[Squel] My Beautiful Angel (1/?)

squel-my-beautiful-angel

Main cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon
Genre : Yuri, fantasi, Romance, Chaptered
Rated : 17+
Author : TNEYisREAL08

WARNING!!
The gendre is Yuri if you don’t like it go away and don’t copy paste or Bashing. Typo’s everywhere, please comment. Reading enjoy ^^

***

Author POV

Wusshh!!

Angin .

Duarrr!!!

Petir.

Petir dan angin kini menyatu menjadi satu menghantam bumi. Semua orang kini tidak terlihat membuat jalanan kini kosong, menyisakan kesunyian. Hujan kini semakin deras seiring berjalannya waktu.

Sreeet Sreeet Sreeet

Terdengar suara langkah kaki yang diseret. Ia berjalan dengan sangat lemas. Tubuhnya basah kuyup dan raut wajahnya menampakkan kesedihan. Air mata yang mangalir dari matanya semakin deras bersamaan dengan derasnya hujan. Hatinya sakit. Ia kira penderitaannya telah berakhir namun ternyata ia salah. Ini belum berakhir. Yang ada semakin menyakitkan untuknya.

Flashback

Tiffany POV

Kim Taeyeon.

Nama itu terpampang dipintu ruangan khusus pasien VIP. Tubuhku bergetar. Benarkah itu taeyeon yang aku kenal?

Aku harus memastikan.

Kubuka perlahan pintu itu. Dan disanalah dia.

Dia sedang duduk diranjangnya sambil menatap keluar jendela.

“T-taeyeon” lirihku.

Ia mengalihkan pandangannya kearahku. Tiba-tiba senyum merekah dari bibirnya. Dan itu berhasil menggetarkan hatiku. Dia taeyeonku, kekasihku yang aku rindukan.

Dengan segera aku berlari kearahnya dan memeluknya erat, air mataku bahkan kini keluar karena bahagia bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama.

“Bogoshipeo tae” lirihku padanya.

Bukannya menjawab ia justru mendorongku menjauh dengan kasar. Aku benar-benar terkejut dengan sikapnya, ada apa dengannya?

“N-nugusaeyo?” tanyanya tanpa melihatku.

“Taeyeon-ah ini aku tiffany” jawabku lalu mendekat padanya dan menggenggam tangannya. Namun responnya membuatku sedih, neomu.

“Pergi!!! Aku tidak mengenalmu!! Pergi!!” teriaknya menghempas tanganku kasar lalu menjauh memundurkan posisi duduknya sambil menggenggam selimut dengan erat. Dia terlihat ketakutan, geundae wae?

“Tae, ini aku tiffany. Kau tidak mengingatku?” tanyaku kembali menggenggam tangannya.

“Pergi!!! Aku tidak mengenalmu! Tolong aku! Siapapun! Hyunie!” teriaknya kembali menghempas genggamanku lalu duduk meringkuk memeluk tubuhnya.

Apa dia tidak mengingatku?

“Tae ini aku, kau sungguh tidak mengingatku?” kini aku duduk diranjangnya dan memegang wajahnya mencoba untuk menatapku.

Tatapannya kosong.

“Tidakk!! Pergi aku mohon, hyunie!!” ia kembali berteriak sambil menjauhkan tanganku kasar untuk kesekian kalinya lalu ia meraba-raba meja yang ada disamping ranjang seperti mencari sesuatu membuat barang-barang yang ada dimeja itu jatuh kelantai.

Aku hanya diam menatap sikap anehnya. Seolma?? Maldo andwae!

Prangg!!

Gelas yang ada dimeja kini jatuh dan pecah membuat suara diruangan ini semakin ricuh selain karena teriakannya.

“Unnie!!”

Aku mengalihkan pandanganku kearah suara. Disana ada seorang yeoja tinggi berparas cantik. Yeoja itu mendekat kearah kami lalu dia mendorongku menjauh dengan kasar.

“Unnie gwaenchanayo?” tanya yeoja itu menggenggam tangan taeyeon. ia terlihat sangat mengkhawatirkan taeyeonku. Aku hanya terdiam ditempatku. Segala macam pikiran terus berkecamuk di otakku.

“Anya!! Lepaskan! Pergii!!!” teriak taeyeon histeris menghempas tangan itu.

“Unnie ini aku, kumohon sadarlah! Ini aku, ini suaraku unnie”

Seketika gerakan penolakannya terhenti.

“Hyunie?” tanya taeyeon.

“Ne unnie ini aku” jawabnya sambil menahan tangis.

“Hyunie” taeyeon berkata sambil meraba wajah yeoja itu membuatku semakin tak bisa menahan air mataku. Ini tidak mungkin.

Taeyeonku tidak mungkin ..

“Hyunie seseorang ada disini, aku rasa dia ingin menyakitiku. Museowo” ujar taeyeon.

“Anya unni, tidak ada siapapun disini. Tenanglah, dia sudah pergi”

“Sungguh? Hyunie aku benar-benar takut, disini sangat gelap. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi” ujar taeyeon kini meneteskan air matanya.

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku mencoba untuk tidak mengeluarkan suara karena isak tangisku. Taeyeonku maldo andwae.

Aku berlari keluar dari ruangan itu. Aku tidak bisa terus berada disana, ini terlalu menyakitkan untukku. Dia taeyeonku tidak mengingatku. Tapi yang semakin menyakitkan untukku adalah keadaannya.

Dia tidak bisa melihat.

Flashback End

Author POV

“Tiffany!”

Suara itu menghentikan langkah gadis yang basah kuyup. Kini ia tidak merasakan derasnya hujan yang mengenai tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan honey? Kau baru saja bangun dari pinsanmu dan sekarang kau hujan-hujanan?”

“………………………”

“Daddy mencarimu. Kau membuat daddy khawatir” ujar daddy hwang.

“………………………”

Merasa aneh dengan sikap putrinya daddy hwang membalikkan tubuh tiffany dan betapa terkejutnya ia melihat putrinya itu. tiffany sedang menahan isak tangisnya.

“Honey ada apa? Mengapa kau menangis?” tanya daddy hwang khawatir.

“Dad, eotteokhaeyo? Ini benar-benar menyakitkan” ucap tiffany dengan air mata yang semakin deras.

“Heii apa yang sakit honey katakan pada daddy. Kepalamu sakit?”

Tiffany menganggukkan kepalanya.

“Tapi disini rasanya lebih sakit lagi. Neomu appo dad” jawab tiffany memukul dadanya.

“Hentikkan sayang kau hanya membuat dirimu semakin sakit” khawatir daddy hwang menggenggam tangan putrinya agar berhenti memukul dadanya.

“Neomu appo dad-Hiks, Jinja appo!” tangis tiffany keras, dengan segera daddy hwang memeluk putrinya mencoba menenangkannya.

***

“Bagaimana keadaannya soyou-ssi?”

“Dia baik-baik saja seohyun-ssi, kami sudah memberinya obat penenang, ia hanya perlu istirahat” jawab dokter yang dipanggil soyou.

“Jika dia baik-baik saja mengapa ia bersikap seperti itu?” tanya yeoja yang bernama seohyun itu.

“Ini semacam trauma, seperti yang kau katakan bahwa unniemu selalu disakiti oleh kekasihnya. Itu membuat unniemu takut untuk bertemu orang lain dan berakhir tersakiti lagi”

“Unniemu baru saja sadar dari komanya setelah 4 tahun wajar jika ia merasa seperti itu, ketika ia tersadar ia tidak bisa menggunakan penglihatannya lagi. Karena itu ia merasa was-was dan sensitive dengan sekitarnya. Jika ia sudah menyesuaikan dirinya ia akan kembali baik-baik saja” jawab soyou.

“Terimakasih untuk segalanya soyou-ssi” seohyun memeluk dokter itu, dan dokter itupun membalasnya.

“Ini sudah tugasku seohyun-ah. Sebagai seorang dokter dan teman”

***

“Kim taeyeon, namanku kim taeyeon”

“Kalungku dan kalungmu memiliki keterkaitan satu sama lain. Maksudku mereka saling berhubungan. Saat kau membutuhkanku aku akan datang dan tahu posisimu, begitupun sebaliknya” jelas taeyeon.

