[Squel] My Beautiful Angel (5/?)

[Squel] My Beautiful Angel

Main cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon
Genre : Yuri, fantasy, Romance, Chaptered
Rated : 18+
Author : TNEYisREAL08

WARNING!!
The gendre is Yuri if you don’t like it go away and don’t copy paste or Bashing. Typo’s everywhere, please comment. Reading enjoy ^^

***

Sekali lagi perhatian….

Author sarankan dan harapkan para reader disini baca ff nya setelahbuka puasa yaa, kecuali kalian yang sedang ada tamu cibeureum tak diundang silahkan aja heheh 😁

Taeyeon POV

Hari ini adalah hari dimana aku akan bertemu dengan para reporter dan masyarakat akan melihatku secara langsung melalui televisi. Sudah beberapa hari ini berita semakin memanas dan semakin memojokan diriku. Aku harus mengklarifikasi semua.

“Nona” panggil seseorang menyadarkanku yang sedang bergelut dengan pikiranku.

“Aku akan segera keluar” jawabku. Kulihat ia mendekat kearahku.

“Anda yakin akan melakukannya? Bukankah lebih baik jika kita mendiamkan semua hingga semuanya sedikit mereda” ia terdengar sangat meragukanku.

“Kau meragukanku?” kulihat ia membelalakkan matanya dan menunduk meminta maaf.

“Geokjeongma chanyeol-ah, semua akan baik-baik saja. Kau tau aku sejak kau kecil, aku sudah memikirkan semua kemungkinan yang ada” ujarku terkekeh menatapnya yang diam dengan ekspresi sedih.

“Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu setelah ini”

“Terimakasih sudah memperhatikanku. Tapi aku akan baik-baik saja” ujarku mengelus puncak kepalanya dengan susah payah, aku perlu menjinjit kakiku untuk mencapai itu.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi” ujarnya dengan wajah merona. Dia lucu sekali tak berubah sedikitpun.

Kutatap diriku dalam cermin dan merapikan bajuku yang sedikit kusut dengan tangan gemetar ini. Bisa kurasakan tangan ini berkeringat dingin disertai gemetar. Aku benar-benar gugup, semua yang telah aku siapkan mendadak buyar.

“Tuhan tolong aku” doaku memejamkan mata.

Setelah itu kulangkahkan kakiku dimana para puluhan reporter kini sedang berkumpul.

Ckrek

Pintu kini terbuka dan blits kamera menyala berkali-kali mencoba mengambil gambar.

“Annyeonghasaeyo” kubungkukkan badanku memberi hormat pada semua orang yang berada disana lalu duduk dikursi yang sudah disediakan.

“Pertama aku Kim Taeyeon ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada semuanya yang datang kemari. Aku tahu keadaan sedang tidak baik karena scandal yang beredar, karena itulah aku mengadakan konverensi pers hari ini. Aku ingin meminta maaf atas apa yang terjadi karena gambar itu”

“Aku benar-benar meminta maaf karena mengacaukan keadaan” aku kembali membungkukkan diri.

“Meminta maaf? Apa maksud permintaan maaf itu adalah anda mengakui itu?” salah seorang reporter mengacungkan tangan dan bertanya. Mendadak suasana menjadi ricuh.

“Aku ..” ragu dengan apa yang ingin aku katakan membuatku terdiam sejanak untuk menarik nafas hingga akhirnya ku tatap mereka semua dengan senyum yang aku miliki.

“Nasi sudah menjadi bubur. Bagaikan api dan asap kini memakan buah simalakama. Seberapa berat mata memandang, berat jugalah bahu memikul. Berani karena benar, takut karena salah”

Dalam sekejap suasana semakin memanas, para reporter terlihat berbisik-bisik mendengar jawabanku dan banyak blits kamera yang menyala.

***

Author POV

“Kim Taeyeon pewaris Kim Corp. yang terlibat dalam insiden scandal yang telah terjadi beberapa hari ini kini mulai angkat bicara mengenai scandal itu dalam konverensi pers beberapa hari lalu. kangin-ssi seperti yang kita tahu bahwa kim taeyeon menjawab pertanyaan dengan kalimat pribahasa, menurut pendapat anda apa maksud kalimat itu? ” ucap penyiar berita, kristal jung bertanya pada tamu undangannya kangin.

“Seperti yang taeyeon-ssi katakan bahwa Nasi sudah menjadi bubur artinya adalah segala sesuatu yang sudah terjadi tidak akan bisa dirubah kembali. Bagaikan api dan asap artinya tak dapat bercerai lagi atau selalu bersama-sama. Memakan buah simalakama artinya keadaan yang serba salah. Biasanya digunakan untuk orang yang sedang menghadapi dua pilihan, dan kedua-duanya akan menyebabkan orang tersebut mengalami hal yang buruk. Seberapa berat mata memandang, berat jugalah bahu memikul artinya adalah Seberapa besar orang melihat penderitaan yang dialami, lebih berat orang yang langsung mengalami atau menanggung penderitaan tersebut. Dan terakhir berani karena benar, takut karena salah artinya seseorang yang jujur pasti akan berani untuk mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi seseorang yang berbohong akan takut ketika ditanyakan hal yang sebenarnya” ujar kangin memberikan pendapatnya.

“Jadi jika artinya digabungkan akan mendapat arti bahwa apa yang telah terjadi takkan bisa dirubah kembali. Taeyeon-ssi dan kekasihnya saling mencintai dan tak bisa berpisah, keadaan kini menjadi serba salah. Apa yang orang lihat dan katakan mengenai dirinya itu belum tentu benar karena ia sendiri yang mengalami itu”

“Jadi kesimpulannya adalah taeyeon-ssi mengakui scandal itu kangin-ssi?”

“Ya, Disini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kim taeyeon-ssi mengakui scandal itu. Terutama itu sangat jelas dikalimat akhir yang mengatakan seseorang yang jujur pasti akan berani untuk mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi seseorang yang berbohong akan takut ketika ditanyakan hal yang sebenarnya” jelas kangin.

“Baiklah pemirsa, kita akan berlanjut keberita selanjutnya. Setelah konverensi pers itu berlangsung para masyarakat muda mulai berbondong-bondong berdemo meminta pelegalan hubungan sesama jenis atau LGBT, berikut beritanya”

Klikk

“Dad!” kesal tiffany karena daddy hwang mematikan televisi yang sedang tiffany lihat.

“Berhenti melihat berita seperti itu honey, daddy tidak suka. Berita itu tidak baik, kau terus melihat berita mengenai itu. Tidak biasanya kau menonton acara berita”

“Aku hanya ingin tau saja”

“Daddy harus berangkat bekerja. Hubungi daddy jika kau ingin keluar rumah” ujar daddy hwang lalu mencium kening putrinya.

“Arasseoyo dad” jawab tiffany.

Tiffany mengantar daddy hwang hingga pintu keluar rumah.

“Ingat, hubungi daddy jika ada apapun”

“Ya ya ya. Cepatlah pergi dad. Kau sudah terlambat”
Daddy hwangpun pergi dan kini hanya ada tiffany sendiri dirumah ini. Rumah yang tak sebesar milik taeyeon namun tetap saja sepi.

Ia mendudukkan dirinya disofa. Hanya menghela nafas yang bisa ia lakukan.

“Ini bahkan lebih dari 7 hari. Aku tahu kau sibuk tapi setidaknya seharusnya kau menghubungiku walau sebentar. Phonemu bahkan tak aktif” tiffany berbicara dengan wallpaper phonenya yang bergambar taeyeon dengan kesal.

“Bogoshipeo” lirihnya.

.

.

Taeyeon POV

“Para pemegang saham marah karena anda tak mendiskusikan dengan mereka sebelum anda mengadakan konverensi pers” ujar paman park padaku.

Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju ruang rapat. Keadaan semakin ramai dan panas, terlebih lagi karena adanya perdemoan masyarakat muda yang meminta perlegalan LGBT.

Sesampainya diruang rapat mereka memberi hormat padaku dan semua kembali duduk begitupun denganku.

“Akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini” aku membuka rapat ini dengan kalimat itu.

“Mengapa presdir melakukan konverensi pers tanpa persetujuan kami. Para investor semakin ingin menarik investasi mereka. Jika begini bukankah Kim Corp akan mengalami kerugian besar” ujar salah satu pemegang saham. Aku hanya terkekeh mendengar perkataannya.

“Kau bilang tanpa mendiskusikan? Aku sudah mengatur sebuah rapat pemegang saham, siapa yang menolak bertemu disini? Naega?” kulihat mereka berdehem dan diam.

“Seperti yang aku katakan ‘nasi sudah menjadi bubur’ apapun yang coba kalian lakukan sekarang takkan merubah keadaan. Jika kalian menghawatirkan para investor, maka kalian tak perlu khawatir. Aku yang akan bertanggung jawab, aku akan menemuinya”

“Karena prilaku seenaknya anda saham kini menjadi turun” ketus Kim Woo Bin, dia adalah cucu dari adik mendiang kakekku.

“Aku tahu. Ya’kalian tidak tau aku? Kalian pikir aku melakukan itu semua tanpa rencana? Aku tahu saham turun sebanyak 6%, tapi itu tidak akan lama, akan kunaikkan kembali saham sebanyak 10% any-20%. Turunnya saham kita salah satunya karena investor”

“Anda terlihat sangat percaya diri. Anda yakin bisa melakukannya? Mr. In Sung bukan orang semudah itu” ujarnya meremehkanku.

“Jika aku tidak yakin maka aku takkan mengatakan itu” ujarku menatapnya tajam.

“Geurae, jika anda gagal maka apa yang akan anda lakukan?”

“Mwo?”

“Apa anda bersedia turun dari jabatan terhormat itu”

Mwo? Apa dia sedang mencoba mengambil posisiku melalui masalah ini?

“Wae? Kau ingin posisi ini woobin-ssi?” sejujurnya kami tidak dekat. Dia adalah seorang pencuri, dia bahkan lebih hina dari seekor babi.

“Mengapa tidak? Semua menginginkan itu”

Aku terkekeh sejenak.

“Kita lihat saja nanti” tantangku.

“Kita akhiri pertemuan hari ini” setelah mengatakan itu aku keluar dari ruangan rapat dan berjalan menuju ruanganku.

Namun langkahku terhenti saat mata ini melihat seorang gadis duduk tak jauh didepanku. Mataku terbelalak dan seketika tubuhku rasanya melemas dan gemetar.

Dia..

Bagaimana bisa dia disini..

C5FGhtHUMAACBHp-1

Mata kami bertemu, ia terlihat membelalakan matanya sepertiku namun tak lama ia tersenyum dan berjalan mendekat.

“Lama tak bertemu taeyeon, kau semakin cantik”

Mendengar suaranya membuat luka dihatiku kembali terbuka menganga. Benar-benar menyakitkan. Kukepalkan tanganku mencoba menguatkan diriku.

“Ya, dan aku benar-benar tak mengharapkan kita bertemu kembali seperti ini” ucapku dengan dingin.

“Taeyeon aku-”

“Jagiya!” perkataannya terpotong, seseorang memanggilnya dan aku tahu dengan pasti suara siapa itu.

“Lama menunggu?” ujar seseorang yang memanggilnya tadi.

“A-any, aku baru saja datang woobin-ah”

“Bogoshipeo” ujar woobin dan mengecup singkat bibir suzy dan memeluknya.

“Woobin-ah, jangan seperti ini” ucap suzy sambil sesekali melirik kearahku.

Mataku memanas sekarang. Bagaimana bisa mereka melakukan ini didepanku? Luka dihatiku kini bagaikan disiram alkohol, benar-benar menyakitkan.

“O’presdir kau disini? Maaf aku tidak melihatmu” woo bin berkata sambil tersenyum mengejek.

“Ya’, lakukan itu ditempat lain. Jangan lakukan ditempatku, jangan mengotori kantorku” ketusku.

“Maafkan aku presdir, aku akan menyimpan nasihatmu. Anda benar bermesraan ditempat umum tidaklah baik” ujarnya menyindirku.

“Cihh, kau tau dengan baik. Karena itu jadilah anak yang baik. Jangan melampaui batas dan jangan terlalu bermimpi. Karena kau akan merasa sakit saat kau tau kau tidak bisa mendapatkannya” balasku lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

See..

Dia tak berubah, selalu merebut apa yang menjadi milikku.

***

“Nona tuan In sung menolak bertemu denganmu”

Hahh~ paman tolong siapkan mobil. Aku akan pergi menemuinya sendiri”

“Nona tapi keadaan diluar-”

“Lakukan saja paman” ujarku memotong ucapannya.

“Baiklah” setelah itu ia keluar dari ruanganku.

“Oh god, rasanya kepalaku ingin meledak” ujarku sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku.

.

.

Kuparkirkan mobilku dan keluar. Saat ini aku sedang berada didepan rumah milik tuan In Sung. Kutekan bel rumah, tak lama sebuah mobil datang dan si pengemudi membukakan pintu penumpang dan seseorang yang aku tunggupun turun dari mobil itu.

Kuberikan hormatku padanya dan kulihat ia mengerutkan keningnya.

“Tuan Jo, bisa kita bicara”

“Bukankah aku sudah membuat keputusan, pergilah”

“Sebentar saja, kumohon”

“Aku tidak akan mengubah keputusanku. Pergilah” ujarnya sambil masuk kedalama kediamannya.

“Aku tidak akan melangkahkan kakiku satu langkahpun sebelum anda mau bicara dengaku” ujarku sedikit mengeraskan suaraku agar ia mendengarnya.

.

.

Tiffany POV

Aku melangkahkan kakiku dengan lemas menuju supermarket, daddy memintaku untuk membeli makanan ringan untuk stock dirumah.

Tak ada semangat, tak ada gairah.. Aku membutuhkan vitamin, dan vitaminku hanyalah si byuntae itu.

