Circle [Chapter 6]

circle-cover-2

Main cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Kwon Yuri, Jessica Jung
Sub Cast : Lee Sunny, Im Yoona, Choi Sooyoung, Choi Siwon (as Siwon Hwang), Kim Hyoyeon
Genre : Yuri, Drama, Sad, Chaptered
Rated : 16+
Author : TNEYisREAL08

WARNING!!

The gendre is Yuri if you don’t like it go away and don’t copy paste or Bashing. Typo’s everywhere, please comment. Reading enjoy ^^

***

Author POV

“Tae?” tiffany melambaikan tangannya didepan wajah taeyeon yang terlihat melamun.

Namun yang tiffany dapat bukanlah jawaban tapi justru ia merasakan sebuah tangan dingin yang menyentuh pipi hangatnya.

“Miyoung-ah..”

“Tae are you okay?” Suara tiffany kini menyadarkan taeyeon yang terbawa suasana mengingat kenangan bersama sang adik.

“O-oh maafkan aku pany-ah. Aku-” Taeyeon menghentikan ucapannya sendiri. Ia merasa linglung sekarang. Taeyeon menutup wajahnya dengan kedua tangannya mencoba menenangkan pikirannya.

“Taeyeon ada apa, kau baik-baik saja?” tiffany benar-benar merasa cemas. Ia melepaskan kedua tangan taeyeon yang menutupi wajahnya lalu menggenggamnya.

“Tae-”

“Maafkan aku, aku tadi terbawa suasana”

“Miyoung- siapa itu miyoung?” tanya tiffany penasaran dengan nama yang taeyeon sebutkan tadi.

“………”

“Pany-ah kurasa kita harus segera kembali sebelum kelas dimulai”

Taeyeon mengalihkan pembicaraan. Saat ini ia sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Perasaannya sedang kacau sekarang. Ia butuh dirinya untuk sendiri.

“Emm, kajja kita kembali” ucap tiffany mengerti bahwa taeyeon sedang tidak ingin membicarakan ini.

***

Taeyeon berjalan menuju kelasnya. Ia hanya berjalan kedepan dengan tatapan kosong. Pikirannya sedang terbang entah kemana.

”Mengapa tiffany selalu mengingatkanku pada miyoung?” ucapnya pada diri sendiri.

“Tidak taeyeon itu tidak mungkin!” taeyeon berusaha membuang pikirannya.

‘Aku harus mencari tahu’ taeyeon berkata dalam hati.

Hingga akhirnya ia tersadar saat seseorang yang ia sangat kenal sedang berjalan lemas.

“Yul!” panggilnya. Yuri sedikit terkejut mendengar suara yang memanggilnya itu.

‘Taeyeon’

Taeyeon kini mendekat kearah yuri.

“Hei kau tak apa? Kau terlihat tidak baik” tanya taeyeon khawatir.

“Tidak, aku baik-baik saja” ujar yuri sambil tersenyum canggung.

“Kau yakin? Kau terlihat-”

“Aku harus segera ke kelas taeng, ada sesuatu yang harus aku urus. Aku pergi dulu” ujar yuri memotong ucapan sahabatnya itu. Yuri berjalan cepat meninggalkan taeyeon yang terdiam memperhatikannya.

“Dasar pembohong, kau tidak baik-baik saja. Aku tahu itu” ucap taeyeon sambil memperhatikan yuri yang kini telah menghilang.

Taeyeon tahu yuri sedang menghindarinya. Meski ia tidak tahu apa alasan yuri melakukan itu. ‘Apa aku melakukan kesalahan?’ itulah yang ada dipikiran taeyeon beberapa hari ini.

***

Tiffany POV

Miyoung?

Entah mengapa aku merasa tidak asing dengan nama itu. Dimana ya aku pernah mendengar itu?

Huff~

Ah sudahlah, aku akan mencari tahu itu nanti. Mengingat tentang taeyeon, setiap tangan kami bersentuhan atau berkontak fisik, aku selalu merasa jantungku berdetak cepat dan senang. Apa ini normal? Karena aku merasakan hal ini hanya saat sedang bersamanya saja.

Why??

“Tiffany hwang apa kau mendengar penjelasanku?” Suara itu berhasil mengagetkanku.

“N-ne? Ahh ne seosaengnim”

“Kalau begitu tolong jelaskan kembali”

“……………..”

Eotteohkae!!! Aku benar-benar tidak tahu apa yang dosenku jelaskan tadi. Aku terlalu terhanyut dengam pikiranku, eotteohkae?!! Kulihat semua orang memelihat kearahku. Ini benar-benar memalukan!

“Jeosonghamnida seosaengnim” ucapku menyesal sambil menundukkan kepalaku.

Hahh~ baiklah aku akan memberimu kesempatan tiffany-ssii. Tolong perhatikan materi yang sedang aku jelaskan” ujarnya.

“Ne, kamsahamnida seosaengnim” ucapku. Akupun duduk kembali dan pembelajaran kembali berlanjut

Ini benar-benar GILA! Lihatt! Bahkan aku memikirkan taeyeon saat masa pembelajaran. Ini benar-benar membuatku GILA !!!!!

***

Author POV

Masa pembelajaran kini telah usai. Terlihat seorang yeoja sedang berdiri didekat pintu kelas seperti menunggu seseorang.

“Sica” panggilnya saat melihat seseorang yang ia tunggu kini keluar dari kelasnya.

“Yul.. Apa yang kau lakukan disini?” tanya yeoja yang dipanggil sica tersebut.

“Menunggumu. Ada waktu luang?”

Jessica tersenyum dan mengangguk untuk memberikan jawaban pada yuri.

.

.

Mereka kini sedang duduk dikursi taman kampus, dengan pohon yang melindungi mereka dari sinar sang matahari.

“Ada apa? Sesuatu terjadi?” tanya jessica.

“Emm” jawab yuri singkat.

Jessica hanya diam menunggu yuri bercerita sambil menatapnya.

Hahh~ ini mengenai keluargaku”

“Mereka terutama appa sangat ingin menjadikanku pewaris. Bahkan appa sampai membawa taeyeon dalam masalah ini. Kau tahu mengenai pekerjaan taeyeon? Sebenarnya bukan taeyeon yang mengundurkan diri, tapi semua itu adalah ulah appa” setelah mengatakan itu ia mencengkeram kepalanya berharap stress yang ia rasakan berkurang.

Jessica sedikit terkejut mendengar itu. Ia benar-benar tidak bisa berkata apa.

“Taeyeon tahu hal ini?”

“Ya. Aku mengatakannya beberapa hari yang lalu. Aku benar-benar malu bertemu dengannya”

“Lalu bagaimana responnya? Kulihat taeyeon baik-baik saja”

“Ya dia terlihat baik-baik saja, tapi tidak dari dalam. Dia sudah melewati hal-hal yang begitu berat. Hidupnya sulit dan menyedihkan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka lembaran baru-” yuri menghentikan perkataannya. Ia menunduk menahan tangis.

“Tapi akulah yang mengacaukan usahanya” yuri kini tidak bisa menahan air matanya lagi. Air mata itu kini lolos dengan mudah membasahi pipi mulusnya.

“Kau tidak boleh berfikir seperti itu. Ini bukan kesalahanmu yul” jessica mencoba meyakinkan yuri. Yuri menggelengkan kepalanya.

“Kau tahu apa yang taeyeon katakan sebelum aku tahu bahwa ini ulah appaku?”

“Dia menyalahkan Tuhan, menyira Tuhan mempermainkannya. Dia bilang dia merasa lelah karena masalah tak henti datang padanya-” yuri menghentikan ucapannya sebelum melanjutkannya kembali.

“Dan itu semua karena aku” lanjutnya dengan suara lemah.

“Yul-”

“Akulah penyebabnya. Aku membuatnya kembali terpuruk. Aku menghancurkan kertas putih yang baru saja akan ia tulis!”

“Aku tidak pernah menyalahkanmu bodoh. kenapa kau berkata seperti itu”

Yuri membelalakan matanya ketika mendengar suara dari arah belakang mereka. Begitupun jessica yang ikut terkejut. Yuri segera berdiri membalikkan tubuhnya menghadap asal suara.

