Circle [Chapter 7]

circle-cover-2

Main cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Kwon Yuri, Jessica Jung
Sub Cast :, Lee Sunny, , Im Yoona, Choi Sooyoung, Choi Siwon (as Siwon Hwang), Kim Hyoyeon
Genre : Yuri, Drama, Sad, Chaptered
Rated : 17+
Author : TNEYisREAL08

WARNING!!

The gendre is Yuri if you don’t like it go away and don’t copy paste or Bashing. Typo’s everywhere, please comment. Reading enjoy ^^

***

Sabtu, 1 Maret 2014

Author POV

“Baiklah kau bisa mulai kerja sabtu depan”

Senyumnya merekah mengetahui bahwa dirinya kini telah diterima bekerja ditempat restoran ayam ini. Meski gajinya tidak terlalu besar tapi ini ia sudah sangat bersyukur akan hal itu, hanya tempat-tempat seperti inilah yang akan menerima pekerja paruh waktu.

“Kamsahamnida sajangnim” yeoja itu membungkukan tubuhnya.

“Ne, kau bisa keluar sekarang. Aku harap kau bisa menjadi karyawan terbaik disini”

“Ne, kamsahamnida. Kalau begitu saya permisi” yeoja itu kembali membungkuk sebelum keluar dari tempat itu.

Ia menghirup udara dengan senyum merekah. Ia harus kembali mencari pekerjaan lain untuk waktu luang dihari lainnya.

‘Never gonna look back, girls. Never gonna look back, girls. heundeullim eopsi kkumeul hyanghae
gyeoson georeoganeun geoya ‘

Yeoja itu mengambil handphonenya yang ia simpan di saku celananya. Senyumnya semakin melebar saat melihat nama itu tertera dilayar. Sebelum ia mengangkat telepon itu ia berdehem memeriksa suaranya.

“Eoh” ucapnya berusaha untuk bersikap biasa.

“Tae, sedang apa?” ucap gadis diseberang.

“Aku sedang mencari pekerjaan. Dan aku baru saja diterima disebuah restoran ayam”

“Chukhae tae~ aku akan menunggumu meneraktirku karena kau telah berhasil”

“Geureom jadi kapan kau punya waktu luang?”

“Hari ini?! Kapanpun aku akan meluangkan waktuku untukmu tae” jawab tiffany antusias. Taeyeon menggingit bibir bawahnya karena senang akan apa yang tiffany katakan. Tiffany bilang kapanpun ia akan meluangkan waktunya untuk dirinya.

“Emm okee, lagipula aku sudah selesai sekarang. Bagaimana jika aku memasakan sesuatu untukmu saja? Masakanku lebih sehat dari pada membeli diluaran”

“Ide yang bagus. Lagipula aku lebih suka masakanmu dibandingkan masakan yang lainnya”

“Dirumahku?” tanya taeyeon.

“Of course, aku akan bersiap-siap sekarang bye”

Tutt tutt tutt..

“Yeobsaeyeo? Pany-ah?”

Taeyeon melihat layar handphonenya dan ternyata sudah terputus. Lebih tepatnya tiffany yang memutuskannya. Ia bahkan belum selesai bicara.

“Aish, anak ini benar-benar”

Sebenarnya tiffany hanya terlalu senang karena taeyeon menyetujui usulannya untuk makan bersama hari ini. Ia hanya ingin segera bertemu taeyeon, ia sangat merindukan gadis itu sejak tadi. Berbicara melalui telepon tidak dapat mengobati rasa rindunya, ia perlu bertemu secara langsung melihat wajah cute yang selalu berhasil membuat dirinya tak bisa memikirkan yang lain, hanya dirinya.

Taeyeon melihat jam tangannya dan setelah itu berlari sekancang mungkin. Ia harus berbelanja untuk bahan-bahan yang akan ia pasak untuk tiffany. Ia harus cepat, ia tak ingin membuat gadis yang disukainya itu menunggu.

‘Waktuku 45 menit sebelum ia sampai dirumahku. Aku harus cepat’ ucap taeyeon dalam hati.

Sedangkan ditempat lain, tiffany sedang memilih pakaian apa yang akan ia kenakan. Ia ingin terlihat cantik didepan taeyeon, ia ingin menunjukkan yang terbaik. Padahal sudah 15 menit berlalu dan ia masih memilih pakaian, sampai semua isi lemarinya ia keluarkan membuat kamarnya berantakan.

“Eotteohkhae? Mana yang harus aku pakai?” ucap tiffany sambil memegang 2 pakaian yang harus ia pilih.

“Aku harus meminta pendapat jessie” ucapnya lalu berlari menuju kamar jessica.

Brakk!

“OMO, gabjagi! Ya! Tiffany hwang!” kesal jessica karena tiffany masuk tanpa mengetuk pintu ditambah ia baru saja membuka pintu kamarnya dengan kekuatan yang sangat luar biasa membuat ia terkejut sampai-sampai majalah yang sedang ia baca ia lempar dengan refleks.

“Sorry, aku sedang terburu-buru. Menurutmu mana yang harus aku pakai?” tanya tiffany to the point.

“Heol. Ayolah kau tau fashion. Seleramu bahkan lebih baik dariku. Aku yakin kau tau mana yang harus kau pakai-tapi apa kau akan pergi?”

“Eodiga?”

“Kerumah taeyeon, ia baru saja mendapat pekerjaan baru karena itu untuk merayakannya dia akan membuatkan makan siang untukku. Jadi mana yang harus aku pakai?”

“Heol. Dengan pakaian yang kau pakai sekarang juga sudah cukup bagus”

“Aku serius jessie, aku sedang memakai tanktop dan hotpants kau kau bilang ini cukup bagus? Are you Crazy?”

“Oh ayolah tiff, Kau hanya akan pergi bertemu taeyeon untuk makan tapi sikapmu seperti akan bertemu kekasih saja sampai kau tak bisa memilih baju sendiri. Kau tinggal memakai jaketmu”

Tiffany tergelak tak bisa berkata-kata. Ia jadi salah tingkah. Jessica memang benar ini pertama kalinya ia meminta pendapat untuk sebuah pakaian yang sudah menjadi keahlian utamanya pada jessica. Tapi untuk taeyeon ia merasa apa yang dipakainya tidak bagus. Ia ingin tampil sangat cantik untuk taeyeon. Mungkin ini karena CINTAnya pada gadis itu?

“A-arasseo aku akan memilih sendiri” tiffany berusaha untuk tidak gugup. Ia membalikkan tubuhnya berniat kembali kekamarnya. Ia harap jessica tidak menyadari sikap anehnya itu, terutama jika berhubungan dengan taeyeon.

“Tunggu sebentar”

Seketika tiffany menghentikan langkahnya. Ia merasa jantungnya berdegub kencang, keringat dingin juga ia rasakan sekarang.

‘Please, don’t jessie’ mohon tiffany dalam hati.

“Kau bilang taeyeon mendapatkan pekerjaan baru dan kalian akan merayakannya. Hanya kalian berdua? Kenapa taeng tidak mengajakku dan yang lain? ”

Tiffany hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Ia tak tau harus menjawab apa. Ia tak pernah berpikir sampai kesana.

“I-itu.. Taeyeon bilang ia takut mengganggu kalian. Ini hari libur, kalian pasti sibuk. Seperti kau yang sibuk dengan majalahmu”

“Aaa~ begitu ya. Tapi aku tidak sibuk. Aku akan ikut. Katakan padanya aku akan datang bersama yang lain”

“Ne?”

“Ppalli kaa! Aku akan mencoba menghubungi yang lainnya” usir jessica. Tiffany hanya bisa berbalik dan kembali berjalan kekamarnya dengan lemas.

Rasanya ia ingin menangis. Entah mengapa? Mungkinkah karena rencana makan siang mereka berdua kini gagal?

.

.

Tok tok tok

Taeyeon menghentikan aktifitas memasaknya begitu mendengar suara ketukan dari arah pintu. Dengan segera ia mencuci tangannya dan berjalan menuju arah suara ketukan itu.

Seketika senyumnya lenyap begitu melihat apa yang ada didepannya. Bukannya tidak senang, ia hanya terkejut dengan kedatangan mereka. Sahabat-sahabatnya datang kerumahnya disaat ia memiliki janji dengan tiffany.