Huff~ aku benar-benar merindukannya. Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku, membuatku merindukannya hingga rasanya hampir gila.

“Tiffany Unnie!”

Kutolehkan kepalaku menuju asal suara. Kulihat seorang gadis yang sangat kukenal melambaikan tangannya padaku. Kubalas lambaiannya sambil tersenyum.

“Unnie, bogoshipeo” ujarnya memelukku.

“Hyunie, nado~ kau selalu sibuk dengan sekolahmu” ujarku.

“Maafkan aku unnie” sesalnya.

Kamipun memutuskan untuk mengobrol disebuah cafe yang tak jauh dari sini.

“Hyunie tak mengalami apapun kan karena scandal itu?” tanyaku.

“Emm, begitulah unnie.. Selalu ada pro dan kontra”

“Maafkan unnie membuatmu mengalami ini”

“Sudahlah unnie, taeyeon unnie yang bersalah disini. Semua semakin kacau saat dia mengumumkan dirinya seorang lesbi dikonverensi pers” kesalnya sambil mengaduk minuman yang sudah dipesannya.

“Apa.. Unniemu baik-baik saja?”

“Entahlah, aku tidak bertemu dengannya beberapa hari ini. Unnie tak pulang kerumah, ia hanya menyuruh orang lain untuk membawa pakaiannya saja”

“Dia.. Tidak pulang sama sekali?”

“Eoh. Dia benar-benar sibuk sana sini. Perusahaan sedang kacau karena ulahnya sendiri”

“aku harap dia makan dengan baik” lirihku.

“Unnie bisa saja didepak dari posisinya, mereka sedang mencoba menurunkan unnie dan mengambil posisinya. Terutama si pria sialan itu”

“Pria sialan? Siapa maksudmu?”

“Pria yang selalu mengacaukan keadaan, saat aku berada diposisi unnie pria itu selalu menggangguku. Sejak dulu dia selalu mencuri milik orang lain, dia bahkan mencuri kekasih un-” hyunie menutup mulutnya sambil terbelalak.

“Apa maksudmu? Apa maksudmu kekasih taeyeon?”

“A-a itu aku hanya asal bicara” ia menggaruk kepalanya sambil tertawa canggung.

“Hyunie beritahu aku, please” mohonku padanya.

Hyunie terdiam sejenak menatapku. Kemudian ia menghela nafas.

“Baiklah” dan iapun menceritakan semuanya padaku.

.

.

Author POV

“Yeobo, sebaiknya kau temui dia. Ini sudah sangat larut angin malam semakin menusuk. Dia bahkan tak bergerak sama sekali” ujar Ny. Jo pada suaminya sambil melihat taeyeon dibalik jendela kamarnya

“Bairkan saja, jika dia tak kuat maka ia kan pulang dengan sendiri” masih dengan posisi membaca sebuah buku.

“Tapi ini sudah pukul 12 malam. Dia sudah berdiri disana selama 9 jam, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?”

Tn. Jo terdiam memikirkan ucapan istrinya itu. Tak lama iapun menutup bukunya dan bangkit dari posisi duduknya. Ia keluar dan membukakan pagar.

“Masuklah” ujar Tn. Jo pada taeyeon.

Dilihatnya wajah taeyeon kini sudah terlihat pucat dengan badan yang gemetar. Ia bantu taeyeon untuk masuk kekediamannya.

“Ini minumlah. Ini bisa menghangatkan tubuhmu” ucap Ny. Jo.

“Kamsahamnida” taeyeon meminumnya. Ny. Jo pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku yakin anda tau maksud saya kemari”

“Aku takkan mengubah keputusanku. Kau tau itu”

“Kalau begitu berikan alasan mengapa anda melakukan itu?”

“………………”

“Tak ada masalah apapun diperusahaan selain insiden itu. Apa alasan anda karena insiden itu?”

“Ya. Aku adalah seorang yang lurus dan taat pada tuhan. Aku takkan mendukung hal seperti itu”

“Apa seorang sepertiku ini sangat menjijikan dimata anda?”

Tn. Jo mengerutkan keningnya mendengar ucapan taeyeon.

“Ya. Dan karenamu masyarakat berdemo hanya untuk dilegalkannya hubungan menjijikan itu. Berdemo untuk hal yang tak masuk akal”

“Mengapa semua menyahkanku seolah aku yang bersalah disini? Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semua orang memiliki kekurangan dan pasti pernah melakukan kesalahan. Banyak orang mengatakan cinta tak memandang umur dan perbedaan. Semua orang berhak mencintai lalu mengapa aku tak boleh mencintai?” ujar taeyeon.

“Aku hanya seseorang yang menyedihkan yang baru saja menemukan cinta sejatinya. Lalu apa bedanya aku dengan anda. Bukankah kisah kita hampir serupa?”

“Cinta anda yang tak direstui oleh semua orang, tapi anda tetap memperjuangkan cinta anda bersama Ny. Jo hingga akhirnya kalian bisa menikah dan bahagia seperti sekarang. Aku hanya ingin kebahagiaan bersama orang yang kucintai. Aku hanya berusaha untuk manggapai cita-cita itu bersamanya” Tanpa taeyeon sadari air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya.

“Mengapa orang-orang hanya melihat sebelah mata? Tidakkah mereka melihat sisiku yang lain? Mengapa mereka hanya melihat sisi kekuranganku saja?”

Perkataan taeyeon benar-benar membuat Tn. Jo terdiam. Setiap kata yang taeyeon keluarkan membuat hatinya merasakan kesedihan yang sedang taeyeon alami.

Seketika taeyeon terkekeh dan menghapus air matanya.

“Maaf atas perkataanku tadi dan maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat anda Tn. Jo, saya permisi” taeyeon bangkit dan memberi hormat pada Tn. Jo.

Ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Banyak pikiran yang membuat dirinya merasa stress dan depresi.

Ia menaiki mobil sportnya dan melajukannya. Ia memarkirkan mobilnya disebuah bar. Ia ingin menghilangkan stressnya.

Lampu redup mengiasi bar itu. Hari ini suasana bar tak seramai biasanya. Ia duduk disebuah kursi dan memesan sebuah bir untuk menghangatkan tubuhnya.

Beberapa gelas telah ia habiskan. Entah mengapa kejadian dimana ia bertemu dengan suzy cinta pertamanya beberapa hari lalu masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Dan entah mengapa ia masih merasakan rasa sakit itu hingga sekarang.

“Bisa aku duduk disini bersamamu”

Deg!

Suara itu..

Ia alihkan pandangannya untuk melihat siapa yang berbicara dengannya. Dan sekali lagi luka hatinya semakin terasa menyakitkan melihat sosok itu ada dihadapannya.

“Mengapa minum sendiri? Bukankah lebih menyenangkan jika bersama orang lain?” tanya suzy dan duduk disamping taeyeon yang mengacuhkannya.

“Mengapa tak kau tanyakan pada dirimu sendiri”

“Kau dingin sekali. Dulu kau tidak seperti itu, kau sangat hangat padaku”

“Bernarkah? Aku sudah melupakannya” taeyeon memainkan gelas birnya dan sesekali meminumnya. Sikap taeyeon benar-benar terkesan dingin.

“Benarkah? Kalau begitu hanya aku disini yang tak bisa melupakannya”

Taeyeon menghentikan tangannya yang sedang memainkan gelas itu.

“Aku tidak bisa melupakannya, aku tak bisa melupakanmu taeyeon”

Seketika tubuh taeyeon bergetar mendengar itu. Ia tatap suzy yang sedang menatapnya dengan tatapan kesedihan.

“Aku menyesali perbuatanku, tiada hari tanpa memikirkanmu. Aku merindukanmu taeyeon”

“Berhenti bermain-main dengan perkataanmu, kau pikir aku akan tertipu?” taeyeon memberikan senyum sinis.

“Aku serius. Apa kau lihat kebohongan dalam mataku”

Taeyeon terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain.

“Kembalilah padaku, aku mencintaimu taeyeon. Maaf karena aku baru menyadari perasaanku padamu”

Seketika taeyeon tertawa dengan sangat keras sampai terbahak-bahak. Air matanya bahkan sampai keluar karena tawanya.

“Oh tuhan-hahahaha” seketika wajah taeyeon berubah menjadi datar dan dingin.

“Kau pikir aku akan percaya? Jika kau memang mencintaiku kau takkan bersama pria sialan itu”

“Itu karena aku mencoba melupakanmu taeyeon!”

Taeyeon terdiam.

“Pikirkan ini dan kembalilah padaku. Aku akan menunggu” Suzy mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir taeyeon yang terdiam.

“Kita mulai dari awal lagi taeyeon”

Taeyeon masih diam dan terkejut dengan kecupan itu. Ia rasa blank, seluruh tubuhnya menjadi lemas dan gemetar.

“Taeyeon” suzy menggenggam tangan taeyeon.

Tersadar dari diamnya taeyeon melepaskan tangan suzy dan pergi dari tempat itu, meninggalkan suzy yang menatapnya sedih.

***

“Tiff!”

Tiffany membalikkan tubuhnya kearah jessica yang memanggilnya.

“Eoh” jawabnya singkat.

“Ada apa denganmu? Kau terlihat melamun sejak tadi pagi. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

Ya tiffany sedang memikirkan apa yang seohyun katakannya kemarin. Dan tentu saja itu mengenai kekasihnya, taeyeon.

“Apa taeyeon masih belum menghubungimu?”

“Eoh, jessie aku harus pergi sekarang, bye” tiffany memeluk sahabatnya itu dan pergi keluar gedung universitas berniat pulang.

Hari ini ia memutuskan untuk naik bus, ia ingin menikmati perjalanan. Tak lama bus yang dinaikinya akhirnya berhenti diterminal yang tiffany tuju. Dengan segera ia turun dan berjalan menuju rumahnya.

Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan perkataan seohyun. Ada perasaan takut setelah mendengar itu. Ia takut kehilangan taeyeon.

Flashback

“Pria itu Kim Woo Bin adalah cucu dari adik kakekku, dia seorang yang mudah iri, terutama pada taeyeon unnie”

“Unnie tahu mantan-mantan kekasih taeyeon yang memanfaatkan taeyeon unnie? Ternyata dibalik taeyeon unnie mereka semua berpacaran dengan pria itu. Aku tidak tahu apa mereka bersikap seperti itu karena suruhan pria itu atau bukan, tapi yang pasti pria itu selalu memacari kekasih taeyeon unnie”

“Bagaimana bisa ada manusia seperti itu” ujarku.

“Unnie tahu, bahkan sekarang cinta pertama taeyeon unnie dipacarinya. Dan dengan rasa tanpa dosa wanita itu datang keperusahaan menemui kekasihnya. Mereka bermesraan tepat didepan mata taeyeon unnie”

Deg

Perasaanku tak enak.

“Bagaimana kau tahu informasi itu hyunie?”

“Aku pernah menjadi pimpinan disana unnie, tentu saja aku punya banyak orang disana”

“Apa unnie pernah melihat wanita itu? Aku punya gambarnya, lihatlah wajahnya benar-benar seperti penyihir”

589909521a771-c0vzyqucaakfvc

Tak ada kata yang bisa aku ucapkan selain kata cantik.

Dia benar-benar cantik.

“Dulu unnie sangat tergila-gila padanya, apa yang dia inginkan akan unnie lakukan. Tapi wanita itu malah memanfaatkan unnie dan pergi begitu saja”

Flashback End

Tiffany POV

Hahh~” itu benar-benar mengganggu pikiranku. Perasaan takut terus menghampiriku sejak kemarin.

Tuhan mengapa aku seperti ini?

Kuhentikan langkahku saat merasakan seseorang sedang mengikutiku. Sejak tadi aku mendengar suara langkah kaki.

Huff~

Sudahlah, itu pasti hanya perasaanku saja. Kulangkahkan kembali kakiku namun aku kembali mendengar langkah itu lagi. Kubalikkan tubuhku dengan cepat untuk melihat siapa disana dan kulihat seseorang yang memakai jaket hitam dan memakai topi hitam pula. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena ia juga memakaikan topi jaketnya dan membelakangiku. Ku kerutkan keningku.

Aku kembali berjalan dan kulirik sedikit iapun berjalan kembali. Merasa tak aman akupun berlari sekeras mungkin.

O MY GOD!!! DIA MENGEJARKU!!!

Saat dipertigaan komplek aku mengambil jalan kiri dan masuk kedalam sebuah gang, saat kulihat kebelakang sosok itu tak terlihat lagi. Kuhentikan lariku dan menghirup udara.

Dia sudah menghilang.

Srett

Bug!

Sesuatu yang aku yakini sebuah tangan menarik pergelangan tanganku dan menyudutkanku pada dinding gang itu.

Author POV

Dengan gerakan cepat sosok itu mengunci tubuh tiffany dan menciumnya. Tiffany yang diperlakukan seperti itu mencoba melepaskan dirinya namun cengkeraman sosok itu sangat kuat. Dengan sekuat tenaga tiffany memalingkan wajahnya membuat sosok itu melepaskan tangan tiffany dan meraih wajah tiffany untuk diciumnya.

“Emm!” tiffany mencoba melepaskan diri kembali. Hingga tangannya tak sengaja meraih sebuah kayu panjang namun kecil. Dengan gerakan cepat ia memukul kepala sosok itu dengan kayu itu dan membuat sosok itu terjatuh dan meringis kesakitan.

“Akh-akh” ringis sosok itu.

Bukannya berlari tiffany malah mengeritkan keningnya melihat sosok yang kesakitan itu. Seketika ia terbelalak dan menjatuhkan kayu itu.

“O MY GOD-TAEYEON!” teriak tiffany lalu menghampiri taeyeon yang terbaring kesakitan.

.

.