“Aku kemari karenamu. Meski sulit dipercaya. Tapi kau harus menerimanya tippany. Karena kau membutuhkanku”

.

.

“Aww!”

“Tanganmu terluka. Biar aku obati”

“Tidak perlu ini tidak parah taeyeon. Hanya perlu dicuci dan-“

Taeyeon mengulum telunjuk tiffany yang terluka akibat terkena pisau kedalam mulutnya.
Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa. BLANK. Mukanya memerah melihat taeyeon bertindak seperti itu.

“Duduklah, biar aku yang melanjutkan semuanya”

“Tapi aku baik-baik saja sekarang”

“Tidak tippany, bagaimana jika aku terluka lagi? Aku tidak bisa membiarkan itu”

“Kau bisa menyembuhkanku lagi jika aku terluka”

“Meski begitu tetap tidak bisa. Aku sudah berjanji pada tuan hwang untuk menjagamu. Tetap disini dan jangan menyentuh apapun, hanya duduk”

.

.

“Aku takut kau berpaling dariku”

“Itu takkan pernah terjadi, kau harus percaya padaku apapun yang terjadi tetaplah percaya padaku.”

Taeyeon menghapus air mata itu. Lalu mengecup kedua mata tiffany agar berhenti mengeluarkan tetesan-tetesannya.

“Saranghae”

“Jika kelak sesuatu terjadi maka tetaplah percaya padaku, apapun itu”

.

.

“Baiklah, diantara kami semua apa ada yang kau sukai? Siapa dia dan kenapa?”

“Jawabanku adalah ada. Siapa dia? Dia adalah kunci kehidupanku dimasa depan. Kenapa? Aku tidak tahu dengan pasti, tapi saat berdekatan dengannya aku merasa sesuatu berdetak disini, aku juga merasa hangat, dan saat bibir kami menyatu itu seperti candu untukku. Melihat senyumnya membuatku senang setengah mati. Aku harap aku akan selalu bersamanya, mengingatnya dan mengingat setiap moment yang kami ciptakan bersama. Ya aku sangat mengharapkan itu” ucap taeyeon diakhiri senyum kecut.

.

.

“Aku menyukai tempat ini, dimana salju bergelimang dan membuat orang-orang bahagia karenanya. Apa aku bisa datang lagi kemari bersamamu?”

“Tentu kapanpun kau mau”

“Pany-ah jika suatu saat aku harus kembali apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tapi yang pasti aku akan sedih, kehilangan, dan menderita. Aku lebih baik mati daripada hidup tanpamu”

“Apa kau pikir kita bisa selamanya bersama?”

“Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa kau akan pergi dariku?”

“Eiii~ kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Kau manusia sedangkan aku malaikat. Manusia tidak kekal sedangkan malaikat, kau tahu? Mungkin ada beberapa persen malaikat yang bisa mati juga”

“Meskipun begitu apapun yang terjadi kita harus tetap bersama, kalaupun memang begitu biarkan aku mati lebih dulu, agar aku tidak perlu merasakan sakit karena harus menjalani hidup tanpamu”

“Dasar manusia egois”

.

.

“Aku tak bisa merelakanmu pergi”

“Tiffany maafkan aku, kita takkan pernah bisa bersam-“

Chuu~

“Saranghae” ucap tiffany.

“Nado-“

“Nado saranghae” lanjut taeyeon.

Kalung mereka menyatu dengan sendirinya, dan munculah suatu cahaya yang berasal dari kalung yang mereka pakai. Dengan perlahan tubuh taeyeon terangkat keatas dan tubuhnya mulai sedikit demi sedikit menghilang.

“Taeyeon!!”

Tangan mereka masih saling menggengam bahkan tiffany menggenggamnya dengan erat tak ingin melepaskan tangan itu.

“Pany-ah”

“Kajima jebal!!!! Taeyeon-ah kajima”

“Aku akan kembali, aku takkan pergi. Jadi sampai saat itu tiba bisakah kau menungguku?”

Tiffany menggelengkan kepalanya, ia tak ingin taeyeon pergi.

“Tiffany, lihat aku dan dengar aku baik-baik!”

“Apapun yang terjadi aku akan kembali meski dengan wujud berbeda, akan aku pastikan aku akan kembali dan takkan melupakanmu. Maukah kau menungguku hingga saat itu tiba?”

“Aku akan kembali, saranghae tiffany hwang”

Dengan perlahan tubuh taeyeon semakin terangkat dan genggaman merekapun kini lepas seiring terangkatnya taeyeon. Perlahan tubuh taeyeon berubah menjadi butiran-bituran debu.

“ANDWAE TAEYEON!!!”

Brakk!!

“Honey ada apa? Kau baik-baik saja?” daddy hwang menghampiri putrinya yang terdiam dengan tatapan kosongnya.

“Kau bermimpi buruk?”

Dengan perlahan air mata tiffany turun dengan sendirinya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya, hidupnya. Pikiran dan hatinya kacau.

“Tunggu sebentar daddy akan membawakan minum untukmu” ucap daddy hwang lalu pergi meninggalkan putrinya sendiri.

Tiffany POV

“Taeyeon-ah-hiks”

“Pergi!!! Aku tidak mengenalmu! Tolong aku! Siapapun! Hyunie!”

“Hyunie seseorang ada disini, aku rasa dia ingin menyakitiku. Museowo”

Sakit.

Melihatnya seperti itu membuatku sakit dan sedih. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi. Mengapa kami dipertemukan dalam keadaan seperti ini?

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Tuhan kumohon tolong aku, katakan apa yang harus aku lakukan?

“Jika kelak sesuatu terjadi maka tetaplah percaya padaku, apapun itu”

“Aku akan kembali, aku takkan pergi. Jadi sampai saat itu tiba bisakah kau menungguku?”

“Aku akan kembali, saranghae tiffany hwang”

Percaya padanya? Tentu saja aku percaya padanya. Dan sekarang dia telah kembali sesuai janjinya. Dia tidak berbohong, dia menepatinya. Tapi kenapa-?

“Ini minumlah” suara daddy menyadarkanku.

Aku meminumnya dan daddy kembali membawa gelas itu.

“Honey, daddy tidak bisa hanya diam melihatmu seperti ini. Daddy mohon ceritakan pada daddy apa yang terjadi sebenarnya”

“…………………….”

“Dia kembali dad, seseorang yang aku tunggu selama ini sudah kembali” lirih tiffany.

“Bukankah seharusnya kau senang dan bukan sedih seperti ini? Ataukah dia tidak ingat padamu?” tanya daddy hwang. Tiffany menganggukkan kepalanya lemah.

“Oh honey, daddy rasa orang itu tidak serius denganmu. Dia tidak akan melupakanmu jika dia benar-benar serius padamu” daddy hwang menggenggam tangan putrinya.

“Kau tahu, masih banyak orang diluar sana yang lebih baik darinya. Daddy yakin kau pasti menemukan yang lebih baik sayang. Lupakan dia, dia hanya membuatmu terpuruk sedih. Daddy tidak suka melihatmu seperti ini”

“Dia bukan orang seperti itu dad, aku tidak bisa melupakannya. Dialah yang terbaik dari yang terbaik yang pernah aku kenal”

“Aku mengerti jika dia melupakanku, karena saat itu situasinya berbeda dengan sekarang. Tapi yang membuatku sangat sedih karena keadaan dirinya”

“Dia tidak bisa melihat dad” lirih tiffany dan kembali meneteskan air mataku.

“……………………”

“Apa dia mengalami kecelakaan?” tanya daddy.

Aku hanya diam, aku tidak tahu apa dia mengalami kecelakaan atau memang dia terlahir seperti itu.

“Kalau begitu kau harus mencari tahu apa yang terjadi padanya, mungkin saja dia dia tidak mengingatmu karena kecelakaan. Honey, apa kau sangat mencintainya?”

Aku kembali menganggukkan kepalaku.