“T-taeng” yuri hanya bisa menelan ludahnya sendiri.

Terlihat taeyeon sedang berdiri tak jauh bersama tiffany.

.

.

“Kau tidak melakukan kesalahan yul, berhenti merasa seperti itu” taeyeon mencoba menghentikan yuri yang menyalahkan dirinya.

“…………”

“Yul aku mengerti dengan apa yang appamu lakukan. ia hanya ingin kau kembali, menginginkanmu menjadi seorang pewaris sudah menjadi keharusan untukmu karena kau satu-satunya putri mereka. Jika mereka tidak memberikannya padamu lalu pada siapa?” ujar taeyeon. Yuri hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir itu.

“Kau masih sangat muda. Banyak hal yang ingin kau lakukan, kau ingin bergerak bebas aku tahu itu. Tapi kau juga egois yul. Ayahmu berjuang membesarkan perusahaan untukmu, dan sekarang kau menolak mati-matian. Kau pikir bagaimana perasaan appamu?”

“Mengapa harus selalu aku yang mengerti, mengapa tidak mereka?” taeyeon tersenyum mendengar perkataan yuri.

“Semua orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Yul selagi mereka masih menginjakkan kaki dibumi ini aku sarankan untuk memendam keegoisanmu. Lindungi mereka, buat mereka bahagia dan bangga padamu sebelum kau menyesalinya” taeyeon memberikan pendapatnya.

“coba pikirkan sekali lagi, apa yang sudah kau berikan untuk mereka? Kita hanya anak muda yang terlalu egois dengan keinginan kita. cobalah untuk memahami mereka yul. Aku yakin mereka akan mencoba memahamimu juga nanti”.

Yuri kini menatap taeyeon. Ya taeyeon memang benar mungkin ia memang egois. Seharusnya ia menyadari itu sejak awal. Ia masih memiliki orang tua sedangkan taeyeon ia tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya dan sahabatnya. Seharusnya ia memberika kebahagian untuk sang appa dan eommanya sebelum mereka pergi dan penyesalanlah yang menghampiri.

.

.

“Jessie ada yang ingin aku tanyakan padamu” ucap tiffany sambil mengganti-ganti chanel tv.

Saat ini mereka sedang berada diapartemen mereka. Tiffany dan jessica memutuskan untuk pulang dan memberikan privasi untuk taeyeon dan yuri.

“What?” jessica berkata tanpa mengindahkan tatapannya pada majalah yang sedang dia baca.

“Temanku ia sedang dekat dengan seseorang. Dia merasa nyaman saat berada didekatnya dan entah mengapa dia merasa ingin selalu dekat dengannya. Dia memikirkan orang itu sepanjang waktu, bahkan dia tidak bisa fokus saat jam pelajaran” tiffany bercerita.

“Lalu?” tanya jessica masih fokus dengan majalahnya.

“Jantungnya selatu berdetak kencang saat bersamanya apalagi jika mereka bersentuhan. Perasaan senang selalu muncul sampai rasanya seperti ada beribu-ribu kupu-kupu dalam perutnya saat mereka berskinsip atau mendengar sosok itu mengatakan hal-hal baik mengenai dirinya. Saat dia menatap matanya dia seperti terhipnotis, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok itu. Bukankah itu aneh?” tanya tiffany. Jessica kini mengalihkan pandangannya pada tiffany.

“Itu berarti kau jatuh cinta padanya. Siapa pria beruntung yang kau cintai itu tiff?” tanya jessica dengan membuat tiffany membelalakan matanya.

“Mwo? No no, not me! Kubilang tadi temanku jessie” tiffany langsung menyangkal ucapan jessica.

“Ayolahh aku tahu itu kau bukan temanmu. Kau menceritakannya dengan begitu spesifik. Kita sudah lama bersama, aku tahu bagaimana dirimu” ujar jessica.

“Seharusnya aku tidak bertanya padamu” sinis tiffany.

“Jadi siapa pria beruntung itu?”

“Ne?”

Pria?

Tapi dia seorang wanita. Jika benar perasaan ini adalah perasaan cinta itu berarti dia mencintai seorang wanita?

Tapi mana mungkin dia mencintai seorang wanita? Dia normal. Walaupun dia belum pernah menjalin hubungan tapi dia tahu jika dirinya itu normal.

“Aku ingin tidur” tiffany bangkit dan berjalan menuju kamar tidurnya.

“Heii tiff!! Kau belum mengatakan siapa dia!” teriak jessica. Tiffany mengabaikan teriakan itu. Dia sedang kalut dengan perasaannya.

Dia mencintai taeyeon? Mungkinkah?

***

Taeyeon POV

“Sering-seringlah berkunjung. Kau tahu aku kesepian” ujarku padanya yang sedang memakan makanannya. Saat ini kami sedang ada di kedai soup ayam jahe untuk makan siang bersama.

“Wahh lihat ini apa kau merindukanku? Tentu saja, aku orang yang selalu dirindukan orang-orang hahaha” Dia berkata sambil tertawa.

“Ya! Aku menyesal mengatakan itu padamu. Tapi itu memang benar aku merasa kesepian, jadi sering-seringlah berkunjung okay?”

“Tentu taeng dengan senang hati, dan jika aku berkunjung jangan lupakan makanannya”

“Sepertinya kau tertular duo shikshin itu ya” ujarku sambil terkekeh.

Dia hanya tertawa kecil dan kembali memakan makanannya. Aku senang hubungan kami kembali membaik. Kuharap ini akan berlangsung lama.

“Yul aku ingin bertanya sesuatu padamu” ucapku padanya membuat dia menatapku.

“Emm, kau pernah jatuh cinta?” tanyaku. Dia terlihat berfikir sebelum akhirnya tersenyum.

“Tentu, aku pernah merasakannya”

“Apa yang kau rasakan saat jatuh cinta?” tanyaku. Kuharap dia tidak merasakan keanehan padaku karena menanyakan hal seperti ini padanya.

“Emm, aku merasa senang saat melihatnya dan jantungku berdegup kencang saat berada didekatnya. Merasakan rindu saat jauh darinya, dan kau akan merasa lemas saat bersentuhan dengannya. Kau tahu saat aku menatapnya pandanganku selalu mendarat dibibirnya aku merasa sangat ingin mencicipi bibir manis itu, bukankah itu gila? Kau akan berpikir kotor tanpa kau sadari” yuri berkata sambil membayangkan masa lalunya.

“Eyy, mengapa itu terdengar berlebihan?” itu terdengar sedikit lebay .. mungkin?

“Kau benar, ini memang terdengar berlebihan. Tapi saat kau jatuh cinta pada seseorang kelak kau pasti akan menyetujui ucapanku taeng. Kau tidak akan bisa menyangkalnya”

“Mengapa kau menanyakan hal seperti ini? tidak biasanya” ujar yuri menatapku seperti menyelidik membuatku gugup.

“A-aku hanya bertanya, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Kau tahu aku tidak punya waktu untuk memiliki hubungan dengan seseorang, aku terlalu sibuk mencari miyoung dan pekerjaanku” jelasku padanya, ia hanya mengangguk mengerti.

Huff~

Aku bernafas lega. Mengapa aku gugup saat yuri bertanya seperti itu?

“Kau benar, sudah saatnya kau memiliki kekasih taeng. Cobalah untuk membuka hatimu untuk orang lain selain keluargamu”

Ya, aku tidak pernah memikirkan hal seperti kekasih atau semacamnnya. Aku terlalu focus mencari miyoung, meski pada akhirnya aku tidak akan pernah menemukannya. Aku yakin ia pasti sedang bahagia sekarang. Tapi ada satu orang aku selalu curigai.

Tiffany.

Gadis itu aku harus sedikit mencari tahunya, ia terlalu mengingatkanku dengan miyoung. Ya setidaknya aku harus memastikannya, apakah dia adalah orang yang selama ini aku cari atau bukan.