“Aww-pelan-pelan pany-ah” ringis taeyeon saat tiffany mendekatkan es batu kearah kepala taeyeon yang sakit akibat pukulannya.

“Mani appo?”

“Kau tau jawabannya pany-ah, mengapa bertanya? Kau tahu pukulanmu itu benar-benar keras. Kau harus bersyukur karena kepalaku tak pecah karena pukulanmu itu”

“Arasseo, mianhae. Lagipula siapa yang tak akan melakukan itu saat tiba-tiba ada orang aneh yang mengikutinya dan menciumnya seperti itu” kesal tiffany. Ia juga berhak membela diri. Lagipula ini bukan sepenuhnya kesalahannya, taeyeon juga bersalah karena bersikap seperti tadi.

“Ya’ apa kau sedang menyalahkanku? Siapa suruh kau tak mengenaliku” merasa kesal tiffany menekan kepala bagian yang sakit dengan es batu membuat taeyeon berteriak kesakitan.

“Lakukan sendiri” ketus tiffany lalu berjalan menjauh dan duduk disofa sambil memainkan handphonenya.

Saat ini mereka sedang berada dimotel, tiffany tak bisa membawa taeyeon kerumahnya karena sang daddy hari ini sedang ada dirumah. Taeyeon menyimpan es itu dan menghampiri tiffany.

“Arasseo, mianhae eoh?”

“………………….”

“Pany-ah~”

“………………….”

“Kau tak ingin memaafkan kekasihmu yang sedang kesakitan luar biasa ini, hmm?” taeyeon menunjukkan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

“Cih” tiffany mengacuhkan taeyeon dan kembali terfokus dengan handphonenya.

“Pany-ah saranghae~” kalimat itu berhasil membuat tiffany mengalihkan pandangannya pada taeyeon. Taeyeon kini mengekspresikan dirinya memohon dengan puppy eyes yang dimilikinya. Dan itu membuat tiffany mengingat masa lalu disaat taeyeon selalu menggunakan puppy eyesnya untuk membujuk tiffany.

“Mengapa aku selalu luluh padamu” tiffany berkata sambil cemberut.

“Hahaha karena kau sangat mencintaiku” jawab taeyeon dan mengecup bibir tiffany.

“OMO! Sakitnya hilang pany-ah” sumringah taeyeon dengan ekspresi kekanak-kanakannya membuat tiffany terkekeh.

“Dasar pembual” ucap tiffany lalu menangkupkan kedua tangannya dipipi taeyeon dan mengecupnya. Taeyeon menyambut itu dengan mengerucutkan bibirnya dengan senang.

“O’ taetae bukankah sudah kukatakan untuk tidak memforsir dirimu? Lihatlah kau terlihat kurus” ucap tiffany masih dengan posisi tangan menangkup di pipi taeyeon.

“Aku mengingat itu dengan baik. Aku selalu beristirahat dengan cukup bahkan lebih dari sebelumnya. Aku bahkan makan dengan baik dan menambah porsiku makanku. Mungkin ini semua karena aku tak mendapatkan vitamin dari kekasihku” taeyeon melebarkan bibirnya memperlihatkan gigi rapinya.

“Benar-benar pembual” ketus tiffany lalu menutup wajah taeyeon dengan bantal kursi.

“Aku tidak membual”

“Hyunie bilang kau tak pulang selama beberapa hari dan hanya bekerja. Lihatlah lingkaran dibawah matamu”

“Oh tuhan-hyunie” kesal taeyeon sambil menepuk jidatnya.

“Aku akan memesan makan siang kemari”

.

.

“Apa ini?” taeyeon mengerutkan keningnya saat makanan yang tiffany pesan telah datang.

“Jjajjangmyeon, kau tidak tau?”

“Eoh, apa ini bisa dimakan?”

“Ya’. Tentu saja. Jika ini tidak bisa dimakan maka mereka takkan menjualnya”

“Huekk” taeyeon menutup hidungnya sambil memasang wajah mual saat tiffany membuka plastik yang membungkus jjajjangmyeon.

“Ada apa denganmu? Mie ini sama sekali tidak berbau, baboya” taeyeon hanya tersenyum lebar memperlihatkan giginya.

“Ayo makan” ujar tiffany memberikan garpu pada taeyeon

“Shireo! Aku tidak makan makanan seperti ini”

“Aaa~” tiffany mencoba untuk menyuapi taeyeon. Taeyeon menutup mulutnya dengan tangannya sambil menggelengkan kepalanya.

“Ayolah coba satu suap saja. Jika ini memang tidak enak menurutmu maka aku takkan memaksamu lagi”

“Shireo pany-ah. Apa kau tidak lihat mie itu terlihat menjijikan? Warnanya membuatku mual”

“Warna hitam ini dari kedelai, ayo cobalah satu suap saja, aa~” masih dengan pendiriannya taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Baiklah” tiffany kini menyerah. Dengan wajah cemberutnya ia memakan mienya dan itu membuat taeyeon merasa bersalah melihat eksresi kekasihnya itu.

“Hanya 1 suap okay?” taeyeon kini menyetujui. Seketika wajah tiffany berubah menjadi ceria.

“Akan kupastikan kau takkan menyesalinya. Aa~” taeyeon memakan mie yang tiffany berikan. Ia mengunyahnya lalu terdiam, ia mengerutkan keningnya. Tak lama ia menganggukan kepalanya sambil mengunyah mie itu.

“Bagaimana?” tanya tiffany.

“Emm, bagaimana bisa rasanya seperti ini? Daebak!”

“Yes, kubilang apa” tiffany menjulurkan lidahnya mengejek taeyeon.

Taeyeon mengambil mangkuk jjajjangmyeon yang tiffany pegang dan memakannya dengan lahap.

“Pelan-pelan tae” tiffany menyelipkan rambut taeyeon kebalik telinganya. Ia ingin melihat kekasihnya yang ia rindukan beberapa hari kebelakang ini.

“Aku benar-benar lapar. Seharian ini aku belum makan apapun”

“Mwo?”

“Aku sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, perusahaan sedang tidak baik sekarang. Aku tidak bisa bersantai pany-ah, bahkan untuk ketoiletpun aku tak sempat” taeyeon berbicara tanpa menghentikan acara makannya.

“Kau bisa sakit jika seperti itu. Jika kau sakit lalu siapa yang akan mengurus perusahaan? Hyunie?”

Taeyeon menghentikan makannya dan menatap tiffany sambil berfikir apa yang tiffany katakan tadi.

Pfffttt” tiffany tiba-tiba menahan tawa.

“Wae?” tanya taeyeon polos.

“Kau lebih buruk dari seorang anak berusia 3 tahun. Lihatlah” tiffany mengeluarkan cermin untuk memperlihatkan wajah taeyeon.

Seketika wajah taeyeon memerah melihatnya makan dengan belepotan. Ia benar-benar seperti sorang bocah kecil.

“Eomma~” rengek taeyeon dengan ekpresi seperti seorang bocah, ia mengeluarkan puppy eyesnya.

“OMO! Kyeopta!” tiffany mencubit kedua pipi taeyeon membuat taeyeon kesakitan.

“A-aappo pany-ah” ringis taeyeon. Taeyeon melepaskan tangan tiffany dari wajahnya dan mengecup pipi tiffany membuat pipi kekasihnya itu ikut kotor.

“Ya!”

Taeyeon menjulurkan lidahnya dan berlari menjauh dari tiffany. Merasa ingin balas dendam tiffany membawa mangkuk berisi jjajjangmyeon itu dan ikut berlari mengejar taeyeon. Disanalah aksi kejar mengejar terjadi, bukankah situasi ini tak asing?

Blugg!

“Aww!”

Taeyeon menghentikan larinya dan berbalik, dilihatnya tiffany terjatuh.

“Pany-ah gwaenchana?”

Pluk!

“Ahahhahahahahahaha” tiffany tertawa dengan keras sambil bertepuk tangan.

Taeyeon hanya diam sambil memejamkan matanya. Sungguh luar biasa kekasihnya itu, ia berhasil tertipu dan sekarang ia baru saja mandi jjajjangmyeon. Jjajjangmyeon itu tiffany lemparkan tepat mengenai kepala sekaligus wajahnya.

Deg!

Lagi..

Sebuah bayangan yang taeyeon tak tau itu apa kembali muncul. Dalam bayangan itu ia sedang berlari kejar mengejar dengan seorang gadis.

“Ya! Kemari kau Kim!” teriak gadis itu mengejar taeyeon.

“Tidak mau wew!” taeyeon menjulurkan lidahnya mengejek gadis itu.

“Ya!”

Bluggg!

“Akh appo”

“Pan**** gwaenchan-“

Plukk!

“Hahahahahaahahahahha!!” tawa gadis itu dengan sangat keras.

Taeyeon hanya diam sambil memejamkan matanya menikmati seluruh wajah bahkan puncak rambutnya terkena buttercream, bahkan wadahnyapun masih menggantung di kepala taeyeon.

Tawa tifany terhenti ketika melihat ekpresi taeyeon yang seperti kesakitan. Ia segera bangkit dan menghampiri taeyeon.

“Tae gwaenchana?” tiffany meraih wajah taeyeon sambil membersihkannya.

Taeyeon mencengkeram kepalanya dan mendaratkannya dipundak tiffany. Ia merasakan sakit luar biasa pada kepalanya.

“Taeyeon-ah”

Ia hanya terdiam mencoba menenangkan dirinya. Ia tak ingin tiffany mengkhawatirkannya hingga beberapa menit mereka masih dalam posisi yang sama dan rasa sakit itupun mereda.

Taeyeon menjauh dan membenarkan ekpresinya menjadi ekpresi tersenyum.

“Tertipu” ucap taeyeon.

“Mwo?”

Dengan gerakan cepat taeyeon mengunci tiffany hingga mereka terbaring dilantai. Taeyeon yang berada diatas tubuh tiffany mengunci pergelangan kekasihnya itu tepat didekat kepala tiffany.

“Hahahaha tae! Hajima- haahaha” tiffany tertawa karena geli dengan apa yang taeyeon lakukan padanya.

Taeyeon sedang menggesekkan wajahnya pada kulit tiffany yang terekspos dan pada pakaiannya, membuatnya menjadi kotor.

“Ahha-tae-hahaha”

Taeyeon menghentikan aksinya dan menatap tiffany yang masih tertawa sampai mengeluarkan air mata.

“Rasakan itu” taeyeon menjulurkan lidahnya.

“Ahaha-arasseo, mianhae” sesal tiffany namun ekpresinya tidak terlihat menyesal. Mereka terkekeh bersama. Tiffany mengusap wajah taeyeon yang kotor.

“Aku rasa kita harus membersihkan diri” ujar tiffany.

“Mandi bersama?”

“Ya!”

Taeyeon langsung bangkit dan berlari menuju toilet.

.

.

“Aku sudah selesai. Sekarang giliranmu” ujar taeyeon yang baru saja selesai mandi.

“Eoh”

“Oh ya ini pakaianmu” lanjut tiffany.

“O’kapan kau membelinya?” tanya taeyeon sambil menalikan tali pakaian mandinya. Dilihatnya dua buah kaos berwarna pink dan biru muda.

“Aku membelinya didekat sini. Lihatlah bukanlah ini cantik?” tiffany memperlihatkan kaos itu. Baju itu masing masing memiliki tulisan yang berbeda.

Kaos berwarna biru bertuliskan ‘PINK IS MINE” sedangkan 6 pink bertuliskan “BLUE IS MINE“.

“Mereka bilang ini adalah pakaian couple” taeyeon bisa melihat kecerian dari wajah kekasihnya itu, dan itu membuat dirinya ikut bahagia.

“Ya, tapi kurasa lebih cantik yang membelinya”

Ckckck, dasar penggombal” tiffany bangkit dan masuk kedalam toilet sambil membawa kaos yang berwarna pink meninggalkan taeyeon sendiri. Taeyeon duduk diranjang dan mengambil pakaian berwarna biru sambil tersenyum.

Author POV

“Dasar” lirihku tersenyum melihat pakaian itu.

‘Make me love you’

‘Make me love you’

Taeyeon mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ia mengerutkan keningnya melihat nomor yang tak ia kenal. Iapun mengangkatnya, mungkin saja itu panggilan penting pikirnya.

“Hallo?”

“Taeyeon-ah”

Deg!

Seketika jantungnya berdegub kencang. Ia merasakan lemas selurih tubuhnya mendengar suara itu. Ia kepalkan tangannya mencoba menguatkan dirinya, ia tak ingin suaranya terdengar bergetar.

“Maaf anda salah sambung” jawab taeyeon dengan dingin.

“Taeyeon-ah please” kini suara itu berubah seperti menahan tangis, dan itu berhasil menarik perhatian taeyeon.

“Suzy-ssi berhenti menggangguku, aku-”

“Aku membutuhkanmu-hiks. Bisakah-hiks kau kemari?” taeyeon semakin mengeratkan kepalannya, ia tak boleh terpedaya.

“Aku memutuskan hubunganku dengan woo bin-hiks. Dia sangat marah dan-hiks memukulku berkali-kali” taeyeon membelalakkan matanya mendengar itu. Sejujurnya ia mengkhawatirkannya ia tak bisa membohongi dirinya. Bagaimanapun ia pernah masuk kedalam hidup dan hatinya.

“Kumohon, aku membutuhkanmu. Aku akan menunggumu diapartemenku”

“………………………”

“Aku memutuskan hubunganku karenamu, taeyeon aku mencintaimu. Datanglah jika kau masih ingin bersamaku. Aku menunggumu”

“Maafkan aku” taeyeon mematikan teleponnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kesal dengan dirinya, perasaannya saat ini sedang kacau.

Ia mendekat kearah jendela untuk menghirup udara segar berharap pikirannya membaik.

Mungkinkah ia bersikap seperti ini karena masih mencintai dan menginginkannya? Entahlah, ia tak tau itu.