“Annyeong? Apa masakannya sudah jadi? Aku benar-benar lapar” ucap sooyoung yang berdiri paling depan sambil mengelus perutnya.

“Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku sedang memasak?” tanya taeyeon.

“Pertanyaan macam apa itu ? Kau bilang kau akan merayakan syukuran karena kau sudah mendapat pekerjaan baru” ucap yoona.

“Aku tidak pernah mengatakan itu pada kalian”

“Tiffany yang mengatakannya. Jika dia tak datang kekamarku dan membuatku susah karena rengekkannya yang memintaku untuk memilihkan pakaian untuk ia gunakan sekarang mungkin kalian hanya akan menyantap makanan lezat itu berdua” jelas jessica membuat pipi tiffany memerah.

“Dia bilang kau takut kami sibuk karena hari ini hari libur karena itu kau tidak mengundang kami” lanjut jessica.

“Jangan khawatir taeng, untukmu kami akan selalu meluangkan waktu apalagi untuk acara makan-makan seperti ini. Kami akan berlari kemari tanpa berfikir” kini sooyoung membuka suara.

Taeyeon hanya terkekeh mendengar apa yang mereka katakan. Ia mencoba mencari keberadaan tiffany, namun matanya tidak bisa menangkap sosok itu. Mungkin gadis itu berdiri dipaling belakang.

“Geurae masuklah” taeyeon mempersilahkan mereka untuk masuk. Satu persatu mereka masuk kedalam hingga akhirnya mata taeyeon bisa menangkap gadis yang ia cari sejak tadi.

Taeyeon tercengang melihat betapa cantiknya tiffany saat ini. Jantungnya kini berdegub kencang melihat sosok itu. Ia tak bisa menyangkal bahwa gadis ini memang cantik sejak awal. Mungkinkah tiffany sebenarnya adalah seorang malaikat? Dia melebihi kata sempurna.

11326169_164117943927202_97016548_n-1

Tiffany berjalan mendekat kearah taeyeon sambil tersenyum canggung. Ia malu sekarang, dia baru saja berbohong bahwa taeyeon berniat mengundang yang lain namun ya.. Bla bla bla.

“Aku tidak pernah berkata seperti itu. Kapan ya?” taeyeon mulai mengeluarkan suaranya setelah berhasil menyadarkan dirinya. Ia sedang menggoda tiffany sekarang.

Tiffany hanya bisa menunduk malu. Ia terus merutuki kebodohannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada taeyeon.

“M-mian” hanya itu yang mampu tiffany katakan.

Taeyeon terkekeh lalu mengangkat dagu tiffany agar menatapnya.

“Kenapa minta maaf? Kau tak salah apapun. Aku memang berniat mengundang mereka” taeyeon tersenyum menenangkan tiffany yang terlihat sangat menyalahkan dirinya.

“YA! Apa yang sedang kalian lakukan? Aku benar-benar sudah lapar” teriak sooyoung.

“Ayo masuk” ajak taeyeon pada tiffany.

“Aku kira kita kekurangan satu orang, dimana yuri?” tanya taeyeon saat matanya tak menemukan orang itu.

“Dia sibuk, mempelajari dokumen-dokumen perusahaan” jawab jessica.

“Arasseo, kalian bisa mengobrol sambil menungguku selesai memasak. Tak perlu membantu, aku akan menyelesaikannya dengan cepat”

Mereka terus mengobrol dengan asyik seperti yang taeyeon pinta. Bahkan mereka tertawa keras mendengar lelucon si tiang. Namun ada satu orang yang hanya diam. Ia hanya terfokus memperhatikan gadis yang sedang memasak itu, sesekali ia ikut tertawa meski ia tak tau apa yang sedang mereka tertawakan .

Ia memperhatikan taeyeon dari atas sampai bawah. Ia memakai kaos putih dan dipadukan dengan celana jeans biru. Sangat sederhana namun tetap terlihat memukau dipandangannya

tumblr_nrc3n6kec91sewbc1o1_500

*anggap aja bando itu kaga ada ya,hhe.. bayangin baju itu yang lagi taeyeon pake..

Namun ada satu yang mengganggu pandangannya, taeyeon nampak semakin kurus, mungkinkah karena taeyeon memiliki banyak pikiran? Mungkinkah karena ia tinggal sendiri sehingga tidak ada yang mengingatkannya makan?

“Selesaii~” ucap taeyeon sambil membawa masakannya dengan nampan.

Mereka terlihat antusias melihat apa yang taeyeon buat. Ini seperti makan siang besar-besaran. Dari mana taeyeon memiliki uang untuk membeli bahan-bahan untuk masakan ini? Itulah yang ada dipikiran mereka sekarang.

Ada rolled omelet, bulgogi, yangnyeom tongdak, japchae dan yang paling penting adalah kimchi. Mereka semua menatap makanan itu sambil meneteskan air liur, mencium wanginya saja sudah menggiurkan apalagi memakannya? Pasti daebakk!!

“Wow.. Kau memasak sebanyak ini dan kalian berniat memakannya berdua?” ucap jessica sambil menjilat bibir bawahnya.

“Eii, bukan begitu. Aku memang berniat mengajak kalian. Tapi kalian sudah datang lebih dulu. Aku memasak ini untuk kalian” taeyeon berkata setenang mungkin, ia sedang memakai topengnya sekarang.

Sebenarnya ia memang memasak ini untuk tiffany. Entahlah ia tidak mengingat teman-temannya, yang ada dipikirannya ia hanya ingin memasak sesuatu yang spesial untuk tiffany.

“Ayo makan semua” taeyeon mengalihkan pembicaraan.

“Taeyeon-ah” panggil tiffany menepuk tempat disebelahnya meminta taeyeon untuk duduk disampingnya. Tiffany sengaja sejak tadi menyimpan tas yang ia bawa disampingnya untuk menempati tempat kosong itu untuk taeyeon. Dengan senang hati taeyeon duduk disamping tiffany.

Makan siang mereka kini telah dimulai, mereka sangat menyukai masakan taeyeon yang seperti seorang chef. Sambil memakan makan siang mereka juga berbincang dan tertawa terutama melihat kelakuan sooyoung dan yoona yang terkadang melewati batas normal manusia.

Taeyeon juga terlihat menikmati makanannya walau dia baru memakan makannya 3 suap, ia terus kesana kemari melayani temannya seperti membawa minuman dingin, menambahkan porsi kimchi dan sebagainya meskipun begitu ia melakukannya karena keinginannya sendiri sebagai tuan rumah. Tiffany yang melihat itu merasa terganggu, saat taeyeon akan kembali berdiri tiffany menahannya dan membuat taeyeon duduk kembali.

“Wae?” tanya taeyeon.

“Berhantilah kesana kemari, ini sudah cukup tae” Lalu tiffany mengambil daging bulgogi dan menyimpannya diatas nasi taeyeon.

“Makanlah” tiffany berkata sambil tersenyum manis membuat taeyeon gugup.

“E-eoh, gomawo” taeyeon dengan senang hati memakannya. Lalu tiffany kembali mengambil japchae dan menyimpannya diatas nasi taeyeon membuat taeyeon menatap tiffany.

“Makan yang banyak” tiffany berkata tanpa bersuara. Taeyeon mengangguk tersenyum.

Taeyeon mengambil bulgogi berniat akan memberikannya pada tiffany namun pergerakkannya terhenti saat sesuatu berhasil menarik perhatiannya. Paha putih nan jenjang tiffany sangat terekpos, ditambah dengan posisi duduk mereka yang dilantai dan ia yang duduk disebelahnya semakin membuat taeyeon bisa melihatnya dengan jelas. Ia bisa merasakan wajahnya yang memanas dan jantungnya kini berdegub kencang pula.

‘Mengapa aku seperti ini? Oh tuhan, itu terlalu jelas’ ucap taeyeon dalam hati.

Taeyeon mengalihkan pandangannya dan berusaha menyadarkan dirinya. Namun matanya sesekali melirik.

‘OH TUHAN MENGAPA AKU JADI SEPERTI INI?!! AKU SEPERTI SEORANG MATA KERANJANG!’ teriak taeyeon dalam hati.

‘Ini bukan salahku. Ini salahnya yang memakai rok sependek itu!’