***

Rabu, 26 February 2014

Author POV

Siang ini suasana kantin sangat ramai, para siswa berkumpul disana untuk mendapatkan jatah makan siang mereka. Mereka duduk bersama teman-teman mereka masing-masing sambil berbincang dan tertawa. Namun dari salah satu meja disana ada yang terlihat tidak lengkap, satu orang lagi tidak ada disana.

“Jadi seperti itu kesan kalian bertemu?“ tanya seohyun.

“Eoh, si hitam, bodoh dan curang ini akhirnya membawa tiffany kerumah sakit” ucap sooyoung.

“Ya! Berhenti mengataiku dengan sebutan itu tiang, itu semua karenamu juga! Dasar tiang listrik! Pantas saja tiang listrik dirumahku hilang ternyata ada disini” kini yuri balas mengejek sooyoung.

“Geurae, tiang listrik lebih baik. Setidaknya aku mempunyai fungsi untuk menerangi orang-orang dalam kegelapan. Tapi kau? hitam, bodoh, dan curang hahahahaha” ujar sooyoung membuat yang lainnyapun ikut tertawa.

“Sica berhenti tertawa, bisa kau selamatkan aku?” pinta yuri dengan aegyonya.

“Ya! Jangan pasang aegyomu itu kau sangat tidak cocok” ujar yoona menjitaknya jiji melihat aegyo yuri.

“Hua~ Appoo~” rengek yuri seperti anak kecil membuat semuanya justru semakin tertawa bukan mengasihaninya.

“Hei kalian tahu, tiffany sedang jatuh cinta!” ujar jessica membuat tiffany membelalakan matanya menatap jessica.

“Wow!! Priwitt~” Mereka bersorak bahkan bertepuk tangan.

“Siapa pria beruntung itu tiff?”

“Ne, siapa dia ayo bertahu kami”

“Nugu-nugu-nugu?”

Tiffany hanya diam gugup, ia tak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa ia menyukai taeyeon. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon teman-temannya jika tahu bahwa dirinya menyukai seorang yeoja.

“Hei maaf aku terlambat”

Suara itu berhasil membuat teman-temannya mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru saja datang.

“Sudah mendapatkan buku yang kau cari taeng?” tanya sunny.

“Eoh. Kalian sedang apa? Kuperhatikan kalian terlihat sedang asik tadi” tanya taeyeon sambil mendudukan dirinya disamping sunny dan seohyun.

“Tiffany sedang jatuh cinta taeng! Kita sedang mengintrogasinya sekarang” ujar yuri.

Mendengar itu taeyeon langsung menatap tiffany yang sedang menggigit bibir bawahnya menahan rasa gugupnya.

Seketika raut wajah taeyeon yang tersenyum kini hilang. Ia merasa blank dan kosong. Hatinya juga merasa sakit mendengar itu.

“Kau tidak pernah mengatakan itu padaku” ujar taeyeon sedikit tersenyum berusaha memasang topengnya.

“Itu tidak benar, mereka hanya mengada-ngada saja. Jessie berhenti menggodaku, aku bilang itu bukan aku tapi temanku!” ujar tiffany.

“Oh ya? Lalu teman yang kau maksud itu siapa?” tanya jessica menyelidik.

“Ne?” tiffany bingung menjawab apa. Pasalnya teman yang ia miliki hanya mereka. Tiffany memperhatikan teman-temannya yang sedang menatapnya dengan menyelidik membuat tiffany semakin tersudutkan.

“i-itu-itu bora! Ya bora bercerita padaku” bohong tiffany dengan gugup.

“Eii sudahlah berhenti berbohong, kalau kau mengatakannya pada kami mungkin kami bisa membantumu mendekatinya bukan?” ujar sooyoung sambil menaik-turunkan alisnya menggoda tiffany.

“Ya! A-aku tidak berbohong!” tiffany tetap tidak mengaku.

“Tiff kau ini sangat lucu, lihat ekspresi wajahmu. Itu terlihat jelas kalau kau berbohong. Kau tahu saat kau bertanya seperti itu aku sangat senang kalau kau akhirnya kembali membuka hatimu setelah pria brengsek itu menyakitimu” ujar jessica.

“Tae bantu aku~” pinta tiffany memperlihatkan puppy eyesnya.

“A-aku juga ingin tahu siapa dia” ucap taeyeon. Meski hatinya terasa perih tapi ia ingin tahu siapa pria itu? setidaknya ia harus tahu apa pria itu adalah pria baik atau tidak.

“Oh God, kau sama saja. Aku bilang tak ada ya tak ada!” teriak tiffany kesal karena taeyeon tak menolongnya. Melihat tiffany yang kesal justru membuat yang lainnya tertawa kecuali taeyeon.

“arasseo tiff jika kau tak ingin memberitahu kami, kami akan mencaritahu sendiri wew” ujar sunny menjulurkan lidahnya membuat tiffany semakin kesal.

“Ya!!”

***

Taeyeon POV

“baiklah kita hentikan materinya sampai disini. Sebentar lagi kalian akan melakukan sidang. Waktu kalian tak banyak lagi, jadi tolong segera kumpulkan tugas yang saya berikan. Baiklah sampai jumpa dipertemuan selanjutnya” ujar dosen kang lalu keluar dari ruangan.

Semua orang kini mulai satu persatu keluar dari kelas dan kini hanya ada aku disini. Sendiri. Aku hanya diam lemas tak bersemangat. Mendengar ia menyukai seseorang membuatku lemas, sedih, dan tak bisa berfikir jernih.

Mengapa aku jadi seperti ini?

Apa aku benar menyukainya?

Kuusap mukaku dengan kasar. Aku bisa gila karenanya. Jika benar aku menyukainya apa itu berarti aku seorang penyuka sesama jenis? Oh tuhan tolong aku. Mengapa perasaan ini tumbuh dihatiku? Masalah kini semakin bertambah. Perasaan seperti ini pada akhirnya hanya akan membuatku tersakiti.

Tiffany dia adalah gadis normal, dia memiliki mantan kekasih seorang pria. Hubungan sesama jenis di korea tak diperkenankan, dan juga jika teman-temanku tahu apa yang akan mereka pikirkan tentangku? Terutama tiffany, apa dia akan merasa jijik dan menjauhiku?

Berbagai pertanyaan terus menghampiriku membuatku semakin stress. aku tidak ingin kehilangan mereka terutama gadis itu. Tuhan kumohon tolong aku, apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini?

Haruskah aku menjaga jarak dengannya untuk sementara waktu sampai perasaanku ini hilang?

“Hei kau disini? Aku mencarimu tae”

Suara itu berhasil mengagetkanku. Aku terlalu terhanyut dengan pikiranku sampai-sampai aku tidak menyadari seseorang kini ada di depanku.

“P-pany-ah ada apa?”

Ya, gadis yang terus berputar dipikiranku kini ada dihadapanku dengan wajah cemas.

“Gwaenchana? Apa sesuatu terjadi?” tanyanya sambil mendudukan dirinya disampingku.

“A-ah anyo, aku hanya sedang memikirkan tugasku” bohongku.

“Apa sulit? Perlu bantuan?”tanyanya lagi.

Aku menggelangkan kepalaku sebagai jawaban.

“Gwaenchana lagipula proses penyelesaiannya tinggal 10% lagi” kuberikan senyumku untuknya agar dia berhenti mencemaskanku.

“Jika kau perlu bantuan beritahu aku okay?”

“Ne, kenapa kau belum pulang? Jam kuliah sudah selesai sejak tadi bukan?”

“Bukankah sudah kukatakan kalau aku mencarimu tadi. Lalu kenapa kau masih diam disini, kau tidak takut sendiri ditempat ini? Bagaimana jika ada sosok gaib datang ihhhh~” ucanya sambil menggosok kedua lengannya sendiri. aku terkekeh melihatnya, dia sangat lucu.

“Aku tidak percaya dengan hal seperti itu, bahkan aku sudah berhenti mempercayai santa claus sejak aku berumur 10 tahun”

“Wae~?” tanyanya mengerutkan keningya.

“Itu semua hanyalah dongeng, bahkan seharusnya kau berhenti percaya itu sebelum umurmu 4 tahun. Atau jangan bilang kau-?”

“Ne, aku masih mempercaya itu. kenapa aku harus berhenti percaya padanya?”