‘Aku menyesali perbuatanku, tiada hari tanpa memikirkanmu Aku merindukanmu taeyeon’

‘Kembalilah padaku, aku mencintaimu taeyeon. Maaf karena aku baru menyadari perasaanku padamu’

Taeyeon menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya kasar. Ia pejamkan matanya.

‘Pikirkan ini dan kembalilah padaku. Aku akan menunggu’

Taeyeon menggelengkan kepalanya berkali-kali mencoba mengenyahkan bayangan itu dari kepalanya, namun justru apa yang dilakukannya malah semakin membuatnya teringat kata-kata gadis itu.

Chuu~

Ia bahkan mengingat saat suzy mengecupnya tepat dibibir. Dengan segera ia buka matanya saat merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya.

“Sedang memikirkan apa? Aku memanggilmu sejak tad-emm~” ucapan tiffany terpotong.

Tanpa aba-aba taeyeon mencium tiffany dan melumatnya. Tiffany menerima lumatan itu dan membalasnya. Taeyeon menutup jarak tubuh mereka dengan melingkarkan tangannya dipinggang tiffany sambil mengelus punggung kekasihnya itu. Perlakuan taeyeon membuat tiffany melingkarkan tangannya dileher taeyeon dan meraih kepala taeyeon untuk memperdalam ciuman mereka. Mereka saling melumat dan menghisap bibir atas dan bawah satu sama lain.

Sejujurnya kecupan mantan kekasihnya itu sangat mengganggu dirinya, ia ingin melupakan itu dan membuat kenangan bersama kekasihnya, tiffany. Ia hanya ingin mengingat semua kenangan bersama tiffany saja dan melupakan cinta pertamanya.

‘Kembalilah padaku, aku mencintaimu taeyeon. Maaf karena aku baru menyadari perasaanku padamu’

Bukannya melupakan itu, justru kata-kata itu semakin terngiang dalam benaknya.

Taeyeon membawa tiffany kearah ranjang dan menidurkannya. Ia kembali mencium kekasihnya dan kembali saling melumat bahkan saling bertukar lidah.

‘Chuu~kita mulai dari awal lagi taeyeon’

Ciuman taeyeon kini beralih kearah leher mulus tiffany. Ciuman taeyeon begitu kuat hingga meninggalkan jejak dengan sangat jelas.

Emmhh tae~”

“Ekhh” ringis tiffany saat merasakan sebuah tangan yang meremas boobs miliknya. Ia membelalak sedikit terkejut

“Tae-”

Saat tiffany mencoba m nghentikan aksi taeyeon, justru taeyeon kembali mencium bibir manis miliknya. Membuat ia tak bisa berbicara. Tangan taeyeon kini menerobos kaos yang tiffany pakai dan kembali meremasnya dibalik bra yang tiffany pakai.

7

Tiffany teringat akan apa yang pernah taeyeon dan seohyun katakan. Ia kira taeyeon sudah melebihi batas, taeyeon tak pernah sampai menyentuh hal sensitive miliknya selain bibir dan lehernya. Ditambah perkataan seohyun yang mengatakan taeyeon bertemu cinta pertamanya semakin membuat dirinya yakin bahwa taeyeon sedang dalam keadaan tak baik.

“Tae hajima” ujar tiffany melepaskan ciumannya dan menggenggam tangan taeyeon yang berada diboobsnya.

Bukannya mendengar apa yang tiffany katakan taeyeon justru kembali mencium leher tiffany dan kembali meremas.

“Hajima tae” tiffany menjauhkan wajah taeyeon dari lehernya. Mereka saling menatap satu sama lain. Tiffany bisa melihat tatapan kesedihan taeyeon.

“Kau berjanji takkan melebihi batas”

Taeyeon memejamkan matanya menyesali perbuatannya. Ia lupa dengan apa yang sedang ia lakukan. Ia hanya ingin mengenyahkan cinta pertamanya dalam pikirannya. Ia bangkit dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia khilaf ia terlalu terbawa suasana.

“Tae” tiffany ikut bangkit. Ia bawa tangan kekasihnya, ia ingin melihat wajah kekasihnya.

“Maafkan aku, aku-” ia menghentikan ucapannya dan kembali mengusap wajahnya kasar, ia terlihat gelisah.

“Ada apa sebenarnya? Apa yang mengganggu pikiranmu? Tell me” tiffany meraih wajah taeyeon dan mengusapnya lembut. Taeyeon hanya menatapnya tanpa menjawab.

“Apa ini ada hubungannya dengan cinta pertamamu?”

Deg

“Bagaimana bisa kau..”

“Apa yang membuatmu seperti ini? Apa dia mengatakan hal-hal aneh?”

“………………………….”

“Apa dia…. Memintamu kembali?” tebak tiffany ragu.

“Pany-ah…”

“Jadi benar? Tae aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur kali ini”

“Apa kau masih mencintainya?”

Diam.

Entahlah ia tidak tahu perasaan yang sedang ia rasakan. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.

Tiffany POV

“Apa kau masih mencintainya?”

Diam.

Dia tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya tak ingin menatapku. Jadi dia masih mencintai gadis itu? Lalu perasaan apa yang ia rasakan padaku selama ini? Apa hanya sebuah pelampiasan?

Sakit.

Perasaanku sakit, sangat sakit mengetahui kenyataan ini. Tapi aku sadar akan diri ini, aku tak berhak memintanya disisiku sementara hatinya masih milik orang lain. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku.

“Kalau begitu kejarlah”

Ia membelalakkan matanya menatapku. Ia pasti tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutku, bukankah kata-kata itu terdengar seperti sebuah perpisahan?

“Tif-fany”

“Jika kau masih mencintainya maka kejarlah. Kau seharusnya bahagia dengan seseorang yang kau cintai, tidak hanya mencintaimu saja sepertiku” bisa kurasakan mataku memanas.

Andwae!!

Aku tidak boleh menangis dan terlihat lemah didepannya.

Kuberikan senyum terbaikku padanya.

“Aku melepaskanmu karena aku mencintaimu. Jadi bahagialah dan jangan pernah bersedih” ia terdiam meneteskan air matanya. Kuusap pipi basahnya, menghapus jejak air matanya. Ia tak pantas menangis.

“Terimakasih telah memberikanku kenangan-kenangan indah selama kita bersama dan maaf karena aku tak bisa membuatmu hanya mencintaiku” kukecup bibirnya.

Ku ambil barang-barang milikku dan pergi dari kamar itu meninggalkan dirinya yang terdiam. Dia tak merespon sama sekali. Kupejamkan mataku untuk menahan agar air mata ini tak keluar. Pada akhirnya dia bukanlah milikku, malaikatku telah pergi. Benar-benar pergi dan takkan kembali.

Dengan langkah cepat kuhentikan taxi dan masuk kedalam.

.

.

Author POV

Ting tong

Ting tong

Seorang gadis berdiri dan membukakan pintu apartemen miliknya. Ia tersenyum melihat siapa yang datang. Rasa bahagia menghampiri dirinya.

“Taeyeon-ah” lirihnya.

.

.

“Mani appo?” tanya taeyeon saat mengobati luka suzy. Terdapat luka disudut bibir suzy.

“Emm, tapi sakitnya 8887 hilang berkatmu. Terimakasih sudah datang taeyeon-ah” ia berkata sambil tersenyum. Taeyeon hanya membalas dengan senyum simpul.

.

.

Ckrek

Daddy hwang yang sedang duduk diruang tengah mengalihkan pandangannya kearah suara pintu. Dilihatnya tiffany baru saja pulang. Ia mendekat kearah putrinya.

“Honey, apa kau tidak tau pukul berapa ini? Bukankah daddy sudah menyuruhmu untuk meminta ijin terlebih dahulu?” kesal daddy hwang.

“………………………….” tak menjawab. Ia tak ingin berbicara sekarang. Saat ini ia hanya membutuhkan kamarnya, ia ingin sendiri. Tiffany kembali melangkahkan kakinya tak mempedulikam daddynya.

“Tiffany! Bagaimana bisa kau mengacuhkan daddy!” teriak daddy hwang emosi.

Seketika tiffany menjatuhkan dirinya. Tubuhnya meluruh, ia tak bisa menguatkan dirinya lagi. Tangisnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, ia tak bisa menahan air matanya. Hatinya benar-benar sakit karena kekasihnya atau lebih tepatnya adalah mantan kekasihnya, taeyeon. Dan sekarang ia kembali mendapat bentakan yang membuat hatinya tak kuat menahan semua.

Daddy hwang menghampiri tiffany dengan khawatir.

“Honey, ada apa? Maafkan daddy” khawatir daddy hwang.

“Wae?-hiks mengapa ini sangat menyakitkan-hiks” ia memukul dadanya berkali-kali berusaha menghilangkan rasa sesak dan sakit yang sedang ia rasakan.

“Honey hentikan” daddy hwang mengentikan tiffany yang memukul dirinya sendiri. Dengan cepat ia peluk putri satu-satunya itu dengan erat. Ia sangat mengkhawatirkan putrinya.

“Appo dad-hiks, neomu appo” tiffany mencengkeram pakaian daddynya dan tangisnya semakin menjadi-jadi.

.

.

“Tidurlah” ujar taeyeon sambil membenarkan selimut yang suzy pakai.

” kau akan pulang?”

“Ya, setelah kau tertidur aku akan pulang”

“Tak bisakah kau menemaniku disini saja? Aku merindukan pelukanmu”

Taeyeon berfikir sejenak dan akhirnya menyetujui itu dengan senyuman kecil.

Taeyeon POV

TIK… TIK… TIK…

Suara detik jarum jam sangat terdengar jelas. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 am, namun mataku ini sama sekali tak ingin memejamkan matanya.

Kulirik gadis disampingku ini. Ia tertidur dengan pulas sambil memelukku.

Hahh~

Entah mengapa aku merasa ada yang kosong dihatiku. Seperti sesuatu yang berharga hilang dalam sekejap.

‘Terimakasih telah memberikanku kenangan-kenangan indah selama kita bersama dan maaf karena aku tak bisa membuatmu hanya mencintaiku’

Pany-ah..

Kubangkitkan diriku dan berjalan menuju pantry dan membuka kulkas. Kuambil sebuah bir dan meminumnya sambil memandang pemandangan malam dari balik tirai ruang tv.

Mengapa perasaanku terasa kosong dan sakit?

Pikiranku kini tak bisa berhenti memikirkan dirinya. setiap kenangan-kenangan bersamanya selalu berhasil membuat diriku tersenyum dan tersentuh. Sebenarnya perasaan apa ini?

“Tuhan, sebenarnya pada siapa hatiku berlabuh?” lirihku dan menutup kedua mataku.

.

.

“Ini minumlah” daddy hwang memberikan segelas coklat hangat pada putinya yang sedang duduk diranjangnya masih dengan isak tangis.

“Dad, bagaimana jika ternyata aku adalah anak yang berbeda?” tanya tiffany masih dengan isakkannya.

“Mengapa bertanya seperti itu? Daddy bangga memiliki putri sepertimu honey” daddy mengusap pipi putrinya.

“Lalu apa yang akan daddy lakukan jika ternyata gadis yang ada dalam scandal itu adalah aku?”

Daddy hwang terdiam, itu adalah pertanyaan yang sulit.

“Maka daddy akan berpura-pura tidak tahu seperti saat ini”

“D-dad, mungkinkah..”

“Daddy tahu semuanya honey”

“Bagaimana bisa?”

“Daddy mana yang tak mengenali anaknya sendiri. Daddy sangat tahu postur tubuhmu, rambutmu dan semua pakaian yang kau punya”

“Daddy maafkan aku” tangis tiffany kembali.

“Sssttt, sudahlah. Apa karena dia juga kau seperti ini?”

“……………………………”

Hahh~ sudahlah. Lupakan semua dan mulailah lembaran baru honey. Dia tak baik untukmu. Masih ada banyak pria diluar sana yang menginginkanmu” daddy hwang menenangkan.

“Aku benar-benar mencintainya dad-hiks”

Daddy hwang terdiam, ia tak tahu harus berbicara apa. Ia hanya bisa memeluk putrinya untuk menenangkannya.

***

“Presiden memberikan pertimbangannya pada masyarakat yang berdemo menginginkan perlegalan LGBT, presiden mengungkapkan jika korea kini melegalkan hubungan sesama jenis”

“Lihatlah hasil usahamu” ujar suzy menyenderkan kepalanya dipundak taeyeon.

“Haruskah kita publikasikan hubungan kita?” tanya suzy.

Taeyeon POV

“Haruskah kita publikasikan hubungan kita?”

Publikasikan?

Bukankah niat awalku adalah memperjuangkan cintaku bersama tiffany dan mempublikasikannya? Tapi sekarang aku disini bersama orang lain bukan tiffany.

“Haruskah?” tanyaku.

“Eoh” ia mengecup pipiku dan menyatukan jari kami.

Aneh..

Mengapa hatiku tak merasakan apapun?

Tak ada rasa bergetar ataupun jantungku yang berdegub kencang. Perasaan ini berbeda saat bersama tiffany. Saat bersamanya bisa kurasakan hatiku yang begetar dan berdegub kencang walau hanya didekatnya.

Pany-ah perasaan macam apa sebenarnya yang aku rasakan saat bersamamu?

‘Make me love you’

‘Make me love you’

Kuangkat telepon yang berasal dari handphoneku.

“Ya paman?”

“Nona, Tn. Jo memutuskan untuk meneruskan kerjasama kita”

“B-benarkah? Arasseoyo paman aku akan segera kesana”

“Aku harus pergi” ucapku lalu pergi tanpa meminta persetujuannya, bisa kulihat sekilas ia sangat kecewa dengan sikapku yang begitu saja pergi.