“Geurae, kau pasti sangat menyukainya. Kalau begitu daddy rasa ini bukan waktumu bersedih, jika kau memang mencintainya seharusnya kau berada disisinya. Kau pikir dengan kau bersedih seperti ini akan mengubah keadaan? Tidak sayang”

Benarkah seharusnya aku seperti itu? Tapi dia tidak mengingatku, bahkan reaksinya terakhir kali saat aku datang sangat membuatku sedih.

“Tapi dia tidak mengingatku, bagaimana bisa aku berada disampingnya dad” ucapku dengan isak tangis. Kulihat daddy tersenyum.

“Jika dia mencintaimu dia akan kembali memgingatmu sayang. Kau bisa memulai dari awal seperti pertama kali bertemu dengannya, bukan?”

Mengapa aku tidak berfikir sampai kesana? Taeyeon yang sekarang adalah manusia bukan malaikat, wajar jika dia tidak mengingatku. Aku bisa memulai dari awal bukan?

“Gomawo dad, jeongmal” aku peluk daddy dengan erat dan daddy membalas pelukanku.

“Daddy akan berdoa yang terbaik untukmu. Pria itu pasti sangat beruntung memiliki seseorang yang sangat mencintainya seperti dirimu honey”

Pria?

Aku hanya bisa tersenyum canggung. Apa yang akan terjadi jika daddy tahu bahwa seseorang yang aku cintai adalah seorang wanita?

***

Author POV

Tiffany dengan ragu melangkahkan kakinya menuju kamar VIP. Hingga akhirnya ia kini berada didepan pintu tersebut. Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas. Jantungnya berdetak, ia bingung apa yang akan ia lakukan jika dia sudah bertemu taeyeon.

“Benar, apa yang akan aku katakan padanya nanti?” ucap tiffany pada diri sendiri sambil menjauh dari pintu itu.

“Aku bisa bicara apa saja nanti bukan? Yang terpenting sekarang aku harus melihat keadaannya” tiffany kembali mendekati pintu. Saat ia akan membuka pintu, ia menghentikan pergerakkannya dan kembali menjauh.

“Tidak-tidak, aku seharusnya mempersiapkan semua tadi. Sekarang aku benar-benar tidak bisa berfikir. Bagaimana jika dia seperti kemarin?”

“Oh God, kenapa aku sangat gugup”

“Tiff-anny?”

Merasa terpanggil iapun membalikkan tubuhnya dan disana ia melihat yeoja jangkung yang ia lihat kemarin sedang berdiri tak jauh darinya.

“Kau-mengenalku?”

“Jadi benar kau yang bernama tiffany?”

“N-ne”

Hahh~ senang bisa bertemu denganmu unnie” yeoja itu tersenyum dengan sangat manis.

“N-ne??” tiffany tidak mengerti maksud yeoja itu. Bagaimana bisa dia mengenalnya? Ia bahkan pertama kali melihat yeoja itu.

“Bisa kita bicara sebentar? Ada banyak yang ingin aku katakan pada unnie”

.

.

Kini mereka berada dikantin rumah sakit sambil ditemani coffee. Tidak ada yang membuka suara selama 10 menit ini. Yeoja itu hanya memandang tiffany membuat tiffany merasa tidak nyaman.

“A-apa yang ingin kau bicarakan?” ucap tiffany.

“Bukankah unnie yang beberapa hari lalu ada dikamar taeyeon unnie?”

“N-ne?” tiffany bingung ingin menjawab apa.

“Ah benar, aku yakin unnie adalah orang itu”

“Ne” lirih tiffany. Yeoja itu menganggukkan kepalanya pelan.

“Kalau begitu perkenalkan aku kim seohyun, adik kim taeyeon”

“Tiffany hwang” tiffany ikut memperkenalkan dirinya.

“Unnie, kau mengenal taeyeon unnie bukan?”

Tiffany menjawab dengan mengangguk.

“Apa kau kekasihnya? Apa yang membuat unnie datang kemari? Ingin menyakitinya lagi?”

Tiffany mengerungkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang seohyun bicarakan.

“Unnie berhentilah mendekatinya jika kau hanya menginginkan uang. Katakan saja padaku berapa banyak yang kau inginkan, aku akan memberikannya padamu. Tapi setelah itu aku harap unnie menjauh dari unnieku”

Tiffany kini mengerti maksud dari perkataan seohyun. Dia pikir tiffany kemari untuk menyakiti taeyeon.

“Sepertinya kau salah pahan seohyun-ssi. Aku bukan orang seperti itu. Aku tidak butuh uang, aku punya uang yang cukup. Dan aku kemari bukan untuk menyakitinya”

“Aku kemari untuk melindunginya, menjaganya, dan berada disisinya. Aku sangat berhutang padanya dan itu mungkin takkan pernah bisa terbayar sampai kapanpun”

Seohyun tersenyum mendengar jawaban tiffany. Ada perasaan senang mendengar itu, ia harap apa yang diucapkan tiffany adalah kebenaran.

“Bagaimana aku bisa percaya padamu? Mereka semua berbicara seperti itu tapi pada akhirnya mereka menghianatinya”

“Apa maksudmu?” tanya tiffany tidak mengerti.

“Kau pasti tahu siapa taeyeon bukan? Pewaris kim corp, perusahaan terbesar di korea selatan dan tentu dia memiliki banyak uang. Siapa yang tidak tertarik padanya? Taeyeon unnie tidak hanya kaya tapi juga memiliki tampang. Semua pria menyukainya. But dia tidak menyukai pria. Taeyeon unnie lebih tertarik dengan sesama jenisnya. Meski aku sudah mencoba untuk menghilangkan perasaan dirinya yang lebih menyukai wanita tapi itu tidak berhasil. Aku hanya bisa menerima kenyataan. Appa dan eommapun kecewa padanya mengetahui ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah pilihan taeyeon unnie”

“Akhirnya kami menerima kenyataan itu dan taeyeon unnie mulai menjalani suatu hubungan. Hubungan mereka berlangsung sampai 1 tahun, tapi wanita itu ternyata selingkuh dengan seorang pria. Mereka putus, taeyeon unnie sangat terpuruk hingga akhirnya dia menemukan wanita lain dan hal itu kembali terjadi hingga ke 5 kalinya dan saat itulah kecelakaan itu terjadi.Taeyeon unnie selalu menjadi yang terhianati. Mereka mendekatinya karena hartanya. Memanfaatkan kelemahannya yang menyukai seorang wanita. Dan aku tidak ingin itu terjadi lagi, jadi jika unnie menginginkan uang maka aku akan memberikannya. Kau hanya perlu pergi menjauh dari unnieku” ujar seohyun.

Tiffany terdiam mendengar apa yang diceritakan seohyun. Masa lalu taeyeon sangat menyedihkan.

“Gomawo pany-ah pada akhirnya kau menyakitiku seperti yang lainnya. Terimakasih karena kau memutuskan untuk membunuhku dari pada menyelamatkanku. Terimakasih karena kau telah memberikan cintamu padaku dan membuat kenangan-kenangan indah untukku. Aku takkan melupakannya”

Ia kini mengerti maksud ucapan taeyeon saat itu, bahwa taeyeon selama ini selalu disakiti dan saat itu ia juga salah satunya. Kini ia semakin yakin bahwa orang itu adalah taeyeon, kim taeyeon malaikatnya, penyelamatnya, kebahagiannya dan juga kekasihnya.

“Itu tidak akan terjadi lagi, aku tulus dengan apa yang aku lakukan padanya. Aku mencintainya seohyun-ah. Aku sudah menunggunya selama 3 tahun ini. Dia berjanji akan kembali padaku, dan akhirnya kami kembali dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Perasaanku sakit melihatnya seperti itu. Aku tidak bisa menunggu lagi, karena itu biarkan aku untuk bersamanya. Dia sudah melakukan banyak hal yang takkan pernah aku bisa tebus, karena itu kali ini biarkan aku untuk membantunya, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku” tiffany berkata dengan air mata yang kini menggenang dipelupuk matanya.

Seohyun bisa merasakan ketulusan dari mata tiffany. Dugaannya benar orang ini adalah orang yang berbeda. Dia yakin itu.