“kau percaya sampai sekarang?” tanyaku tak percaya.

“Ne” jawabnya masih dengan mengerutkan keningnya.

“Heol” lirihku.

“Arasseo-arasseo, kau percaya padanya atau tidak itu keputusanmu. oh ya kau bilang kau mencariku, waeyo?” tanyaku padanya dan dia kini tidak mengerutkan keningnya lagi.

“Malam ini aku dan keluargaku akan makan malam bersama, dan daddy terus menanyaimu. Kau tahu daddy sudah sangat lama ingin mengajakmu makan bersama. Jadi bisakah kau ikut?”

“Entahlah pany-ah aku-“

“Saat itu kau menolakku dengan kasar, apa kau akan menolakku lagi hmm? Ayolah lakukan ini untukku, aku ingin memperkenalkanmu pada daddy. Dady harus tahu kalau aku mempunyai sahabat sepertimu selain jessie, please~”

Sahabat?

Ahh benar, aku ini hanya seorang sahabat tak lebih. Oh ayolah Kim berhenti berharap terlalu jauh. Kau tahu bahwa kau hanya akan menjadi sahabatnya sampai kapanpun.

“Baiklah, aku akan datang” ucapku tersenyum. Kulihat ia tersenyum sumringah mendengar jawabanku.

“Bagaimana kalau sekalian menyelesaikan tugasku dan menginap?”

“me-menginap?” tanyaku. Ia mengangguk.

Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menginap, apalagi dengan kondisi perasaanku yang seperti ini.

“Aku rasa jika harus menginap aku tidak bisa pany-ah” sesalku.

“Wae? Lalu bagaimana dengan tugasku, aku harus segera mengumpulkannya besok”

“Mwo? besok? Ya! Kenapa baru bilang sekarang!” ucapku sambil menjitak pelan kepalanya.

“Aku sengaja melakukannya hhe” dia berkata sambil memamerkan eyesmile yang selalu berhasil menghipnotisku.

“………………………”

“Tae?” suara itu kembali menyadarkanku, kulihat dia sedang melambaikan tangannya didepan wajahku.

“E-eoh” jawabku cepat.

“Ayolah please, kumohon” mohonnya dengan memasang puppy eyes andalannya membuatku tidak bisa menolak.

“………………………..”

“Please~” kini ia memohon sambil memegang tanganku membuatku serasa tak berdaya.

“Ne”

“Yes!!” girangnya.

Mwo? Apa yang baru saja aku katakan tadi? Oh taeyeon aku rasa kau benar-benar gila, kau baru saja mengiyakan ajakannya! Ini tidak baik dengan kondisiku tapi- kulihat dia terlihat sangat senang. Kim Taeyeon lihatlah yang kau lakukan, kau bukan menjaga jarak dengannya malah membuat dirimu semakin dekat dengannya. Bagaimana mungkin aku bisa menghapus perasaan ini jika seperti ini. mampukah aku menghapusnya?

Geurae, biarkan semua berjalan apa adanya. Meski pada akhirnya aku akan tersakiti tidak apa-apa, bukankah seharusnya aku sudah terbiasa menjadi orang yang tersakiti selama ini? Geurae.

jika aku tak bisa bahagia dan memilikinya, biarkan aku untuk membuatnya bahagia. Melihat senyumnya saja sudah cukup untukku.

***

Author POV

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu agashi?” sapa resepsionis.

“Aku ingin bertemu presdir Kwon” ucap yuri.

“Apa anda sudah membuat janji?”

“anya, tapi jika kau katakan padanya bahwa Kwon Yuri datang ia pasti akan menyuruhku keruangannya”

“Omo! No-nona kwon maafkan saya karena tak mengenali anda” resepsionis itu membungkuk pada yuri.

“tidak-tidak, tidak apa-apa. Tolong jangan seperti itu” pinta yuri. inilah yang yuri tak suka, semua orang menjadi segan dan bersikap baik padanya saat tahu siapa dirinya.

Seperti seseorang yang pernah singgah dihatinya.

Flashback

“Jong suk oppa datang!!”

“Ahhhh~ oppa saranghae”

“Oppa kau sangat tampan sekali hari ini”

“Oppa kau sangat cool, saranghae oppa!”

Semua siswa berteriak histeris melihat idola sekolah mereka kini sudah datang. Semuanya berkumpul mengerumbuni sosok idola itu. Pria itu hanya tersenyum, tanpa menghentikan langkahnya. Tak lupa ia juga melambaikan tangannya membuat yeoja-yeoja yang menyukainya lemas karena terpesona.

Disaat semua siswa yeoja berkerumun ada satu yeoja yang lebih suka melihatnya dari jauh. Ia hanya memandang dan tersenyum sendiri. Ia tak memiliki keberanian untuk mendekat karena ia tau bahwa pria itu jauh dari jangkauannya, dan lihatlah begitu banyak pesaingnya membuat ia lebih memilih untuk memendam dan memperhatikannya saja.

“Yuri-ah Shin seosaengnim memintamu untuk datang kemejanya”

Suara itu berhasil membuat aktivitas memandangnya terhenti. Dengan cepat ia menjawab.

“Ne, aku akan segera kesana”

Sekali lagi yuri melihat pria itu sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi menemui gurunya.

***

“Oppa aku-aku menyukaimu” ucap yuri.

Awalnya ia memang memutuskan untuk memendamnya saja, namun semakin lama ia tak bisa menahan dirinya untuk memiliki pria itu, setidaknya ia harus mencoba bukan?

“Aku tahu itu” ucapnya membuat yuri tersenyum.

“Semua siswa yeoja disini menyukaiku, tentu saja aku tahu itu. tapi kau bukanlah tipeku. Apa yang akan orang katakan jika kau mendapingiku? Aku harus mencari seseorang yang setara denganku, tidak hanya cantik ataupun pintar, tapi juga harus kaya” ia berkata sambil tersenyum lalu berlalu pergi meninggalkan yuri yang menahan air matanya.

***

“Wahhh lihat ini, ini semua menu-menu makanan restoran bintang lima!”

Semua siswa dikelas itu terkesima melihat hidangan yang ada didepan mereka. Makanan yang hanya dapat disuguhkkan oleh restoran bintang lima.

“Semuanya tolong jangan berisik, nyonya Kwon ingin berbicara sesuatu pada kalian” ujar seosaengnim membuat semua siswa kini terdiam.

“Pertama-tama ada yang tahu siapa aku?” tanya kwon boa. Seorang siswi mengangkat tangannya.

“Bukankah anda istri dari presdir Kwon Corp?” ucapnya.

“Ya, kau benar cantik. Aku membagikan makanan- makanan ini bukan hanya percuma. Tapi hari ini adalah hari ulang tahun putriku, karena itu aku ingin merayakannya disekolah putriku bersama kalian teman-teman putriku” ujarnya.

Para siswa dan siswi mulai berbisik mempertanyakan siapa anak dari kwon corp yang bersekolah disini, karena yang mereka tahu selama ini tak ada yang mengatakan dia atau dia adalah anak dari pemilik kwon corp.

“Eomma, apa yang kau lakukan disini?” suara itu berhasil membuat semua mata mengarah pada asal suara.

“Putriku dari mana saja kau, kemarilah” ujar nyonya kwon. Yuri mendekat kearah eommanya.

“Ini dia putriku Kwon Yuri, Selamat ulang tahun sayang” ucap sang eomma mengecup pipi yuri.

Semua siswa tercengang tak percaya, mereka tak menyangka bahwa yuri adalah anak dari pemilik kwon corp. meskipun mereka tahu yuri bermarga kwon tapi bukankah ada banyak orang yang memiliki marga kwon?

Dan sejak saat itulah semua berubah

Semua orang menjadi dekat dengannya, bahkan bukan teman satu kelasnya saja tapi dari kelas lain juga mulai mendekatinya. Bahkan sosok idola itupun berubah menjadi hangat padanya seolah ia tertarik dengan gadis itu.

“Yuri-ah, istirahat nanti ayo makan bersama” ujar sosok itu.