***

Author POV

1 minggu sudah berlalu, perusahaan semakin membaik dan sahampun melonjak naik 23%. Dan selama itu pula taeyeon disibukkan dengan pekerjaannya.

Tok tok tok

“Masuk” ujar taeyeon. Dilihatnya suzy yang tersenyum padanya.

“Kau berjanji akan mengajakku makan malam bersama”

“A-a itu, maaf aku benar-benar lupa. Sebentar, akan kubureskan semua pekerjaanku sebelum kita pergi”

Taeyeon menyelesaikan pekerjaannya dan merekapun pergi menuju restaurant untuk makan malam bersama.

Saat ini mereka sedang makan dalam keheningan. Masing-masing fokus dengan aktivitas makannya.

Prokk prokk prokk

Disebuah meja tak jauh terdapat sepasang kekasih yang membuat keadaan retaurant menjadi ramai. Pria itu mengajak kekasihnya untuk berdansa, wanita itu menerimanya dan merekapun berdansa.

Para tamu restaurant memberikan tepuk tangan dan memperhatikan mereka.

Tiba-tiba kenangan bersama tiffany muncul dalam benaknya, dimana saat taeyeon mengajaknya berdansa dan berakhir dengan pernyataan cinta taeyeon. Dan saat itulah perasaan rindu pada tiffany kembali hadir. Tanpa ia sadari air matanya menetes dan itu menarik perhatian suzy.

“Taeyeon kau baik-baik saja?” suara itu berhasil menyadarkan taeyeon.

“E-eoh”

“Lalu mengapa kau menagis?”

Menangis?

Ia usap pipinya dan benar, pipinya basah karena air matanya sendiri.

“Maaf sepertinya mataku kelilipan” taeyeon menunjukkan senyum canggungnya.

“Suzy-ah kita pulang saja, aku benar-benar lelah”

“Baiklah”

.

.

“Masuklah” ujar taeyeon saat mereka sudah sampai di apartemen suzy.

“Kau tidak masuk?”

“Akan lebih baik jika aku pulang”

“Tapi aku masih ingin bersamamu. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan tak pernah menyempatkan waktu untukku, Please”

“…………………………..” taeyeon tak merespon sama sekali. Moodnya benar-benar buruk. Emosinya selalu tak stabil sejak hubungannya dengan tiffany berakhir.

“Tae” suzy menggenggam tangan taeyeon membuatnya kembali tersadar. Taeyeon hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan senyuman kecil.

Merekapun masuk bersama. Taeyeon mendudukkan dirinya disofa sambil memejamkan matanya. Sedangkan suzy masuk kedalam kamarnya.

‘Make me love you’

“Ya paman” taeyeon mengangkat telepon masuk dari handphonenya.

“Nona, dokter soyou mengirimkan sebuah barang tadi sore”

“Barang?”

“Ya, sebuah kalung. Ia mengatakan jika kalung itu berada dikamar VIP yang pernah anda tinggali”

“Kalung? Bisa paman kirimkan gambar kalung itu?”

“Baiklah nona saya akan mengirimkan gambar kalung itu pada anda secepatnya”

“Terimakasih paman” taeyeon mematikan teleponnya dan tak lama sebuah pesan masuk datang.

Ia buka pesan itu dan disana sebuah gambar muncul. Gambar sebuah kalung yang berbentuk note musik.

Screenshot_2017-06-03-05-05-08-1

Dan detik itu juga sekelebat bayangan datang menghampiri seluruh isi kepalanya.

‘N-nugu-saeyo?’

‘Kim taeyeon’

‘Senang rasanya bisa melihatmu tertawa seperti itu pany-ah’

Taeyeon mencengkeram kepalanya. Bayangan-bayangan itu membuat kepalanya sakit luar biasa.

‘Kalungku dan kalungmu memiliki keterkaitan satu sama lain. Maksudku mereka saling berhubungan. Saat kau membutuhkanku aku akan datang dan tahu posisimu, begitupun sebaliknya’

‘Uljima, aku lebih suka melihatmu tersenyum dengan eyesmile itu’

‘Merry christmas pany-ah’

‘Maksudku memberikan sinyal mengijinkan mereka untuk mendekatimu. Kau tidak lihat? Dia bahkan hampir saja melakukan aktingnya untuk membersihkan noda makanan dibibirmu. Aku tidak suka itu. Kau milikku, hanya milikku taeyeon’

Taeyeon memperkuat cengkeramannya. Sakit luar biasa itu rasanya bisa membuat kepalanya meledak kapan saja.

‘Kau tidak tahu bagaimana mereka memojokkanku, menghinaku, mereka selalu menatapku jiji, mereka memperlakukanku seperti sampah! Apa aku seburuk itu? Mengapa mereka hanya memandang wajah? Mereka bahkan membawa-bawa mendiang mommy! Tempat itu bagaikan neraka bagiku!!!! AAAAAAHHHHH!!!’

‘Hiks-kukira aku tidak akan pernah melihatmu membuka mata lagi-hiks. Ku kira-hiks kau pergi selamanya meninggalkanku sendirian disini’

‘Siapa yang bilang kau tak bisa menghangatkanku? Kau selalu menghangatkanku, terutama hatiku taeyeon. Meski dari luar terasa dingin tapi kau menghangatkanku dari dalam. Terimakasih sudah hadir dihidupku taeyeon’

‘Aku mencintaimu kumohon jangan pergi. Apa itu tidak cukup untuk membuatku tinggal disisiku?’

Ia terjatuh dan tersungkur menahan rasa sakit itu.

“Aaakhh!”

‘Meski begitu kau tidak boleh mundur, tunjukkan pada mereka jika kau tidak seperti yang mereka pikirkan. Kau bahkan lebih baik dari mereka. Jangan menghindar dan menjadikan dirimu seperti pecundang. Aku akan membantumu pany-ah, karena itulah aku ada disini bersamamu. Jadi ayo berjuang bersama’

‘Aku akan kembali, aku takkan pergi. Jadi sampai saat itu tiba bisakah kau menungguku?’

‘Mengapa aku merasakan sebuah detakan didadaku?’

‘Aku menyukai tempat ini, dimana salju bergelimang dan membuat orang-orang bahagia karenanya. Apa aku bisa datang lagi kemari bersamamu?’

‘Maaf, aku tidak bisa menghangatkanmu’

‘Kuharap kaulah yang akan menjadi penyelamatku. Kau hanya perlu berada disisiku, mencintaiku dengan tulus tanpa menyakitiku sampai musim salju berakhir. Dengan begitu aku akan kembali hidup sebagai manusia’

‘Omo! Maafkan aku sepatuku lepas begitu saja hhe’

‘Bukk! Ijinkan aku untuk membalas perbuatanmu tadi padaku’

Chuuu~

‘ANDWAE !!! TAEYEON!!!’

Deg!

Taeyeon membuka matanya membelalak. Air matanya mengalir begitu saja membasahi pipi putihnya. Rasa sakit itu seketika mengilang bersamaan dengan ingatan itu. Rasanya ia membeku.

Ingatan itu…

Ia mengingat semuanya.

Semua yang tiffany katakan padanya adalah kenyataan. Dan ia kini menyadari itu. Hatinya sakit mengingat itu. Ia mengingkari janjinya, janji bahwa ia akan kembali dan mengingat semuanya. Dan bahkan sekarang ia menyakiti cintanya sendiri, ia menyakiti wanita yang ia cintai.

“Taeyeon gwaenchana?” suzy berlari dan membelai pipi taeyeon, ia benar-benar terkejut begitu melihat taeyeon tersungkur kesakitan seperti itu.

Perlahan taeyeon menatap suzy masih dengan ekpresi blanknya.

“Taeyeon-ah”

“Mianhae, suzy-ah”

“Maaf untuk apa? Karena memilihku?”

Taeyeon tak mampu menjawa dengan perkataan, ia hanya mengangguk. Air mata suzy mulai menetes.

“A-aku mencintainya. Mianhae”

“Pergilah” ujar suzy.

“Terimakasih, kau akan menjadi kenangan indah dimasa laluku” taeyeon memeluk suzy. Suzy membalas pelukan itu untuk terakhir kalinya, suatu saat ia takkan bisa memeluk taeyeon seperti ini.

***

Taeyeon POV

Kuparkirkan mobilku didekat gerbang universitas dimana tiffany menimba ilmu. Kulihat mahasiswa dan mahasiswi mulai ramai keluar dari gerbang universitas, dengan segera aku keluar dari mobilku dan menajamkan mataku untuk mencarinya.

Banyak orang yang melihat sambil berbisik melihatku disini. Namun kuacuhkan itu semua dan hanya focus mencari tiffany, hingga mataku menangkap jessica yang sedang berjalan sendiri.

“Jessica-ssi!” panggilku sambil menghampirinya.

Plakk!!!

Rasa sakit menjalar dipipiku, rasa panas kurasakan pula. Ia menamparku dengan sangat keras. Aku yakin pasti ini akan meninggalkan jejak merah.

“Ya!! Neo!! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada tiffany?!”

Tak ada emosi yang keluar dari hatiku, kali ini aku memang pantas mendapatkan tamparan ini.

“Karena itulah aku kemari. Dimana tiffany?”

“Mengapa kau mencarinya? Bukankah kau telah meninggalkannya?!”

“Bukan seperti itu, aku-”

“AKU APA?! Jika kau hanya ingin mempermainkan tiffany sebaiknya menjauhlah. Karena kau, tiffany seperti mayat hidup!”

“Apa maksudmu?”

“Tak ingin makan, minum bahkan berbicara. Ia hanya menangis dan menangis! Semua itu karenamu kim taeyeon! Karenamu tiffany sakit, sudah 1 minggu dia tak masuk kuliah”

Sakit?

Separah itukah ia karena perbuatanku ini?
Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan padanya?

Tanpa pamit taeyeon berlari menuju mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh.

.

.

Ting tong

Ting tong

Tuan hwang yang sedang membuat bubur mengecilkan apinya dan menghampiri pintu saat mendengar suara bel berbunyi.

Ckrek

Ia membelalakan matanya terkejut melihat siapa yang datang, begitupun orang itu yang tak kalah terkejut melihat siapa yang membukakan pintu.

“M-manajer Hwang?”

“Ya, aku tidak menyangka bisa bertemu anda disini presdir”

“Mengapa kau ada disini?”

“Karena ini adalah rumahku presdir Kim… Taeyeon”

“Ne?”

Taeyeon diam membeku ditempat. Ia tak menyangka dengan ini semua. Jadi ayah tiffany adalah hwang ki woo (lee ki woo), pekerjanya diperusahaan.

Lee-Ki-Woo10

“Seolma..” taeyeon menebak.

“Ya, anda benar” tuan hwang membenarkan apa yang taeyeon pikirkan.

.

.

“Bagaimana keadaan tiffany?” tanya taeyeon.

Saat ini mereka sedang duduk dikursi halaman rumah milik tuan hwang.

“Dia baik-baik saja, dia makan dengan baik dan lahap. Senyumnya tak lepas dari wajah cantiknya” jawab tuan hwang. Taeyeon tersenyum kecil mendengar itu.

Tuan hwang sedang berbohong padanya.

“Apa dia kuliah dengan rajin?”

“Ya, dia mendapat nilai yang baik. Dia anak cerdas seperti ibunya”

“Mengapa anda berbohong?” ujar taeyeon menatap tuan hwang dengan sedih.

“……………..”

“Apa karena mgr. Hwang ingin aku tak mengkhawatirkannya dan menjauh?”

“……………….”

Taeyeon tahu jawabannya tanpa harus tuan hwang jawab. Sepertinya dugaannya benar bahwa tuan hwang sudah mengetahui hubungannya bersama tiffany.

“Aku mencintai putrimu” ucap taeyeon membuat tuan hwang mengerutkan keningnya.

“Mengapa anda mengatakan hal seperti ini?”

“Karena aku menginginkan restumu”

“Kau menginginkan restuku setelah apa yang telah kau lakukan pada putriku?”

“Kau pikir aku akan merestui hubungan tidak bermoral ini?!” emosi tuan hwang.

“Aku takkan merestuinya sampai kapanpun. Kau sudah melukai putriku sampai ia menjadi seperti itu! Tidak mau makan dan melakukan apapun, dia hanya menangis setiap malam. Kau sudah melakukan hal seperti ini padanya apalagi kedepannya, kalian pikir hubungan kalian akan bertahan sampai akhir?”

“Itu adalah kesalahan yang pernah aku lakukan, aku menyesali itu semua. Kami saling mencintai mgr. Hwang”

“Cinta kalian hanyalah cinta anak muda yang sementara. Tinggalkan dia, dia tidak sepertimu! Dia hanya sesaat melupakan jati dirinya”

Perkataan tuan hwang sangat menusuk hati taeyeon, perkataannya seolah mengatainya jika dirinya tak bermoral, manusia tak benar dan tak memiliki jati diri.

“Semenjijikan itukah aku dimatamu mgr. Hwang?” tanya taeyeon.

“Ya, jadi menjauhlah dari putriku. Aku harap anda mengerti, aku berbicara seperti ini sebagai ayah tiffany bukan sebagai bawahan anda”

Taeyeon tersenyum kecut, ia tak ingin menyerah namun tetal saja ia harus kembali memikirkan perasaan tuan hwang.

“Aku mengerti. Tapi bisakah kau ijinkan aku melihatnya untuk yang terakhir kali?”

“Dia sedang tidur, dia baru saja terlelap. Aku tidak ingin dia kembali bangun”

“Hanya sebentar dan setelah itu aku akan pergi. Aku akan menjauh seperti yang kau minta”

.

.

Taeyeon POV

Sebuah pintu yang bertuliskan ‘Tiffany Room‘ kini tepat berada didepanku. Menarik nafas sejenak lalu membuka pintu itu.

Gelap.