“Meski dia tidak mengingatku, itu bukanlah masalah. Aku bisa memulainya dari awal” lanjut tiffany.

“Gomawo unnie, aku percaya padamu. Kumohon bantu aku untuk membuat taeyeon unnie seperti dulu lagi. Taeyeon yang ceria, semangat dan penuh karisma. Taeyeon unnie berubah sejak ia bangun dari komanya, dia sangat terpuruk. Aku sudah lama menunggumu unnie, taeyeon unnie selalu menyebut namamu dalam tidurnya”

“Menyebut namaku?”

“Ne”

Flashback

Titt titt titt

“Unnie aku mohon sadarlah, aku merindukanmu. Appa dan eomma sudah tiada, sekarang yang aku punya hanya unnie, karena itu cepatlah sadar-hiks”

Seohyun mengelus dan menggenggam tangan dingin taeyeon yang terbaring lemah. Tiba-tiba ia merasakan sebuah gerakan dari jari taeyeon dan itu berhasil membuatnya terkejut.

“Unnie?!” panggil seohyun.

Dengan segera ia menekan tombol darurat dan para dokterpun kini berada diruang rawat taeyeon.

Mereka terdiam melihat taeyeon yang kini membuka matanya perlahan. Setelah bertahun-tahun koma akhirnya gadis itu bangun dari tidur panjangnya.

“Nona taeyeon?” panggil dokter.

“Dimana ini? Mengapa disini sangat gelap?” lirih taeyeon, ia masih sangat lemah.

Semua orang yang ada diruangan itu terdiam mendengar ucapan taeyeon. Gelap?? Disini sangat terang.

“Unnie apa maksudmu? Disini tidak gelap” seohyun khawatir.

“Hahh~ gelap” lirih taeyeon kembali dan matanya ikut menutup lagi.

Dengan segera dokter memeriksa keadaan taeyeon dan juga matanya.

“Dokter ada apa dengan unnieku, apa dia baik-baik saja?”

“Aku rasa kita harus kembali memeriksanya ulang” ucap dokter itu lalu pergi.

.

.

“Hasil pemeriksaan kami menunjukkan bahwa nona taeyeon mengalami kerusakan pada korneanya, hal itu menyebabkan dirinya tidak bisa melihat atau yang biasa kita sebut kebutaan”

“Itu tidak mungkin dokter, unnieku-hiks” seohyun menutup mulutnya dengan tangannya tak percaya dengan apa yang dokternya katakan.

“Apa ada cara agar unnieku bisa melihat kembali?”

“Jika kornea sudah rusak, tidak akan bisa dipulihkan lagi. Tapi ada satu cara yang bisa membuatnya kembali melihat, yaitu dengan melakukan operasi transplantasi kornea”

“Kornea itu seperti kaca bening tapi sifatnya paling vital. Begitu kaca itu rusak tergores saja tidak bisa diganti kembali, harus dicangkok”

“Kalau begitu lakukan itu, tidak peduli berapapun biayanya. Tolong buat unnieku kembali melihat dok” pinta seohyun. Dokter itu mengangguk.

“Kita hanya perlu menunggu pendonor, jika sudah ada kita bisa segera melakukannya”

.

.

Prangg!!

Seohyun berlari begitu mendengar suara barang yang pecah dari kamar taeyeon. Ia sangat terkejut begitu melihat taeyeon yang sedang dipegang oleh para dokter dan suster.

“Lepaskan!! Biarkan aku mati!!”

“Tolong pegang tangannya dengan benar” perintah dokter. Merekapun melakukan sesuai perintah dokter itu.

“Lepas!! Kumohon biarkan aku mati!” teriak taeyeon menangis histeris sambil mencoba melawan para suster yang menahan tangannya.

Dokter itu kini mulai menyuntikkan obat penenang pada taeyeon membuat taeyeon merasa tubuhnya lemas dan matanyapun kini menjadi berat.

“Jebal-hiks” lirih taeyeon dan menutup matanya rapat.

Seohyun hanya bisa diam sambil menangis melihat keadaan unnienya. Taeyeon hampir saja melakukan aksi bunuh diri dengan gelas yang dipecahkannya, tapi untungnya dokter dan suster itu datang dengan cepat begitu mendengar suara itu.

Seohyun berjalan mendekati ranjang unnie tecintanya. Dokter dan suster menjauh memberikan privasi untuk seohyun. Taeyeon sedang terbaring memejamkan matanya disana. Ia bisa melihat luka gores dileher dan tangan taeyeon. Ia hanya bisa memejamkan matanya menahan tangis melihat keadaan keluarga satu-satunya yang ia miliki. Seohyun bisa melihat air mata menetes dari mata taeyeon.

“Unnie kumohon jangan seperti ini. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan?” ucapnya sambil menangis, ia tak bisa menahan air matanya, ini terlalu menyakitkan.

.

.

“pany-ah” lirih taeyeon dalam tidurnya.

“unnie gwaenchana?” seohyun mendekati ranjang taeyeon.

“pany-ah” lrih taeyeon kembali

“Pany-ah? Apa dia kekasih unnie?” tanya seohyun pada diri sendiri. Tak lama taeyeonpun membuka matanya.

“unnie kau bangun?” tanya seohyun.

Taeyeon yang mendengar suara itu langsung bangkit dari tidurnya dan menjauh memeluk dirinya sendiri. seohyun bisa melihat raut wajah takut dari unnienya. Iapun mendekat dan menggenggam lembut tangan taeyeon sambil menahan tangis.

“Unnie ini aku adikmu, kim seohyun”

“Pembohong! Pergi!” taeyeon menghempaskan tangan seohyun kasar.

“Unnie ini aku, aku tidak berbohong. Dengarkan suaraku unnie, ini aku seohyun adikmu” ia kembali menggenggam tangan taeyeon.

“Benarkah kau seohyun? Hyunie-ku?” tanya taeyeon.

“Ne unnie-hiks” seohyun memeluk taeyeon dengan erat.

“Hyunie, museowo. disini sangat gelap. Aku tidak bisa melihat. Kakiku juga tidak bisa digerakkan” ucap taeyeon kini mulai menangis.

“Aku tahu unnie, tapi itu tidak akan lama. Unnie akan segera kembali seperti dulu. Otot kaki unnie kaku karena sudah lama tidak digerakkan, unnie hanya perlu kemoterapi. Dan mata unnie, kita hanya perlu menunggu seorang pendonor dan unnie akan kembali melihat. Jadi kumohon bertahanlah jangan mencoba untuk bunuh diri seperti kemarin” ujar seohyun.

“Tapi ini menakutkan, aku merasa sendiri namun disisi lain aku juga merasa seseorang ada disini”

“Tidak unnie itu hanya ilusimu. Aku disini, aku aka ada disampingmu unnie. Hanya kau satu-satunya yang kumiliki sekarang. Aku tidak ingin kehilangan unnie, kumohon jangan tinggalkan aku unnie”

“Satu-satunya? Apa maksudmu?”

“Appa dan eomma sudah tiada unnie”

.

.

“Bagaimana perasaanmu unnie?” tanya seohyun sambil mendorong kursi roda taeyeon.

“Tidak begitu baik, kakiku benar-benar tidak bisa digerakkan. Apa kemoterapi ini akan berhasil?”

“Tentu saja unnie, ini baru hari pertama. Wajar jika unnie merasa kesulitan. Aku yakin unnie pasti berhasil. Seperti yang unnie pernah katakan padaku saat aku kecil, ‘jika kau yakin maka kau akan bisa melakukannya’”

Taeyeon terkekeh mengingat itu. merekapun kini telah sampai di ruang rawat taeyeon. Taeyeon kembali keranjangnya dengan bantuan seohyun dan suster.

“Unnie ingin buah? Aku membeli buah jeruk, kiwi dan apel”

“Aku ingin apel”

“Baiklah”

Seohyun mulai membelah dan mengupas apel itu, saat ia mengalihkan pandangannya pada taeyeon ia terdiam.

“Unnie gwaenchana? Mengapa unnie menangis?Apa ada yang sakit?”