“TAEYEON!”

“Gabjagi!!” teriak taeyeon karena mendapat teriakan dari teman-temannya.

“Ya! Apa kau melamun? Kami memanggilmu sejak tadi” ucap sunny.

“M-mian hhe” taeyeon menggaruk lehernya yang tak gatal.

“Kami sudah selesai makan, bagaimana denganmu?” tanya sunny yang melihat nasi taeyeon masih banyak.

“Emm nado” jawabnya. Saat ia akan membereskan piring-piring yang ada dimeja seohyun menahannya.

“Tidak perlu. Kami yang akan membereskan semua unnie” ucap seohyun dan yang lainnya mengangguk.

“Gomawo” taeyeon tersenyum, merekapun mulai membereskannya.

Tiffany yang merasa ada yang tidak beres dengan taeyeon menggenggam tangan milik taeyeon, ia mengkhawatirkannya.

“Gwaenchana?”

“Ah ne, aku kekamar dulu” taeyeon bangkit dan masuk kedalam kamarnya meninggalkan tiffany dan yang lain.

“Aisshh jinja Taeyeon! Kau pasti gila” taeyeon berteriak tertahan saat ia sudah berada dikamarnya. Ia sering melihat banyak orang yang memakai rok atau celana pendek, tapi saat tiffany yang memakainya dan membuat pahanya terekpos itu sedikit membuatnya gila, bagaimana bisa anak polos seperti taeyeon bersikap seperti itu?

Tok tok tok

“Tae!” Taeyeon membalikkan tubunya dan sosok itu kini ada didepannya.

Tiffany POV

Aku masuk kedalam kamarnya dan kembali menutup pintunya. Aku memperhatikan kamar kecil ini. ada sedikit perubahan dan sedikit kosong namun juga sedikit berantakan. Beberapa baju, celana, kaos kaki, dan buku-buku berserakan dilantai.

“Aku kira kau orang yang rapi, tapi ternyata aku salah” ucapku sedikit terkekeh. Seketika wajanya terlihat memerah, dengan cepat ia mengambil pakaian yang berserakan dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya, ia juga merapikan buku-buku yang berserakan dengan asal.

“A-aku hanya tidak sempat. Aku sibuk mencari pekerjaan dan belajar” belanya, kurasa ia tidak ingin bercap wanita jorok hha.

“Pppfffttt. Arasseo, ekspresimu benar-benar lucu” ucapku sambil melihat-lihat meja belajarnya. Dan sesuatu berhasil menarik perhatianku. Sebuah cincin mainan berwarna menyerupai perak yang memiliki bentuk love. Seketika sebuah bayangan melintas didalam kepalanya.

Author POV

Author POV

“Saengil Chukae!!”

Tiffany melihat seorang wanita, gadis berumur 8 tahun, dan seorang pria yang membawa sebuah kue berkrim pink untuk dirinya. Namun ia tak bisa mengenal mereka, wajah mereka terlihat buram.

“Ayo tiup lilinnya sayang dan jangan lupa meminta permohonanmu” ucap seorang wanita.

Ia menuruti perkataan wanita itu untuk berdo’a lalu meniupnya..

Huff~

“Akh!” ringis tiffany sambil mencengkaram kepalanya. Taeyeon yang melihat itu segera melepaskan tangannya yang sedang memegang pakaian dan menghampiri tiffany.

“Pany-ah gwaenchana?” tanya taeyeon sambil menggenggam lengan tiffany.

Semua memberikan tepuk tangan. Dan mencium dirinya kecuali gadis yang berumur 8 tahun itu. Mereka memberikan sebuah kado, dengan segera tiffany membukanya.

“Wahhh Barbie!” antusiasnya saat membuka hadiah yang diberikan seorang pria itu padanya.

“TORORO!!!!! Hua~” ia semakin riang saat membuka hadiah satunya lagi yang ia tahu dari wanita itu.

Saat ia membuka hadiah yang ketiga senyumnya kini menjadi lenyap, ia tidak suka hadiahnya.

“Cincin plastic?” tanya tiffany. Gadis yang berumur 8 tahun itu hanya terkekeh memamerkan gigi ompongnya.

“Akh Appo!” lirih tiffany. Kini air matanya mulai keluar dari sarangnya tanpa hambatan, membuat taeyeon semakin khawatir.

“Tapi itu bukan cincin biasa. Cincin itu bisa mengabulkan semua keinginanmu M——“

“Benarkah? apa cincin ini bisa memberikan M—– Gummy bear?”

“Tentu saja, tara!!!!!!!” yeoja itu megeluatkan permen gummy bear dari sakunya.

“Hua~ Gomawo T——“ tiffany mencium gadis itu tepat dibibir membuat gadis itu terkejut.

“Hua~ kenapa kau menciumku dibibir?! Ciuman pertamaku!!!” kini gadis itu menangis, tiffany hanya diam tak mengerti kenapa gadis itu kini menangis. Sementara si pria dan wanita yang berada disana hanya tertawa melihat itu.

“Sudah-sudah jangan menangis” ucap pria itu lalu menggendong gadis itu.

“Tiffany sadarlah! Waegeurae?!”

Seketika tiffany membuka matanya mendengar suara taeyeon yang sedikit meninggi. Ia menatap taeyeon yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Perlahan cengkeraman tiffany dikepalanya melemas menuruti tangan taeyeon yang menuntunnya untuk turun.

Taeyeon menggenggam tangan kanan tiffany dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus pipi tiffany menghapus jejak air mata itu.

“Waegeurae? Katakan apa yang sakit”

Tiffany tidak menjawab dan memeluk taeyeon sambil kembali menangis.

Brakk!!

“Taeyeon, tiffany?!”

Terlihat sahabat-sahabatnya kini ada didepan pintu kamar taeyeon karena mendengar suara tinggi taeyeon dan tangis tiffany. Jessica segera menghampiri tiffany.

“Tiff, waegeurae?” tanya jessica. tiffany tidak menjawab dan hanya mengeratkan pelukannya pada taeyeon.

Sejujurnya tiffany juga tak tahu kenapa dirinya seperti ini, bayangan itu kembali muncul. Sebenarnya apa itu dan siapa orang-orang itu terutama gadis yang berusia sekitar 8 tahunan itu, yang ia tahu gadis itu adalah gadis yang pernah muncul dikepalanya saat ia berada dicafe tempat taeyeon bekerja beberapa waktu lalu.

Mungkinkah itu adalah kenangan masa lalunya sebelum ia hilang ingatan karena kecelakaan itu? ia hanya ingin menangis dengan keras saat ini, entah mengapa rasanya hatinya seperti ingin menjerit.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba ia kesakitan sambil memegang kepalanya” jelas taeyeon.

“Kita harus menghubungi daddy hwang” ujar jessica namun tiffany menahan jessica dengan memegang tangannya dengan lemah. Ia menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya butuh istirahat” jelas tiffany dengan lemah.

“Baiklah, kajja” jessica membangunkan tiffany dibantu dengan yang lain, sementara taeyeon ia menggelar Kasur miliknya untuk tiffany pakai beristirahat.

“Kajja istirahat, aku akan menemanimu. Kalian semua tunggu diluar” ujar jessica saat tiffany sudah duduk dikasur yang taeyeon gelar.

Saat mereka mulai berjalan keluar dari kamar, suara tiffany menghentikan mereka terutama taeyeon.

“Tae” panggil tiffany.

“Ne?” taeyeon membalikkan tubuhnya menghadap tiffany.

“Bisakah kau yang menemaniku?”

“E-eoh, geurae” taeyeon mendekati tiffany sementara jessica dan yang lainnya kini keluar dari kamar milik taeyeon.

Taeyeon duduk disamping tiffany, ia memperhatikan wajah itu terlihat sangat pucat. ia tak suka melihat tiffany seperti ini, hatinya ikut sakit melihat tiffany yang pucat dan lemas seperti sekarang ini. untuk beberapa saat mereka saling menatap, taeyeon merapikan rambut tiffany lalu setelah itu tangannya mendarat dipipi tiffany mengelusnya dengan lembut.

“Gwaenchana? Tidakkah seharusnya kita menghubungi daddymu atau pergi kerumah sakit?” tiffany tersenyum lemah dan menggenggam tangan taeyeon yang berada dipipinya.