Lama kelamaan mataku dapat menyesuaikannya dan akupun berjalan menuju ranjang dimana dia sedang tertidur. Ia terlihat sangat pucat dan kurus. Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana bisa aku membuatnya seperti ini.

Kududukan diriku sisi ranjang dan menatapnya dalam kesedihan. Kusingkirkan poninya yang sedikit menutupi wajah cantiknya. Aku pasti akan merindukan sosok ini. Setiap sikap manjanya, senyumnya, tawanya, dekapannya dan ciumannya.

“Maafkan aku. Maafkan wanita jahat ini pany-ah” lirihku sambil mengusap pipinya. Bisa kurasakan tubuhnya yang panas, dia benar-benar sedang demam.

“Maaf tapi aku rasa sebaiknya kita akhiri saja semua. Wanita sempurna sepertimu tak pantas berada disampingku yang hanya bisa menyakitim”

“Maaf karena aku tak bisa memperjuangkan cinta kita lebih jauh, terlalu banyak yang tak menyukai kita”

Kulepaskan kalung yang menggantung dileherku dan menyimpannya dimeja samping ranjangnya. Aku tidak pantas memiliki itu, masih banyak yang lebih pantas memilikinya.

Kupandang sekali lagi sebelum akhirnya aku mendekatkan wajahku dengan perlahan, ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya.

“Maaf karena telah menyakitimu dan melupakan janjiku padamu. Aku benar-benar menyesali itu.”

“Saranghae, neomu” lirihku.

Chuu~

Kukecup bibirnya dan mendiamkan bibirku beberapa detik disana. Air mataku menetes begitu saja, aku tak bisa menahannya, ini terlalu menyakitkan membayangkan bahwa aku takkan bisa bersamanya lagi.

***

Author POV

“Nona kita harus pergi sekarang” Suara itu berhasil membangunkan taeyeon dari lamunannya.

“Ya, aku akan segera turun” jawab taeyeon tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang memandang taman yang tak jauh dari kamarnya.

Pria itu pergi dan menyisakan taeyeon sendiri. Ia merasa lemas dan tak bergairah. Ia merasa sesuatu yang kosong dan hampa dalam hatinya. Ia yakin beginilah perasaan tiffany saat dirinya menyakiti gadis itu.

Tok tok tok

“Unnie?”

Taeyeon mengalihkan pandangannya pada seseorang yang memanggilnya.

“Hai” sapa taeyeon.

“Hati-hati dijalan dan jaga kesehatan unnie” ujar seohyun memeluk taeyeon. Ia balas pelukan adiknya itu.

“Eoh, neodo. Kau juga belajarlah dengan giat dan rajin tapi jangan sampai kau memforsir dirimu untuk belajar, itu akan membuatmu stress”

“Katakan itu pada dirimu” taeyeon terkekeh mendengar jawaban adiknya.

“Unnie harus berangkat” taeyeon melepaskan pelukannya dan mencium kening seohyun. Ia berjalan pergi menuju mobilnya sudah siap mengantarnya pergi.

Tiffany POV

Kubuka mataku perlahan.

Pandangan buramku kini mulai menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang menyinari kedalam kamarku.

Aku terdiam menatap langit-langit kamarku. Semalam aku merasakan kehadirannya, ya..

Aku bermimpi tentangnya.

Mimpi yang buruk.

‘Maaf tapi aku rasa sebaiknya kita akhiri saja semua. Wanita sempurna sepertimu tak pantas berada disampingku yang hanya bisa menyakitimu’

Hahh~ aku benar-benar tak mengharapkan mimpi seperti itu.

‘Maaf karena aku tak bisa memperjuangkan cinta kita lebih jauh, tapi aku rasa terlalu banyak yang tak menyukai kita’

‘Maaf karena telah menyakitimu dan melupakan janjiku padamu. Aku benar-benar menyesali itu’

‘Saranghae, neomu’

Chuu~

Sejujurnya mimpi itu terasa nyata, sangat nyata hingga rasanya aku merasakan dengan jelas bagaimana dia menciumku dengan lembut dan air mata.

“Sadarlah, kau hanya terlalu merindukannya” lirihku. Kuposisikan diriku untuk duduk.

“Akh” ringisku saat merasakan kepalaku yang berdenyut.

Saat tanganku mengambil gelas yang berada dimeja samping ranjangku, mataku menangkap sesuatu yang tak asing bagiku. Bukankah itu..

Kuambil kalung itu untuk memastikan jika pandanganku tidaklah salah.

Degg

Bagaimana bisa kalung miliknya berada disini?

Mungkinkah ..

Aku berlari mencari keberadaan daddy, aku harus memastikan apa yang aku pikirkan adalah benar.

“Daddy katakan padaku jika taeyeon semalam datang kemari” ujarku pada daddy yang sedang memasak. Ia menghentikan aktivitasnya dan menghampiriku.

“Honey daddy rasa kau sedang bermimpi. Tak ada yang datang kemari” jawabnya mengelus pipiku.

Bohong..

Daddy sedang berbohong padaku. Saat daddy berbohong daddy akan mengepalkan sebelah tangannya.

“Berhenti berbohong padaku dad, katakan yang sebenarnya!” kesalku.

“Honey! Bagaimana bisa kau berteriak pada daddy seperti itu”

“Karena aku ingin kebenaran dad. Jadi katakan yang sebebarnya”

“Jika dia kemari lalu apa yang akan kau lakukan, hah?! Berlari mengejarnya?”

Jadi…

Dia benar-benar menemuiku..

‘Maaf karena aku tak bisa memperjuangkan cinta kita lebih jauh, tapi aku rasa terlalu banyak yang tak menyukai kita’

‘Maaf karena telah menyakitimu dan melupakan janjiku padamu. Aku benar-benar menyesali itu’

‘Saranghae, neomu’

Kulangkahkan kakiku untuk pergi, namun daddy menahanku.

“Mau kemana kau? Kau sedang sakit”

“Lepaskan dad, aku harus menemuinya” kulepaskan genggaman daddy dan berlari. Namun daddy tak ingin menyerah ia kembali menghalangiku.

“Percuma saja, kau takkan bertemu dengannya tiffany! Lupakan dia!”

“Aku tidak bisa! Aku mencintainya dad, kumohon biarkan aku pergi”

Plakk!

Panas..

Sakit..

Kurasakan semua itu tepat diwajahku. Aku hanya bisa diam terkejut dengan apa yang baru saja daddy lakukan padaku. Ini adalah pertama kalinya daddy bertindak kasar seperti itu padaku.

“Sampai kapanpun daddy takkan membiarkanmu berlari padanya! Dia sudah pergi! Kau takkan bertemu dengannya!”

Deg

Pergi?

Aku menatap daddy dengan air mata yang sudah menetes. Terkejut.. Aku sangat terkejut.

“Dia akan pergi ke jerman, mungkin sekarang dia sudah berada didalam perjalanan tiffany. Jadi lupakan dia”

Jerman?

Aku harus menemuinya, setidaknya aku harus melihatnya sebelum pergi.

Aku kembali melangkahkan kakiku.

“Jadi kau lebih memilih dia daripada daddy yang membesarkanmu hingga kau dewasa?” kalimat itu berhasil menghentikan langkahku.

Kubalikkan tubuhku menatap daddy, masih dengan air mata mengalir dari mataku.

“Maafkan aku daddy, tapi aku harus memilihnya. Karena aku yakin daddy takkan meninggalkanku” ucapku lalu pergi meninggalkan rumahku.

“Taxi!” Kunaiki taxi yang berhenti itu.

“Tolong antarkan aku kebandara intenasional incheon” ujarku lalu dengan segera kuhubungi hyunie.

“Tiffany unnie?”

“Hyunie-ah, jam berapa taeyeon akan take off?” tanyaku tanpa basa basi.

“Emm jam 10, ada ap-” kututup sambungan telepon itu tanpa mendengar jawabannya lebih lanjut. Kulihat jam diponselku menunjukkan pukul 09.20 am. Masih ada waktu 40 menit sebelum dia benar-benar pergi.

“Tolong lebih cepat ahjussi” pintaku.

Sesampainya dibandara incheon, aku berlari masuk kedalam bendara.

“Akh” ringisku saat merasakan denyutan dikepalaku. Rasa pusing dikepalaku sama sekali belum hilang.

Tuhan, tolong aku..

Bagaimana aku harus mencarinya? Disini terlalu banyak orang. Bagaimana bisa aku mencarinya dikeramaian seperti ini?

Aku berlari terus dan terus mencarinya hingga sisa waktuku hingga tinggal 5 menit lagi. Kunaiki escalator sambil terus mengedarkan pandanganku, namun hasilnya tetap nihil. Aku tidak bisa menemukannya.

Tuhan kumohon..

‘Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat yang bertujuan menuju jerman dimohon untuk segera memasuki kabin 3’

Kabin 3?

Dengan langkah cepat aku berlari menuju kabin 3, rasa lemas dan sakit dikepalaku kuabaikan. Pikiranku saat ini hanyalah taeyeon, aku harus bertemu dengannya.

Taeyeon POV

‘Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat yang bertujuan menuju jerman dimohon untuk segera memasuki kabin 3’

Hahh~

Kuedarkan pandanganku menatap seluruh bandara yang luas ini. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku disini. Aku pasti akan merindukan korea sekaligus sakit secara bersamaan, karena disinilah duniaku yang penuh dengan cerita dan kenangan. Semua ada disini, kenangan yang menyakitkan dan juga membahagiakan.

“Aku juga pasti akan sangat merindukanmu pany-ah” lirihku tersenyum kecut.

Kulangkahkan kakiku untuk masuk kedalam pesawat. Annyeong seoul, kurasa kita takkan bertemu dalam waktu dekat ini.

“Taeyeon-ah!”

Degg

Tiffany??

Kubalikkan tubuhku memastikan jika pendengaranku tidaklah salah ataupun rusak.

Bugg!!

Tubuhku sedikit terdorong kebelakang karena dorongan tubuhnya yang memelukku.

“Kajima-hiks

“Jebal kajima”

Tubuhku seketika membeku, benarkah dia tiffany gadis yang kucintai? Gadis yang selalu membuat hari-hariku berwarna dan cerah?

Kubalas pelukannya dengan erat membuatnya semakin merapat denganku. Aku yakin sekarang jika dia benar-benar tiffany. Harum tubuhnya aku sangat mengenalnya.

“Kajima jebal-hiks

Kulepaskan pelukanku dan sedikit menjauhkannya. Air matanya menetes dengan deras.

“Uljima” ujarku menghapus air matanya. Ia tak pantas menangis, seharusnya ia tersenyum bukan menangis seperti ini.

“Kau jelek saat menangis” ucapku agar ia berhenti meneteskan bulir-bulir dari matanya. Ia hanya mematapku sambil terisak.

“Kajima tae” lirihnya masih terisak.

“………………..” aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku sudah berjanji pada ayahnya. Meskipun aku sangat ingin bersamanya tapi semua tak sejalan dengan apa yang hatiku inginkan.

“Tae”

“Mianhae” hanya itu yang bisa aku katakan.

“Jadi kau akan tetap meninggalkanku untuk yang kedua kalinya?”

Kata-katanya menusuk hatiku dan membuatku mengingat kembali kejadian 3 tahun lalu saat aku meninggalkannya yang menangis tersedu-sedu memintaku untuk tetap bersamanya.

“Kajima. Aku mencintaimu tae, kajima” kuhapus air matanya lagi dan mengelus pipinya lembut, dia masih dalam keadaan demam.

“Kau harus kembali, kau demam pany-ah”

“Jangan mengalihkan pembicaraan tae. Apa kau akan meninggalkanku lagi? Kau tidak bisa pergi begitu saja, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan padaku semalam”

“Kau menciumku tanpa ijin dan membuat hatiku semakin tak rela kehilanganmu. Jika kau memang menyesali perbuatanmu seharusnya kau menembusnya dengan semakin mencintaiku dan berada disisiku bukan pergi begitu saja, nappeun neoman”

“Kau.. Mengapa kau sangat senang menarik ulur hatiku?! Kau-”

Chuu~

Tak ingin mendengarnya terus berbicara aku potong ucapannya dengan sebuah ciuman singkat.

Aku akui ucapan tiffany memanglah benar, aku adalah seorang pecundang yang bermain kabur begitu saja. Aku hanya bingung dan tak tahu harus berbuat apa.

“Kau pikir ini mudah untukku melepasmu? Hatiku sakit dan kepalaku rasanya ingin meledak karena terus memikirkanmu dan merindukanmu, ini benar-benar menyiksaku” ucapku setelah melepaskan kecupanku.

“Kalau begitu jangan lepaskan aku. Genggam tanganku meski keadaan memberikan kesenangan ataupun kedukaan”

“Kita bisa melewati semuanya tae, hanya perlu bersabar dan mengusahakan yang terbaik. Aku benar-benar mencintaimu jadi aku mohon tetaplah disisiku tae” air matanya kembali menetes.

“Aku sering menyakitimu pany-ah, bagaimana bisa kau masih mencintaiku”

“Karena kau kim taeyeon, penyelamatku dan malaikatku” aku tersenyum mendengar jawabannya.

“Maaf untuk kesalahanku, aku tak bermaksud mempermainkanmu. Hatiku tulus mencintaimu, aku hanya terbawa masa lalu hingga semua itu membuatku lupa dan buta” sesalku. Ia menganggukkan kepalanya sedikit tersenyum, bisa kulihat raut kesedihan itu masih belum bisa hilang.

“Saranghae” ucapku.

“Nado” jawabnya.

Author POV

Taeyeon kembali mendekatkan wajahnya dan mencium tiffany. Tiffany menyambut itu dengan menutup kedua matanya dan membalas setiap lumatan yang taeyeon berikan.

Dunia bagaikan milik mereka saja. Mereka mengacuhkan orang-orang yang menonton mereka berdua. Mereka terlalu merindukan satu sama lain hingga tak bisa menahan hasratnya.