Menangis?

Taeyeon meraba wajahnya dan benar, pipinya basah.

“Gwaenchana, aku rasa ini keluar begitu saja. Mataku benar-benar rusak sepertinya” jawab taeyeon sedikit tersenyum.

“Unnie” seohyun menghapus air mata unnienya dengan tisu yang ada dimeja.

“Hyunie” panggil taeyeon.

“Ne unnie”

“Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan, aku merasa hatiku seperti kosong. ini begitu menyesakkan. Aku tidak tahu apa itu, mengapa aku menjadi seperti ini? wae?” ujar taeyeon.

“Aku benar-benar tidak bisa mengingat apa itu, rasanya menyesakkan sampai rasanya air mataku ingin keluar. Kumohon bantu aku menghilangkan ini” kini taeyeon benar-benar mengeluarkan air matanya.

“Unnie” seohyun segera memeluk unnienya mencoba menenangkannya.

“Ini benar-benar menyesakkan hyunie” taeyeon berkata sambil memukul-mukul dadanya.

.

.

“Maafkan aku, aku bersalah. Maafkan aku taeyeon”

“Maafkan aku, aku akan mengingat dan menurut dengan setiap perkataanmu tae, jadi kumohon jangan seperti itu lagi, jangan pernah pergi dariku lagi seperti itu, tetaplah disisiku kapanpun, dimanapun, sampai kapanpun. Karena aku-“

“Aku-aku mencintaimu, saranghae”

“pany-ah” lirih taeyeon dalam tidurnya.

“Aku takut kau berpaling dariku”

“Itu takkan pernah terjadi, kau harus percaya padaku apapun yang terjadi tetaplah percaya padaku”

“Unnie” panggil seohyun. Taeyeon tertidur dengan gelisah. Keringat membasahi tubuhnya membuat seohyun cemas bukan main. Pasalnya ini terjadi bukan hanya kali ini. tapi sudah kesekian kalinya taeyeon tertidur dengan gelisah sambil menyebut nama itu.

“Maaf, aku tidak bisa menghangatkanmu”

“Siapa yang bilang kau tak bisa menghangatkanku? Kau selalu menghangatkanku, terutama hatiku taeyeon. Meski dari luar terasa dingin tapi kau menghangatkanku dari dalam. Terimakasih sudah hadir dihidupku taeyeon”

“Hah~ kenapa kata-katamu selalu terdengar manis? Sampai aku tidak tahu harus berkata apa”

“Kau tidak perlu berkata apapun, cukup tetap disampingku, menemaniku, memelukku, dan menciumku setiap hari”

Chuu~

“Anya, aku sangat bahagia karenamu —. Gomawo keurigo mianhae”

“Pany-ah” taeyeon semakin gelisah dalam tidurnya.

— jika suatu saat aku harus kembali apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tapi yang pasti aku akan sedih, kehilangan, dan menderita. Aku lebih baik mati daripada hidup tanpamu”

“Meskipun begitu apapun yang terjadi kita harus tetap bersama, kalaupun memang begitu biarkan aku mati lebih dulu, agar aku tidak perlu merasakan sakit karena harus menjalani hidup tanpamu”

“Ijinkan aku untuk membalas perbuatanmu tadi padaku”

Chuuu~

“Unnie bangunlah!”

“Kumohon maafkan aku, beri aku kesempatan. Aku melakukan kesalahan. Kumohon jangan pergi tetaplah disisiku”

“Aku …. Aku mencintaimu taeyeon karena itu jangan pergi!”

“Aku tak bisa merelakanmu pergi”

“—- maafkan aku, kita takkan pernah bisa bersam-“

“Saranghae”

“Nado-“

“Nado saranghae”

“Tippany” bahkan kini air mata taeyeon keluar dalam tidurnya.

“Aku akan kembali, aku takkan pergi. Jadi sampai saat itu tiba bisakah kau menungguku?”

“Aku akan kembali, saranghae —-“

“Unnie kumohon bangunlah!” seohyun kini menguncang tubuh taeyeon dengan lebih kencang.

“Hahh!!” taeyeon akhirnya terbangun. Ia meraba wajahnya dan ia kembali menemukan dirinya menangis karena mimpi itu.

“Unnie gwaenchana?Kau bermimpi lagi?” tanya seohyun sambil mengelap keringat unnie tercintanya.

“Maafkan aku”

“Mimpi yang sama?”

Taeyeon mengangguk.

“Hyunie-ah sebenarnya siapa gadis yang muncul dalam mimpiku ini?Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku tidak tahu siapa dia. Ini benar-benar membuatku gila” taeyeon meneteskan air matanya.

Seohyun hanya bisa memeluk taeyeon memberinya kekuatan, sejujurnya ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. ia hanya bisa menangis melihat unnienya yang kini menjadi rapuh dan mudah mengeluarkan air matanya.

Flashback End

“Aku pernah menanyakan padanya siapa tiffany itu, tapi unnie bilang ia tidak tahu ia tidak mengenal seseorang yang bernama tiffany. Aku juga tidak mengerti mengapa taeyeon unnie menyebutkan namamu jika dia tidak mengenalmu”

Tiffany meneteskan air matanya mendengar cerita seohyun mengenai taeyeon. Ia bisa merasakan begitu menderitanya taeyeon. Dan yang lebih menyentuh hatinya adalah bahwa sebenarnya taeyeon tidak sepenuhnya melupakan dirinya. Dia mengingatnya, mengingat dirinya didalam hatinya.

“Jadi kumohon bantu aku unnie”

“Aku akan melakukan apapun untuknya”

.

.

“Unnie?” panggil seohyun pada taeyeon yang sedang duduk dikursi rodanya dekat dengan jendela.

“Dari mana? Kenapa kau pergi sangat lama?” tanya taeyeon tanpa mengalihkan tubuhnya menghadap seohyun.

“Aku bertemu dengan seseorang, dia ada disini bersamaku” seohyun mendekat dan memutar kursi roda taeyeon untuk menghadap tiffany.

“Hai taeyeon, aku tiffany. Tiffany Hwang”

Tiffany?

Deg deg deg

Taeyeon menyentuh dadanya. Ia merasa jantungnya kini berdetak dengan kencang begitu mendengar nama itu membuatnya tak nyaman.

“Hyunie, suruh dia pergi. Aku tak ingin bertemu dengan siapapun” ucap taeyeon.

“Unnie?”

“Aku bilang suruh dia keluar!!” teriak taeyeon.

“Unnie dia datang untukmu, tidakkah unnie mengingatnya? Unnie selalu menyebut namanya saat unnie sedang tertidur” ujar seohyun.

“Tidak Kim Seohyun, suruh dia pergi. Kumohon” Pinta taeyeon menggenggam tangan seohyun. Seohyun bisa melihat kini mata unnienya mulai basah.

“Arasseo unnie” dengan segera seohyun membawa tiffany keluar dari ruangan itu meninggalkan taeyeon sendirian.

“Nama itu terasa tidak asing untukku” taeyeon kembali memegang dadanya dimana tempat jantungnya berdetak.

“Mengapa jantungku berdetak kencang? Wae?” lirih taeyeon

.

.

“Unnie maafkan aku. Taeyeon unnie mengalami trauma bertemu dengan orang lain. Dokter bilang taeyeon unnie akan menjadi was-was dan sensitive dengan sekitarnya karena tidak bisa menggunakan penglihatannya lagi”

“Gwaenchana, setidaknya aku bisa melihatnya. Aku akan kembali lagi nanti”

Seohyun mengangguk.

“Aku akan mencoba untuk membujuk unnie”

“Ne, kalau begitu sampai jumpa”

***

“Dimana ini?” tanya taeyeon.

“Taman rumah sakit. Dokter bilang unnie membutuhkan udara segar. Unnie tidak pernah keluar ruang rawat selain ketempat kemoterapi” seohyun memeluk taeyeon dari belakang. Taeyeon tersenyum mendapati adiknya yang begitu perhatian padanya.