Yuri hanya diam menatap sosok itu. senang? Ya ia senang. Semua orang mendekat dan bersikap baik padanya begitupun dengan sosok itu. namun perasaan sedih juga muncul dalam benaknya, karena ia tahu semuanya adalah palsu, mereka semua tidak tulus. Mereka mendekatinya hanya karena status dirinya, yaitu putri satu- satunya Kwon Yunho dan Kwon Boa penerus Kwon Corp.

Flashback End

“Yuri?”

Yuri membalikan tubuhnya, disana terlihat sang appa bersama para bawahannya. Yuri mendekati sang appa dan memberi salam sambil tersenyum.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya yunho.

“Tentu saja bertemu appa, aku ingin makan bersama appa” ujar yuri sambil mengangkat sebuah kantung yang ia bawa.

“Wahh presdir kwon putri anda sangat perhatian sekali” ucap salah satu bawahannya itu.

“Hahahahah, putriku ini memang selalu perhatian padaku. Dia anak yang sangat baik” ujar yunho sambil merangkul sang anak. Yuri hanya diam memperhatikan apa yang diucapkan appanya itu. appanya baru saja memujinya didepan bawahannya meski dia tidak seperti yang appanya ucapkan.

.

.

“Aku membawa makanan kesukaan appa” yuri membuka bungkusan yang ia bawa.

“Jajangmyeon?” ucap sang appa melihat apa yang putrinya itu bawa.

“Ne, bukankah appa sangat menyukai jajangmyeon? Aku bahkan ingat saat aku kecil appa bekerja begitu keras hanya untuk membeli jajangmyeon untukku dan eomma” yuri berkata sambil terkekeh.

“Kau benar, tapi tidak seharusnya kita mengingat masa yang kelam itu yul” ujar sang appa.

“Tapi menurutku sesekali kita perlu mengingat masa itu kembali appa, dengan begitu kita bisa ingat bahwa kita pernah hidup sulit, kita pernah merasakan perihnya hidup dan itu akan membuat kita untuk tidak sombong dan membantu orang yang memiliki hidup sulit seperti yang pernah kita alami”

Sang appa tertawa mendengar jawaban itu, anaknya itu terdengar sangat bijak bukan?

“Hahahahah, appa bangga padamu yang bisa berfikir seperti itu, kau sudah sangat dewasa”

“Sebenarnya itu karena taeyeon, sejak aku tinggal dengannya banyak hal yang bisa aku pelajari. Dia selalu memberikan nasihat yang bijak. Dia teman yang baik appa. Meski dia tidak memiliki apapun tapi dia tulus berteman denganku, dia tidak seperti kebanyakan orang yang mendekatiku karena aku anak dari kwon yunho dan kwon boa. Dia tidak seperti yang appa dan eomma pikirkan” ucap yuri.

Sang appa hanya diam dan mendengarkan apa yang anaknya ingin sampaikan.

“Appa, aku sudah memikirkannya. Maafkan aku karena sikapku selama ini. Aku akan menjadi apa yang appa inginkan” yuri menundukkan kepalanya, ia menyesal karena terus menyakiti sang appa dengan penolakannya sampai-sampai sang appa melakukan hal yang melebihi batas wajar.

Kwon yunho mengangguk tersenyum lalu mendekap anaknya itu dengan sayang. Ia sangat senang bahwa putrinya kini mau menjadi pewaris Kwon Corp.

“Maafkan appa juga yang sudah menyakiti hati lembutmu yuri-ah, appa sangat menyayangimu” ujar sang appa membuat hati yuri tersentuh dan membalas pelukan sang appa, setelah sekian lama akhirnya sang appa mengatakan hal yang sangat ingin ia dengar yaitu kata maaf dan sayang.

***

“Daddy!!” teriak tiffany senang karena bertemu sang daddy. Ia berlari lalu memeluk daddynya itu.

“Hei honey, bagaimana kabarmu? Maaf daddy tidak bisa mengunjungimu” sang daddy membalas pelukan putrinya.

“Sweety, apa kau tidak merindukan daddy?” ujar seseorang yang baru saja menampakan dirinya membuat jessica yang melihatnya tak percaya.

“D-daddy?” tanya jessica mengusap-usap matanya.

“Kemarilah daddy merindukanmu” ujarnya. Jessica berlari menghampiri sang daddy dan ikut memeluknya juga, ia bahkan menangis karena merindukan sosok daddynya itu.

“Kenapa daddy tidak menghubungiku kalau daddy akan ke Korea-hiks” jessica berkata sambil menahan tangis.

“Daddy ingin membuat surprise untukmu sweety”

“Omo! Ace Princess kita menangis daddy!” ujar tiffany menggoda jessica dan berhasil membuat jessica menatapnya dengan tatapan ‘akan kubunuh kau’.

Tanpa mereka sadari mereka baru saja membiarkan seseorang terdiam, mereka terlalu melepas rindu satu sama lain sampai melupakan orang itu.

Ia itu menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia merindukan sosok appa dan eommanya, hatinya kembali terasa sakit melihat pemandangan didepannya itu.

‘tidak seharusnya aku datang dalam acara keluarga ini’ pikirnya. Ia menundukkan kepalanya sampai sebuah suara berhasil menyadarkannya.

“Taeyeon-ssi senang bisa bertemu kembali denganmu, kenapa baru datang sekarang?” daddy hwang memeluk taeyeon dan itu berhasil membuat hatinya menghangat.

“M-maafkan aku, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku” ujar taeyeon setelah daddy hwang melepaskan pelukannya itu.

“baiklah yang terpenting kau sudah datang kemari. Kalian duduklah dulu daddy akan membantu ahjumma memasak dulu” ujar daddy hwang lalu pergi arah dapur.

“Daddy membawakan sesuatu untukmu sweety, daddy menyimpannya di kamar” ujar daddy jung sambil berjalan membawa anaknya pergi memperlihatkan hadiahnya pada putrinya.

Dan kini menyisakan taeyeon dan tiffany.

“Duduklah tae, kau ingin sesuatu?” tanya tiffany.

“Aku ingin air putih” pinta taeyeon. Tiffany mengagguk dan pergi kearah dapur.

Taeyeon melihat-lihat ruangan ini, rumah yang besar. Ia bahkan tak menyangka dapat menginjakkan kaki dirumah yang besar seperti ini lagi. Disana terlihat sebuah foto keluarga, daddy hwang yang duduk ditengah dan dibekangnya ada tiffany dan oppanya. Ia juga melihat sebuah foto pernikahan daddy hwang dengan istrinya, tiffany eomma. Eommanya sangat cantik, ia rasa kecantikan tiffany diturunkan oleh eommanya.

Ia kembali mengedarkan pandangannya dan ia menangkap Sesuatu yang berhasil menarik perhatiannya. Diatas sebuah meja hias terdapat sebuah figura yang berisikan cetakan kaki bayi. Ia mendekat agar dapat memperjelas penglihatannya. Dalam figura itu terdapat sebuah tulisan.

Tiffany Hwang, 08 Oktober 1999

“Ukuran kaki yang sangat mungil bukan?”

Suara itu berhasil membuat taeyeon mengalihkan pandangannya. Siwon mendekati taeyeon dan tersenyum.

“Cetakan itu milik tiffany, appa bilang saat lahir tiffany sangat kecil. Tapi kau bisa lihat sekarang dia tumbuh dengan baik bukan?” siwon tertawa diakhir katanya.

“Appa sangat senang karena akhirnya bisa mempunyai seorang putri, begitupun aku. kami sangat bahagia hingga akhirnya eomma dan tiffany mengalami kecelakaan mobil. Eomma meninggal dalam kecelakaan itu dan tiffany berhasil diselamatkan. Tapi dia kehilangan ingatannya”

“Apa ingatannya masih belum pulih?” tanya taeyeon.

“Dia kehilangan ingatannya secara permanent, jadi kumohon untuk tidak mengungkit tentang eomma saat bersamanya, itu akan membuat ia sedih” pinta siwon.

“Oppa, kau sudah datang?” ucap tiffany menyimpan gelas yang ia bawa dimeja. Siwon tersenyum dan menghampiri tiffany lalu memeluknya, Tiffany membalas pelukan itu.