.

.

“Kau masih demam, bagaimana bisa kau pergi dan berlari-lari seperti tadi” taeyeon mengusap dahi tiffany. Wajah tiffany benar-benar pucat dan juga tirus. Saat ini mereka sedang berada dimobil bersama supir perusahaan.

“Aku tidak apa-apa”

“Kau bahkan terlihat sangat kurus. kudengar kau selalu menolak makan, apa kau ingin mati?” Tiffany hanya menunduk.

“Itu karena aku tidak-”

Gruwukk

Tiffany terdiam bahkan kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia benar-benar merasa malu. Perutnya baru saja berbunyi dengan sangat keras, padahal ia sama sekali tak merasa lapar.

“Ahhahahaha” tawa taeyeon. Tiffany menatap taeyeon dengan tatapan menakutkan membuat taeyeon menghentikan tawanya.

Tiffany hell mode on, pikir taeyeon.

“Jadi apa ingin aku belikan sesuatu?” tanya taeyeon. Bukannya menjawab tiffany justru memalingkan mukanya. Sebenarnya ia bukan kesal ataupun marah karena taeyeon menertawakannya tadi tapi karena tadi itu benar-benar memalukan untuknya hingga ia tak tau apa yang harus ia lakukan, dan hanya itu yang bisa ia lakukan dalam aksi salah tingkahnya itu.

“Aigoo~ maafkan taetae pany-ah” taeyeon mengecup pipi tiffany.

“Taeyeon-ah” ujar tiffany sambil menjauhkan taeyeon darinya. Tiffany menggerakkan pandangannya dimana supir itu berada, ia sedang memberikan isyarat pada taeyeon untuk menjaga sikapnya. Sejujurnya tiffany merasa risih sejak tadi, karena sang supir terus memperhatikan mereka berdua dari kaca spion.

Taeyeon yang mengerti maksud tiffany bukannya berhenti justru kembali mengecup pipi tiffany berkali-kali membuat tiffany membelalakan matanya tak percaya.

“Lee dong wook-ssi apa kau keberatan dengan sikapku?”

“Ne? A-anyo presdir” jawabnya gugup.

“See? Dia bilang tak apa-apa. Lagipula semua sudah tau aku memiliki kekasih wanita, merekapun sudah melegalkannya pany-ah”

“Tetap saja ini masih terlalu dini tae, masih banyak pro dan kontra mengenai ini”

“Dan kita baru saja berciuman dimuka umum, mereka menonton kita sambil tercengang dan mengeluarkan air liur mereka”

“Taeyeon-ah”

Ckckck arasseo.. Arasseo” jawab taeyeon kesal namun setelahnya membawa tiffany untuk bersandar dipundaknya.

“Lain kali jangan berbuat sesuatu yang membuatmu sakit. Aku tidak suka” lirih taeyeon mengelus rambut tiffany.

“Emm mianhae”lirih tiffany sambil melingkarkan tangannya diperut taeyeon.

“Dongwook-ssi tolong antarkan kealamat ini” taeyeon memberikan secarik kertas beralamat rumah tiffany. Tiffany melihat itu menarik tangan taeyeon yang hendak memberikan kertas itu.

“Bisakah kita ketempatmu saja? Sudah lama aku tak mengunjungi rumahmu” pinta tiffany.

“Kalau begitu aku harus menghubungi daddymu”

“Tidak perlu, dia sudah tau kalau aku sedang pergi”

“Benarkah? Hmm, baiklah”

“Dongwook-ssi antarkan kami kerumahku saja”

.

.

“Unnie? O’tiffany unnie!!!” teriak seohyun. Ia heran mengapa unnienya kembali lagi kerumah dan juga sekaligus terkejut senang karena ada tiffany.

Seohyun memeluk tiffany.

“Unnie kau sakit? Tubuhmu panas dan kau juga terlihat kurus juga pucat” seohyun melepaskan pelukannya dan menatap tiffany.

“Aku baik-baik saja hyunie”

“Geojitmal” ketus seohyun cemberut, ia tuntun tiffany menuju sofa dan diikuti taeyeon dari belakang.

“Oh ya mengapa unnie masih disini? Bukankah jam terbang menuju jerman pukul 10? Sekarang sudah pukul 11.45 am”

“Aku tidak jadi pergi”

“Jinja?! Wae???” seohyun benar-benar terkejut dengan jawaban unnienya itu. Ia tak bisa mempercayainya.

“Geunyang”

“Mwo? YA! Unnie!”

“Ya! Mengapa kau berteriak padaku?”

“Itu karena-seolma???” seohyun menatap tiffany dan taeyeon bergantian. Ia ingat saat tiffany menghubunginya hanya untuk menanyakan keberangkatan taeyeon. Benar-benar tak bisa dipercaya.

Ia sudah berulang-ulang kali memohon agar taeyeon tidak pergi, ia bahkan sudah melakukan berbagai cara namun hasilnya tetap nihil, taeyeon tetap memutuskan untuk pergi.

“Maldo andwae, unnie bagaimana bisa kau lebih menurut pada orang lain dibandingkan adikmu sendiri” kesal seohyun. Ia cemburu, ia merasa kasih sayang taeyeon mengurang untuknya.

“Bukan seperti itu hyunie. Aku memiliki alasan tersendiri mengapa aku harus pergi. Tapi keadaan sekarang berbeda. Hyunie tau unnie sangat menyayangimu kan? Kau satu-satunya keluarga yang aku miliki jadi tentu saja aku akan sangat menyayangimu” taeyeon mencoba untuk menjelaskan.

“Arasseo. Mianhae unnie.. Aku juga sangat menyayangi unnie” seohyun memeluk taeyeon. Tiffany tersenyum melihat sepasang kaka beradik itu, mereka terlihat so sweet.

“Tidak apa-apa, maafkan unnie juga. Oh ya apa kau sudah makan siang?”tanya taeyeon, seohyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Ahjumma!” panggil taeyeon. Tak lama ahjumma itu datang.

“Ne nona”

“Bisa kau buatkan makan siang untuk kami, kami akan makan bersama disini”

“Ne” ahjumma itu membungkukkan tubuhnya dan berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang taeyeon minta.

“Unnie aku akan mengerjakan tugasku sambil menunggu makan siang siap” ujar seohyun lalu mengecup pipi taeyeon sebelum pergi.

“Pany-ah sambil menunggu ahjumma selesai, lebih baik jika kau beristirahat dikamar”

“Ne” saat tiffany bangkit dan akan berjalan tubuhnya tiba-tiba limbung membuatnya hampir terjatuh jika saja taeyeon tidak menahannya dengan cepat.

“Pany-ah gwaenchana?” khawatir taeyeon.

“A-ah ne, kepalaku benar-benar sakit” tiffany sedikit mencengkeram kepalanya.

“OMO!” teriak tiffany karena taeyeon baru saja menggendongnya ala bridal style dan membawanya menuju kamar miliknya.

“Tae apa yang kau lakukan? Turunkan aku”

“Shireo, kau sedang sakit pany-ah. Bagaimana jika kau terjatuh lagi?”

“Tapi…. aku berat”

“Itu bukan masalah, setidaknya beratmu tidak seberat elephant”

“Ya’~” tiffany memukul pelan dada taeyeon.

Taeyeon menutunkan tiffany diranjang king sizenya dan setelah itu menghubungi seseorang malalui teleponnya.

“Dr. Kang bisakah kau kemari? Seseorang sedang sakit disini”

“…………………”

“Ne, aku akan menunggumu” setelah itu taeyeon menutup teleponnya dan duduk sisi ranjang.

“Tidurlah”

“Aku tidak mengantuk. Aku ingin membersihkan diriku tae. Aku belum mandi” ucap tiffany dengan lirih diakhir. Taeyeon tersenyum

“Aku tau.. Tapi tanpa kau mandipun kau tetap harum dan membuatku ingin terus menciummu”

“Emmm berhenti menggombal tae, kau membuatku malu” taeyeon bisa melihat wajah tiffany yang merona dan ia menyukai itu.

“Akan kusiapkan air hangat untukmu” ia mengecup dahi tiffany sebelum menyiapkan semuanya untuk tiffany.

.

.

“Dia tidak apa-apa, hanya kelelahan dan kekurangan nutrisi. Dampak utamanya adalah stress. Jadi hindari stress karena itu akan sangat mengganggu kesehatanmu. Tolong makan obatnya dengan teratur” ujar dokter kang soyou.

“Ne” jawab tiffany.

“Terimakasih dokter kang” ucap taeyeon.

“Kalau begitu aku permisi” dokter itu membungkuk dan pergi.

“Akan kubawakan makan siangmu kemari”

“Tidak perlu, aku ingin makan bersama tae”

“Kau yakin?” tiffany menganggukkan kepalanya. Tiffanypun berjalan menuju ruang makan dengan taeyeon yang menuntunnya.

Mereka makan dalam suasana hening. Mereka menikmati makan mereka kecuali tiffany yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Ia hanya memakan 2 suap saja.

“Apa makanannya tidak enak pany-ah?”tanya taeyeon.

“Tidak, aku hanya sedang tidak bernafsu untuk makan”

“Makanlah sedikit lagi, kau belum mengisi perutmu beberapa hari ini”

“Aku sudah memakannya tadi. Aku ingin beristirahat saja” tiffany bangkit dan berjalan menuju kamar taeyeon.

“Unnie, aku rasa ada sesuatu yang sedang tiffany pikirkan”

“Ya, aku rasa juga begitu”

.

.

Tiffany POV

‘Jadi kau lebih memilih dia daripada daddy yang membesarkanmu hingga kau dewasa’

Kata kata itu sebenarnya adalah tusukan bagiku. Jika aku kembali apa daddy masih akan menganggapku sebagai putrinya?

Bukan maksudku untuk lebih memilih taeyeon, tapi aku benar-benar tidak bisa melepaskannya, hatiku sudah terlalu jatuh untuknya. Kuharap daddy mengerti dengan pilihanku.

Kubaringkan menyamping diriku diranjang, kepalaku semakin berdenyut.

‘Jadi kau lebih memilih dia daripada daddy yang membesarkanmu hingga kau dewasa’

“-hiks

“Daddy-hiks

“Sepertinya kau memiliki masalah dengan daddymu” suara itu berhasil membuat tiffany terkejut bukan main. Ia tak tahu sejak kapan taeyeon berada disini, ia tidak mendengar suara apapun selain dirinya.

Taeyeon melingkarkan tangannya diperut tiffany dan menyandarkan dahinya dipunggung kekasihnya.

“Maafkan aku, aku tahu semua ini karenaku” ujar taeyeon.

“……………………”

“Seharusnya aku tetap pergi saja” lirih taeyeon.

“Kajima, jangan berbicara seperti itu. Aku tidak bisa kehilanganmu” tiffany memegang tangan taeyeon yang melingkar diperutnya.

“Kita bisa membujuk daddy” lanjut tiffany.

“Aku sudah mencobanya”

“Kalau begitu lakukan lagi, kali ini kita lakukan bersama-sama” tiffany membalikkan tubuhnya menatap taeyeon yang juga menatapnya dengan sedih.

“Aku mohon jangan pernah lepaskan aku, kita bisa melewatinya. Taeyeon-ah” mohon tiffany, ia bisa merasakan matanya yang mulai basah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya tanpa taeyeon. Beberapa hari ini saja ia sudah merasa hancur dan tanpa arah, apalagi jika itu harus selamanya tanpa taeyeon.

Taeyeon menganggukkan kepalanya lemah, ia usap kepala tiffany sambil memperlihatkan senyumnya.

“Geokjeongma, kali ini aku takkan melepasmu. Bahkan jika semua tak merestui kita aku akan tetap bersamamu meski itu harus mempertaruhkan nyawaku. Maaf karena datang terlambat dan juga terlambat menyadari isi hatiku yang sesungguhnya padamu”

“Aku percaya padamu, jadi jangan sia-siakan kepercayaanku”

Taeyeon mengangguk dan membawa tiffany untuk didekapnya. Ia memeluknya dengan erat. Sedangkan tiffany menyadarkan dahinya didada taeyeon sambil membalas pelukannya.

“Tidurlah, aku akan menemanimu” ujar taeyeon mengelus kepala tiffany.

Tiffany mulai memejamkan matanya. Ia rasa kali ini ia akan tidur dengan nyenyak dalam dekapan taeyeon. Dekapan yang selalu membuatnya nyaman dan aman.

***

“Hei” sapa taeyeon memeluk tiffany dari belakang dan menyimpan dagunya dipundak tiffany.

“Sudah pulang? Lelah?” tanya tiffany mengelus pipi taeyeon, sedangkan tangan satunya mengelus tangan taeyeon yang melingkar diperutnya.

“Ne, neomu himdeureo. Seharian tak mendapat vitamin membuatku lemas pany-ah” taeyeon berkata dengan nada manja.

“Bukankah kau selalu minum vitaminmu setiap hari?”

“Bukan vitamin itu, tapi…. Emm kisseu?”

“Ya’ byuntae” tiffany sedikit mendorong wajah taeyeon sambil terkekeh. Ia melepaskan pelukan taeyeon dan membalikkan tubuhnya.

“Huaa pany-ahh” taeyeon mengekspresikan wajahnya seperti sedang menangis.

“Mwo mwo mwo??” tiffany menangkupkan kedua tangannya di pipi taeyeo dan mengecupnya diseluruh wajah taeyeon dengan cepat.

Chupp

Chupp

Chupp

Chupp

Chupp

“Jangan menangis bayi besar, jadilah anak yang baik dan patuh ya” tiffany mengelus puncak kepala taeyeon. Taeyeon hanya tersenyum dan tersenyum, ia sangat senang.

“Ne eomma, bolehkah aku meminta ciuman disini 1 kali lagi?” taeyeon menunjuk bibirnya.