“I’m really good, don’t worry” taeyeon mengganggukkan kepalanya mempercayai jawaban tiffany.

“Geurae, tidurlah kau harus istirahat”

Tiffany membaringkan tubuhnya sambil memperhatikan taeyeon yang menyelimutinya dengan perhatian.

“Bisakah kau ikut berbaring bersamaku? Aku butuh sebuah pelukan sekarang” pinta tiffany. Taeyeon hanya menggangguk sebagai jawaban.

Taeyeon membaringkan tubuhnya disamping tiffany namun pergerakkan tiffany berhasil membuatnya hampir terkena serangan jantung. Ia memposisikan pundak milik taeyeon sebagai bantal lalu memeluk taeyeon.

“Tadi aku melihat masa laluku didalam kepalaku. Disana ada pasangan pria dan wanita yang tampak sudah menikah, dan juga ada seorang gadis kecil yang sedang merayakan ulang tahunku”

“Tapi aku tidak tahu siapa mereka, aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas”

“Mungkin mereka adalah daddy dan mommy-mu” jawab taeyeon.

“Lalu siapa gadis kecil itu?”

“Mungkin teman masa kecilmu?”

“Benarkah? Aku sangat ingin mengingat semua kenangan masa kecilku dulu. Tapi aku tak bisa mengingat itu semua. Saat umurku menginjak 5 tahun aku dan mommy mengalami kecelakaan” taeyeon hanya diam mendengarkan apa yang tiffany coba katakan padanya.

“Dan saat itu Tuhan mengambil mommy, hanya aku yang berhasil selamat namun aku harus kehilangan kenangan masa kecilku, aku kehilangan kenangan saat bersama mommy. Seberapa keras aku mencoba mengingatnya tetap tidak bisa. Tapi akhir-akhir ini dikepalaku mulai muncul sekelebat bayangan, hari ini adalah yang kedua kalinya. Setiap bayangan itu muncul kepalaku selalu berakhir sakit”

Taeyeon kini mengerti mengapa tiffany tampak kesakitan seperti tadi, itu semua karena tiffany teringat akan potongan masa lalunya.

“Kau pasti akan mengingat semuanya kembali pany-ah, tapi dengan perlahan jangan memaksakan dirimu” ucap taeyeon menyemangati tiffany.

“Gomawo” tiffany mengeratkan pelukannya.

“Tidurlah, jangan banyak bicara kau perlu istirahat” taeyeon membalas pelukan tiffany dengan mengelus-elus kepala tiffany.

.

.

“Bagaimana? Dia sudah tidur?” tanya jessica saat taeyeon keluar dari kamarnya.

“Ne”

“Tapi sebenarnya ada apa dengannya?” tanya yoona.

“Dia bilang ia mengingat potongan kenangan masa kecilnya karena itu kepalanya terasa sakit” jelas taeyeon.

“Mwo? Jinja? Tapi bukankah dia kehilangan ingatannya secara permanent?” bingung jessica yang sebenarnya berbicara dengan diri sendiri, tapi bagaimanapun juga jessica berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar semuanya.

“Apa maksudmu jess? Tiffany kehilangan ingatannya secara permanent?” tanya sooyoung mewakili dirinya dan yang lainnya yang penasaran.

“Sebenarnya saat tiffany kecil ia dan mommy-nya mengalami kecelakaan. Mommy tiffany meninggal saat ia sampai dirumah sakit dan tiffany berhasil diselamatkan tapi ia kehilangan ingatannya. Daddy hwang bilang tiffany kehilangan ingatannya secara permanent” jelas jessica pada yang sahabatnya yang kini mulai mengerti. Mereka tidak menyangka bahwa tiffany memiliki masa lalu yang cukup mengenaskan seperti itu.

“Itu bisa saja terjadi unnie jika Tuhan yang berkehendak” kini seohyun memberikan pendapatnya.

“Hyunie benar, bukankah bagus jika tiffany bisa mengingat kembali” ujar sunny.

“Ya itu memang bagus, tiffany sudah sangat lama ingin kembali mengingat masa saat ia bersama mommy-nya”

“Baiklah bagaimana jika kita bermain sesuatu yang menyenangkan sambil menjaga tiffany?” usul yoona.

“Ide bagus” mereka menyetujui usul yoona dan mulai bermain.

.

.

Seorang pria paruh baya kini berjalan dengan lemas berniat untuk menemui sang pujaan hati hingga saat ini. pria itu memasuki sebuah ruangan yang berisi guci-guci yang disimpan dalam kotak kaca seperti lemari.

“Bagaimana kabarmu sayang? Aku sangat merindukanmu” pria itu mengelus kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dan pujaan hatinya itu.

“Aku juga merindukan putri kita, apa kalian sedang bahagia disana sekarang?” kini pria paruh baya itu meneteskan air matanya.

“Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku. Maaf karena aku tidak bisa melindungi putri kita” ia semakin terisak akan rasa bersalahnya. Itulah yang selalu pria itu katakan ketika ia datang untuk menjeguk sang pujaan.

“Kumohon jangan pernah maafkan aku. Saranghae Yeobo” pria itu menghapus air matanya dan menatap sebuah foto yang ada disamping sebuah guci.

.

.

“Aku bosan dan lapar” rengek sooyoung.

“Nado” yoona ikut merengek.

“Dasar duo shikshin. Berhenti merengek seperti bayi. Kalau kalian lapar beli sesuatu saja sana!” sinis sunny yang kesal mendengar rengekkan duo shikshin nan ceking itu sejak tadi.

“Geurae kalau begitu ayo kita minum soju dan makan ayam!” sooyoung berkata dengan semangat.

“Kau gila?! Kita disini sedang menjaga tiffany dan kau malah ingin mabuk?” ketus jessica.

“Ini sudah pukul 8 pm, sudah 4 jam dia tertidur. Sampai kapan kita hanya diam seperti tak bernyawa seperti tadi. Lagipula ada taeyeon yang anti minum disini” bela sooyoung.

“Setuju” sunny kini setuju. Udara dirumah taeyeon terasa sangat dingin karena tak ada penghangat ruangan disini, ia rasa mereka membutuhkan soju untuk menghangatkan dirinya dan yang lainnya.

“Nado” kini seohyun juga berfikiran yang sama seperti sunny. Dan akhirnya yoona pun ikut setuju. Dan hasil suara kini dimenangkan oleh sooyoung si tiang. Jessica hanya menatap mereka dengan dingin dan kesal membuat mereka semua merinding.

“A-aku akan keluar membelinya” sooyoung mencoba menghindar dari hellsica.

“A-aku ikut” ucap yoona yang takut pula dengan hellsica.

“Nado!!” teriak sunny dan seohyun. Mereka tidak ingin mati membeku karena si ice princess itu. Kini diruangan hanya ada taeyeon dan jessica.

“Jessica”

“Emm” jessica menolehkan wajahnya menatap taeyeon yang memanggilnya.

“Aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan oppa tiffany beberapa hari lalu saat makan malam itu” seketika jessica merasa tubuhnya menegang, mungkinkah yang dimaksud taeyeon mengenai perasaan siwon pada tiffany?

“Mengenai perasaannya pada tiffany” lanjutnya

“……………………”

“Sampai kapan kau akan menyembunyikan ini? bukankah lebih baik jika dia tahu”

“Tidak bisa, itu hanya akan membuatnya terbebani. Kau pikir bagaimana perasaannya jika dia tahu? Akan lebih baik jika siwon oppa yang lebih dulu menyerah”

“Lalu bagaimana jika dia tidak mau berubah dan rasa cintanya semakin besar?”

“Karena itu aku sedang berusaha untuk membuat hal itu tidak terjadi. Mengapa aku dan dia pindah dari rumah daddy hwang, menghalangi mereka jika mereka terutama siwon berbicara dengannya, itu semua ada salah satu rencanaku. Cinta tumbuh karena kita sering melihat sosok itu, jika ia jarang bertemu dengan sosok itu, aku rasa mungkin itu akan sedikit demi sedikit mengikis perasaannya”

“Dan juga aku harap dia segera membuka hatinya dan kembali mempunyai kekasih. Itu adalah cara yang paling ampuh agar pria itu melupakannya”

Taeyeon POV

Deg

‘Kekasih?’