“Oppa sangat lelah sekali, kau tahu oppa tidak tidur selama 2 hari” siwon mengerucutkan bibirnya.

“Hentikan itu oppa kau sangat jelek, seseorang yang memiliki badan kekar tak pantas memasang ekspresi seperti itu” ujar tiffany lalu melempar bantal kursi.

“Aishh dasar tak sopan, aku takkan membawamu shoping lagi lihat saja nanti” ujar siwon.

“Oppa~ kau tidak bisa terus mengancamku dengan shoping?!”

“Karena itu selalu berhasil wew” siwon menjulurkan lidahnya meledek tiffany.

Ada perasaan tak suka melihat kedekatan mereka, meski taeyeon tahu bahwa siwon itu adalah oppa tiffany. Taeyeon merasa pancaran mata siwon pada tiffany berbeda. Tatapannya bukan tatapan sayang seorang oppa, itulah yang taeyeon lihat.

‘Aishh maldo andwae! Apa yang kau pikirkan Kim Taeyeon. Pria itu oppa tiffany mana mungkin dia menyimpan perasaan padanya’ ucap taeyeon dalam hati.

“Baiklah oppa akan menarik ucapan oppa tapi dengan syarat” siwon menunjuk pipinya meminta tiffany menciumnya.

Tiffany mengikuti syarat siwon. Dengan cepat taeyeon yang melihat itu segera memalingkan wajahnya. Ia tak bisa melihat ini, ia tak ingin merasa sakit walau pada akhirnya ia merasa sakit dalam hatinya.

“Kau bau oppa, cepat mandi sana!!” tiffany mendorong siwon untuk segera mandi, sementara siwon hanya terkekeh sambil berjalan pergi.

“Tae” panggil tiffany. Merasa terpanggil taeyeon kembali mengalihkan wajahnya melihat tiffany yang kini ada dihadapannya.

“Gwaenchana? Matamu memerah”

“Ne?” taeyeon terkejut mengetahui bahwa matanya kini memerah, mungkin ini karena tadi ia menahan kesal dan sakit sampai tak sadar matanya terasa sedikit memanas.

“Aku baik-baik saja, mataku kemasukan debu” hanya jawaban itu yang terpikirkan taeyeon.

“Mau aku tiup?”

“Tidak perlu, sekarang sudah baik-baik saja”

“Ayo duduk, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu” tiffany menarik tangan taeyeon membawanya untuk duduk disofa.

Lalu ia membawa sebuah album yang disimpan tak jauh dari sofa. Ia membuka album itu dan dihalaman pertama ada foto seorang bayi yang sangat lucu”

“Siapa ini?” tanya taeyeon.

“It’s me” tiffany menjawabnya dengan tersenyum.

“Wahh kau terlihat sangat lucu dan manis saat bayi” jawab taeyeon yang mendapat pukulan dilengannya oleh tiffany. Lalu dibukanya lembaran kedua. Dalam foto itu seorang bayi yang sedang duduk sedang tertawa memperlihatkan eyesmilenya.

“Lihat ini, ini benar-benar manis dan lucu. Kurasa ucapanku benar. Kau terlihat lebih baik saat kecil” ucap taeyeon yang kembali mendapat pukulan bahkan lebih keras lagi.

“Ya, maksudmu sekarang aku tidak lucu dan manis? Lihat dengan baik-baik taeyeon. Aku bahkan lebih baik daripada dulu” ujar tiffany memegang kedua pipi taeyeon mengarahkannya untuk melihat dirinya.

Mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu membuat taeyeon sangat terkejut. Wajah mereka hanya berjarak 15cm, dan menurut taeyeon itu sudah sangat dekat. Taeyeon bisa melihat wajah cantik nan mulus tiffany dari dekat benar-benar tak ada cacat sedikitpun.

Begitupun tiffany yang kini menjadi salah tingkah dengan perlakuannya sendiri, ia merasa jantungnya mulai memompa lebih cepat dari biasanya. Wajah taeyeon sangat putih, mulus dan sempurna. Hingga mata tiffany tanpa sadar mendarat di bibir tipis gadis itu. ia hanya bisa menelan ludahnya dan kini wajahnya terasa panas.

“Hei apa yang kalian lakukan?”

Suara itu menyadarkan mereka dari pikiran mereka dan membuat mereka berdua terkejut. Keduanya langsung saling menjauh, taeyeon yang berusaha menyibukkan dirinya dengan merapikan rambutnya sementara tiffany berdiri menghadap asal suara dengan wajah memerah tegang. Mereka terlihat seperti pasangan yang kepergok sedang berciuman.

“J-jessie, tadi itu tidak seperti yang kau lihat-taetae bilang aku terlihat lebih baik saat kecil, jadi aku-aku sedang menyadarkannya bahwa aku lebih baik bahkan sangat, ya itu” ujar tiffany berusaha untuk tidak terlihat gugup, ia berusaha untuk menenangkan detakan jantungnya agar normal kembali.

Jessica mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Kalian ini sangat lucu, kalian terlihat seperti sedang tertangkap basah karena berciuman. Hha” jessica tertawa melihat sikap terkejut taeyeon dan tiffany tadi.

Uhukk-Uhukk” taeyeon yang sedang minum berusaha menenangkan dirinya malah tersedak mendengar ucapan jessica.

“Tae kau baik-baik saja?” tiffany menepuk-nepuk punggung taeyeon dengan pelan.

“E-eoh gwaenchana”

“Anak-anak saatnya makan malam ayo kemari!” teriak daddy jung.

Merekapun pergi menghampiri daddy jung dan daddy hwang yang berada di meja makan. Taeyeon, tiffany dan jessica tercengang tak percaya melihat masakan-masakan yang ada dimeja, begitu banyak dan menggugah selera.

“Jessie bisa kau panggilkan siwon?” ujar daddy hwang.

“Ne? A-ah ne dad” jawab jessica dengan ragu. Sejujurnya ia ingin menolak, ia tidak ingin berhadapan dengan siwon. Bahkan tadinya jessica menolak untuk ikut makan malam dengan berbagai alasan namun tiffany terus membujuknya dan mengatakan akan ada yang special disana, karena itu dengan berat hati ia menyetujui untuk ikut makan malam bersama.

Iapun pergi menuju kamar siwon. Ia ragu, apakah ia harus mengetuk pintu atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat ia akan mengetuk kamar itu tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampakkan sosok yang tidak ingin ia temui itu.

“D-daddy memintaku untuk memanggilmu untuk segera turun” ucap jessica tanpa menatap siwon. Lalu dengan segera membalikkan tubuhnya untuk segera kembali, ia tak ingin berlama-lama.

“Jessie” panggil siwon membuat langkah jessica terhenti.

“Bisakah kau melupakannya? Bisakah kau melupakan apa yang kau tahu mengenai perasaanku padanya? Aku tak ingin kita seperti ini, aku ingin hubungan kita baik-baik saja seperti dulu” pinta siwon.

“…………………..”

“Jessie?”

“Maaf tapi aku tak bisa melupakannya, mungkin aku bisa melupakan hatiku yang sakit karena aku yakin cepat atau lambat rasa sakit itu akan hilang. Tapi aku tidak bisa melupakan bahwa kau mencintai tiffany. Aku tidak bisa berpura-pura tidak tahu dan membiarkanmu mendekati tiffany dengan perasaan dihatimu itu” ujar jessica lalu membalikan tubuhnya menghadap siwon.

“Karena aku tidak yakin bahwa suatu saat kau takkan berbuat sesuatu pada tiffany, ditambah dengan ketidak tahuannya. Cinta yang kau pendam bisa membuahkan nafsu, dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya” ucap jessica dengan nada tegas memperingatkan siwon.

“Kau pikir aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada tiffany? Itu takkan terjadi Jessie, aku menyayanginya, aku takkan menyakitinya” ujar siwon sedikit emosi.

“Kau akan menyakitinya oppa, kelak saat tiffany tahu! Kau pikir kau akan bisa terus memendam perasaanmu? Jika aku membiarkanmu rasa cintamu padanya mungkin akan semakin besar dan rasa ingin memiliki akan tumbuh dalam hatimu! Mungkin sekarang kau mengatakan jika kau takkan menyakitinya, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari bukan?”