“Aku lebih suka disana. Disini terlalu menakutkan. Setidaknya disana aku merasa aman”

“Unnie kau harus membiasakan diri dengan lingkungan luar. Kau tidak bisa memenjarakan dirimu hanya didalam ruangan”

Taeyeon mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Aku akan mencobanya, asalkan kau bersamaku” taeyeon mengelus tangan seohyun yang memeluknya.

“Tentu, aku akan selalu ada untukmu unnie. Akan aku lakukan apapun untukmu” seohyun mencium pipi taeyeon membuat taeyeon terkekeh.

“Kau terdengar seperti seorang kekasih hyunie”

“Eiiii~ maukah unnie menjadi kekasihku?” canda seohyun.

Mereka berdua tertawa mendengar candaan seohyun sambil menikmati udara pagi yang segar. Seohyun kembali mendorong kursi roda taeyeon menuju tempat dimana ada sebuah kursi untuknya duduk. Dikursi itu ada seseorang yang melambaikan tangannya pada seohyun. Seohyun hanya tersenyum membalas lambaian orang itu.

“Maafkan aku, aku membuatmu terjebak bersamaku. Maaf karena aku menjadi beban untukmu hyunie”

Seohyun yang sedang duduk sambil melihat pemandangan didepannya kini mengalihkan pandangannya pada unnienya,begitupun orang yang duduk disamping seohyun.

“Kau masih muda, diusiamu sekarang seharusnya kau pergi sekolah dan bermain bersama teman-temanmu, bukan melakukan scholling home. Pergi ketempat yang menyenangkan bersama mereka, dan menjalin kasih dengan seseorang. Tapi apa yang aku lakukan sekarang, aku membuatmu terjebak bersamaku, bersama bau obat-obatan yang sangat membuat mual. Aku selalu memikirkan ini hyunie. Aku hanya menjadi bebanmu saja”

“Unnie” seohyun kini meneteskan air matanya.

“Aku tahu kau selalu menangis setiap malam, dan ceria dipagi hari tiba. Dan semua itu karenaku. Kau bahkan harus mengurus perusahaan dan disaat bersamaan kau juga menemaniku disini. Kau pasti lelah, aku ingin membantumu tapi aku tidak bisa, aku tidak berdaya, aku bahkan tidak bisa berjalan, aku tidak bisa melakukan apapun sendiri. Aku-“ taeyeon bisa merasakan matanya yang kini memanas.

“Seharusnya aku mati saja, dengan begitu kau tidak akan terjebak dalam lingkaran menyedihkan ini”

Seohyun yang mendengar itu bangkit dari duduknya.

“Mengapa unnie berbicara seperti itu? Sudah seharusnya aku melakukan semua itu karena kita keluarga, unnie adalah satu-satunya yang aku miliki. Berhentilah berkata seolah-olah unnie adalah bebanku, itu semua tidak benar”

“Aku tidak bisa berhenti berfikir seperti itu, karena semua itu adalah kenyataan. Kau bisa hidup lebih baik tanpaku” air mata keluar begitu saja dari mata taeyeon dan dengan segera ia hapus. Sementara seseorang yang sejak tadi duduk disamping seohyun hanya diam tak bergeming, air matanya ikut menetes mendengar percakapan kakak-beradik itu.

“Geurae! Kalau begitu mati saja! Jika unnie ingin mati, mati saja! Kau egois unnie, aku membencimu!!” teriak seohyun dengan wajah penuh dengan air mata.

Ia berlari meninggalkan taeyeon yang ikut menangis mendengar ucapan adiknya itu. Ia tidak sanggup mendengarnya lagi, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia sedih bahwa unnienya berfikir seperti itu selama ini.

Tiffany menahan isak tangisnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia memperhatikan taeyeon yang juga sedang terisak sekarang. Taeyeon yang ia lihat saat ini sangat rapuh tidak seperti taeyeon yang ia kenal dulu. Tiffany bangkit dari duduknya dan mensejajarkan tubuhnya dengan taeyeon.

“Taeyeon-ah” panggil tiffany.

Taeyeon terkejut bukan main saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mencengkeram pengangan kursi roda dengan kencang, tubuhnya bergetar. Ia ketakutan sekarang.

“N-nugu-saeyo?” tanya taeyeon dengan suara gemetar.

“Tiffany” jawab tiffany.

Mendengar nama itu sedikit membuatnya lega, walaupun masih ada perasaan takut. Setidaknya orang itu mengenal seohyun pikir taeyeon.

Tiba-tiba taeyeon merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya. Rasa ini terasa tak asing untuknya.

“Tidak seharusnya kau berfikir seperti itu”

“Sejak kapan kau disini? Apa kau mendengar semua percakapan kami?”

“Kau pikir seohyun akan senang jika kau pergi? Ia hanya memilikimu saat ini, kau satu-satunya keluarga yang tersisa untuknya. Perkataanmu menyakitinya” tiffany mengabaikan pertanyaan taeyeon.

“Kau tidak tahu apapun, jangan ikut campur” taeyeon menghempas tangan tiffany kasar dan berniat pergi dengan mendorong rodanya, namun tiffany menahannya.

“Aku tahu, aku tahu posisiku taeyeon. Tapi pikiranmu hanya akan membuatmu dan seohyun terluka saja”

“Lalu aku harus bagaimana?! Semua itu adalah kenyataan. Kau pikir aku tidak sakit melihatnya menangis setiap malam? Seharusnya ia memiliki kehidupan layaknya seorang pelajar, tapi lihat sekarang! Diumurnya yang masih menginjak masa SMA dia harus memikul beban besar, kehilangan eomma dan appa, kehilangan masa SMAnya. Sekarang ditambah dengan diriku yang buta dan tak bisa melakukan apapun sendiri. dia bahkan harus mengurus perusahaan menggantikan appa. Kau bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang harus ia pikul!”

“Tapi lihat aku sekarang! Aku tidak bisa melakukan apapun, aku tidak bisa membantunya! Aku hanya bisa diam dan mendengar isakkannya dimalam hari. Ini semua terjadi karenaku!”

“Jika kau tidak ingin ia memiliki beban berat itu maka seharusnya kau tidak menyerah dan cepat sembuh taeyeon. Dengan begitu kau bisa mengambil alih sebagian bebannya. Kau bisa mengambil alih perusahaan agar dia bisa kembali bersekolah dan hidup layaknya seorang pelajar. Mungkin kau tidak akan bisa menggantikan posisi orang tuamu, tapi setidaknya kau bisa memberikan kasih sayang seperti yang orangtuamu berikan pada kalian”

Benih-benih air kembali meluncur dari mata taeyeon. Perkataan tiffany memanglah benar, ia tidak berfikir sampai kesana karena pikirannya yang kacau sejak ia bangun dari komanya. Siapa yang tidak seperti itu ketika bangun dari koma ternyata penglihatanmu tidak bisa dipergunakan lagi dan kakimupun tidak bisa digerakkan. Ditambah dengan berita meninggalnya orangtua yang kalian miliki. Ia hanya merasa lelah dengan kehidupannya karena rasa sakit tak kunjung pergi dari kehidupannya.

***

“Hyunie”

“……………………”

“Hyunie”

“……………………”

Seohyun hanya bergeming memasukan macam-macam makanan yang naru saja dibelinya kedalam kulkas mengabaikan taeyeon yang memanggilnya.

“Hyunie-ah-”

“Unnie mianhae” lanjut taeyeon.

Seohyun menghentikan aktivitasnya ketika mendengar ucapan maaf taeyeon.

“Aku tidak memikirkan perasaanmu. Unnie hanya ingin kau bahagia dan merasakan indahnya dunia. Tapi aku tidak melihat itu sejak aku bangun, aku hanya mendengar isakkanmu. Unnie mianhae” suara taeyeon bergetar.

Seohyun kembali menitihkan air matanya. Ia segera menghampiri taeyeon dan duduk diranjang taeyeon.

“Tidak unnie, akulah yang seharusnya minta maaf. Karena aku unnie jadi berfikiran seperti itu”

“Tidak. Kau sama sekali tidak bersalah. Maafkan unnie” taeyeon meraba untuk menyentuh pipi seohyun.