Apa harus dengan cara itu? Hatiku terasa sakit membayangkan kelak ia akan memiliki seorang kekasih yang bisa menggenggam tangannya, memeluknya dan mungkin menciumnya. Ini benar-benar menyesakkan. Membayangkan bahwa sosok itu bukanlah diriku. Mungkin sampai matipun sosok itu takkan berubah menjadi diriku.

“Kau yakin itu akan berhasil?” tanyaku.

“Setidaknya kita harus mencoba, jika itu tidak berhasil aku akan mencari cara lainnya”

“Aku akan membantumu” jessica membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Saat kami bersama dan pria itu datang aku akan mencoba membatasi mereka, dan juga-“ sejenak aku menghentikan perkataanku.

“Aku-aku akan mencoba mencari tahu siapa pria yang ia sukai dan membantunya untuk bersama” lanjutku setelah aku menarik nafas.

Aku harus mulai merelakan dirinya, aku hanya perlu membuat dirinya bahagia meski hatiku menangis. Kau bisa melakukannya taeyeon. Jangan mengharapkannya lagi. Sejak dulu apapun yang aku inginkan tak pernah terkabul yang ada justru sebaliknya, karena itu cukup sampai disini mengenai perasaanmu itu Kim Taeyeon.

Aku harus merelakannya

.

.

Tiffany POV

“Hahahaha Ayo kita bermain lagi”

“Baiklah akan kupastikan aku akan membalasmu!”

“Berhenti berteriak kau akan membangukan tiffany”

Hmm~” perlahan kubuka mataku dan bangun dari posisi berbaringku. Kuedarkan kepalaku.
Ahh~ ternyata aku masih disini, dikamar taeyeon.

“Baiklah, hana dul set!”

“Kalian benar-benar gila”

Mereka terdengar seperti sedang asik diluar sana membuatku penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan. Aku segera bangkit dan membuka pintu kamar, mataku membelalak melihat soo, yoong, sunny, hyunie dan Jessie sedang meminum soju digelas dan meminumnya dengan sedotan kecil, apa mereka sudah gila? Meminumnya dengan sedotan? Yang benar saja. Namun sosok yang selalu berhasil mengunci pandanganku itu yang sedang terdiam memperhatikan mereka yang sedang meminum soju dengan cara yang aneh. Ia segera menghampiriku begitu menyadari aku yang sedang berdiri diambang pintu kamarnya.

“Kau sudah bangun? Merasa lebih baik?” tanyanya. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.

“Suara mereka pasti membuatmu bangun, mian”

“Anya, lagipula aku sudah cukup lama tidur”

Author POV

“I win!!!!!!!” teriak sooyoung sambil mengangkat kepalan tangannya.

“Oh no!!!” teriak yoona prustasi karena ia kini kalah.

“O-tiff ayo bergabung” ajak sunny yang sedikit mabuk, lebih tepatnya mereka semua sudah mulai mabuk sejak 1 jam yang lalu.

“Ne” jawabnya.

“Kau yakin? Kau sedang tidak sehat sekarang. Aku tak bisa mengijinkamu” cegah taeyeon.

“Arasseo, aku hanya akan duduk dan bergabung dengan mereka seperti yang kau lakukan”

“Tanpa alcohol oke?” tanya taeyeon memastikan.

“Oke”

Tiffany pun bergabung dan duduk disamping taeyeon.

“Baiklah, aku ingin….emm” terlihat Sooyoung sedang berfikir dengan otak yang sudah mulai terkuasai oleh alcohol.

“Apa yang sedang mereka lakukan tae?” tanya tiffany.

“Bermain permainan yang diusulkan sooyoung. Berlomba meminum soju digelas dengan sebuah sedotan kecil, yang lebih dulu menghabiskannya adalah pemenangnya dan yang kalah harus mengabulkan permintaan si pemenang” jelas taeyeon sambil terkekeh.

“Aha!! Ya! Im Yoona!” panggil sooyoung dengan nada tinggi, ia baru saja mendapat ide. Dan targetnya adalah si mata rusa. Yoona yang merasa terpanggil merasa bulu kuduknya berdiri, perasaanya tidak enak melihat sooyoung memanggilnya seperti itu ditambah dengan smirk jahatnya.

“Neo! Kau selalu mencuri makanan milikku! Rasakan pembalasanku malam ini! aku ingin menamparmu… dengan bokongku hahahaha” semua yang mendengar permintaan sooyoung tertawa kencang begitupun dengan taeny. Mereka tak bisa membayangkan nasib yoona yang sedang menganga tak percaya dengan permintaan sooyoung.

“Hua~~ eomma appa tolong aku!!” teriak yoona sambil menangis, yang lain bukannya membantu malah semakin menertawakannya.

.

.

“Akhirnya~ thanks god” syukur jessica yang akhirnya bisa memenangkan games kali ini.

“Targetku adalah kau!” jessica menunjuk tiffany yang terbelalak.

“Aku? tapi aku tidak ikut dalam permainan” sanggah tiffany, ia merasakan aura yang tak baik. Mungkin saja jessica akan melakukan hal buruk padanya karena selama ini ia selalu membuatnya kesal.

“Tapi kau bergabung disini” jawab jessica dengan lemas karena sudah mulai mabuk.

“Eoh, jessica unnie benar” bela seohyun.

“Sudahlah ikuti saja permainannya, hmm?” kini taeyeon ikut membela jessica membuat tiffany kesal.

“Aku tidak akan melakukan hal kejam, aku hanya akan bertanya dan kau hanya perlu menjawabnya dengan jujur” ujar jessica agar tiffany menyetujuinya.

“Janji? Kau hanya akan bertanya saja?” tanyanya memastikan kerena perasaannya masih terasa tidak aman.

“I’m promise”

“Baiklah, emmm .. Beritahu aku siapa orang yang kau sukai itu”

“Mwo? Ya! Sudah aku bilang tak ada. Kenapa kau terus memaksaku?!” kesal tiffany. Sejujurnya ia sangat terkejut dengan pertanyaan yang jessica ajukan, sampai kapanpun ia tak mungkin bisa memberitahu jessica ataupun yang lainnya bahwa dirinya menyukai gadis yang ada disebelahnya itu.

“Kau sudah berjanji akan menjawab dengan jujur tiff, dan kau sedang berbohong sekarang” bela sunny setengah sadar.

“Jadi benar kau sedang menyukai seseorang? Ya atau tidak?” tanya jessica.

Tiffany menutup matanya sejenak, ia menyesali keputusannya untuk menerima permainan ini. Perlahan ia membuka matanya kembali dan menatap teman-teman yang ada didepannya satu persatu setelah itu ia menatap taeyeon yang sedang memandangnya seperti yang lainnya namun dengan ekspresi yang menurutnya sedikit aneh. Ia tak bisa menebak ekspresi apa itu.

“Ya” jawab tiffany masih dengan menatap taeyeon yang juga sedang menatapnya.

“Jadi siapa dia?” tanya jessica

“…………………………”

“Setidaknya berikan kami ciri seperti apa dia jika kau tidak bisa menjawabnya dan inisialnya” ujar jessica karena tak mendapat jawaban dari tiffany.

“Dia orang yang sangat baik, ramah dan pintar. Tatapannya sangat meneduhkan dan membuatku nyaman. Dia juga selalu memperlakukanku dengan sangat baik dan perhatian. Dia memang tidak setampan seorang pria lainnya. Tapi aku menyukainya, aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Aku-“

Taeyeon maupun tiffany masih menatap satu sama lain, mendengar penjelasan tiffany mengenai orang yang sedang ia sukai membuat hati taeyeon teriris. Meski ia sedang berusaha melepaskan perasaannya tapi ini masih terasa menyakitkan mendengar bagaimana tiffany menggambarkan orang itu.

“Aku tidak bisa menghindari kenyataan bahwa aku mencintainya, sangat”

Taeyeon mengakhiri tatapannya dengan memalingkan wajahnya saat merasa matanya mulai memanas. Air matanya terus meronta ingin keluar, namun sekuat mungkin ia menahannya dengan senyuman kecil diwajahnya.