“Jessie kau tak mengerti, sebenarnya tiffany-“ siwon menghentikan perkataannya. ia tak bisa melanjutkannya, atau semua akan berakhir.

Tanpa mereka sadari seseorang sedang membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

‘Maldo andwae’

.

.

“Wow aku rasa mataku bisa rusak lama-lama melihat ini” ujar taeyeon tanpa sadar begitu melihat kamar milik tiffany yang bercat pink, begitupun dengan Kasur dan beberapa barang yang ada disana, semuanya pink.

“Jangan mencoba untuk menghina kamarku atau mati kau!” sinis tiffany mengancam taeyeon.

“Jadi selain maniak shoping kau juga seorang maniak pink?” tanya taeyeon sambil berjalan-jalan melihat kamar itu.

“Jangan mengatakannya dengan kata maniak seperti itu, shoping itu hanya hobiku, dan pink adalah warna favoriteku” ucap tiffany mengeluarkan laptop yang ada ditasnya.

“Tapi kamar besar ini sedikit kosong” taeyeon duduk disamping tiffany yang sedang menyalakan laptopnya.

“Aku membawa sebagian besar barang-barangku ke apartemen” jawab tiffany tanpa mengindahkan tatapannya pada laptop.

“Baiklah kita lanjutkan tugasku, malam ini harus selesai atau aku takkan bisa mengumpulkannya besok”

Merekapun mulai melanjutkan pekerjaannya untuk menyelasaikan tugas milik tiffany, Mereka sudah selesai mengetik dan mengeditnya hanya tinggal mencetaknya saja. Taeyeon memberikan penjelasan secara lisan pada tiffany agar tiffany lebih faham dengan isi materi tersebut, hingga waktupun akhirnya menunjukkan pukul 11.13 pm.

“Kau mengeti apa yang aku jelaskan buk-“ taeyeon menghentikan penjelasannya ketika melihat seseorang yang menjadi bimbingannya itu sudah tertidur pulas dengan kepalanya yang bersandar pada meja.

“Anak ini benar-benar, ini kedua kalinya kau tertidur” ucap taeyeon terkekeh pada dirinya sendiri.

“Pany-ah ireona, pindahlah keranjangmu” taeyeon membangunkan tiffany

“Pany-ah badanmu akan sakit kalau kau tidur dengan posisi seperti itu” taeyeon kembali membangunkan tiffany karena tak mendapat respon.

“Hei tiffany hwang, ayo bangun dan pindah keranjangmu” kini taeyeon mengguncang lembut pundak tiffany.

“……………………..”

“Anak ini benar-benar. Ternyata kau seseorang yang sulit dibangunkan ya” taeyeon berkata pada diri sendirinya.

Seiring berjalannya waktu kini taeyeon tahu sedikit demi sedikit tentang gadis itu. Taeyeon mulai tahu sedikit mengenai masa lalunya, gadis itu juga sangat menyukai shoping, sangat menyukai pink, dan sekarang satu point lagi yang ia dapat bahwa tiffany sosok yang sulit dibangunkan.

Tidak ingin gadis itu akan merasa sakit saat ia bangun, taeyeon menyandarkan tubuh gadis itu pada tubuhnya lalu menggendongnya. Gadis itu tak terusik sama sekali benar-benar hebat! Taeyeon mulai berjalan menuju ranjang hingga ia menghentikan langkahnya saat tangan itu melingkar dilehernya dan ia merasa sebuah nafas menggelitiki lehernya.

Deg deg deg

Ia kembali merasakan jantungnya yang diluar kendali. Taeyeon melirik wajah tiffany yang ada dilehernya. Mereka sangat dekat bahkan taeyeon bisa merasakan kulit lembut itu kini mengenai lehernya. Dengan cepat taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk menyadarkan dirinya. Setelah itu ia melangkah cepat dan menidurkan tiffany diranjangnya.

Taeyeon memegang dadanya dimana jantung itu berdetak cepat dan menatap tiffany yang terbaring diranjang.

“Aku rasa aku bisa gila” lirih taeyeon.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu menutupi tubuh tiffany dengan selimut agar membuatnya hangat. Setelah itu ia kembali untuk mengerjakan tugas tiffany yang belum dicetak.

“Selesai. Huff~” ucap taeyeon tersenyum melihat hasil kerjanya. Tugas tiffany kini sudah selesai bahkan taeyeon sudah memasang jilid. Tiffany hanya tinggal mengumpulkan saja. Taeyeon juga membuat catatan point-point penting untuk tiffany. Saat ia melihat jam ternyata ini sudah pukul 12.49 am.

Taeyeon mematikan lampu kamar dan berjalan keranjang, Ia juga tak lupa mematikan lampu tidur yang ada atas meja samping ranjang lalu menidurkan dirinya disamping tiffany.

5 menit berlalu ..

10 menit berlalu ..

15 menit berlalu ..

Ia kembali membuka matanya, ia tidak bisa tidur. Walaupun matanya sudah ia pejamkan namun rasa kantuk tak menghampirinya.

Taeyeon POV

“Sepertinya insomniaku kambuh” lirih taeyeon.

Aku hanya diam menatap langit-langit kamar ini dan kini pikiranku melayang memikirkan miyoung dan gadis disebelahku ini.

Jika kupikir-pikir mereka terlalu memiliki banyak kesamaan. Eyesmile yang mereka miliki, warna favorite yang mereka sukai, tatapan mereka saat menatapku.

‘kami sangat bahagia hingga akhirnya eomma dan tiffany mengalami kecelakaan mobil. Eomma meninggal dalam kecelakaan itu dan tiffany berhasil diselamatkan. Tapi dia kehilangan ingatannya’

Tapi jika memang tiffany adalah miyoung cetakan kaki itu seharusnya tidak ada dan juga pria itu tidak mungkin menceritakan masa lalu seperti itu. Itu berarti tiffany memang anak dari hwang ajusshi.

Sebenarnya apa yang kau pikirkan taeyeon, berhentilah menyamakan tiffany dengan miyoung. Memiliki kesamaan dengan orang lain bukankah itu wajar? Dari buku yang kubaca bahwa setiap satu manusia memiliki 6 kembaran atau sifat dan prilakunya yang sama. Dan mungkin tiffany dan miyoung menjadi salah satu dari mereka.

Mengingat tentang pria itu, Siwon hwang.

Dugaanku benar, tatapan yang ia berikan bukanlah tatapan seorang oppa pada adiknya, tapi melebihi itu. Tapi bagaimana bisa perasaan seperti itu tumbuh dalam dirinya? Dia adalah oppanya.

“Karena aku tidak yakin bahwa suatu saat kau takkan berbuat sesuatu pada tiffany, ditambah dengan ketidak tahuannya. Cinta yang kau pendam bisa membuahkan nafsu, dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya”

“Kau pikir aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada tiffany? Itu takkan terjadi Jessie, aku menyayanginya, aku takkan menyakitinya”

“Kau akan menyakitinya oppa, kelak saat tiffany tahu! Kau pikir kau akan bisa terus memendam perasaanmu? Jika aku membiarkanmu rasa cintamu padanya mungkin akan semakin besar dan rasa ingin memiliki akan tumbuh dalam hatimu! Mungkin sekarang kau mengatakan jika kau takkan menyakitinya, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari bukan?”

Apa yang dikatakan jessica memang benar perasaan seperti itu kelak akan semakin membesar jika didiamkan. Tapi mengapa jessica tidak memberitahuku soal ini? Bagaimana mungkin dia menanggung semuanya sendiri.

Author POV

Tiba-tiba apa yang sedang taeyeon pikirkan hilang begitu saja saat merasakan sebuah tangan kini melingkar diperutnya. Ia bahkan kembali merasakan jantungnya yang kembali tak normal membuat dirinya tak nyaman.

Namun meski begitu, ada perasaan senang dalam hatinya saat yeoja yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak tak normal itu melingkarkan tangannya padanya.