“Baboya”

Chuu~

Tiffany mendaratkan bibirnya sesuatu permintaan kekasihnya, ia lumat bibir kekasihnya dengan lembut dan hati-hati. Taeyeon tersenyum diselan ciuman itu, ia pun membalas lumatan tiffany sambil menarik tiffany agar semakin dekat dengannya.

“Akh'” ringis tiffany dan refleks membuka mulutnya saat taeyeon menggigit bibir bawahnya. Kesempatan itu tak ingin taeyeon sia-siakan, ia masukan lidahnya dan terjadilah perang lidah disana.

Mereka kembali melumat dan menghisap hingga dirasa kehabisan udara merekapun melelaskan pagutan bibir mereka.

“Vitamin terampuh membuatku semangat dan bergairah, gomawo~” taeyeon mengecup dan membawa tiffany dalam pelukannya. Tiffany membalas pelukan taeyeon sambil tersenyum malu.

“Aku suka saat kau memperlakukanku dengan sangat hati-hati, aku merasa seperti diamond” ujar tiffany menyandarkan kepalanya dipundak taeyeon.

“Diamond tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu, kau lebih dari sekedar diamond” balas taeyeon.

“Pany-ah” panggil taeyeon sambil melepaskan pelukannya.

“Emm?”

“Bukankah lebih baik jika kau pulang kerumah, daddymu pasti sangat mengkhawatirkanmu”

“Tae bukankah kita sudah membicarakan ini? Aku tak ingin pulang”

“Tapi kau harus pulang, 2 hari sudah berlalu daddymu sangat mengkhawatirkanmu”

“Aku tidak bisa, aku tidak bisa bertemu dengannya”

Hahh~” taeyeon hanya bisa menghela nafas. Ia tidak tahu harus membujuknya seperti apa lagi. Selama 2 hari ini hwang ki woo terus menghubunginya dan meminta agar tiffany kembali.

“Baiklah jika kau berrsikeras tak mau. Emm bagaimana jika kita jalan-jalan? Kencan?” ajak taeyeon.

“Now? Tapi ini sudah menjelang malam”

“Yasudah kalau tak mau” taeyeon menggodanya, ia berjalan pergi dari kamarnya.

“Tunggu, kapan aku bilang tak mau” tiffany menahan tangan taeyeon dengan wajah cemberut.

“Hahaha kalau begitu bersiaplah. Aku akan menunggumu dimobil”

.

.

“Siap?” tanya taeyeon saat tiffany masuk kedalam mobil.

“Waw, siapa ini? Kau cantik sekali pany-ah” pujinya membuat tiffany merona.

“Tentu saja aku harus berdandan cantik. Kita akan berkencan” taeyeon terkekeh.

Iapun menjalankan mobilnya, selama diperjalanan tiffany terus menguap membuat taeyeon ingin tertawa.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya tiffany penasaran karena taeyeon tak memberitahunya sama sekali.

“Bimil~”

“Ya'”

“Haha kau akan tau nanti, tidurlah. Aku akn membangunkanmu jika sudah sampai” ujar taeyeon.

“Emm baiklah” tiffany memejamkan matanya dan menuju alam lain.

Beberapa jam kemudiam mereka sampai ditempat yang taeyeon tuju.

“Pany-ah ireona”

“Pany-ah”

“………………………”

“Pany-ah ireona, kita sudah sampai”

“Emmmmm~”

“Dimana kit-” tiffany menghentikan perkataannya dan menatap taeyeon kesal.

“Daddymu benar-benar mengkhawatirkanmu. Bagaimanapun kau harus pulang pany-ah”

“Sudah aku bilang aku tidak bisa taeyeon!! Kau tidak mengerti!” kesalnya, air matanya keluar begitu saja.

“Aku mengerti karena itu aku membiarkanmu selama 2 hari tinggal bersamaku”

“Look at me” taeyeon memegang tiffany menyuruhnya untuk menatapnya.

“Coba pikirkan baik-baik. Ayahmu hanya memilikimu, begitupun kau. Kau pikir bagaimana perasaannya saat putri satu-satunya yang ia sayangi tak ingin menemuinya. Pikirkan perasaan ayahmu juga, kau tak boleh egois” taeyeon menghapus air matanya.

“Bagaimana jika dia memisahkan kita lagi? Aku tidak bisa tae, aku membutuhkanmu-hiks”

“Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bukankah sudah pernah kukatakan kali ini aku takkan melepaskanmu? Jika kau memang mencintaiku maka percayalah padaku”

“………………………..” tiffany hanya diam terisak.

“Pany-ah”

“Ka harus memegang perkataanmu atau akan kubunuh kau” ketus tiffany.

“Tentu saja” taeyeon terkekeh. Ia hapus air mata itu lagi dan mencium lembut kedua mata tiffany.

“Kajja” ajak taeyeon. Ia keluar dari mobil mewahnya dan membukakan pintu untuk tiffany.

“Semua akan baik-baik saja” taeyeon menguatkan. Tiffany mengangguk lemah.

“Kajja” digenggamnya tangan tiffany dan merekapun berjalan menuju rumah tiffany.

Hwang ki woo POV

2 hari telah berlalu dan selama itu pula aku merindukan putri semata wayangku. Berkali-kali hubungi tapi dia mematikan handphonenya.

‘Maafkan aku daddy, tapi aku harus memilihnya. Karena aku yakin daddy takkan meninggalkanku’

Kata-katanya itu tak pernah bisa aku lupakan. Ketika dia lebih memilih wanita itu dibandingkan aku ayahnya sendiri yang sudah mengurus dan mendidiknya. Sebegitu besarkah cintanya pada wanita itu? Dalam kondisi sakitpun ia berlari mengejarnya.

Ia kini bahkan tinggal bersamanya. Aku memang tak mencoba untuk pergi kekediaman wanita itu. Aku tak ingin menginjakkan kakiku disana.

Aku berjalan menuju meja kerjaku dan mengambil figura yang berisi fotoku, istriku dan anakku. Disana putriku masih sangat kecil. Ia benar-benar manis.

“Sayang, apa yang harus aku lakukan?” lirihku dengan isak tangis.

Ting tong

Ting tong

Kusimpan kembali figura itu dan berjalan menuju pintu. Tanpa melihat siapa yang datang aku langsung membuka pintu dan-

Ckrekk

Kulihat putriku tiffany sedang berdiri. Senyumku mengembang melihatnya, namun dalam seketika senyum itu menghilang bagaikan buih saat melihat wanita itu berada disampingnya.

Mereka berpegangan tangan..

Author POV

Taeyeon yang menyadari perubahan sikap hwang ki woo akhirnya melepaskan genggamannya, namun siapa yang disangka jika ternyata justru tiffany kembali membawanya untuk digenggam bahkan lebih berat lagi dari sebelumnya.

“Tiffany” panggil hwang ki woo.

“Daddy” tiffany berjalan dan memeluk hwang ki woo. Ia balas pelukan putrinya sambil menatap tajam taeyeon yang terdiam.

“Kau baik-baik saja?”

“Ne”

“Masuklah honey” ujar hwang ki woo.

“Taeyeon” tiffany melirik taeyeon. Taeyeon hanya mengganggukkan kepalanya tersenyum menyuruh tiffany menurut pada daddy hwang.

“Kau juga masuklah”

Pasangan taeny membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang batu saja daddy hwang katakan. Rasanya itu seperti mimpi daddy hwang mempersilahkan taeyeon masuk kedalam rumahnya.

“A-aa ne”

Mereka kini sedang berada diruang tamu. Tiffany dan taeyeon duduk bersebelahan dan itu berhasil membuat daddy hwang gemas. Tiffany mengikuti taeyeon kemanapun taeyeon melangkah.

“Kau sudah makan malam honey?” tanya daddy hwang. Tiffany hanya menggeleng, tiffany terlihat lebih pendiam kali ini

“Kalau begitu daddy akan siapkan makan malam”

“Biar aku bantu” taeyeon segera berdiri dari duduknya.

“Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri” jawaban itu membuat taeyeon duduk kembali. Daddy hwang pergi dan kini meninggalkan mereka berdua.

“Pany-ah lebih baik aku pulang saja” sejujurnya taeyeon merasa tak nyaman berada dirumah ini.

“Kajima, kau berjanji takkan meninggalkanku”

“Aku takkan meninggalkanmu, aku hanya pulang kerumahku saja”

“Kalau begitu aku ikut”

“Panya-ah bagaimana dengan daddymu? Mengapa kau sangat egois?”

Egois?

Benarkah seperti itu?

Lalu bagaimana dengan daddynya?

Ia tahu seperti apa daddynya, ia juga memiliki pertimbangan pada pilihannya.

“Kalau begitu pergilah” emosi tiffany dan berjalan kedalam kamarnya meninggalkan taeyeon.

Bagaimanapun ia tak bisa pergi dalam keadaan tiffany yang seperti ini. Taeyeonpun mengikuti tiffany kedalam kamarnya, ia lihat tiffany sedang berbaring memunggunginya.

Ia hampiri dan duduk disamping ranjang.

“Pany-ah”

“………………….”

“Jagiya”

“………………….”

“Pany pany tippany apa kau akan mengacuhkan taetae? Taetae benar-benar sedih” taeyeon berakting dengan nada yang dibuat sedih namun terdengar seperti aegyo.

“………………….”

“Baiklah kalau begitu, taetae pulang saja”

“Andwae!!” teriak tiffany dan bangkit dari posisi berbaringnya. Taeyeon tersenyum karena idenya berhasil.

“Kajima, jebal”

“Sudah aku bilang aku takkan pergi, aku hanya pulang kerumahku. Kita masih bisa bertemu lagi nanti”

“Mengapa kau begitu takut aku meninggalkanmu? Apa kau tak percaya padaku?” ucap taeyeon lagi.

“Aku hanya takut takkan bisa melihatmu lagi setelah kau pergi dari sini. Aku mengenal daddyku dengan sangat baik, daddy bukanlah orang yang akan mengubah keputusannya begitu mudah”

“Aku tak bisa tanpamu. Tak bisakah aku tinggal bersamamu saja?”

“………………….”

“Taetae”

“Pany-ah dengarkan aku. Aku tahu kekhawatiranmu sekarang tapi kita tak boleh egois, daddymu hanya memilikimu, jika dia sakit lalu siapa yang akan merawatnya? Kau beruntung karena daddymu masih ada disampingmu. Lihatlah aku, aku tak memiliki sosok orang tua disampingku”

“…………………”

“Aku akan mencoba membuat daddymu merestui kita. Karena itu bersabarlah sayang, bersabarlah sebentar lagi hemm?”

Tiffany hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Pany-ah saat hari itu tiba aku berjanji akan segera menjadikanmu Ny. Kim. Kita bangun keluarga kecil yang bahagia dan penuh cinta. Sudah lama aku memimpikan itu”

“Nado. Aku tidak bisa bersabar menunggu hari itu tiba” tiffany kini tersenyum manis.

“Kita bangun rumah kecil dipinggir pantai dan menikmati sunrise dan sunset setiap hari bersama” ujar tiffany.

“Ne, sambil memandang laut indah. Saling memeluk dan menghangatkan” mereka terkekeh bersama. Tiffany kembali memperlihatkan eyesmilenya.

“Taetae is mine”

“Geurom, pany is mine”

Mereka saling menyentuhkan dahi mereka, sesekali tiffany mengecup taeyeon dan berakhir mereka tertawa bersama.

Tanpa mereka sadari seseorang dibalik pintu memperhatikan dan mendengar apa yang mereka bicarakan dengan sedih.

‘Begitu bahagianya kah kau putriku bersamanya? Kau bahkan tertawa dengan bebas bersamanya. Kau tak pernah tertawa seperti itu saat bersama daddy’

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

.

Okayy author comeback my reader.. Author rencananya mau tamatin MBA dulu lalu setelah itu lanjut Circle. Biar gak pusing nih author bikin jalan ceritanya hahaha 😅

Oh yaa author ada sedikit pengumuman, author akan comeback bulan syawal atau setelah lebaran dan mungkin itu akan jadi chapter terakhir MBA.

Okee jangan lelah menunggu karya2 author yaa my reader 😙😁

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di blog ini. Tuangkan pemikiran kalian mengenai ff ini. Author ingin tau respon kalian. Maaf juga jika banyak typo yang berkelebaran.

Semoga kalian disini suka jalan ceritanya yaa..

Untuk my reader siders.. Semangat!!! Heheh 💪😄

Advertisements

136 thoughts on “[Squel] My Beautiful Angel (5/?)

  1. Omg…ya ampun thor…part ini panjang bgt…
    Tpi seru bgt part ini…penuh perjuangan…romantis..sedih…luka..semuanya ada..
    Perasaan ku campur aduk bca part 5 ini…
    Bagus bgt sih thor ff lu…jdi gak sabar ama kelanjutannya…cepetan update ya thor…😢😢😢😢

    Like

    1. Special karena author lama gak comeback hahah.. Mudah2an gak pegel ya tuh mata bacanya wkkwkwk
      Duh jadi malu nih #merona
      Author bakal update secepatnya. Sesuai janji author comeback setelah lebaran yaw 😉

      Like

  2. suka duka terus bergantian nyerang nih couple taeny, sad drama itu scene nya si ppany ngerelain taeng pergi buat ngejar tu penyihir suzy. Tang labil bangett ppany jadi sakit tuh kasian
    daddy tolonglah restuin, wake up lihat tuh anak lu bahagia bgt ama si byuntae ,taeny are meant to be together!

    Like

    1. Iya bener tuh author bikin scene itu sambil dengerin lagu sad biar feel gitu..
      Hahah mudah2an ya.. Da kita mah apa atuh? Yg bisa buat semua itu terjadi mah hanya author wkkwkwk ✌✌✌

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s