“Kau belum memberitahu kami inisial pria itu” taeyeon kini membuka suaranya. Ia kembali menatap tiffany dengan senyuman diwajahnya, ia berhasil memasang topengnya. Tiffany terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menjawab dengan lirih.

“Kim. Dia bermarga Kim”

“Huhhh! Akhirnya dia mengungkap juga. Baiklah ayo lanjutkan” ujar sooyoung.

“Aku bergabung” ucap taeyeon.

Seketika semuanya menatap taeyeon dengan ekspresi terkejut dan juga tak percaya. Taeyeon bilang kalau ia bergabung? Kim taeyeon akan ikut minum dan mabuk?

“Wae?” tanyanya yang mendapat tatapan aneh dari teman-temannya.

“Kau serius?” tanya sunny

“Tentu saja. Aku sudah pernah minum bersama yuri. Jadi berhenti menatapku seperti itu dan kita mulai saja”

Taeyeon merasa dirinya membutuhkan alcohol untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang masih terasa sakit. Ia ingin melupakan apa yang tiffany katakan tadi, hanya malam ini ia ingin melupakan itu. akan lebih baik jika ia ikut bermain dan berharap akan melupakannya sejenak.

Akhirnya mereka kembali melanjutkan permainan mereka hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 12.58 am dan merekapun kini sudah mulai sepenuhnya termakan alcohol, bahkan jessica, seohyun dan yoona sudah tak sadarkan diri, hanya tiffanylah satu-satunya yang memiliki kewarasan.

“Yeayy!! Akhirnya!” teriak sunny senang karena memenangkan permainan.

Hahh~ aku sangat menyukai drama Descendant Of The Sun, aku ingin kalian berdua memerankan salah satu adegan disana. Terutama yang romantis” ujar sunny menunjuk dua orang yang duduk didepannya. Ia berkata dengan lemah bahkan matanya sudah terlihat berat.

“Mwo? Shirheo! Kau sudah benar-benar mabuk. Kita hentikan saja” ujar tiffany. Ia tak mau ikut permainan itu lagi.

“Ya!” teriak sunny lalu tertidur dengan kepalanya yang bersandar dimeja, begitupun sooyoung yang ikut membaringkan kepalanya kemeja mengikuti sunny yang sudah kealam mimpi.

“Baiklah, kajja pany-ah” taeyeon berdiri sempoyongan sambil memegang tangan tiffany agar ikut bangun bersamanya. Ia menyetujui keinginan sunny.

“Tae kau sudah mabuk hentikan saja” ujar tiffany sambil menyanggah tubuh taeyeon yang hampir jatuh karena linglung dari alcohol.

“Any, kajja” taeyeon menarik tiffany agar mengikutinya namun pergerakkan taeyeon membuat tiffany terkejut bukan main, taeyeon baru saja membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba membuat tiffany menabrak tubuh mungil itu.

Tiffany bisa merasakan wajahnya yang memanas karena jarak mereka yang melebihi kata dekat. Taeyeon sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kajima” ucap taeyeon.

“Ne?”

“Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain. Hatiku sangat sakit seperti sebuah bom yang mendarat dan menghancurkan seluruh hatiku membayangkan kau bersamanya”

“……………..”

“Tak bisakah kau menjadi milikku saja?”

Tiffany merasakan jantungnya yang berdegub kencang mendengar setiap kata-perkata yang keluar dari bibir itu. Ucapan taeyeon terdengar nyata seolah ia berbicara dengan hati terdalam.

Tangan taeyeon terangkat merapikan rambut milik tiffany lalu mendarat dipipi tiffany mengelusnya lembut dengan ibu jarinya, dan saat itulah bulir-bulir air mata itu turun membasahi pipi mulus taeyeon.

“Taeyeon-“

“Saranghae”

Chuu~

Tiffany membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang sedang terjadi sekarang, taeyeon menciumnya. Entah apa yang ia rasakan sekarang namun jantungnya semakin berdegub kencang melebihi kapasitasnya. Ada perasaan senang dan sedih dalam waktu bersamaan. Senang karena taeyeon mengatakan bahwa ia mencintainya dan sedih karena ia tak tahu apakah ini adalah kenyataan ataukah hanya sebuah akting seperti yang sunny minta. Tapi dalam drama DOTS tak ada adegan seperti ini..

Taeyeon hanya menempelkan bibirnya sebelum akhirnya ia mulai melumat bibir tiffany sambil melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu untuk membawanya lebih dekat. Tiffany mulai terbuai akhirnya menutup matanya dan membalas ciuman itu, ia mencengkeram pakaian taeyeon menikmati ciuman itu. Mereka terus membalas satu sama lain dengan lembut.

Dirasa membutuhkan udara, taeyeon melepas ciuman mereka dan menatap tiffany dengan sayu. Tatapan itu menghipnotis untuk semakin mencintai sosok itu. mereka terengah satu sama lain.

“Kau milikku” lirih taeyeon, lalu menggendong tiffany membawanya menuju kamarnya.

Ia menurunkan tiffany dikasur dan membaringkannya. Tiffany hanya bisa diam membiarkan apa yang taeyeon lakukan padanya, ia merasa lemah tak berdaya pada sosok itu.

‘Mungkinkah aku akan melakukannya malam ini bersamanya?’ tanya tiffany dalam hati. Ia merasa gugup.

Taeyeon sedang berada diatasnya sekarang, wajah mereka sangat dekat membuat tiffany semakin gugup.

“Goodnight” lirihnya lalu mencium kening tiffany. Taeyeon memeluknya dari belakang, tiffany bisa merasakan kening taeyeon yang bersandar pada pada lehernya.

Huff~

Tiffany hanya bisa bernafas lega karena apa yang dipikirannya ternyata salah. Ia mengelus tangan yang melingkar diperutnya. Senyumnya melebar mengingat kejadian tadi.

“Goodnight tae” ujar tiffany lalu memejamkan matanya.

***

Minggu, 2 maret 2014

Taeyeon POV

Cuitt cuiitt

Suara burung yang sedang bernyanyi sangat terdengar jelas ditelingaku, mereka bernyanyi dengan sangat merdu membuatku semakin nyenyak dalam tidurku, kepeluk erat guling yang sejak awal sudah ada dalam pelukanku itu, namun sesuatu berhasil mengusikku. Guling ini bentuknya sangat aneh dan tidak seempuk guling pada umumnya.

Kuraba dan tanganku mendarat tepat disebuah gundukan. Sejak kapan guling memiliki gundukkan seperti sesuatu yang aku punya?

Emm~

Bahkan guling tidak bisa mengerang, tapi- tunggu ..

Sejak kapan aku punya guling?

Dengan cepat aku membuka mataku dan bangkit menjauhkan diri dari guling yang tak pernah aku miliki.

“Akh” ringisku saat merasakan sakit dikepalaku. Aku bahkan merasa mual. Ah-guling itu …

Kuarahkan kepalaku menatap sesuatu yang aku anggap guling itu. Disana seseorang sedang terbaring memunggungiku, kuperhatikan rambutnya, pakaiannya dan rok mininya.

“Tiffany?” lirihku mengenal pakaian yang ia kenakan.

Tiba-tiba rasa sakit dikepalaku kembali muncul dan-

“Kajima”

“Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain. Hatiku sangat sakit seperti sebuah bom yang mendarat dan menghancurkan seluruh hatiku membayangkan kau bersamanya”

“Tak bisakah kau menjadi milikku saja?”

“Saranghae”

Chuu~

“Kau milikku

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, hampir saja aku menjerit mengingat kejadian semalam. Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan?!! Ini benar-benar memalukan, apa yang harus aku katakan padanya nanti? Bagaimana jika dia marah dan membenciku, aku sudah menciumnya dan mengatakan ha-hal yang tidak etis untuknya!! Seharusnya aku tidak minum, kenapa aku tidak berfikir sejauh ini?

Kusentuh bibirku dan senyum kecil menghiasi bibirku. Aku tak bisa membohongi diriku bahwa ada perasaan senang dalam hatiku karena aku bisa merasakan bibir manis miliknya, rasanya memang benar-benar manis tapi bagaimana dengannya? Aku mengusap wajahku dengan kasar lalu bangkit keluar dari kamarku. Aku perlu menenangkan pikiranku dan mencari alasan untuk menjelaskan semua padanya

.

.