“Mulai saat ini aku takan menjadi alasan untukmu bersedih lagi. Aku akan bangkit, aku akan sembuh. Dan saat hari itu tiba aku akan mengambil alih bebanmu. Jadi hingga saat itu tiba bisakah kau bersabar”

Air mata semakin deras keluar dari mata indah seohyun. Ia mengangguk menahan tangisnya.

“Ne unnie. Aku senang akhirnya unnie berbicara seperti itu, bahwa unnie akan bangkit dan sembuh. Aku harap unnie yang ceria, aktif, dan berkarisma segera kembali lagi. Aku benar-benar sedih melihat unnie yang begitu rapuh” seohyun berkata dengan sesenggukan.

“Unnie akan berusaha hyunie-ah, maafkan unnie” taeyeon membawa seohyun kedalam pelukannya.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tersenyum melihat mereka dari balik pintu. Orang itu kembali menutup pintu yang sudah sedikit dibukanya itu bermaksud memberikan privasi untuk kakak-beradik itu.

“Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untukku disini. Aku akan kembali lagi nanti” ucap orang itu pada dirinya sendiri.

***

“Hey tiff, kemana kau beberapa hari ini?” ucap jessica yang baru saja datang.

“Aku ada urusan penting dengan seseorang. Wae??” tanya tiffany sambil memakan makanannya. Saat ini mereka sedang berada sikantin kampus.

“Seseorang ? Nugu?” tanya jessica penasaran.

“Seseorang yang aku tunggu”

“Whatt?? Maksudmu-orang itu taeyeon sudah kembali?”

“Eoh. Dan dia sedang membutuhkanku, aku tidak bisa mengabaikannya”

“Wow daebak, tiffany yang selalu mengutamakan pelajaran sekarang tidak masuk beberapa hari karena seseorang yang bernama taeyeon” ucap jessica tak percaya.

“Aku jadi penasaran seperti apa dia sampai bisa membuatmu seperti ini. Menyampingkan kuliahnya, menolak pria-pria tampan yang menyukainya, dan memilih seorang wanita” lanjut jessica. Tiffany terkekeh mendengar itu.

“Dia sangat cantik, ceria, dan berkharisma. Saat ini aku sedang memulai semua dari awal. Jika kami sudah kembali bersama aku akan mengenalkannya padamu, dan KAU jangan pernah menaruh hati padanya nanti” ujar tiffany dengan menekan kata kau pada jessica.

“Heol. Aku normal. Dan aku akan pastikan itu” jessica menjulurkan lidahnya mengejek tiffany.

Merekapun selesai makan dan berniat kembali keruang kampus mereka. Mereka berjalan sambil berbincang kecil dan kadang beradu argumen. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka sampai tidak mengedipkan mata mereka. Dua gadis itu selalu berhasil membuat para namja ataupun yeoja terpesona dengan kecantikan mereka. Banyak yang menyatakan perasaan pada mereka terutama pada tiffany yang mereka tahu bahwa gadis itu tidak memiliki kekasih, sedangkan jessica sudah memiliki kekasih dari kelas kedokteran.

“Berhenti mengejekku jess, apa kau tidak lihat dirimu? Kau juga tergila-gila pada namja hitam dari jurusan kedokteran itu. Kita ini sama”

“Ya! Tapi setidaknya dia seorang namja bukan seorang yeo-” dengan segera tiffany menutup mulut jessica dengan tangannya.

“Ya! Kau gila. Sudah aku katakan untuk menjaga ucapanmu. Bagaimana jika mereka mendeng-”

“Tiffany unnie”

Suara itu berhasil menarik perhatian mereka semua yang ada disana termasuk tiffany dan jessica. Mahasiswa dikampus itu melebarkan mulut mereka karena gadis yang memanggil tiffany tadi. Ada 3 gadis cantik dikampus saat ini.

“Seohyun-ah” tiffany tidak menyangka bisa bertemu seohyun dikampusnya.

“Siapa dia tiff?” bisik jessica.

“Unnie bisa kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku katakan” pinta seohyun.

.

.

Saat ini tiffany dan seohyun sedang berada ditaman kampus. Duduk disebuah kursi sambil menikmati bunga-bunga indah disana.

“Pertama aku ingin ucapkan terimakasih pada unnie. Gomawoyo unnie” ucap seohyun.

“Aku tidak tahu apa yang unnie katakan pada taeyeon unnie sampai unnie seperti itu. Dia bilang ia akan berusaha untuk bangkit dan sembuh” seohyun tersenyum pada tiffany. Ia sangat bahagia sekarang.

“Kau tidak perlu berterimakasih. Aku tidak melakukan apapun, hanya berbicara kecil padanya”

Seohyun menggelengkan kepalanya menandakan dirinya tidak setuju dengan ucapan tiffany.

“Anya unnie, justru perkataan unnie berdampak baik untuk unnieku”

Tiffany ikut tersenyum membalas senyuman seohyun.

“Geundae unnie, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu”

“Apa itu?”

“Bisakah unnie menjaga taeyeon unnie untuk beberapa waktu kedepan?”

“Apa maksudmu? Apa kau akan pergi?” seohyun mengangguk lemah.

“Eodiga?” tanya tiffany.

“New York. Cabang perusahan yang ada di New York mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi kesana untuk menyelesaikan ini”

“Berapa lama kau disana?”

“Entahlah, mungkin jika situasi disana sudah membaik aku akan segera kembali”

“Kapan jadwal keberangkatanmu?”

“……..besok. Besok pagi aku sudah harus dibandara”

“Besok? Kenapa mendadak? Kau sudah mengatakan ini padanya?”

“……………………..”

“Kau belum mengatakannya?” tebak tiffany karena tak mendapat jawaban. Seohyun mengangguk lemah.

“Aku akan segera mengatakannya, mungkin ini akan membuat taeyeon unnie sedih. Karena itu aku meminta bantuan unnie, bisakah unnie menjaga dan menghiburnya?”

“Hanya unnie yang bisa aku percaya. Taeyeon unnie masih tidak mau bertemu dengan orang lain selain dokter dan aku. Taeyeon unnie sudah pernah bertemu dengan unnie. Setidaknya ia tidak akan terlalu terkejut karena unnie yang akan menjaganya”

“Apa taeyeon akan menyetujuinya? Kami masih belum dekat sejauh ini”

“Karena itu, unnie bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat dengannya. Taeyeon unnie hanya masih takut, dia hanya belum terbiasa dengan kehadiran seseorang yang asing baginya. Mungkin saja taeyeon unnie akan kembali mengingatmu”

“Baiklah aku akan mencoba sebaik mungkin. Aku akan menjaganya, kau tidak perlu khawatir” tiffany menggenggam tangan seohyun mencoba menenangkan kekhawatirannya.

.

.

Taeyeon POV

“Jika kau tidak ingin ia memiliki beban berat itu maka seharusnya kau tidak menyerah dan cepat sembuh taeyeon. Dengan begitu kau bisa mengambil alih sebagian bebannya. Kau bisa mengambil alih perusahaan agar dia bisa kembali bersekolah dan hidup layaknya seorang pelajar. Mungkin kau tidak akan bisa menggantikan posisi orang tuamu, tapi setidaknya kau bisa memberikan kasih sayang seperti yang orangtuamu berikan pada kalian”

Orang itu..

Tiffany.

Mengapa dia bersikap seperti itu padaku? Dia seperti menaruh perhatiannya padaku. Mengapa dia terus muncul disini? Padahal aku sudah beberapa kali mengusirnya.

Apa sebenarnya yang dia inginkan? Dan juga-

Saat dia menggenggam tanganku mengapa rasanya aku merasa aman dan tenang. Rasanya sangat tidak asing untukku.

“Unnie!”

“Akh kau membuatku terkejut hyunie” aku benar-benar terkejut karenanya. Kenapa dia datang tiba-tiba. Apa dia lupa kalau aku buta?

“Kenapa kau datang mendadak seperti itu. Kau lupa kalau aku tidak melihat? Kau harus membuat suara kecil agar aku tahu ada orang diruangan ini”

“Aku sudah mengetuk pintu. Aku memanggil unnie sejak tadi tapi unnie tidak menjawab sama sekali”

“Jinja?”