Taeyeon menatap tangan yang melingkar itu lalu beralih kini menatap tiffany yang sedang tertidur pulas. Meskipun dalam keadaan terlelap tapi kecantikannya tak berkurang sama sekali. Yeoja secantik ini pasti akan banyak yang menyukainya. Hanya manusia bodoh yang tidak menyukai wanita ini, dan hanya manusia idiot yang berani menyakiti gadis ini.

Ia ulurkan tangannya untuk menyentuh gadis yang sedang terlelap itu, namun ia menghentikannya saat sesuatu dalam pikirannya berhasil membangunkan kesadarannya.

‘Kim apa yang kau lakukan?! berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak!’

‘Memangnya apa yang aku lakukan? aku hanya ingin membenarkan tatanan rambutnya saja!’ taeyeon kembali melanjutkan apa yang akan dilakukannya, namun kembali terhenti.

‘Kau gila? Lalu untuk apa kau membenarkan tatanan rambutnya? Itu bukanlah urusanmu!’

Segala macam pikiran terus berdebat dengan hati taeyeon, hingga akhirnya ia memutuskan kembali menarik tangannya.

“Kau pasti sudah gila Kim Taeyeon” ia berbisik pada diri sendiri.

‘Perasaan seperti ini tidak seharusnya ada, aku dan dia sama-sama yeoja. Itu takkan berhasil taeyeon. Kau harus segera melupakan perasaanmu padanya’ ucap taeyeon dalam hati.

***

Kamis, 27 February 2014

Tiffany POV

Cuitt cuitt cuitt

“Emm~” Erang ku.

Kubuka mataku perlahan dan dengan penglihatan buranku aku melihat sesuatu. Disaat penglihatanku sudah mulai jelas aku melihat wajah cantik yang sangat dekat dengan wajahku. Itu berhasil membuatku sedikit terkejut dan untungnya aku tidak menjerit dan membangunkan orang yang ada didepanku ini.

Taeyeon.

Dia adalah orang pertama yang berhasil membuat jantungku berdetak sangat kencang, berhasil memikirkannya sepanjang waktu. Seumur hidupku aku tak pernah merasakan hal seperti ini meski pada mantan-mantanku. Semua ini kurasakan hanya padanya.

Kuperhatikan wajah gadis yang masih terlelap dalam tidurnya ini. Dia terlihat sangat tenang. Wajah gadis ini sangat mulus dan putih. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Kusentuh pelan Mata gadis ini yang selalu berhasil membuatku terhipnotis, lalu hidung mancung nan mungil ini dan terakhir bibi tipis ini. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari bibir ini.

Memikirkan bagaimana rasanya bibir tipis ini, apa bibir ini pernah tersentuh, bisakah aku mencicipi bibir ini?

Aku rasa aku memang jatuh cinta padanya.

Wajah cantik itu kini mengerutkan keningnya dengan cepat kutarik tanganku yang menyentuh bibir tipis miliknya dan kembali memejamkan mataku.

Hening.

“Mengapa kau membuatku seperti ini?” ucapnya.

Apa maksudnya? Apa yang dia maksud adalah aku? memangnya apa yang aku perbuat padanya?

Kurasakan kasurku yang sedikit bergoyang. Kubuka sedikit mataku untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Dia sedang duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku ingin sekali memeluknya, bisakah?

Kuputuskan untuk menghentikan kepura-puraanku dan bangun.

Author POV

taeyeon sedikit terkejut saat merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya. Dan ia kembali merasakan detakkan miliknya yang kembali mengganggunya.

“Morning” sapa tiffany menyenderkan dagunya dipundak taeyeon dengan suara seraknya, membuatnya terdengar seksi.

“E-eoh, morning” sapa taeyeon gugup.

“Tidurmu nyenyak?” tanya tiffany.

“E-eoh”

“Nado, mungkin karena kau ada disampingku?”

Taeyeon merasakan beribu-ribu kupu-kupu diperutnya, ia merasa sangat senang mendengarnya.

Tok Tok Tok

“Honey palli ireona,“

Suara itu berhasil merebut perhatian mereka. Dengan cepat tiffany menjawab daddy nya.

“Yes Dad, aku sudah bangun”

Setelah tiffany menjawab suara itu tak terdengar kembali. Tiffany semakin mendekatkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya, dan itu berhasil membuat taeyeon semakin serasa gila karena detakannya. Ia bahkan bisa merasakan wajahnya yang memanas.

‘Jika seperti ini yang ada hanyalah perasaanku yang semakin tumbuh’ ucap taeyeon dalam hati.

“Sepertinya aku tertidur lagi, apa kau yang memindahkanku keranjang?” tanya tiffany berhasil membangunkan taeyeon yang sedang berdebat dengan pikirannya.

Dengan segera taeyeon melepaskan tangan yang melingkar itu dan bangkit dari duduknya dan itu membuat tiffany sedih, ia masih ingin memeluk gadis itu.

“E-eoh, kau bahkan sangat sulit dibangunkan” ucap taeyeon berusaha untuk tidak gugup, ia masih mencoba mengendalikan debarannya itu.

Taeyeon berjalan mengambil tugas yang baru mereka atau lebih tepatnya taeyeon selesaikan tadi malam dan menunjukkannya pada tiffany.

“Aku sudah menyelesaikannya. Kau hanya perlu mengumpulkannnya. Oh-ya aku juga membuat beberapa point penting untuk kau baca.” Taeyeon memberikan satu lembar HVS yang berisikan point-point penting.

“Gomawo~” Tiffany merasa terharu dengan apa yang taeyeon lakukan padanya, ia sangat senang taeyeon sangat peduli padanya sampai-sampai membuat poin-point penting untuknya.

“Hari ini waktu pengumpulannya, kau pasti akan bisa membaca semua. Jadi baca point-pont pentingnya yang sudah aku siapkan saja. Itu sudah mencakup semuanya”

Tiffany berdiri dan menghampiri taeyeon lalu memeluknya. Ia merasa sangat senang memiliki seseorang seperti taeyeon. Meski awal pertemuan mereka tidaklah baik tapi kini ia tahu bahwa taeyeon tidak hanya baik, tapi juga peduli, rendah hati, dan yang lebih penting taeyeon selalu memikirkan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri. Itulah yang yang tiffany dapat sejak mereka menjadi dekat.

“Gomawo. Jeongmal” ucap tiffany tulus.

Taeyeon bisa merasakan ketulusan tiffany. Bagaimana bisa ia menghapus perasaannya pada gadis ini? gadis ini terlalu membuatnya nyaman dan bahagia disaat bersamaan.

“Ne” taeyeon membalas pelukan tiffany mencium harum tubuhnya. Ia harap mereka akan terus seperti ini meski tiffany takkan pernah menjadi miliknya.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Annyeong author comeback dan bawa circle. MBA nya author tahan dulu, biar selang seling gitu supaya kalian gak pada lupa jalan cerita circle ataupun MBA ..

Okee jangan lupa ninggalin jejak yaww 😁 berikan komentar kalian. Yang belum menampakan dirinya author tunggu dengan sabar dan senyuman. Author tidak bisa membenci silent reader karena bagaimanapun kalian adalah sone dan LS pula seperti author dan para reader disini.

Jadi author hanya akan menunggu kalian dengan senyuman dan menyambut kalian yang berkomentar dan like.

Semoga kalian suka sama jalan ceritanya ya .. 😁

See you next time 😁

Advertisements

122 thoughts on “Circle [Chapter 6]

  1. Bagaimana bisa aku melupa, jika dirimu yang buatku bahagia. 😀 yeeilah,, taeny galau jadinya apalagi klo beneran mereka kakak adik ya?? 😉

    Like

      1. fany kan adek tiff, trus berarti fany cuma di temu doang hrs nya. tapi klo di perhatiin istri nya mr.hwang itu emang mama nya fany. ahh aku jg pusing thor sama keluarga mreka kwkwk. aku lanjut baca dulu deh

        Like

  2. Amiennnn, keinginan tae semoga dikabulkan.
    Mereka dpt selalu berhubungan baik walau tidak di depan umum 0T9 amineeenn hihihiii.
    Wkhahaaa aku salah jalur. Tapi tak apalah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s