Author POV

Matahari kini semakin semakin meninggi menaiki singgasananya membuat pancaran sinar yang dimiliknya menyinari seluruh penjuru bumi, sinar itu bahkan menembus sebuah kamar kecil dan mengganggu penghuninya yang sedang terlelap dalam tidurnya.

Emmm~” erang sosok penghuni kamar itu. ia mengejap-ejapkan matanya untuk menyesuaikan matanya yang baru saja terbuka dari alam mimpinya. Ia terdiam mencoba mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya hadir dan saat itulah kejadian semalam kembali terlintas dikepalanya.

Tiffany POV

‘Saranghae’

Chuu~

‘Kau milikku’

Mukaku memanas begitu teringat kejadian semalam, bagaimana ia mengatakan saranghae dan mencium dan melumat bibirku. My first kiss..

Bibir yang selalu menghipnotisku untuk merasakannya kini telah kurasakan, sangat lembut dan membuatku serasa ketagihan, seperti sebuah ganja yang membuat orang yang merasakannya ketagihan dan menjadi ketergantungan.

Kutolehkan kepalaku kesamping untuk melihat gadis itu, namun dia tak disana. Hanya ada aku sendiri disini. Dimana dia? Aku harus meminta kepastian mengenai semalam, apakah itu semua hanyalah acting atau kenyataan.

Aku segera bangkit dan keluar dari kamar ini.

“Gabjagi!” teriak sosok itu yang berdiri tepat dipintu kamar miliknya sambil mengelus-elus dadanya yang masih terasa kaget. Kulihat teman-teman yang lain masih terlelap dalam tidurnya diruang tengah. Ini kesempatanku untuk bertanya padanya.

“Taeyeon mengenai semalam-“

“Maafkan aku!” ia memotong ucapanku dengan ucapan maafnya, mengapa ia meminta maaf?

Kulihat ia menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengepal, ia juga menggingit bibir bawahnya. Apa maksud permintaan maafnya karena kejadian semalam?

“Maaf untuk apa?” tanyaku ragu, aku hanya ingin memastikan bahwa pemikiranku benar atau salah.

“Mengenai semalam-kau tahu aku sedang dalam keadaan mabuk, jadi aku benar-benar minta maaf. Kuharap kau tidak salah paham dan berfikir yang tidak-tidak padaku”

Salah paham?

Berfikir yang tidak-tidak?

“Saat mabuk kita tidak bisa mengontrol diri kita bukan? Jadi sekali lagi maafkan aku. Kuharap kau bisa melupakan kejadian semalam, lagipula itu hanya games” ia kembali menunduk setelah mengatakan itu. ia terlihat sangat menyesali perbuatannya.

Hatiku sakit, ia seperti sedang meremas hatiku hingga tak berwujud. Apa dia benar-benar menyesali kejadian semalam? Padahal aku sangat senang dengan itu. Dia ingin aku melupakannya? Bagaimana bisa? Padahal hal itulah yang aku harapkan darinya, menyatakan cintanya padaku.

Cihh tiffany kau pasti sangat bodoh, bagaimana bisa kau berfikir bahwa dia akan benar-benar menyatakan cintanya padamu, dia gadis normal tidak sepertimu yang mencintainya. Mungkin kejadian semalam sangat memalukan menurutnya, karena itu ia ingin aku melupakannya. Ya benar seperti itu.

“P-pany-ah kenapa kau menangis?”

Menangis?

Kuusap pipiku dan benar, aku baru saja meneteskan air mataku tanpa kusadari. Mungkin karena ini terlalu menyakitkan untuk mengetahui fakta bahwa cintaku akan bertepuk sebelah tangan sampai kapanpun juga.

Aku tertawa saat itu juga, aku menertawakan diriku yang bodoh ini. kulihat ia menatapku dengan ekspresi terkejut karena melihatku tertawa.

“Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu tae, seperti yang kau katakan kalau itu hanya permainan. Tapi aku tak bisa melupakannya begitu saja. Aku akan menyimpan kenangan itu dalam persahaban kita. jika kau ingin melupakannya maka lupakan saja. Jangan memintaku untuk melupakannya”

“……………………”

“Aku harus pulang, ada beberapa tugas yang belum aku kerjakan”

Aku segera mengambil tasku yang tergeletak dekat meja, lalu keluar dari rumah itu mengabaikannya yang memanggilku. Aku harus pergi atau dia akan menyadari kesedihanku.

.

.

Selasa, 4 maret 2014

Author POV

Seorang yeoja terlihat berjalan dengan lemas menuju ruangan dimana seharusnya ia menimba ilmu, ia tak bersemangat. Suasana hatinya sedang dalam keadaan mendung seperti keadaan langit hari ini yang mendung seperti menandakan akan turunnya hujan. Saat ia sudah sampai ia melihat sebuah sepucuk surat diatas mejanya.

“Apa ini?” tanyanya pada diri sendiri, saat ini ruangannya masih kosong mengingat ini masih pagi. Yeoja itu membuka surat yang dikemas dengan amplop pink itu dan membukanya.

Dear, Tiffany Hwang

Inilah petemuanku denganmu. Saat pertama kali kita bertemu kau sangat menarik perhatianku. Kau memancarkan cahaya membuatku terpikat dan hanya bisa memandang kearahmu, dengan eyesmile yang kau miliki kau tersenyum padaku membuat jantungku berdegub kencang dan ingin melompat dari tempatnya. Dan sejak itulah aku selalu memikirkanmu. Perasaan rindu selalu menghampiriku setiap waktu dan hanya dengan melihatmu rasa rindu itu sedikit terobati.

Kupendam perasaanku dan hanya memperhatikan dirimu yang berada disekelilingku. Melihat senyum dan tawamu membuatku senang dan ikut tersenyum seperti orang yang tak waras. Sepertinya aku memang sudah jatuh sangat dalam untukmu.

Aku akan menunggumu pada jam istirahat diatap gedung kampus.

-Kim-

“Kim?”

‘Kim. Dia bermarga Kim’

“Mungkinkah ini taeyeon?” tebaknya ketika ia teringat bahwa ia pernah mengatakan siapa yang sedang ia cintai.

“Mungkinkah taeyeon menyadarinya?”

Tiffany tersenyum rasanya ia bisa gila jika memikirkan ini. Taeyeon baru saja mengiriminya surat pernyataan cinta dan memintanya keatap gedung kampus. Rasanya ia ingin waktu berjalan cepat hanya sampai jam istirahat, ia tak sabar ingin segera bertemu sosok itu, ia merindukannya.

Sudah beberapa hari sejak kejadian ciuman itu taeyeon tak pernah menghubunginya, ia bahkan tak membalas pesan juga mengangkat teleponnya membuat tiffany cemas akan sosok itu. Ketika dikampus taeyeon tak ikut berkumpul bersama saat jam-jam istirahat dengan alasan tugas inilah atau itulah. Saat tiffany datang kerumahnya sosok itupun tak ada dirumahnya.

Dan ia tahu, mungkin sosok itu sedang mempersiapkan hatinya untuk hari ini.

Tiffany menggigit jari telunjuknya sambil tersenyum malu memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Apa taeyeon akan menggenggam tangannya? Apa taeyeon akan menciumnya? Permikiran itu membuatnya malu bahkan ia bisa merasakan wajahnya yang memanas, ia yakin pipinya pasti sudah memerah sekarang.

Tiffany dengan segera membuka handphone canggihnya dan mengirim pesan untuk sosok itu.

To : Kim Boo~ :-*

‘Aku akan menemuimu diatap’

Send

.

.

Tiffany POV

“Ada pertanyaan?”

“……………..”

“Baiklah kalau tidak ada kita akhiri materi hari ini. Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya” ucap Dosen Kang lalu pergi.

Dengan gerakan cepat, aku segera membereskan barang-barangku. Aku tak ingin membuatnya menungguku. Setelah itu aku segera pergi ketempat dimana kami akan bertemu. Senyum tak luput dari wajahku sejak pagi tadi hingga sekarang. Aku tak sabar untuk bertemu dengannya.

Akupun telah sampai namun tak ada siapapun disana. Apa aku datang terlalu cepat? Geurae menunggu sebentar tak masalah. Apapun akan kulakukan untuknya.

