupa komentarnya mengenai ff twoshoot my beautiful angel ini ya.. Sampai jumpa nanti 👋 😘💖

Advertisements

85 thoughts on “My Beautiful Angel (Twoshoot 1/2)

    1. Hai juga..
      Selamat datang di wp TNEYisREAL yaa my new reader..
      Semoga km suka sm semua ff yg ada di wp ini. Dan ini murni karya author si keren ini huahahah 😂 *pede abizzz
      Jangan lupa tinggalin jejak. Author cmn pengen tau respon km ttg ff author ini. Kalau km suka sm ceritanya km bisa LIKE. Kalau suka sm authornya follow ahahhaa 😆 *ampun dah nih author ckckkck

      Like

  1. Aduuh end’Nya pake di tulis the end jd sempet mikir “ini gmn sch katanya 2 chaptr” *eeh ternyata 😏😏

    HmMm tiff smpe selupa itu y..Kira2 lanjutannya gmn yaa hee mau baca next chaptr dulu..Apakah tae bakal jadi manusia juga 😁😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s