“Emm”

Aish, mungkin aku terlalu memikirkan wanita itu sampai aku tidak menyadari hyunie ada disini.

“Unnie ada yang mau aku katakan”

“Aku akan pergi ke New York. Terjadi beberapa masalah dicabang perusahaan disana”

Mwo?

Lalu bagaimana denganku? Apa dia akan meninggalkanku yang tak berdaya ini sendiri disini?

“Tiffany unnie akan menjagamu. Dia sudah berjanji padaku, bsok pagi tiffany unnie akan kemari” jelasnya seolah membaca pikiranku.

Aku hanya diam. Aku ingin sekali melarangnya tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika aku melarangnya itu hanya akan membebaninya saja, disatu posisi dia tak bisa meninggalkanku karena aku memintanya tetap disini tapi disatu sisi perusahaan membutuhkannya, perusahaan yang sudah appa bangun dari bawah. Aku tidak punya hak untuk melarangnya.

“Unnie”

“Berapa lama dan kapan kau akan berangkat?”

“Aku tidak bisa menjamin berapa lama aku pergi. Tapi saat masalah sudah mulai terkondisikan aku akan segera kembali. Aku akan pergi besok pagi unnie”

Wae? Mengapa mendadak sekali? Bisakah aku disini sendiri tanpanya? Museowo..

“Eoh, geurae. Kalau mereka memang membutuhkanmu pergilah. Aku akan baik-baik saja disini” aku merasa suaraku sedikit gemetar.

“Tiffany unnie orang yang baik. Jika unnie mempercayainya unnie takkan merasa takut. Dia bukan orang asing, unnie hanya perlu mempercayainya. Dia tidak seperti kebanyakan orang, percaya itu”

Benarkah? Bisakah aku mempercayainya.

“Eoh, aku akan melakukan apa yang kau katakan”

Mianhae hyunie, tapi aku takkan mempercayai siapapun. Aku takkan membuka hatiku pada siapapun termasuk wanita itu. Aku hanya akan percaya pada diriku sendiri.

***

Author POV

“Selamat pagi taeyeon” sapa tiffany yang baru saja datang kerumah sakit. Seohyun sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu.

“……………..” tiffany hanya tersenyum meski tak mendapat jawaban dari taeyeon yang sedang duduk diranjangnya.

“Ini waktunya untukmu kemoterapi” ucap tiffany lalu membawa kursi roda kedekat ranjang taeyeon.

“Ayo dokter sudah menunggu” ucap tiffany kembali.

Saat ia akan membantu taeyeon untuk duduk dikursi roda taeyeon mengenyahkan tangan tiffany kasar membuat tiffany terkejut dengan sikap kasarnya.

“Aku bisa sendiri” ketusnya.

Tiffany hanya bisa diam. Dia masih mengatur dirinya, ia merasa sakit diperlakukan seperti itu oleh taeyeon.

Taeyeon meraba kursi roda itu untuk mengetahui posisi kusi roda itu, lalu ia beringsut mencoba mendekati kursi itu. Saat ia sudah berada diujung ranjang ia mencoba mendudukan dirinya dengan cara memindahkan pantatnya terlebih dulu ke kursi roda. Namun kursi itu tidak seimbang karena satu tangan taeyeon berada diujung kursi dan satunya lagi diranjang bermaksud memindahkan tubuhnya itu. Kursi itu tergeletak begitupun dengan taeyeon yang ikut jatuh bersama kursi itu.

Brakk!

“TAEYEON!!” tiffany menghampiri taeyeon dan membantunya untuk bangun. Ia bisa melihat luka gores dilengan taeyeon, pelipis dan kaki. Taeyeon meringis menahan sakit.

“Ya tuhan kau terluka taeyeon!” tiffany menyentuh pipi taeyeon, dengan segera taeyeon menyingkirkan tangan itu.

“Aku baik-baik saja” ketus taeyeon.

“Jinja?” tiffany tak percaya dengan taeyeon. Ia bisa melihat raut wajahnya yang menahan sakit. Tiffany menekan pergelangan taeyeon.

“AKHH!!” ringis taeyeon.

“See? Jadi ini maksud kau baik-baik saja?”

“Berhentilah bersikap seperti itu taeyeon, aku disini untukmu. Kau tidak bisa terus menolakku!” tiffany sedikit menaikan nada suaranya. Mata taeyeon memanas.

“Kau membutuhkanku taeyeon, percayalah aku disini untukmu” kini tiffany berkata dengan suara lembut. Dengan segera tiffany menekan tombol darurat,dokterpun tak lama datang bersama susternya. Mereka segera membantu taeyeon untuk kembali keranjang

.

.

“Tangan kanannya terkilir. Saya rasa nona taeyeon tidak bisa melakukan kemoterapi untuk kakinya sementara waktu sampai pergelangan tangannya membaik” ucap dokter soyou.

“Tidak. Lanjutkan kemoterapinya. Lenganku baik-baik saja” taeyeon berkata dengan dingin.

“Kau gila? Dokter bilang tanganmu terkilir. Lihatlah kau memakai splinter. Kau hanya akan membuat semuanya semakin bertambah parah”

“Ne, itu memang benar. Kita tidak bisa melakukan kemoterapi. Setiap tahap kemoterapi semua menggunakan kekuatan dan pertahanan dari tangan. Jika dipaksakan lengan yang terkilir hanya akan semakin parah saja nona” jelas soyou.

“………………”

“Kalau begitu kami permisi” ucap soyou dan pergi dari ruangan VIP itu.

“Aku harus segera berjalan kembali” lirih taeyeon namun masih terdengar oleh tiffany.

“Karena itu taeyeon kau membutuhkanku taeyeon. Aku disini untuk membantumu, tak bisakah kau merasakan itu? Percayalah”

“Semua berkata seperti itu. Tapi pada kenyataanya mereka berbohong. Kita tidak tahu isi hati seseorang bukan?”

“Taeyeon-ah-”

“Kau. Aku akan membiarkanmu disini sampai hyunie kembali. Aku akui aku memang membutuhkan seseorang untuk membantuku, karena itu aku akan membiarkanmu tapi bukan berarti bahwa aku percaya padamu. Hanya sampai dia kembali dan jika saat itu tiba aku harap kau pergi dan jangan muncul dihadapanku lagi”

“………………”

Sakit. Mendengar taeyeon berkata seperti itu benar-benar membuat hati tiffany sakit seperti ada sebuah ledakan tepat mengenai hatinya. Bukankah secara tak langsung taeyeon mengusirnya?

“Geurae. Jika itu yang kau inginkan. Tapi aku ingin mengajukan syarat. Hanya satu syarat”

“Katakan”

“Biarkan aku untuk membantumu dan jangan menolaknya hanya sampai kau bisa melihat kembali. Hingga saat itu tiba, aku akan pergi seperti yang kau inginkan”

“Geurae, itu bukan perkara sulit”

.

.

.

.

.
TBC

.

.

Annyeong reader!! 👋😁
Author is back,dan yang author bawa adalah squel my beautiful angel. Author tadinya mau bikin oneshoot. Tapi author belum bisa bikin alur cepat karena itu author memutuskan untuk menjadikan ff MBA ini jadi ber-chapter, tapi walau begitu ff ini gak akan panjang-panjang. Palingan sampai chapter 4 atau 5, ya sekitar segituan aja.

Author harap kalian suka ya sama jalan ceritanya, maafkan author yang gak langsung menyatukan mereka so sweet-so sweetan kaya twoshoot kemarin. Author harap kalian bisa bersabar hhe ✌😆

Semua ff yang author publish di blog ini, semua murni buatan author, kalau ada kesamaan dengan ff lain itu semua hanya kebetulan, jadi para reader jangan copy-paste ya.. Jangan lupa komennya baik saran atau apapun bolehh,hhe 😁

See you next time 👋😎😘💙❤

Advertisements

118 thoughts on “[Squel] My Beautiful Angel (1/?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s