Aku bersandar pada pagar pembatas sambil menikmati pemandangan dari atap. Ternyata kampus ini sangat luas, aku bisa melihat betapa luasnya dan besarnya kamus ini, gedung-gedung bertingkat berjajar. Kampus ini memang pantas menyandang kampus terbesar yang diminati banyak orang ditambah dengan akreditasi A dan kerjasamanya dengan bermacam-macam perusahaan.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang menyentuh pundakku, dia datang. Senyumku semakin merekah mengetahui kehadirannya, dengan segera aku membalikkan tubuhku dan saat itupun senyum cerahku memudar.

Dia bukan taeyeon.

Dia seorang namja, dia Kim Bum anak fakultas biologi.

Ia memberiku sebuah mawar merah sambil tersenyum cerah. Jadi surat itu bukan darinya?

“Maaf membuatmu menunggu, aku sangat senang kau bersedia datang kemari”

“……………….”

“Apa kau tidak ingin menerima bunga dariku?” tanyanya membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ah ne, kamsahamnida” akupun mengambil mawar itu dari tangannya, setidaknya aku harus menghargainya.

“Tiffany-ssi, aku seperti apa yang aku tulis untukmu bahwa aku memiliki perasaan untukmu. Sejak pertemuan itu aku tak bisa menahan diriku untuk terus memikirkanmu, aku tahu kita tak begitu dekat tapi percayalah aku orang yang baik, romantis, dan perhatian. Akan kupastikan kau tidak akan menyesal jika kau menerimaku. Hari ini aku akan mengakhiri penantianku dan menyatakannya padamu”

“Tiffany-ssi maukah kau menerimaku sebagai kekasihmu? Aku berjanji takkan membuatmu menyesal karena telah memilihku”

“……………………”

Bagamana ini?

Dia memang namja tampan dan juga tinggi, senyumnya manis. Tapi perasaanku tak bergetar untuknya seperti yang kurasakan pada taeyeon. Dan aku masih mengharapkannya hingga saat ini meski aku tahu dia takkan pernah memiliki perasaan yang sama denganku.

Haruskah aku menolaknya?

Atau menerimanya?

.

.

Author POV

Taeyeon baru saja mendudukkan dirinya dikantin bergabung bersama teman-temannya setelah ia menyelesaikan pekerjaannya diperpustakaan, ia benar-benar sibuk akhir ini, banyak tugas yang harus ia kerjakan. Dan hanya saat ia berada dikampuslah ia bisa mengerjakannya karena ia harus bekerja saat pulang kuliah hingga malam tiba. Rasa kantuknya selalu muncul saat ia mencoba mengerjakan tugasnya dan berakhir tertidur. Karena itu ia memakai jam-jam kosong dan jam istirahatnya untuk mengerjakan tugas miliknya.

“Dimana tiffany?” tanya taeyeon karena tak melihat sosok itu.

Sejujurnya ia sangat merindukannya, sudah beberapa hari ini mereka tak bertemu dan berkomunikasi. Tiffany memang selalu mengirimi pesan singkat dan menelponnya tapi tak satupun yang ia respon. Ia hanya tak tahu harus bersikap seperti apa padanya, ia merasa malu bertemu dengan gadis itu.

“Entahlah, mungkin bertemu dengan si KIM?” jawab Yoona dengan menekan kata Kim.

“Kenapa tidak kau hubungi dia saja dan tanyakan keberadaannya” ucap jessica.

Taeyeonpun mengeluarkan handphonenya. Ada sebuah pesan masuk disana. Iapun membuka pesan itu dan ia terkejut melihat pesan itu.

Taeyeon POV

From : Pany Pany Tippany

‘Aku akan menemuimu diatap’

Oh tuhan jam berapa ini? dia pasti menungguku, aku harus segera menemuinya.

“Teman-teman, aku harus pergi. Annyeong” ucapku pada mereka dan berlari pergi.

“Ya! Kau baru saja duduk, setidaknya isi dulu perutmu!” teriak yuri. Aku mengabaikan teriakan mereka yang memanggilku. Saat ini dipikiranku adalah tiffany, aku harap dia masih menungguku.

Aku berlari sekencang mungkin menaiki tangga, rasa pegal dikakiku kuabaikan, aku terus berlari hingga akhirnya pintu atap tepat ada di depanku, saat aku membukanya langkahku terhenti melihatnya bersama seseorang.

“Nado saranghae”

Seketika tubuhku membeku mendengar apa yang ia ucapkan pada pria yang ada didepannya itu. kulihatia sedang menatap pria itu sambil memegang setangkai bunga mawar. Hatiku sakit, tubuhku lemas seketika bahkan aku hampir saja menjatuhkan tubuhku ketanah. Kukepal tanganku dengan kuat menahan perasaan perih dan sakit dihatiku. Akhirnya sosok itu kini jatuh kedalam pelukan orang lain tepat didepan mataku.

Dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan melangkah pergi dari tempat itu. Aku tak bisa untuk tetap berada disana, ini terlalu menyakitkan meski aku sudah berusaha untuk melepasnya tapi hatiku tetap tidak bisa melepasnya secepat itu. Aku bisa merasakan air mataku kini menetes.

Aku butuh tempat untuk sendiri, dan kakiku kini membawaku kedalam toilet yang kosong ini. Kusandarkan tubuhku pada dinding toilet untuk menahan tubuhku yang terasa lemas, namun itu tetap tak berpengaruh. Tubuhku tetap meluruh kelantai dan terduduk lemas.

Author  POV

Hiks hiks hiks

Taeyeon menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tak ingin tangisnya terdengar oleh orang lain. Ia berusaha untuk menghentikan tangisnya namun usahanya nihil. Hatinya masih terasa sangat sakit, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menahan isak tangisnya agar tidak ada yang menyadari bahwa dirinya sedang menagis, dirinya sedang kesakitan.

“Neomu appo-hiks” lirihnya sambil memukul dadanya dengan keras berharap rasa sakit dihatinya berkurang.

“Pany-ah jinja appo-hiks

Mungkin ini adalah permulaan untuk melupakan sosok itu, ia harap tangis ini akan menjadi yang terakhir kali ia titihkan untuk gadis itu.

.

.

.

.

Te Be Cehhhhhhhh COMMMEEEE!!! Wkwkwkwk

Hahahaha ada yang nunggu??? Pede dehh ya.. 😁
Okee author tidak bisa cepat update karena pekerjaan author yang banyak sampai harus lembur setiap harinya, ditambah kondisi badan yang lagi enggak sehatt huhuhu poorr author 😭

Mohon do’anya ya semoga author cepet sembuh readerku 😀..

Okee jangan lupa kontar kalian di circle chap 7 ini. Author yakin kalian pasti pada nge-bash pany nihh hha..

See you next time LS and my reader.. 😘💋✋

Advertisements

158 thoughts on “Circle [Chapter 7]

  1. Tiffany aslinya udah meninggal kan thor? Fix ya.. Brarti tiffany yg sekarang itu adalah miyoung, adik tae.. Tp kenapa tae jadi kepentok drama cintanya? Dan lagi, kenapa Taeyeon gak peka!!!! Udah di kodein sama pany pliss, jessi mana jessi? Mungkin harusnya fany kudu sharing ke jessi kalo dia cinta sama tae jangan mendem, sapa tau jessi bisa bantu kasih jalan keluar buat hubungan taeny. Btw Taeyeon!! dia nggak ngelupain adeknya kan? Adeknya di depan mata dia nggak selidiki? Padahal udah di kode kode lho ama outhor nya dikitlagi fany pasti inget masa lalu nya tuh… Ah ga tau lahh lierrr aku sama tae. Sebenernya tae itu nyakitin diri sendiri dengan kebodohan dan ketidak peka an nya… 😢😢😢

    Like

  2. ckckck author beneran tega ya ke taeyeon, kapan dia bisa ngerasain bahagia 😦
    ga adil buat tae yang terus ke siksa, minimal biarin taeny bersatu dulu lah ntar konflik lain ngikutin wkwk

    Like

  3. Hahaha,, lucu nih bg.kencan taeny gagal gara2 mb jess 😀 udh kiss2,, ngaku2 dikit,, masih aja dudul,,berdua ga peka ternyata huff,,
    Ini mulai ribet2nya,, wah,,wah lanjut,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s